Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Taksi yang membawa Erlyn melaju membelah kemacetan jalanan kota, membawa serta sisa-sisa kepedihan yang meremukkan jiwanya.
Sepanjang perjalanan, Erlyn menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang dingin. Bayangan ranjang hitam sutra itu, sentuhan-sentuhan yang merendahkan martabatnya, serta rasa jijik yang membakar sekujur tubuhnya terus berkelebat di kepalanya tanpa henti.
Setiap detik terasa begitu menyiksa, membuat tenggorokannya tercekat oleh isak tangis yang mati-matian ia tahan agar tidak pecah di dalam taksi.
Aku sudah melakukannya... aku sudah mengorbankan harga diriku... kumohon, lindungi keluargaku, Tuhan... batinnya meratap pilu, memeluk tas kecilnya erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai lautan yang menenggelamkannya.
Namun, Erlyn tidak menyadari ada satu hal yang jauh lebih mengerikan.
Beberapa ratus meter di belakang taksi tersebut, mobil sedan hitam sewaan yang dikemudikan oleh Iqbal bergerak pelan dalam jarak aman.
Di balik kemudi mobil itu, Iqbal mencengkeram lingkar kemudi dengan buku-buku jari yang memutih hingga memerah. Rahangnya mengeras kaku, dan tatapan matanya menyala oleh amarah serta rasa sakit yang luar biasa membuncah di dadanya.
Sepanjang dua jam Erlyn berada di dalam gedung apartemen mewah Grand Tower tadi, Iqbal telah membakar habis kesabarannya di dalam mobil. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat istrinya masuk ke lobi megah gedung tersebut.
Dunia Iqbal runtuh seketika pada detik itu juga.
Rasa cemburu yang menusuk, ketakutan akan pengkhianatan, serta rasa penasaran yang menyiksa berganti menjadi gelombang kemarahan yang mendidih.
Istri yang selama sepuluh tahun ia cintai dengan tulus, wanita yang selalu ia anggap sebagai rumah tempat ia pulang, ternyata mendatangi sebuah apartemen mewah milik pria asing secara diam-diam. Iqbal yakin, yang ditemui Erlyn adalah seorang pria.
Dan ketika taksi Erlyn akhirnya berhenti di depan rumah kecil mereka, Iqbal memarkirkan mobil rentalnya agak jauh di ujung jalan, di bawah bayang-bayang pohon peneduh.
Ia tidak langsung turun. Ia menunggu sampai Erlyn turun dari taksi, melangkah gontai melewati pagar putih, dan membuka pintu rumah dengan kunci cadangannya.
Iqbal baru keluar dari mobilnya beberapa menit kemudian. Langkah kakinya terasa berat, menghampiri rumah yang selama ini menjadi saksi kebahagiaan mereka, namun kini terasa begitu asing dan menyesakkan.
Saat Iqbal membuka pintu depan dan melangkah masuk, suasana rumah sangat sunyi. Rara sudah lama tertidur lelap di kamarnya. Dari arah kamar mandi belakang, terdengar suara kencang kucuran air pancuran shower yang menyala tanpa henti.
Iqbal melepas jaketnya dan melemparnya begitu saja ke atas sofa ruang tengah. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi utama yang tertutup rapat, mendengarkan suara air yang bergemuruh di baliknya.
Ia menerka nerka apa yang sedang dilakukan istrinya di dalam sana, mencoba membersihkan diri, mencoba meruntuhkan jejak-jejak kotor yang menempel di tubuhnya setelah menemui pria itu.
Cklek.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka dari dalam. Uap hangat mengepul keluar bersamaan dengan aroma sabun. Erlyn melangkah keluar dengan mengenakan piyama tidur rumahan yang longgar. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak dan merah kuyup, serta rambutnya basah kuyup menempel di lehernya.
Langkah Erlyn seketika terhenti. Jantungnya serasa copot dari tempatnya saat ia mendapati Iqbal berdiri tepat di ambang pintu kamar mandi, menghalangi jalurnya dengan postur tubuh yang kaku dan sorot mata yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Sorot mata itu penuh dengan badai yang siap meledak, campuran antara kemarahan, kekecewaan mendalam, dan kepedihan yang teramat sangat.
"M-mas..." bisik Erlyn terbata-bata, suaranya sangat serak, hampir tak keluar dari tenggorokannya yang kering. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa membeku. "Kamu... kamu baru pulang?"
Iqbal tidak menjawab. Pria itu perlahan melangkah maju mendekati istrinya. Setiap langkah yang diambil Iqbal membuat Erlyn secara insting mundur ke belakang, hingga punggungnya akhirnya membentur dinding kamar tidur. Ia terjebak.
Iqbal berhenti tepat di hadapannya, jarak di antara mereka kini begitu dekat, hingga Erlyn bisa merasakan embusan napas suaminya yang berat dan memburu.
"Dari mana kamu, Erlyn?" tanya Iqbal dengan suara yang sangat rendah, begitu tenang, namun justru terdengar jauh lebih menakutkan daripada sebuah bentakan keras.
Erlyn menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat hebat. "Aku... aku dari rumah teman lama, Mas... seperti yang kubilang tadi..."
"TEMAN LAMA?" potong Iqbal cepat. Suaranya tiba-tiba meninggi, memecah keheningan malam rumah itu dengan nada penuh kepedihan yang membakar. Iqbal mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. "Teman lama apa yang tinggal di unit apartemen mewah Grand Tower di pusat kota?!
Teman lama apa yang membuat istriku pergi diam-diam setiap hari Rabu, pulang dengan wajah pucat dan berbohong padaku?!"
Mendengar nama gedung apartemen itu disebut, sekujur tubuh Erlyn mendadak lemas. Dunia di sekelilingnya berputar kencang. Ia menatap wajah suaminya dengan mata terbelalak lebar, air matanya langsung tumpah seketika membasahi pipinya yang pucat.
"K-kamu... kamu mengikutiku, Mas...?" bisik Erlyn lemah, suaranya gemetar parah.
"Iya! Aku mengikutiku!" bentak Iqbal, kemarahannya akhirnya tumpah ruah tak tertahankan lagi. Ia menatap tajam ke dalam mata istrinya, air mata penyesalan dan kepedihan turut menggenang di pelupuk mata pria itu.
"Aku mengikutimu karena aku melihatmu gelisah setiap malam! Aku ingin melindungimu! Tapi apa yang kudapati? Aku melihat istriku sendiri berjalan masuk ke apartemen pria lain secara sukarela!"
"Bukan... bukan itu... kumohon dengarkan aku dulu, Mas...!" rintih Erlyn histeris. Ia menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai, mencengkeram ujung celana suaminya sambil menangis sejadi-jadinya. "Aku nggak berselingkuh... demi Tuhan, aku nggak mengkhianatimu..."
"Lalu apa namanya?!" suara Iqbal bergetar hebat, napasnya memburu. Ia menunduk menatap istrinya yang tersungkur di lantai.
Hati Iqbal terasa dirobek-robek melihat wanita yang sangat dicintainya berada dalam kondisi sehina itu di hadapannya.
"Kamu masuk ke tempat pria lain, menghabiskan waktu berjam-jam di sana, dan pulang dalam keadaan begini! Kalau itu bukan pengkhianatan, lalu apa, Erlyn?! Katakan padaku siapa pria itu? Katakan padaku berapa nomor unit kamarnya!"
Erlyn menggelengkan kepalanya dengan kuat di atas lantai, menangis histeris hingga suaranya serak. Ia tidak bisa menyebut nama Hendi.
Ia tidak bisa menceritakan tentang masa lalu dan ancaman foto-foto itu, karena ia tahu persis apa yang akan dilakukan Iqbal jika suaminya mendapati dirinya diperas dan dinodai demi menjaga rahasia.
Iqbal adalah pria yang menjunjung tinggi harga diri, suaminya pasti akan mendatangi Hendi, membunuh pria itu, atau menghancurkan hidupnya sendiri dalam kemarahan.
Dan Erlyn tidak ingin kehilangan suaminya demi monster masa lalu itu.
"Dia ada di kamar 402, mas. Tapi aku nggak bisa cerita, Mas... kumohon, jangan tanya lagi..." tangis Erlyn tersengal-sengal, mencengkeram erat kaki Iqbal. "Percaya sama aku... aku melakukan ini semua demi kamu... demi Rara... demi keluarga kita..."
"Demi keluarga?" Iqbal tertawa getir, tawa hampa yang dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat.
Pria itu perlahan melepaskan cengkeraman tangan istrinya dari celananya, lalu mundur selangkah ke belakang. Tatapan matanya berubah dingin, menatap Erlyn dengan rasa asing yang menghujam dada.
"Bagaimana bisa kamu bilang ini demi keluarga, saat kamu sendiri sedang merusak fondasi rumah tangga kita dengan kebohongan dan pengkhianatan ini?" bisik Iqbal lirih, suaranya sarat akan kekecewaan yang tak bertepi. Ia menatap istrinya tajam. "Mulai malam ini... aku nggak tahu lagi siapa wanita yang ada di hadapanku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Iqbal berbalik badan meninggalkan istrinya yang masih bersimpuh di lantai dingin.
Ia melangkah keluar kamar, membanting pintu rumah dengan keras, lalu pergi membawa mobil rentalnya ke tengah malam yang sunyi, membiarkan Erlyn menangis seorang diri dalam dekapannya yang hancur berkeping-keping.
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi