"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keramaian Ruang Makan
Pagi hari meneteskan cahaya keemasan menembus jendela-jendela tinggi Kediaman Vardan. Kaizel terbangun dari tidurnya dengan sisa-sisa kepenatan dan ganjalan di dada. Tanpa berlama-lama, ia bergegas mandi dan mengenakan pakaian santai rumahannya, celana kain gelap dipadukan dengan kaos polo jingga yang membungkus ketat postur tubuh atletis serta lekuk dada bidangnya yang tegap.
Pria itu melangkah keluar dari kamar utama menuju ruang makan berlantai marmer. Di sana, berbagai hidangan mewah dan harum sudah tersaji rapi di atas meja panjang berukir. Avenza, yang sedang sibuk mengatur posisi piring, lekas mendongak dan menyambut Kaizel dengan senyuman manis yang dibuat-buat.
"Kaizel, sudah bangun ya? Kebetulan sekali, sarapan sudah siap. Mama dan Lala sebentar lagi juga turun ke sini," ucap Avenza ramah.
Kaizel hanya bergumam pelan. Ia menarik kursi kayu jati berukir di ujung meja lalu mendudukinya dengan gerakan anggun namun dingin. Pandangan matanya menyapu sekeliling ruangan yang sepi.
"Di mana si kembar?" tanya Kaizel ketika tak mendapati keberadaan dua putri kecilnya maupun Aeris.
Avenza menghela napas panjang dengan raut wajah berlagak prihatin. "Ah ... mereka selalu saja bangun siang, Kaizel. Sejak Aeris tinggal di sini, kedua putrimu jadi sangat tidak terdidik. Alih-alih bangun pagi untuk sekolah atau belajar, mereka malah makin malas dan biasa molor. Kamu lihat sendiri kan badan mereka yang makin gemuk? Itu semua karena mereka terlalu banyak tidur dan makan junk food! Aeris yang merusak mereka. Menaruh Aeris di rumah ini hanya akan membawa dampak negatif bagi masa depan Ezmira dan Zara," racun Avenza dengan nada menghasut yang begitu halus.
Kaizel membisu. Tangan kokohnya yang berada di atas meja perlahan meremas serbet hingga terkepal erat. Rahangnya menegang menahan gejolak amarah dan kecurigaan. Avenza yang menyaksikan reaksi kaku Kaizel tersenyum puas dalam hati, merasa provokasinya berhasil menusuk tepat di sasaran.
Tak lama kemudian, Orlena turun bersama Lala. "Selamat pagi, anak Mama," sapa Orlena lembut lalu mengambil tempat duduk di sisi kiri, disusul Lala yang langsung menduduki kursinya dengan wajah mengantuk.
Kaizel melirik wanita paruh baya itu dengan tatapan menilai. "Ma ... anak-anak sekarang tidak ada yang biasa bangun pagi?" tanya Kaizel datar.
Orlena sempat mengernyit bingung sekilas, namun matanya menangkap sinyal dan kode kedipan mata dari Avenza di seberang meja. Wanita tua itu lekas memasang raut sedih.
"Ah ... iya, Kaizel. Sejak kedatangan Aeris, putrimu jadi anak yang benar-benar tidak benar. Mereka sering membangkang, melawan, membantah, dan—"
Kreeet!
Kalimat Orlena terputus seketika oleh suara nyaring gesekan kaki kursi porselen.
Semua orang di meja makan terperanjat dan menoleh. Di sana, berdiri Ezmira dengan wajah segar, rambut kuncir dua yang tertata rapi, serta tubuh gembulnya yang sudah dibalut gaun bersih beraroma wangi sabun bayi. Dengan senyum lebar nan menggemaskan yang memamerkan deretan gigi mungilnya, ia meletakkan sebuah piring di atas meja sebelum memanjat kursinya sendiri.
"Makan calapan kita!" seru Ezmira gembira.
Melihat kondisi putrinya yang sudah mandi bersih, rapi, dan wangi di pagi yang masih sangat awal ini, tatapan tajam Kaizel seketika beralih menghujam ke arah Orlena dan Avenza. Perkataan penuh nada fitnah yang baru saja diucapkan kedua wanita itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan di depan matanya.
"Kalian bilang tadi mereka selalu bangun siang dan tidak terdidik?" sindir Kaizel dengan suara berat nan dingin.
Avenza dan Orlena seketika mematung dengan bibir terkatup rapat. Sebelum mereka sempat mengarang kebohongan baru, langkah kaki lain terdengar menyusul. Zara berjalan tenang sembari membawa piringnya sendiri, diikuti oleh Aeris yang melangkah anggun mengenakan pakaian rumah sederhana namun memikat. Keduanya meletakkan piring masing-masing di atas meja.
Menariknya, menu yang dibawa Aeris dan si kembar jauh berbeda dengan deretan masakan berat yang dihidangkan para pelayan untuk Kaizel dan keluarganya. Piring mereka berisikan nasi hangat, olahan tumis sayur segar, dan potongan ayam goreng rempah kecokelatan yang mengepulkan aroma gurih nan menggugah selera.
"Celamat makan cemuaaaa!" seru Ezmira riang seraya menangkupkan kedua tangan mungilnya. Namun, matanya tak sengaja melirik deretan makanan melimpah di piring Kaizel, Avenza, dan Orlena. Kening balita itu mengerut dalam.
"Enak-enak kali makanannya ... biaca dikacih maci goleng kemalen," celetuk Ezmira polos tanpa dosa.
Deg!
Wajah Avenza dan Orlena seketika pucat pasi bagaikan mayat. Air muka mereka berubah panik luar biasa.
Kaizel menegang di tempatnya. Suaranya merendah penuh intimidasi. "Apa? Apa maksudmu, Mira?"
Orlena gagap, jemarinya yang dipenuhi cincin mahal gemetaran menahan gugup, sementara Avenza memutar otak setengah mati.
Di sisi lain meja, Aeris bersedekap dada sambil memamerkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Ezmira memang luar biasa kalau soal ceplas-ceplos, beda sekali dengan Zara yang lebih tenang dan memilih diam. Tapi baguslah, biarkan dua lampir itu merasakan sendiri akibat dari perbuatan kejam mereka, batin Aeris puas.
"I-itu ... Anak kecil kan memang biasa pemilih makanan, Kaizel! Mereka kadang mengarang cerita kalau tidak mau makan sayur ...," kilih Orlena terbata-bata, mencoba menutupi kebusukannya.
Ezmira melotot tajam, menunjuk Orlena dengan sendok plastiknya. "Heh, Nenek gelandong! Olang walas nda mau makanan cica kemaleeeen!" skakmat Ezmira nyaring.
Orlena panik bukan main. Ia mengelus dadanya dengan ekspresi teraniaya yang dibuat-buat. "Ezmira, tidak boleh bicara begitu pada Nenek! Nenek tahu Aeris pasti tidak pernah mengajarkan hal baik padamu. Memfitnah orang tua itu perbuatan dosa dan jahat, Sayang ...," ucap Orlena melelas pada Kaizel.
Kaizel menghela napas kasar, memejamkan mata sejenak untuk menahan pusing yang mulai menghantam pelipisnya. Pria itu lelah dengan drama yang tak ada habisnya. "Sudah. Makanlah," putusnya tegas dan dingin, membungkam mulut semua orang di meja makan.
.
.
.
.
Suasana di meja makan berubah menjadi hening yang canggung. Kaizel mulai menyuap sarapan di piringnya sendiri. Namun, indra penciumannya terus-menerus terganggu oleh aroma gurih dan lezat yang menguar dari piring Ezmira dan Zara. Secara refleks, matanya bergulir melirik piring anak-anaknya.
Potongan ayam goreng rempah di piring Ezmira terlihat begitu renyah di luar dan juicy di dalam, sangat berbeda dari masakan koki mansion yang terasa formal dan membosankan.
Tepat saat Ezmira dengan susah payah menusukkan garpu plastiknya ke potongan ayam tersebut dan bersiap memasukkannya ke dalam mulutnya yang sudah menganga lebar ... sebuah tangan kokoh bertato samar mendadak terulur dan menarik piring porselen anak itu menjauh.
Ezmira membeku di udara dengan mulut masih menganga.
"Ekheeee! Olang tuaaaa!" pekik Ezmira histeris tak terima piringnya digeser.
Namun, Kaizel sama sekali tidak mengindahkan protes putri kecilnya. Dengan santai, pria berbadan tegap itu menyambar potongan ayam rempah dari piring Ezmira, memotongnya sedikit, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.
Kres!
Sensasi rasa gurih, asin yang pas, serta rempah-rempah alami yang meresap hingga ke serat daging terdalam seketika memanjakan lidah Kaizel. Rasa masakan rumahan yang begitu hangat dan lezat, sebuah cita rasa autentik yang bahkan tak pernah ia rasakan dari koki berbintang maupun mendiang istrinya dulu.
Tanpa sadar, karena begitu menikmatinya, Kaizel mengunyah dan menghabiskan seluruh potongan ayam milik Ezmira hingga hanya menyisakan tulang bersih di atas piring.
"Kocong?"
Ezmira menatap piringnya yang kini kosong melompong. Mata bulatnya membelalak lebar, mengedip berkali-kali hingga matanya tampak hampir juling karena syok berat.
Kaizel yang baru tersadar dari kalapnya lekas mengusap bibirnya dengan serbet porselen, lalu menatap Aeris yang sedang menatapnya dengan pandangan meledak-ledak penuh ejekan.
Kaizel berdehem canggung untuk menutupi rasa malunya. "Jangan salah paham. Aku hanya ingin mencoba makanan yang dimakan putriku. Aku khawatir ... wanita sepertimu memasukkan racun ke dalam makanan anak-anakku," cetus Kaizel membela diri dengan alasan yang tidak masuk akal.
Di sebelah piring kosong itu, Ezmira yang sudah tak sanggup menahan kekecewaan mendadak meledak.
"ITU BUKAN COBA-COBAAAA! TAPI ITU MENCULIIIIII! LAKUUUUUS KALIII EKHEEEE! AYAM MILA CUDA NDA ADAAAA!" pekik Ezmira histeris sambil menghentak-hentakkan kedua tangannya ke meja makan hingga sendoknya terlempar. Balita gembul itu mengamuk hebat, mukanya memerah padam menahan tangis dan marah.
Kaizel terperanjat, matanya membelalak kaget melihat respon putrinya yang begitu liar. "Eh? Habis?" gumam Kaizel polos bertatap bingung pada tulang ayam di piringnya.
Aeris yang menyaksikan kebodohan suaminya hanya bisa bertopang dagu. Ia menyunggingkan senyum manis yang sangat provokatif, menatap lurus pada sepasang netra kelam Kaizel.
"Putrimu tantrum karena makanan yang sudah ia nantikan kamu habiskan tanpa sisa, Tuan Vardan," bisik Aeris tenang, suara bahagianya menusuk tajam. "Lalu sekarang ... apa kamu mau menyalahkan aku lagi hanya karena masakanku terlalu enak sampai membuat pria dewasa sepertimu kalap dan mencuri makanan balita?"
Deg!
Kata-kata menohok itu menghantam kesadaran Kaizel. Wajah tampan sang penguasa Vardan Group seketika memerah menahan malu dan kelu di tengah amukan histeris putri gembulnya.
___________
kamu ko ya begonya itu loh