Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
Zoey menolak tunduk begitu saja. Rasa panik yang sempat mencubit dadanya langsung ia sulap menjadi tekad liar.
Menjadi pihak yang terpojok jelas bukan gaya seorang Zoey. Dengan sisa keberanian dan dorongan spontan, kedua telapak tangannya bertumpu kokoh di dada bidang Damian, lalu mendorong pria jangkung itu sekuat tenaga ke belakang.
Damian yang tak menduga perlawanan seberani itu limbung beberapa langkah hingga akhirnya jatuh terduduk di atas kursi putarnya.
Sebelum Damian sempat memprotes atau menegakkan tubuhnya kembali, Zoey melompat dan langsung menduduki kedua paha suaminya.
“Shit!” umpat Damian tertahan di dalam benak.
Napasnya tersentak putus-putus tatkala Zoey dengan sengaja bergerak, miliknya bergesekan tipis tepat di atas sang pusaka yang kian mengeras dan memberontak di balik ce-lananya.
Pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun seakan runtuh hanya dalam beberapa detik di bawah kelihaian wanita licik ini.
Damian berusaha memaksakan sebuah kekehan rendah, berusaha menutupi matanya yang mulai menggelap oleh kabut gairah.
“Kau sedang ingin bermain apa kali ini denganku?” tanyanya seraya mencengkeram pegangan kursi, menahan diri agar tidak langsung meremukkan bibir ranum di hadapannya. “Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja terus terang. Tidak perlu bertingkah seperti—argh, sial!”
Damian mengumpat kasar seraya mendongakkan kepalanya ke sandaran kursi. Gigi-gigi kecil Zoey baru saja mendarat mulus, menggigit kecil cuping telinganya yang sensitif sebelum lidah wanita itu menyapu sisa rasa sakitnya dengan kecupan basah yang hangat.
Sentuhan itu bagai aliran listrik bertegangan tinggi yang menyengat saraf Damian. Tubuhnya yang mati suri selama bertahun-tahun sejak kepergian istrinya mendadak bangkit liar tanpa kendali.
Bukannya ia tidak normal, melainkan luka batin di masa lalu membuatnya memilih mengubur hasrat biologisnya hidup-hidup dan menutup diri dari wanita mana pun.
Namun malam ini, godaan Zoey benar-benar menguji batas kewarasannya.
“Mau mencobanya, Suamiku tersayang?” bisik Zoey dengan suara mendayu.
Tangannya yang lentik menyusup ke balik kemeja Damian yang kancing atasnya telah terbuka, membelai dada bidang berotot yang bergemuruh kencang.
Damian menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik-turun. Pria berhati es itu benar-benar tak berdaya. Ia menutup mata rapat-rapat tatkala Zoey menempelkan ujung hidung mereka hingga napas hangat keduanya beradu dalam irama yang memabukkan.
“Lakukan...”
Di saat Damian sepenuhnya terlena dan pasrah menikmati sentuhan maut itu, jemari lentik Zoey diam-diam bergerak lihai ke balik kerah kemeja sang suami.
Ditariknya ujung dasi Damian perlahan, lalu dililitkan cepat ke kedua pergelangan tangan Damian yang tanpa sadar bertumpu di sandaran lengan kursi. Dalam satu sentakan simpul mati yang cekatan, kedua tangan sang konglomerat terkunci rapat ke belakang.
Damian tersentak sadar. Matanya terbuka lebar, mendapati kedua tangannya sudah terikat.
“Zoey Frederick!” seru Damian tertahan, urat lehernya menonjol menahan amarah bercampur malu.
“Kenapa, Suamiku?” Zoey turun dari pangkuan Damian dan melangkah mundur lalu terkikik geli menatap suaminya yang kini tersandera konyol di kursinya sendiri.
“Kau masih berani bertanya kenapa?! Apa kau sengaja melakukan lelucon konyol ini padaku?!” maki Damian.
Ia menyentakkan tangannya kuat-kuat, namun simpul dasi itu justru mengikatnya makin ketat. Bisa-bisanya wanita jelmaan rubah ini mempermainkannya tepat di saat pikirannya sudah dipenuhi bayangan liar untuk menghabiskan malam berdua.
Seketika itu juga, raut wajah Zoey berubah. Matanya berkaca-kaca memancarkan kepedihan mendalam.
Bak aktris peraih piala bergengsi, Zoey memasang wajah terzalimi yang begitu menyayat hati.
“Iya, aku sengaja,” rengek Zoey dengan suara parau.
“Aku sakit hati padamu, Damian! Kita sudah menikah sah secara hukum dan agama, tapi kau memperlakukanku tak ubahnya orang asing. Kau bersikap dingin dan acuh tak acuh. Apa ini semua karena aku yang memaksamu menikahiku tempo hari? Kau pasti sangat membenciku, kan?”
Melihat butiran air mata palsu yang mulai bergulir di pipi mulus Zoey, Damian mendadak mati kutu.
Amarahnya yang meluap perlahan tersapu rasa bersalah yang aneh.
Menghadapi lawan bisnis di meja perundingan ia juaranya, tapi melihat wanita menangis terisak di depannya, terlebih istrinya sendiri, membuatnya serba salah.
“Bukan begitu, Zoey. Kalau aku benar-benar membencimu, aku sudah mengusirmu keluar dari gerbang rumah ini sejak malam pertama kita sah sebagai suami-istri.”
“Kau bohong! Kau jahat!” Zoey mengusap matanya denga dramatis, menyembunyikan senyum licik di balik telapak tangannya. “Lebih baik aku kemasi barang-barangku sekarang dan pulang saja ke rumah orangtuaku!”
Mendengar ancaman itu, Damian mendadak panik.
Jika sampai Zoey pulang ke kediaman Alexander sambil menangis tersedu-sedu, Alexander pasti tidak akan segan-segan datang membunuhnya malam ini juga.
Belum lama ini Damian telah bersumpah di depan sahabatnya itu bahwa ia akan memperlakukan Zoey dengan baik dan menjadikannya pelabuhan terakhir dalam hidupnya.
“Hentikan omong kosongmu dan jangan pernah berpikir untuk pergi kemanapun. Karena rumah ini juga rumahmu!” bentak Damian.
“Rumahku?” Zoey menurunkan tangannya, menatap Damian dengan tatapan terluka yang luar biasa meyakinkan. “Kekayaan, kekuasaan, para pelayan, bahkan hatimu sendiri sama sekali bukan milikku di rumah megah ini, Damian. Aku ini cuma pajangan bagimu.”
Damian menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan gejolak tubuhnya yang masih tegang. “Lalu kau mau aku berbuat apa sekarang?”
Zoey melangkah maju selangkah, sorot matanya berubah tajam dan penuh perhitungan.
“Berikan aku kekuasaan baik di rumah juga di perusahaanmu!”
“Hanya itu?” Damian mengerutkan keningnya.
“Aku mau mulai malam ini, seluruh aset perusahaan, keputusan dan aturan yang kubuat untuk seisi rumah ini, termasuk cara mendidik si kembar, tidak boleh dibantah oleh siapa pun. Termasuk olehmu tanpa banyak protes. Bagaimana?” tuntut Zoey dengan tegas.
Zoey yakin kalau Damian pasti tidak akan memberikan itu semua padanya dengan mudah.
Aku tarik nafas dulu ya, wkwkwk