NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Alis Kayla mengerut. Tangannya refleks menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Dan benar saja. Jarum pendek sudah menunjuk angka satu. Siang. Dadanya terasa mengempis.

“Maaf, Eyang…” ucapnya pelan.

‘Kenapa waktu cepet banget jalannya. Perasaan baru merem,’ gumam Kayla dalam hati.

Tak langsung ada jawaban. Hanya terdengar napas berat yang tertahan, seperti seseorang yang ingin menegur, tapi memilih mengalah.

“Kapan kamu ke rumah eyang?” tanya sang eyang akhirnya.

Kayla memejamkan mata sejenak. Pertanyaan itu. Selalu itu. “Kayla belum ada waktu, Eyang. Kayla masih sibuk kuliah.”

Alasan yang sama. Berulang-ulang.

“Nduk…” suara eyangnya melembut. “Eyang kangen sama kamu. Pulang ya, Nduk. Temani eyang sebentar."

Kayla menggigit bibir. “Tapi Kayla masih kuliah, Eyang.”

Hening.

Beberapa detik terasa begitu panjang. Kayla bisa membayangkan eyangnya di rumah tua itu duduk di kursi kayu, memegang ponsel dengan tangan berkerut, menatap kosong halaman depan sambil menahan rindu.

Lalu suara lain menyela, lebih tegas namun tetap hangat.

“Kayla, eyang itu sakit karena kangen sama kamu.”

Napas Kayla tertahan.

“Om Arman?” gumamnya lirih.

“Pulang, Kay.” Suara Om Arman terdengar penuh desakan. “Sebentar saja. Nanti Om jemput di bandara.”

“Tapi Om—”

“Kamu gak mau eyangmu kenapa-kenapa, toh?” Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Kayla menunduk.

Tangannya mengepal di atas seprai kusut. Segala pembelaan yang sudah siap di kepalanya runtuh begitu saja. Ia hanya bisa menghela napas panjang, berat, seperti menyerah.

Sejak dulu… hanya eyangnya yang benar-benar peduli. Saat Mama dan Papa sibuk saling menyalahkan, eyanglah yang selalu mengirim pesan.

Saat Kayla memilih hidup sendiri, eyanglah yang tak pernah berhenti menunggu. Tak pernah menghakimi. Tak pernah menuntut. Hanya bertanya, “Kamu sehat, Nduk?”

Dan sekarang, di saat hidup Kayla berantakan dalam gemerlap malam Jakarta, eyangnya masih memanggilnya pulang.

“Iya…” suara Kayla nyaris berbisik. “Kayla pulang.”

Di seberang sana, terdengar helaan napas lega. Kayla menutup panggilan dan memandangi ponselnya lama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada perasaan aneh menguar di dadanya.

Takut.

Bersalah.

Dan… rindu.

Ia tak tahu bahwa kepulangan itu bukan sekadar pulang kampung. Melainkan awal dari perjalanan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

**

Menempuh perjalanan berjam-jam melalui udara dan darat, tubuh Kayla terasa lelah. Namun begitu mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah tua bergaya kolonial di sudut kota Surabaya, hatinya justru terasa sesak.

Rumah itu tak banyak berubah.

Pagar besi berwarna hijau tua masih berderit pelan saat dibuka. Pohon mangga di halaman depan masih berdiri kokoh, menaungi teras kecil tempat eyangnya biasa duduk di sore hari.

Bau khas rumah lama perpaduan kayu, tanah, dan kenangan langsung menyergap inderanya. Begitu pintu terbuka, Kayla melihat sosok yang selama ini hanya ia dengar suaranya dari balik telepon.

“Eyang!”

Tanpa peduli lelah, Kayla langsung berlari kecil dan berlutut, memeluk tubuh ringkih itu erat-erat.

Tangannya merangkul pundak eyang Narti, mencium bau minyak kayu putih yang selalu sama sejak ia kecil.

Wanita tua itu tersenyum dari kursi rodanya, keriput di wajahnya semakin terlihat saat matanya menyipit hangat.

“Kamu itu ya… kalau nggak disuruh, nggak pernah inisiatif pulang!”

Kayla menyengir, masih memeluk. “Maafin Kayla, Eyang. Namanya juga kuliah, sibuk, Eyang.”

Eyang Narti menggeleng pelan, jemarinya mengusap punggung cucunya. “Alasan terus.”

Kayla terkekeh kecil, lalu berdiri dan berdiri di belakang kursi roda eyangnya.

Tangannya memegang pegangan kursi itu, seperti dulu, saat ia masih bocah dan eyangnya masih bisa berjalan pelan-pelan.

“Gimana Papa kamu?” tanya eyang Narti tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat langkah Kayla terhenti sesaat.

“Kayla… udah lama nggak ke rumah Papa,” jawabnya jujur, tanpa berusaha mempermanis. Eyang Narti terdiam, lalu menghela napas panjang.

“Astaga… padahal kalian sama-sama di Jakarta. Tapi masa bisa nggak tahu kabar sih?”

Kayla menunduk. Tangannya kembali mendorong kursi roda itu menuju ruang tamu. Roda berderit pelan, mengisi keheningan yang canggung.

“Eyang lupa,” ucap Kayla ringan, seolah bercanda, “cucu Eyang ini anak buangan. Jadi ya… nggak bakal dipeduliin lagi.”

“Hush!” Eyang Narti menepuk tangan Kayla pelan. “Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan!”

Kayla tertawa kecil. “Hehehe… kan fakta, Eyang.”

Tapi tawa itu terdengar kosong. Eyang Narti menoleh, menatap cucunya lama.

Tatapan itu bukan marah, bukan kecewa melainkan penuh kepedihan. Ia mengenal Kayla terlalu baik. Tertawa adalah tamengnya. Candaan adalah caranya menutupi luka.

Padahal di balik itu, hati cucunya rapuh. Terlalu rapuh untuk usia yang seharusnya masih belajar berharap.

“Kayla…” suara eyangnya melembut. “Kamu itu bukan anak buangan. Kamu cuma anak yang orang tuanya lupa caranya mencintai dengan benar.”

Kayla terdiam.

Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia memilih memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan tasnya.

“Di sini saja dulu, ya, Nduk,” lanjut eyang Narti. “Nggak usah mikir apa-apa. Di rumah ini kamu selalu punya tempat.”

Kayla mengangguk pelan. “Iya, Eyang.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kayla merasa tidak sendirian.

**

Malam turun perlahan di Surabaya. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, menemani suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun.

Eyang Narti sudah terlelap di kamarnya, sementara Om Arman sibuk merapikan beberapa berkas di meja makan.

Kayla duduk di sofa dengan satu kaki ditekuk. Ponselnya ia bolak-balikkan di tangan, layar menyala lalu mati lagi. Tak ada notifikasi menarik. Tak ada suara bising. Tak ada dentuman musik.

Terlalu sepi.

Dada Kayla terasa gelisah. Sudah bertahun-tahun ia hidup dalam kebisingan, klub malam, tawa palsu, mesin mobil yang meraung di lintasan balap. Kini, keheningan rumah eyangnya justru membuat pikirannya berisik.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Om, minjem mobilnya ya.” ucap Kayla santai.

Arman yang sedang menuang air minum menoleh. “Kamu mau ke mana, Kay?”

“Keluar sebentar.” Kayla mengambil jaket tipis yang tergantung di sandaran kursi. “Om juga nggak akan ke mana-mana kan?”

“Ya nggak sih,” Arman mengernyit, “tapi udah malam. Kamu mau ke mana?”

Kayla mengenakan jaketnya, menarik resleting sampai dada. “Ke alun-alun doang. Mau cari angin.”

Arman menatapnya beberapa detik, menimbang. Ia mengenal Kayla, keras, mandiri, tapi juga menyimpan banyak luka. Menahan gadis itu hanya akan membuatnya semakin memberontak.

Karena pernah kejadian, dulu saat Kayla kecil. Di usia sepuluh tahun, Kayla ingin belajar motor. Tapi karena pada khawatir, tidak ada yang mengizinkan.

Alhasil, Kayla belajar diam diam dan berakhir ke rumah sakit.

Sifat Kayla sangat keras, penuh rasa penasaran. Melarangnya, sama saja dengan menyuruhnya.

“Ya sudah sana.” Arman akhirnya mengalah. “Tapi jangan malam-malam pulangnya.”

Kayla tersenyum kecil. “Oke, Om. Bilangin ke Eyang nanti kalau nyari Kayla.”

“Iya, gampang.”

1
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kalau udah lihat kamu juga pasti suka Del🤣🤣
Redmi Nam
nunggu momen Hanan berdua sama Kayla..
Eka ELissa
uang Kayla byk umi kmrin aj abis mnang balap liar 200 juta tiap main...
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!