Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Penebusan Darah dan Abu Kepalsuan
Suasana di dalam gua utama Hutan Misti malam itu dipenuhi oleh pergerakan yang sunyi namun diburu waktu. Tidak ada kepanikan yang tidak terarah; di bawah komando Altair, ras goblin yang dulunya liar kini bergerak dengan disiplin baja layaknya legiun veteran.
Di lorong bagian selatan, Anrus memimpin ratusan Hobgoblin elit yang memanggul karung-karung logistik. Di tengah barisan itu, dua tandu besar yang terbuat dari kayu dan kulit monster diusung dengan sangat hati-hati. Di atasnya, Lyra dan Cassvia terbaring lemah, dikelilingi oleh para bayi hijau dan ungu mereka. Kedua wanita bangsawan itu terlalu lelah dan hancur secara mental untuk melawan saat mereka digiring menuju kegelapan wilayah Selatan.
Sementara evakuasi besar-besaran berlangsung, Altair berdiri diam di depan sel tahanan yang segera ditinggalkan.
Di dalam sel tersebut, dua sosok telah terbaring kaku, mengenakan gaun biru dan zirah perak yang telah disiapkan persis seperti instruksinya. Semuanya sudah pada tempatnya.
Altair mengangkat sebelah tangannya. Ujung jarinya memancarkan percikan api yang menyala merah terang di tengah kegelapan gua. Tanpa sedikit pun keraguan, sang Kaisar menjentikkan jarinya.
Wusss!
Bola api itu melesat ke dalam sel, menyambar jerami kering dan langsung melahap kedua tubuh tak bernyawa tersebut. Kobaran api seketika menerangi lorong, diiringi suara gemeretak dan bau hangus yang menyengat. Dalam hitungan menit, panggung kepalsuan itu akan terbakar sempurna, menyisakan hanya kerangka dan zirah perak sebagai "hadiah" yang tak terbantahkan bagi para manusia.
Altair berbalik tanpa menoleh lagi, meninggalkan lorong yang mulai dipenuhi asap. Ia melangkah menuju aula utama yang kini sudah nyaris kosong.
Hanya ada satu kelompok yang tersisa di sana, berdiri kaku menanti titah terakhir sang Kaisar.
Di tengah aula, Grush berdiri menjulang setinggi hampir tiga meter. Hobgoblin raksasa itu mengenakan zirah dari tengkorak beruang dan memegang sebuah kapak besi raksasa. Di belakangnya, dua puluh Hobgoblin pilihan berdiri rapat, diapit oleh sekitar lima puluh goblin liar yang terlalu tua, buta, atau cacat. Mereka adalah ampas kekaisaran—mereka yang tidak akan sanggup bertahan dalam migrasi ke Selatan.
Altair berhenti tepat di hadapan Grush. Ia menatap mata tunggal raksasa putih yang telah dimutasi itu. Tidak ada lagi kebuasan liar di mata Grush; yang ada hanyalah kepatuhan absolut.
"Grush," panggil Altair, suaranya menggema pelan di aula batu.
Raksasa itu segera menjatuhkan satu lututnya ke lantai, menimbulkan dentuman keras. Kapaknya diletakkan di samping kakinya. "Kaisar memanggil. Grush mendengarkan."
"Kau ingat pertemuan pertama kita di lembah barat laut?" tanya Altair.
Grush menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuh besarnya sedikit gemetar karena rasa malu yang amat sangat. "Grush ingat. Grush bodoh. Grush berani mengangkat senjata... berani menantang Kaisar. Dosa Grush lebih besar dari gunung."
"Benar. Melawan seorang Kaisar adalah dosa mutlak, dan dalam hukum kekaisaranku, pengampunan hanya bisa dibeli dengan darah," Altair melangkah mendekat, meletakkan tangannya yang ramping di atas bahu raksasa itu. "Malam ini, aku memberimu kesempatan untuk membersihkan dosa itu."
Mata tunggal Grush mendongak, memancarkan kesetiaan yang menyala terang. "Grush siap mati! Apa yang harus Grush lakukan?!"
"Manusia akan tiba di gua ini sebentar lagi." Altair menunjuk ke arah pintu masuk gua yang gelap gulita. "Aku meninggalkanmu di sini bersama prajurit-prajurit ini. Tugasmu bukan untuk menang. Tugasmu adalah memberikan perlawanan paling brutal, paling berdarah, dan paling putus asa yang pernah dilihat oleh mereka."
Altair menunduk, menatap lurus ke mata Grush. "Gunakan setiap jebakan. Gigit leher mereka, hancurkan zirah mereka, bertarunglah layaknya iblis pelindung sarang. Buat manusia-manusia itu percaya bahwa setelah mereka membunuhmu, ras goblin di hutan ini telah musnah seutuhnya."
"Ini adalah misi bunuh diri," sambung Altair dingin. "Kau dan semua yang berdiri di ruangan ini tidak akan melihat matahari terbit besok pagi."
Alih-alih ketakutan, Grush justru memukul dadanya dengan kepalan tangannya yang sekeras besi. Sebuah senyum buas mengembang di wajahnya yang penuh bekas luka.
"Kematian untuk Kaisar... adalah penebusan terindah!" raung Grush dengan suara seraknya. "Grush akan mandi darah manusia! Grush akan membuat mereka berpikir mereka sedang melawan Dewa Kematian!"
Di belakangnya, dua puluh Hobgoblin dan para goblin tua itu ikut memekik, mengayunkan senjata rongsokan mereka ke udara, menerima takdir kematian mereka dengan kefanatikan yang mengerikan.
Altair tersenyum tipis. Ia menarik tangannya dari bahu Grush.
"Mati dengan bangga, Komandan Grush. Nama dan pengorbananmu akan tercatat dalam fondasi kekaisaranku," ucap Altair sebagai penghormatan terakhir.
Sang Kaisar Emas kemudian berbalik. Jubah hitamnya berkibar menembus kegelapan lorong selatan, menyusul barisan utama yang telah lebih dulu pergi.
Grush berdiri perlahan. Ia mengambil kapak besarnya, lalu membalikkan badan menghadap mulut gua. Hawa dingin malam berembus masuk, membawa bau mesiu dan dengung trompet perang dari kejauhan.
Raksasa itu mengangkat kapaknya, matanya menyala dalam kegelapan.
"Bersiap!" raung Grush kepada sisa-sisa pasukan buangan di belakangnya. "Malam ini kita tidak bertarung untuk hidup! Kita bertarung untuk mati!"