Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 24
Satu bulan berlalu dengan cepat. Pagi itu, sinar matahari menembus dinding kaca tinggi di ruang kerja Senja, menerangi sebuah amplop cokelat tebal yang terletak anggun di atas meja kayunya.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Senja membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas tebal berstempel resmi dari Pengadilan Agama.
Akta Cerai.
Senja memandangi namanya dan nama Adam tertera di sana, bersanding dengan kata yang menandai akhir dari masa lalunya: Putus Perceraian.
Tidak ada air mata yang menetes. Yang ada hanyalah helaan napas panjang yang teramat lega, seolah seluruh pasok udara segar di dunia baru saja mengisi paru-parunya. Masa dua tahun yang penuh siksaan batin, pengabaian, dan pengkhianatan itu akhirnya resmi menguap menjadi sejarah.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Senja. Rian melangkah masuk dengan senyum tipis di wajahnya yang biasa datar.
"Selamat pagi, Bu Senja. Pak Raka baru saja mengonfirmasi bahwa seluruh salinan berkas putusan sudah bersih dan terarsip dengan sempurna," ujar Rian ramah.
Senja mendongak, menyunggingkan senyum tulus. "Terima kasih banyak, Pak Rian. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang tak terhingga pada Pak Raka. Tanpa bantuan tim hukum Anda, prosesnya tidak akan secepat ini."
"Sama-sama, Bu. Tapi Anda tahu betul siapa yang sebenarnya memegang kendali di balik kemudahan ini," jawab Rian halus seraya melirik ke arah pintu penghubung menuju ruang kerja sang CEO.
Senja mengangguk pelan. Ia tahu persis. Setelah malam konfrontasi di rumah orang tua Adam satu bulan lalu, Adam sempat mencoba menerornya lewat telepon dan pesan singkat, memohon-mohon hingga mengancam. Namun, teror itu terhenti total begitu Papa Surya menemui Angkasa secara pribadi.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kehancuran total, Papa Surya berlutut memohon agar Angkasa tidak menarik suntikan modal investasinya. Angkasa setuju dengan syarat mutlak, Adam dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama, seluruh fasilitas mewahnya ditarik, dan ia diturunkan menjadi staf biasa di tingkat paling bawah tanpa akses keputusan apa pun. Adam yang kini tak berdaya dan tak punya uang hanya bisa pasrah bekerja di bawah pengawasan ketat ayahnya sendiri, kehilangan seluruh taringnya untuk mengganggu Senja.
"Pak Angkasa ada di dalam?" tanya Senja seraya merapikan Akta Cerai itu ke dalam tasnya.
"Beliau sedang menunggu Anda, Bu Senja. Ada hal penting yang perlu dibahas," jawab Rian.
Senja mengangguk, melangkah keluar dari kubikelnya menuju pintu jati tebal ruang kerja Angkasa. Ia mengetuk dua kali sebelum memutar gagang pintu dan masuk.
Di dalam ruangan berAC dingin itu, Angkasa sedang menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja, kedua tangannya terlipat di dada. Pria itu menatap Senja dengan binar mata yang begitu intens saat pintu tertutup rapat.
"Sudah di tanganmu?" tanya Angkasa datar, suara baritonnya bergema tenang.
Senja mengangguk mantap, menepuk tas tangannya pelan. "Sudah, Pak Angkasa. Hari ini saya resmi berpisah secara hukum dari Adam."
Sudut bibir Angkasa tertarik sangat tipis, sebuah kurva kepuasan yang tertahan. "Bagus. Masa lalumu sudah bersih. Sekarang fokus pada masa depanmu."
Angkasa memajukan tubuhnya, meraih jas hitam yang tergantung di belakang kursinya lalu mengenakannya dengan gerakan yang teramat elegan. Walau bingung dan ada banyak pertanyaan di benaknya, namun Senja lebih memilih diam.
"Malam ini, kosongkan jadwalmu," ujar Angkasa tanpa basa-basi seraya merapikan kerah kemejanya.
Senja mengernyit, sedikit menguji spekulasinya sendiri. "Malam ini? Apakah ini terkait acara makan malam konfrontasi keluarga Lyra yang Bapak ceritakan sebelumnya?"
"Bukan," potong Angkasa cepat, melangkah mendekati Senja hingga aroma parfum woody maskulinnya menyeruak kuat.
"Malam ini adalah makan malam yang sama sekali berbeda."
"Maksud Bapak... makan malam apa?" tanya Senja kebingungan.
"Makan malam pribadi," bisik Angkasa rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Senja.
"Kamu ikut dengan saya jam tujuh malam ini. Rian akan menyiapkan gaun dan kebutuhanmu. Jangan membantah, ini perintah."
Senja hanya bisa menelan ludah kasar. Jika Angkasa sudah mengambil keputusan maka tak bisa lagi di bantah oleh siapapun. Sedangkan dirinya? Dia hanyalah karyawan yang kebetulan di bantu olehnya. Bahkan bantuan Angkasa teramat banyak bagi wanita sebatang kara seperti dirinya. Angkasa bahkan memperhatikan setiap detail kebutuhannya.
Malam harinya, sebuah restoran fine dining bergaya privat yang disewa sepenuhnya berdiri megah di kawasan Jakarta Selatan. Senja melangkah masuk berdampingan dengan Angkasa. Wanita itu tampil teramat anggun mengenakan gaun malam simpel berwarna navy yang melekat pas di tubuhnya, kontras dengan Angkasa yang tampil sangat gagah berjas gelap.
Namun, begitu pelayan membukakan pintu ruang VIP bernuansa klasik nan hangat, langkah Senja mendadak terhenti kaku.
Di ujung meja makan panjang yang berhias lilin dan bunga segar, duduk seorang wanita lanjut usia yang tampil sangat bersahaja namun memancarkan aura keanggunan seorang matriark tulen. Perhiasan mutiara melingkar indah di lehernya, dan pandangan matanya yang tajam langsung tertuju pada mereka berdua.
"Bapak... ini makan malam keluarga Anda?" bisik Senja panik setengah mati, refleks menarik sedikit lengan kemeja Angkasa.
"Kenapa Bapak tidak bilang kalau..."
Sebelum Senja sempat menyelesaikan kalimatnya, Angkasa justru meraih jemari Senja, menggenggamnya dengan hangat dan erat di atas permukaan meja, sengaja memamerkan gestur itu di depan sang nenek. Senja sempat tersentak dengan perlakuan Angkasa, pertama kalianya dia merasakan jemarinya di genggam sehangat itu oleh seorang pria. Selain hangat, genggaman itu terasa sebuah perlindungan. Sedangkan dengan Adam, rasanya dingin dan penuh keterpaksaan.
"Oma," sapa Angkasa tenang, menuntun Senja mendekati meja tanpa sedikit pun membiarkan wanita di sampingnya itu melarikan diri.
Nenek Angkasa, Oma Dahlia meletakkan cangkir tehnya perlahan. Matanya yang menyipit meneliti Senja dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu beralih pada genggaman tangan cucunya yang tak mau lepas.
"Jadi... ini alasan kenapa kamu menolak mentah-mentah saat Mami dan Papimu membicarakan tanggal pernikahan politikmu dengan anak keluarga rekannya itu, Angkasa?" suara Oma Dahlia terdengar berwibawa, namun tak menyembunyikan rasa penasaran yang besar.
Angkasa menarikkan kursi untuk Senja, membiarkan wanita yang masih syok itu duduk, sebelum ia sendiri duduk di sebelah Senja.
"Aku membawa Senja ke sini malam ini karena aku ingin Oma menjadi orang pertama di keluarga ini yang mengenalnya."
Senja menelan ludah yang terasa kering. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan bergetar. Walau dia tahu rencana apa yang sedang di maikan lagi oleh Angkasa.
"Selamat malam, Oma... Saya Senja."
Oma Dahlia menyandarkan punggungnya, menatap Senja dengan pandangan menembus.
"Senja... nama yang indah. Angkasa jarang sekali membawa seorang wanita ke hadapan Oma, apalagi sampai menggenggam tangannya seperti itu. Coba beritahu Oma, Nak, apa yang membuatmu mau berjalan di samping pria kaku dan dingin seperti cucuku ini?"
Senja terpana, melirik Angkasa yang hanya menatapnya dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. Senja menegakkan punggungnya, mencoba menguasai rasa gugupnya dengan keteguhan yang kini menjadi identitas barunya.
"Pak Angkasa adalah pria yang sangat tegas dan luar biasa, Oma. Beliau memberi saya keberanian untuk berdiri di atas kaki saya sendiri saat dunia saya runtuh."
Oma Dahlia mengamati binar mata Senja, tidak ada kepalsuan, hanya kejujuran dan ketegaran yang matang. Senyuman hangat perlahan terukir di wajahnya.
"Bagus," ujar Oma Dahlia pelan, mengangguk puas.
"Seorang pria dari keluarga ini membutuhkan wanita yang kokoh di sampingnya, bukan cuma boneka bergaun mahal yang pintar bersolek seperti Lyra. Angkasa, pilihanmu malam ini jauh lebih berkelas dari apa yang dipaksakan orang tuamu. Tapi kenapa masih mengailnya Pak?"
Genggaman tangan Angkasa pada jemari Senja kian mengerat di bawah meja, memberi ketenangan tak teraba yang membuat Senja akhirnya bisa bernapas lega di balik senyuman tulusnya.
padahal dia yg murahan 🤣🤣🤣