"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"
Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.
"Menunggumu? Hmmph!
"Kau tidak pantas!"
Kalimat itu menghantam arena seperti petir.
"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.
"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"
"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?
"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"
"Dasar sampah!"
Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Satu Pukulan Menjatuhkan Jenius
"Aku ingin melihat bagaimana kau akan mematahkan kakiku!"
Yang Tiansen mendengus dingin.
Qi Sejati langsung meledak dari tubuhnya.
Boom!
Kakinya menghentak lantai panggung, lalu tubuhnya melesat ke arah Feng Wuchen seperti harimau yang menerkam mangsa.
Alam Pemurnian Qi dan Alam Tempa Tubuh memiliki perbedaan yang sangat besar.
Begitu memasuki Alam Pemurnian Qi, seorang kultivator sudah mampu menggunakan Qi Sejati untuk memperkuat serangan.
Sedangkan Alam Tempa Tubuh hanya mengandalkan kekuatan fisik.
Itulah alasan Yang Tiansen begitu percaya diri.
Di matanya, Feng Wuchen mungkin berkembang cepat, tetapi tetap belum melewati batas itu.
Feng Wuchen tidak menghindar.
"Aku ingin melihat seberapa besar perbedaannya."
Ia mengepalkan tangan dan maju menyambut.
Boom!
Dua tinju bertabrakan.
Gelombang kekuatan menyapu panggung.
Feng Wuchen langsung terdorong mundur beberapa langkah.
Telapak kakinya bergesekan dengan batu hingga meninggalkan jejak tipis.
Yang Tiansen sempat terkejut.
"Tingkat Delapan Alam Tempa Tubuh?"
Kerumunan langsung gempar.
"Tingkat Delapan?!"
"Sebulan lalu dia baru Tingkat Empat!"
"Empat tingkat dalam satu bulan?"
"Bagaimana mungkin Jiwa Bertarung Tingkat Dua memiliki kecepatan seperti itu?!"
Bahkan para petinggi dari empat keluarga besar ikut berubah ekspresi.
Yu Wanxiong justru melihat sesuatu yang berbeda.
"Dia menerima pukulan Alam Pemurnian Qi secara langsung..."
Matanya menyipit.
"Tapi tidak terluka."
Itulah bagian yang lebih mengerikan.
Feng Wuchen baru Tingkat Delapan Alam Tempa Tubuh.
Namun kekuatan fisiknya sudah mendekati puncak Tingkat Sembilan.
Yang Tiansen tersenyum dingin.
"Walaupun kau sudah mencapai Tingkat Delapan, tetap saja tidak cukup."
Ia kembali menerjang.
Kali ini Feng Wuchen tidak beradu kekuatan.
Tinju Yang Tiansen datang dari kanan.
Feng Wuchen bergeser.
Meleset.
Telapak tangan menyusul dari kiri.
Feng Wuchen merunduk.
Meleset lagi.
Tendangan menyapu rusuk.
Feng Wuchen mundur setengah langkah.
Tetap gagal.
Serangan demi serangan datang semakin cepat.
Namun tidak satu pun berhasil mengenai tubuh Feng Wuchen.
Wajah Yang Tiansen mulai berubah.
"Sialan!"
Ia meningkatkan kecepatannya.
Tetapi semakin terburu-buru, semakin banyak celah yang terlihat.
Bagi Feng Wuchen, gerakan Yang Tiansen seperti terbuka sepenuhnya.
Bahu bergerak.
Pinggang berputar.
Pusat berat tubuh bergeser.
Bahkan sebelum serangan dilepaskan, Feng Wuchen sudah mengetahui arahnya.
Itulah pengalaman bertarung Dewa Naga Jahat.
Yang Tiansen melayangkan telapak tangan.
Feng Wuchen menghindar.
Namun kali ini Yang Tiansen langsung menyusul dengan sapuan kaki rendah.
"Hmph!"
"Aku tahu kau akan menghindar!"
Kakinya menyambar cepat.
Namun Feng Wuchen justru tersenyum.
"Belum tentu."
Tubuhnya merendah.
Sapuan Yang Tiansen melewati tubuhnya.
Pada saat yang sama—
Buk!
Kaki Feng Wuchen menyapu tumpuan Yang Tiansen.
"Gawat!"
Yang Tiansen kehilangan keseimbangan.
Sebelum sempat menstabilkan tubuh, tendangan Feng Wuchen menghantam dadanya.
Boom!
Yang Tiansen terpental beberapa meter dan berguling di atas panggung.
Kerumunan membeku.
"Tuan Muda Ketiga! Bagus!"
Sorakan dari pihak Keluarga Feng langsung pecah.
Wajah Yang Qingyun berubah gelap.
Seorang praktisi Alam Pemurnian Qi...
baru saja dijatuhkan oleh kultivator Alam Tempa Tubuh.
Yang Tiansen bangkit dengan wajah memerah.
Bukan hanya karena sakit.
Melainkan malu.
"Feng Wuchen!"
Ia meraung dan menerjang kembali.
Feng Wuchen tidak memberinya kesempatan.
Tubuhnya bergerak cepat.
Satu pukulan menghantam bahu.
Yang Tiansen mundur.
Pukulan kedua menyambar rusuk.
Yang Tiansen buru-buru bertahan.
Namun Feng Wuchen sudah bergeser ke samping.
Boom!
Tinju berikutnya menghantam lantai panggung setelah Yang Tiansen berguling menghindar.
Retakan kecil menyebar dari titik hantaman.
Wajah Yang Tiansen berubah.
Kekuatan fisik macam apa itu?
Feng Wuchen berdiri perlahan.
"Hanya sebegini kemampuan Alam Pemurnian Qi?"
Kalimat itu seperti menampar wajah Yang Tiansen.
"Hmph!"
Qi Sejati di tubuhnya langsung bergolak.
"Jangan terlalu sombong!"
Api tipis mulai menyelimuti telapak tangannya.
Beberapa orang langsung mengenali jurus tersebut.
"Jurus bela diri!"
Yang Tiansen meraung,
"Telapak Pembakar Jiwa!"
Boom!
Gelombang panas meledak.
Telapak tangannya mendorong ke depan, membawa kekuatan api yang jauh lebih besar dibanding serangan sebelumnya.
Feng Wuchen menyipitkan mata.
Jurus itu memang memiliki daya hancur tinggi.
Namun—
terlalu banyak celah.
"Kau bahkan belum menguasainya."
Feng Wuchen melesat maju.
Yang Tiansen terkejut.
Bukannya menghindar jauh, Feng Wuchen justru memperpendek jarak.
Tubuhnya bergerak ke kiri.
Lalu kanan.
Semburan api terus meleset tipis.
"Berhenti menghindar!"
Yang Tiansen mengubah arah telapak tangan dan menyerang dari jarak dekat.
Saat itulah Feng Wuchen tersenyum.
"Kena."
"Apa?"
Tubuh Feng Wuchen tiba-tiba merendah.
Telapak api Yang Tiansen melewati atas kepalanya.
Dan satu tinju—
menghantam tepat ke perut.
Boom!
"Puiiih!"
Darah menyembur dari mulut Yang Tiansen.
Tubuhnya terangkat sedikit sebelum terlempar tiga meter ke belakang.
Bruk!
Ia jatuh keras.
Seluruh arena langsung sunyi.
Yang Tiansen memegangi perutnya.
Wajahnya pucat.
Ia mencoba bangkit.
Gagal.
"Bagaimana..."
Ia menatap Feng Wuchen dengan ketakutan.
"Bagaimana mungkin..."
Satu pukulan.
Hanya satu pukulan bersih.
Dan tubuh seorang praktisi Alam Pemurnian Qi hampir kehilangan kemampuan untuk berdiri.
"Yang Tiansen kalah?"
"Tuan Muda Feng menjatuhkannya dengan satu pukulan?"
"Dia masih berada di Alam Tempa Tubuh!"
Kerumunan kembali meledak.
Feng Zhengxiong tertawa keras.
"Hahaha!"
"Bagus, Chen'er!"
Namun Feng Wuchen tidak menunjukkan kegembiraan berlebihan.
Ia berjalan perlahan mendekati Yang Tiansen.
"Kau memang memiliki kultivasi lebih tinggi."
Yang Tiansen menatapnya dengan penuh kebencian.
"Tapi kultivasi bukan segalanya."
Feng Wuchen berhenti di depannya.
"Kau meremehkanku karena aku berada di Alam Tempa Tubuh."
"Kesalahan pertama."
Yang Tiansen mengepalkan tangan.
"Jurus yang kau gunakan belum dikuasai sempurna."
"Setiap kali menggunakannya, Qi Sejatimu terbuang terlalu banyak."
"Kesalahan kedua."
Feng Wuchen menatapnya dingin.
"Dan sejak awal pertarungan, kau hanya memikirkan bagaimana mempermalukanku."
"Emosimu mengendalikan tubuhmu."
"Kesalahan ketiga."
Ia menggeleng.
"Yang Tiansen."
"Bakatmu mungkin cukup baik."
"Tapi sebagai petarung..."
"Kau terlalu lemah."
Wajah Yang Tiansen langsung memerah.
"Diam!"
Ia mencoba bangkit.
Namun Feng Wuchen sudah mengangkat kaki.
Wajah Yang Qingyun berubah.
"Tiansen!"
Kraaak!
Hentakan Feng Wuchen jatuh tepat pada kaki Yang Tiansen.
"ARGH!"
Jeritan mengerikan menggema.
Tulang kakinya patah.
Feng Wuchen tidak berhenti.
Ia mengangkat kaki sekali lagi.
Kraaak!
Kaki satunya ikut patah.
Semua orang terdiam.
Feng Wuchen benar-benar menepati ucapannya.
Kedua kaki.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Yang Tiansen menggeliat kesakitan.
"Ayah!"
"Bunuh dia!"
"BUNUH DIA!"
Feng Wuchen menatapnya tanpa belas kasihan.
"Aku sudah bilang."
"Kalau aku mengatakan akan mematahkan kedua kakimu..."
Ia menendang tubuh Yang Tiansen.
Boom!
Tubuh pemuda itu terlempar keluar panggung.
"...maka kedua kakimu akan patah."
"Tiansen!"
Yang Qingyun segera menangkap putranya.
Begitu melihat kedua kaki Yang Tiansen terkulai, wajahnya berubah mengerikan.
Yang Bufan.
Yang Xuan.
Sekarang Yang Tiansen.
Tiga generasi muda terbaik Keluarga Yang telah dihancurkan oleh orang yang sama.
"FENG WUCHEN!"
Boom!
Aura Tingkat Delapan Alam Transformasi Qi meledak.
Niat membunuh menyelimuti seluruh arena.
"Kau benar-benar mengira aku tidak berani membunuhmu?!"
Feng Wuchen berdiri di atas panggung.
Tidak mundur sedikit pun.
"Aku sudah membiarkan putramu hidup."
Tatapannya dingin.
"Itu sudah cukup murah hati."
"BINATANG!"
Yang Qingyun menyerahkan Yang Tiansen kepada seorang tetua lalu melompat ke atas panggung.
Namun hampir bersamaan—
Boom!
Aura lain meledak.
Feng Zhengxiong sudah berdiri di depan putranya.
"Yang Qingyun!"
Matanya dipenuhi kemarahan.
"Kalau kau ingin bertarung..."
Qi Sejati berputar liar di sekeliling tubuhnya.
"...aku yang akan menemanimu!"
Yang Qingyun menatapnya dengan mata merah.
"Kau pikir aku takut?!"
Dua aura Alam Transformasi Qi bertabrakan di atas panggung.
Udara menjadi berat.
Kerumunan segera mundur.
Duel generasi muda telah selesai.
Namun pertarungan antara dua kepala keluarga...
baru saja akan dimulai.
......................
Bersambung...