Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 15
Sinar matahari pagi membias lembut di atas hamparan rumput hijau taman belakang rumah. Dilara duduk bersimpuh di atas alas kain, mendampingi Elang yang tengah asyik bermain dengan balok-balok kayu warna-warni dan buku mewarnai.
"Mbak Dilara, lihat! Elang mau bikin rumah untuk burung!" seru Elang antusias. Jemari mungilnya menumpuk balok demi balok dengan saksama.
Namun, ketika balok kelima diletakkan, tumpukan itu goyah dan runtuh berantakan ke atas karpet.
Seketika, raut wajah Elang berubah memerah. Matanya berkaca-kaca, dadanya kempas-kempis, dan tangannya mengepal siap melemparkan balok terdekat—tanda-tanda badai tantrumnya mulai menyapa.
"Gak mau! Rusak! Gak suka!" teriak Elang dengan nada meninggi.
Dilara tidak panik. Dengan gerakan tenang yang terukur, ia perlahan memegang pergelangan tangan Elang secara lembut agar balok kayu itu tak terlempar. Ia menyejajarkan tatapannya dengan mata anak itu.
"Elang kesal ya rumahnya rubuh?" tanya Dilara dengan suara sehalus sutra, memberikan ruang validasi atas emosi sang balita.
Elang mengangguk kuat-kuat, napasnya masih tersengal. "Kesal! Elang gak bisa!"
"Tidak apa-apa kalau kesal, Sayang. Tarik napas dulu sama Mbak Dilara, yuk? Tiup lilinnya... huuuuh..." Dilara meletakkan jarinya di depan mulut memperagakan gerakan meniup.
Elang mengikuti petunjuk itu secara refleks, menghirup udara lalu meniupnya perlahan. Setelah dua kali pengulangan, kepalan tangannya melonggar.
"Nah, jagoan Mbak hebat," puji Dilara seraya mengusap lembut kepala Elang.
"Rumahnya rubuh bukan berarti Elang tidak bisa. Kita coba susun fondasinya lebih lebar lagi, mau? Mbak bantu pegangin bawahnya."
Binar ketertarikan kembali terpancar di mata bulat Elang. Balita itu mengangguk pelan.
"Mau... tapi Mbak bantu ya?"
"Tentu saja." Dilara tersenyum manis, kembali membimbing tangan mungil Elang untuk belajar menata balok dengan sabar. Kendati sisa-sisa tantrum masih terkadang muncul, rentang waktu amukannya kini berkurang drastis, berkat kelembutan dan ketegasan Dilara yang proporsional.
Tanpa Dilara sadari, dari lantai dua, dua pasang mata tengah mengamati interaksi di taman tersebut dari atas balkon kamar utama.
Bu Melani berdiri bersedekap, mengukir senyum haru yang mendalam. Di sampingnya, Pak Adrian, suaminya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis luar kota menyesap kopi hangatnya sembari menatap ke bawah dengan kening terangkat kagum.
"Itu pengasuh baru Elang yang kamu ceritakan, Ma?" tanya Pak Adrian dengan suara berat khasnya, matanya tak lepas dari cara Dilara menenangkan Elang.
"Iya, Papa. Namanya Dilara," jawab Bu Melani pelan, takut merusak momen di bawah.
"Baru dua hari di sini, tapi Papa lihat sendiri kan? Elang yang biasanya kalau amuk bisa berjam-jam dan lempar barang, sekarang langsung tenang hanya dalam hitungan detik."
Pak Adrian manggut-manggut terkesan. "Cara bicaranya tenang sekali. Tidak ada nada panik atau membentak. Elang juga terlihat sangat nyaman dan penurut."
"Bukan cuma penurut, Pa. Dilara ini telaten sekali mengajari Elang belajar huruf dan warna. Dia bahkan mencatat perkembangan Elang tiap jam," tambah Bu Melani dengan binar bangga.
"Kemarin malam Papa tahu? Elian sempat meremehkannya. Tapi Ibu yakin, anak itu sebentar lagi juga bakal mati kutu melihat hasil kerja Dilara."
Pak Adrian tertawa terkekeh mendengar penuturan istrinya. "Elian memang begitu, selalu skeptis pada orang baru. Tapi kalau melihat ketulusan anak ini... Papi yakin Elian tidak akan punya alasan lagi untuk protes."
Di bawah sana, tawa riang Elang kembali membahana saat tumpukan baloknya berhasil berdiri kokoh. Dilara bertepuk tangan meriah, menyambut pelukan hangat dari anak itu dengan dekapan tulus yang terpancar dari kedalaman hatinya.
Malam harinya, ruang makan keluarga yang megah itu dipenuhi aroma harum sup iga hangat dan ayam panggang. Suasana dinner keluarga terasa hangat, dengan Pak Adrian duduk di kepala meja, Bu Melani di sisi kiri, dan Elian yang baru saja selesai berbenah sehabis pulang kantor duduk di sisi kanan dengan kemeja kasual yang santai namun tetap menawan.
Dilara berdiri di dekat meja prasaji dapur bersih, menuntun Elang yang duduk di kursi tingginya (high chair). Dengan telaten, Dilara menyuapkan sendok demi sendok nasi tim dan potongan sayur lembut ke mulut anak itu.
"Pintar anak Mbak Dilara... Kunyah yang pelan ya," bisik Dilara lembut seraya mengusap sudut bibir Elang dengan tisu.
"Dilara," panggil Bu Melani dari meja makan, memotong kegiatannya.
"Kenapa makan di situ? Ayo bawa piringmu, duduk di samping Elang."
Dilara mendongak, menyunggingkan senyum santun. "Tidak apa-apa, Bu Melani. Saya menyuapi Elang di sini saja. Nanti setelah ini saya bisa makan di dapur belakang bersama Mbok Nah."
"Loh, jangan begitu," sahut Pak Adrian ramah dengan suara beratnya yang berwibawa.
"Ibu sudah cerita banyak tentang kamu. Kamu sudah menjaga Elang dengan sangat baik hari ini. Lagipula Elang sukanya dekat dengan kamu, kan? Ayo bergabung."
Dilara merasa canggung. Ia mengerti batas posisinya di rumah ini sebagai pekerja, sehingga meragu untuk bergabung di meja makan keluarga pemilik rumah.
"Terima kasih atas tawaran Bapak dan Ibu, tapi rasanya kurang sopan kalau saya..."
"Bisa tidak jangan banyak membantah kalau ada orang yang berbuat baik padamu?" Suara Elian terdengan dingin dan menusuk ke dalam jantung Dilara.
Kalimat dingin Elian memotong ucapan Dilara bagaikan angin malam yang menusuk. Udara di ruang makan seketika terasa membeku. Pak Adrian menatap putranya dengan dahi berkerut, sementara Bu Melani mendelik tajam, siap menyemburkan teguran keras.
Dilara tersentak pelan. Ia menurunkan pandangannya, meremas ujung gamisnya di balik meja pra saji. Rasa canggung dan sedikit ciut merayap di dadanya, ia sadar betul posisinya di rumah ini hanyalah seorang pengasuh yang baru bekerja dua hari. Ia tak berani menatap langsung mata Elian yang pekat dan mengintimidasi itu.
"Maafkan saya, Pak Elian..." bisik Dilara sangat pelan, suaranya terdengar gemetar namun tetap berusaha menjaga kesopanan. "Saya... saya tidak bermaksud membantah. Saya hanya merasa tidak enak hati."
TAK.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛