NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Jalan Berliku dan Undangan Warna Krem

Jumat sore, udara di Dharmasraya terasa lebih lengket dari biasanya.

Nadia sudah selesai mengepak tas travel-nya. Dua hari. Ia dapat jatah pulang ke Padang Panjang untuk urus persiapan pernikahan. Harusnya ia senang. Tapi sejak pagi perutnya mual.

Saat ia menyeret tas keluar dari area mess, sebuah mobil double cabin hitam yang baknya berdebu sudah parkir di depan pagar. Arif bersandar di pintu sopir, pakai kemeja flanel kotak biru yang lengannya digulung sampai siku.

"Terminal Simpang sudah penuh, jalan macet kalau naik angkutan. Naik saja," ucap Arif datar, seolah menawarkan tumpangan ke kantin, bukan mengantar perempuan tunangan orang ke terminal bus lintas Sumatera.

"Aku bisa naik ojek, Arif. Nanti kamu repot," tolak Nadia, meski dalam hati ia tahu kakinya sudah pegal untuk jalan kaki ke gerbang utama yang jaraknya hampir satu kilometer.

Arif tertawa pelan, jalan menghampiri dan dengan mudah mengambil alih tas berat dari tangan Nadia.

"Tas kamu isinya batu bata ya Nad? Berat banget. Ayo masuk. Kalau kamu telat naik bus, siapa yang mau marah-marah soal warna krem besok pagi?" katanya.

Nadia menyerah. Ia masuk ke kursi penumpang. Kabin mobil itu dingin, bau pengharum pinus dan tembakau tipis.

Perjalanan menuju terminal berlangsung dalam hening yang nyaman, tapi sarat hal yang tidak terucap. Arif nyetir dengan satu tangan di kemudi, tangan lain sesekali pindah gigi. Nadia perhatikan profil wajahnya. Rahang tegas, ada bekas luka tipis di dekat pelipis. Mantan tentara, mungkin? Atau memang laki-laki yang terbiasa hidup keras.

"Emang Kamu akan baik-baik saja di sana?" tanya Arif tiba-tiba, matanya tetap fokus ke jalan berlubang.

"Di Padang Panjang? Tentu saja. Itu kampungku," jawab Nadia.

"Bukan itu," Arif melirik sekilas. "Maksudku, kembali ke hidup yang sudah diatur rapi. Kembali ke laki-laki yang tangannya tidak bau oli dan tidak pernah mukul katup uap pakai kunci pipa."

Nadia telan ludah. Kalimat itu seperti tamparan halus.

"Rizki pria baik, Pak Arif. Dia sangat bertanggung jawab," jawab Nadia, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

"Aku tidak ragukan itu," Arif senyum miring, tapi matanya tidak ikut senyum. "Tanggung jawab dan gairah itu dua hal beda, Nad. Hati-hati saja. Jangan sampai kamu menikah cuma karena semuanya sudah diatur, bukan karena kamu menginginkannya."

"oh.. ya kalau di luar pabrik kamu gak usah manggil pak.. panggil mas, abang atau Arif aja boleh. "

"ok.. pak., eh Arif. "

Mobil berhenti di depan terminal yang ramai dan berdebu. Arif turunkan tas Nadia. Saat Nadia hendak keluar, Arif tahan pintu sebentar.

"Kalau kamu butuh seseorang untuk dengarkan keluh kesahmu soal warna undangan... kamu tahu di mana cari saya," ucap Arif, suaranya turun, sangat intim di dalam kabin mobil.

Nadia mengangguk kaku, menutup pintu, dan tidak menoleh lagi saat mobil itu menjauh. Namun bayangan mata hitam Arif terus menghantuinya sepanjang perjalanan bus enam jam menembus Bukit Barisan yang berkelok dan berkabut.

Sabtu pagi, udara Padang Panjang sejuk dan berkabut. Jauh berbeda dengan Dharmasraya.

Nadia duduk di sebuah kedai kopi bergaya industrial yang estetik di pusat kota. Dinding bata ekspos, lagu akustik pelan, aroma kopi susu. Di hadapannya, Rizki duduk dengan postur sempurna, rambut disisir rapi tanpa satu helai berantakan. Ia pakai kemeja putih yang disetrika licin dan jam tangan pintar terbaru.

Rizki tidak bau oli. Ia wangi parfum mahal yang segar.

"Nad, kamu lihat ini," Rizki buka map kulit di depannya, mengeluarkan tiga lembar sampel kertas undangan. "Aku sudah diskusi sama vendor-nya. Yang ini, Ivory Cream, menurutku paling pas. Filosofinya bersih, suci, dan elegan. Sesuai konsep pernikahan kita yang sederhana tapi bermakna."

Nadia menatap kertas itu. Warnanya memang cantik, lembut, mahal. Tapi saat ia sentuh, tidak ada apa-apa. Tidak ada debar jantung, tidak ada panas di pipi. Dingin.

"Iya, Riz. Cantik," jawab Nadia datar.

Rizki senyum puas, menyimpan kembali sampel itu. "Bagus. Oh ya, bagaimana di pabrik? Kamu pasti lelah ya. Tapi aku bangga, kamu kan perempuan mandiri. Ibu juga bilang, calon menantunya ini pasti kuat mental."

Rizki tidak tanya apakah mesinnya meledak. Tidak tanya apakah ia ketakutan saat alarm bunyi kemarin. Rizki hanya lihat Nadia dari jauh, sebagai sosok yang kuat dan mandiri, sehingga ia tidak perlu repot tanya kabarnya mendalam.

"Kerjanya banyak, Riz. Pabriknya panas dan berisik. Kemarin katup uap macet, tekanan turun," jawab Nadia, coba pancing sedikit empati.

Rizki mengangguk paham, lalu menyeruput cappuccino-nya. "Iya, itu risiko dunia industri. Tapi kamu kan lulusan terbaik di kampusmu. Kamu pasti bisa adaptasi. Lagipula, bulan depan kamu sudah resign kan? Kita sepakat kamu fokus jadi ibu rumah tangga dulu, sambil mungkin buka les privat akuntansi di rumah. Biar lebih bersih dan nyaman."

Nadia terdiam.

Resign. Kata itu sudah diucapkan Rizki tiga kali dalam sebulan terakhir. Rizki sudah rencanakan hidupnya, hapus kariernya di pabrik, dan ganti dengan kehidupan bersih dan nyaman yang Rizki inginkan.

"Riz..." Nadia beranikan diri, menatap lurus ke mata tunangannya. "Kalau... kalau aku tidak mau resign? Kalau aku ternyata suka bekerja di pabrik? Aku suka hitung-hitungan produksi, suka tantangan di sana."

Rizki berhenti minum. Alisnya berkerut tipis, gestur yang sangat ia lakukan saat ada muridnya salah jawab soal sejarah.

"Nad, kita sudah bahas ini. Pabrik sawit itu lingkungan laki-laki. Bau, panas, kasar. Aku tidak mau istriku pulang tiap hari dengan baju bau minyak goreng dan kulitnya rusak karena matahari. Aku ingin kamu dijaga, Nad. Itu bentuk cintaku. Aku ingin kamu tetap lembut."

Dijaga. Kata yang sama yang dipakai Arif untuk mendeskripsikan Rizki semalam. Memperlakukanmu seperti porselen mahal di dalam lemari kaca.

Tiba-tiba, Nadia teringat tangan Arif. Tangan yang kasar, berkapalan, bau oli, namun saat menyeka noda di pipinya, tangan itu terasa begitu hati-hati, seolah Nadia adalah sesuatu yang berharga, bukan sekadar barang pajangan. Arif melihat Nadia sebagai perempuan dewasa yang bisa berdiri di tengah badai, sementara Rizki melihatnya sebagai anak kecil yang harus disembunyikan dari hujan.

"Nad? Kamu melamun?" Suara Rizki membawanya kembali ke realita kedai kopi yang wangi.

"Eh, tidak," Nadia memaksakan senyum, mengambil sampel undangan Ivory Cream itu. "Aku cuma mikir... warna ini memang cocok."

Cocok untuk dipajang. Cocok untuk dilihat orang lain. Tapi tidak hangat.

"Syukurlah," Rizki tersenyum, merengkuh tangan Nadia di atas meja. Tangan Rizki halus, hangat, dan bersih. Kukunya terpotong rapi.

Nadia membalas pegangan tangan Rizki. Namun, di sudut pikirannya, ia bisa dengar suara hujan yang menghantam atap seng pabrik di Dharmasraya. Ia bisa cium aroma asam lemak dan kopi hitam pahit. Ia bisa rasakan lagi sentuhan kasar di pipinya kemarin.

Dan untuk pertama kalinya, Nadia sadari sesuatu yang membuatnya ingin menangis di tengah kedai kopi estetik itu.

Ia tidak sabar ingin kembali ke pabrik.

Bukan karena pekerjaannya. Tapi karena di sana, ada seorang laki-laki yang menatapnya seolah ia adalah api yang nyata, bukan porselen yang akan pecah.

Di sana, ia merasa hidup.

"Nad, kamu kenapa? Mata kamu merah?" tanya Rizki.

Nadia cepat-cepat usap matanya. "Gak ada apa-apa koq,. Riz. Kelilipan debu. Tadi di jalan banyak debu."

Padahal di Padang Panjang tidak ada debu sawit. Debu itu sudah ia bawa dari Dharmasraya. Debu yang kini menempel di hatinya dan tidak mau hilang.

"Oh ya, nanti sore kita ke rumah Ibu ya. Ibu sudah siapkan kebaya untuk fitting. Warna kremnya harus pas sama undangan," kata Rizki lagi.

Nadia mengangguk. Ia mengangguk seperti boneka.

Dalam hati, ia sudah menghitung jam. Kapan bus terakhir berangkat kembali ke Dharmasraya. Kapan ia bisa kembali mencium bau oli dan kopi pahit itu lagi.

Ia merasa bersalah. Sangat bersalah pada Rizki yang baik. Tapi rasa bersalah itu kalah dengan rasa rindu yang aneh, yang baru tumbuh dua hari ini.

Rindu pada neraka kecil bernama Dharmasraya.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!