**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang berbeda
Pagi itu, suasana sekolah sudah cukup ramai. Beberapa kendaraan memasuki halaman, sementara para siswa berjalan melewati gerbang sambil berbincang dengan teman-teman mereka.
Keiran baru saja memarkirkan motornya di area parkir siswa. Setelah melepas helm, dia merapikan rambutnya sekilas, kemudian mengambil tas yang tergantung di motor. Namun, alih-alih langsung menuju kelas, laki-laki itu justru berjalan ke arah gerbang sekolah.
Dia berdiri tidak jauh dari pos satpam, sesekali memperhatikan kendaraan yang datang. Pagi ini, ada seseorang yang sengaja ingin ditemuinya sebelum kegiatan belajar dimulai.
Hikari.
Sejak semalam, Keiran beberapa kali teringat percakapan mereka di taman. Pengakuan yang akhirnya disampaikan membuat perasaannya jauh lebih ringan. Bahkan, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, dia bisa tidur tanpa terus memikirkan kesalahannya kepada gadis itu.
Keiran melihat jam di ponselnya. Masih ada beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat gerbang. Keiran langsung mengenali kendaraan tersebut. Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu memperhatikan pintu belakang yang mulai terbuka.
Hikari turun dari mobil sambil membawa tas sekolahnya. Setelah berpamitan singkat kepada Pak Damar, dia menutup pintu dan hendak berjalan menuju gerbang.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat seseorang berdiri tidak jauh dari sana.
Keiran.
Hikari sempat mengerjapkan mata. Dia bahkan memastikan sekali lagi bahwa orang yang dilihatnya memang laki-laki itu. Keiran berdiri dengan santai, satu tangan memegang tali tas, sementara pandangannya tertuju langsung kepadanya.
Apa keiran emang suka begini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Hikari. Semalam mereka baru saja saling mengungkapkan perasaan, tetapi pagi ini Keiran sudah menunggunya di gerbang sekolah.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibir Hikari.
Ada perasaan senang yang sulit disembunyikan. Dia tidak menyangka Keiran akan melakukan hal sederhana seperti itu, terlebih mengingat laki-laki tersebut biasanya lebih suka datang ke sekolah tanpa banyak memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Hikari akhirnya berjalan mendekat.
"Pagi," sapanya sedikit malu-malu.
Keiran menatapnya, lalu membalas sapaan itu dengan senyuman tipis.
"Pagi."
Hikari sempat terdiam melihat ekspresi tersebut. Senyuman Keiran terlihat berbeda dari biasanya. Bukan senyum singkat yang hanya muncul sesekali, melainkan senyum yang membuat wajahnya tampak jauh lebih ramah.
"Kamu dari tadi di sini?" tanya Hikari.
"Baru beberapa menit."
"Kenapa nggak langsung ke kelas?"
Keiran mengangkat bahu kecil.
"Nunggu kamu."
Jawaban singkat itu membuat Hikari kembali salah tingkah. Dia segera mengalihkan pandangan, berpura-pura memperhatikan keadaan sekitar agar Keiran tidak menyadari perubahan ekspresinya.
Keiran justru terlihat sedikit terhibur melihat reaksinya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Enggak."
"Kamu malu?"
Hikari menoleh sebentar. "Nggak."
Keiran tersenyum lagi. "Oh, begitu."
Mereka kemudian mulai berjalan memasuki area sekolah. Keiran mengambil langkah di samping Hikari, menyesuaikan kecepatan jalannya agar tidak terlalu jauh meninggalkan gadis itu.
Sepanjang perjalanan menuju gedung kelas, Keiran sesekali mengajukan pertanyaan sederhana. Mulai dari apakah Hikari sudah sarapan, bagaimana tidurnya semalam, sampai apakah ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tetapi cukup membuat Hikari merasa bahwa ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
"Aku sudah sarapan," jawab Hikari ketika Keiran kembali menanyakan hal yang sama.
"Bagus."
"Kamu sendiri?"
"Belum."
Hikari menoleh kepadanya. "Kenapa nggak sarapan?"
"Bangun agak telat."
"Padahal kamu bisa beli sesuatu di kantin."
"Nanti saja."
Hikari menggeleng kecil. "Jangan sampai nggak makan."
Keiran meliriknya. "Kamu sekarang jadi suka ngatur aku?"
Hikari langsung menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Bukan begitu. Aku cuma mengingatkan."
"Aku tahu."
Keiran kembali tersenyum kecil. Sementara Hikari hanya bisa menghela napas pelan, merasa bahwa laki-laki di sampingnya itu mulai lebih sering menggodanya daripada biasanya.
Namun, tanpa mereka sadari, kedekatan tersebut mulai menarik perhatian beberapa siswa yang kebetulan berada di sekitar mereka.
Dua orang siswi yang sedang berjalan menuju kelas memperlambat langkah ketika melihat Keiran dan Hikari berjalan berdampingan. Mereka saling melirik, kemudian mulai berbisik.
"Itu Keiran, kan?"
"Iya. Sama Hikari?"
"Sejak kapan mereka dekat?"
"Kayaknya akhir-akhir ini sering kelihatan bareng."
Bisikan serupa juga terdengar dari beberapa siswa lain. Sebagian terlihat heran karena Keiran yang biasanya berjalan sendiri kini justru menemani Hikari menuju gedung kelas.
Bukan hanya itu, senyuman yang sesekali terlihat di wajah Keiran juga menjadi sesuatu yang cukup mencolok. Mereka yang sudah mengenal Keiran sejak lama tahu bahwa laki-laki itu bukan seseorang yang mudah menunjukkan ekspresi ramah kepada orang lain.
Hikari sempat menyadari beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Dia sedikit memperlambat langkah, lalu menundukkan wajah.
Keiran menyadari perubahan tersebut.
"Kamu kenapa?"
Hikari menggeleng. "Enggak apa-apa."
"Mereka lihat kita?"
Hikari tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik beberapa siswa yang masih berbisik di dekat tangga.
Keiran mengikuti arah pandangannya, lalu kembali menatap Hikari.
"Biarin aja."
"Tapi mereka jadi merhatiin kita."
"Emangnya kenapa?"
Hikari terdiam.
Keiran memasukkan satu tangannya ke saku celana. Sikapnya tetap tenang seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Aku nggak masalah kalau mereka tahu kita jalan bareng."
Hikari kembali menoleh kepadanya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat wajahnya terasa hangat.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai tiba di persimpangan koridor yang mengarah ke kelas masing-masing. Keiran berhenti ketika menyadari bahwa Hikari harus mengambil jalan berbeda.
"Kelas aku ke sana," ujar Hikari sambil menunjuk koridor di sebelah kanan.
Keiran mengangguk.
"Iya. Nanti ketemu lagi."
Hikari tersenyum kecil. "Iya."
Namun, sebelum Hikari benar-benar pergi, Keiran kembali memanggilnya.
"Hikari."
Gadis itu menoleh. "Apa?"
"Jangan lupa makan siang."
Hikari sempat terdiam, lalu mengangguk.
"Kamu juga."
Keiran membalasnya dengan senyuman sebelum akhirnya berbalik menuju kelasnya.
Hikari masih berdiri beberapa saat, memperhatikan punggung Keiran yang semakin menjauh. Setelah itu, dia melanjutkan langkah menuju kelas dengan senyum yang sulit dihilangkan dari wajahnya.
Ketika Hikari memasuki kelas, Neta sudah duduk di bangkunya. Gadis itu sedang merapikan beberapa buku di atas meja. Namun, begitu melihat Hikari datang dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, Neta langsung mengangkat kepala.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Hikari berhenti di samping bangkunya.
"Enggak."
Neta memperhatikan wajahnya dengan sedikit menyipitkan mata. Dia sudah cukup mengenal Hikari untuk mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan gadis itu.
"Yakin?"
Hikari mengangguk sambil meletakkan tasnya.
Neta tidak langsung bertanya lagi. Namun, ketika Hikari mulai duduk, dia kembali melirik sahabatnya tersebut.
"Eh, tadi gue lihat lo sama Kei di depan gerbang."
Gerakan tangan Hikari yang sedang mengambil buku mendadak berhenti.
"Kamu lihat?"
Neta mengangguk. "Iya. Kalian jalan bareng sampai koridor."
Hikari menunduk, mencoba terlihat biasa saja.
"Kebetulan ketemu."
Neta mengangkat alis. "Kebetulan?"
"Iya."
Neta tidak langsung menanggapi. Dia hanya memperhatikan Hikari yang terlihat semakin salah tingkah setiap kali nama Keiran disebutkan.
"Terus, kenapa wajah lo begitu?" tanyanya sambil menahan senyum.
"Emangnya kenapa?"
"Kayak orang lagi senang."
Hikari segera membuka buku pelajaran, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Udah, nanti bel masuk."
Neta akhirnya tertawa kecil. Dia tidak memaksa Hikari bercerita lebih jauh, meskipun rasa penasarannya semakin besar.
Sementara itu, Hikari mencoba memusatkan perhatian pada buku di hadapannya. Namun, pikirannya sesekali kembali mengingat kejadian pagi tadi, terutama ketika Keiran mengatakan bahwa dirinya sengaja menunggu.
Untuk pertama kalinya, pagi di sekolah terasa begitu menyenangkan baginya.
Dan tanpa Hikari sadari, perubahan kecil dalam hubungan mereka mulai menjadi bahan pembicaraan di antara siswa-siswa lain.
Sementara Keiran sendiri tampaknya tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Baginya, menunggu Hikari di gerbang sekolah bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.