Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Mami
Di dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam, Nyonya Cassia duduk di kursi belakang bersama Kirana.
Sejak meninggalkan kediaman keluarga Lin, wanita paruh baya itu tampak begitu antusias memperhatikan calon menantunya, bahkan sesekali menggenggam tangan Kirana dengan penuh kasih sayang.
“Ya ampun, ternyata kamu jauh lebih cantik daripada foto yang Mami lihat!” seru Cassia sambil tersenyum lebar. “Untung saja yang akan menikah dengan anak Mami itu kamu, bukan putri angkat keluarga Lin yang satu itu.”
Kirana berkedip pelan, tidak menyangka wanita yang baru dikenalnya beberapa jam lalu sudah berbicara seblak-blakan itu. Cassia bahkan menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak habis pikir.
“Mami benar-benar tidak bisa membayangkan kalau yang menjadi menantu Mami justru gadis itu,” lanjutnya. “Wajahnya saja tebal sekali seperti dinding mansion, sudah jelas-jelas bukan putri kandung keluarga Lin, tetapi kelakuannya seolah-olah dialah pemilik seluruh rumah.”
Marco yang duduk di kursi pengemudi hanya fokus menyetir. Ia sudah cukup mengenal sifat Nyonya Cassia, sehingga tidak merasa heran mendengar majikannya mengomentari seseorang tanpa sedikit pun menyaring perkataan.
Tapi jika di depan orang lain. Tentu Nyonya Cassia akan bersikap dingin.
Cassia kembali menoleh kepada Kirana. “Mami juga tidak habis pikir, bagaimana keluarga Lin bisa lebih membela putri angkat daripada putri kandung mereka sendiri.”
“Benar-benar keluarga yang tidak waras,” tambahnya sambil menghela napas. “Kamu jangan tersinggung, ya, Sayang. Mami hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”
Kirana menggeleng pelan. Ia mengambil buku kecilnya, menuliskan beberapa kalimat, lalu memperlihatkannya kepada Cassia.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sama sekali tidak tersinggung.”
Cassia langsung tersenyum puas ketika membaca tulisan tersebut. Namun, beberapa detik kemudian, ia mengerutkan kening seolah baru menyadari sesuatu yang penting.
“Eh, tunggu dulu. Kenapa kamu masih memanggil Mami dengan sebutan Nyonya?”
Kirana menatapnya dengan sedikit kebingungan.
“Mulai sekarang panggil Mami saja, seperti Kendra memanggil Mami,” ujar Cassia tegas. “Kita sebentar lagi menjadi keluarga, jadi tidak perlu terlalu formal.”
Kirana tampak kikuk. Ia menunduk sebentar sebelum kembali menulis di buku kecilnya.
“Baik, Mami. Tapi, apa Mami tidak malu memiliki menantu seperti saya? Saya hanya gadis bisu dari desa.”
Senyum Cassia langsung memudar, digantikan ekspresi tidak setuju. Ia bahkan sedikit mengangkat alis, seolah-olah pertanyaan Kirana barusan terdengar sangat aneh baginya.
“Kenapa harus malu hanya karena kamu tidak bisa berbicara?” jawabnya. “Mami mencari seorang gadis yang baik hati, bukan seseorang yang hanya pandai berbicara tetapi tidak tahu bagaimana menjaga mulutnya.”
Cassia kemudian menyandarkan punggungnya dengan santai. “Di kalangan keluarga elit, banyak sekali nona muda yang memiliki mulut, tetapi tidak punya kemampuan mengendalikannya.”
“Percuma saja punya mulut kalau isinya hanya hinaan, fitnah, dan kesombongan,” tambahnya tanpa ragu. “Mami justru lebih suka menantu yang tahu bagaimana bersikap daripada seseorang yang pandai berpura-pura sopan di depan orang tua.”
Kirana terdiam beberapa saat. Sudut bibirnya sedikit bergerak, menahan keinginan untuk tersenyum karena ia benar-benar tidak menyangka ibu Kendra memiliki kepribadian yang begitu blak-blakan.
Dalam hati, Kirana tidak memahami mengapa Kendra bisa tumbuh menjadi pria yang dingin dan tidak banyak bicara. Tapi ibunya justru berbicara sangat terus terang dan ceria.
“Ah, iya!” Cassia tiba-tiba menepuk pelan tangannya sendiri. “Mami hampir lupa. Mami juga ingin berterima kasih kepadamu.”
Kirana mengerutkan kening. Ia menatap Cassia dengan wajah bingung, lalu mengangkat buku kecilnya seolah bertanya apa yang dimaksud wanita itu.
Cassia mendekat sedikit dan tersenyum penuh arti. “Mami sudah tahu kalau kamu berhasil menyembuhkan adik kecilnya, Kendra.”
Kirana langsung membeku.
“Sekarang sudah berfungsi dengan baik, bukan?” lanjut Cassia dengan wajah penuh semangat. “Wah, kalau begitu setelah menikah nanti, kamu pasti bisa menggunakannya dengan baik. Dijamin masih original lho. Belum pernah digunakan sama sekali.”
Mata Kirana seketika membelalak. Ia menatap Cassia dengan ekspresi sulit dipercaya, sementara Marco yang sedang menyetir mendadak terbatuk-batuk cukup keras.
“Uhuk! Uhuk!”
Mobil mewah itu bahkan sempat sedikit melambat sebelum Marco kembali mengendalikan kemudi dengan benar.
Kirana spontan menoleh ke arah pengemudi. Marco yang menyadari tatapannya segera menggeleng pelan, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Nyonya Cassia.
Sementara itu, Cassia justru tersenyum lebar melihat reaksi keduanya. Ia sama sekali tidak merasa telah mengatakan sesuatu yang memalukan.
Sebenarnya, Cassia sudah mengetahui kejadian malam sebelumnya. Dokter kepercayaan Kendra datang untuk memeriksa kondisi putranya, dan tanpa sengaja Cassia mendengar sebagian percakapan mereka mengenai perubahan kondisi Kendra setelah bertemu Kirana.
Awalnya, wanita itu terkejut bukan main. Tapi setelah mengetahui bahwa Kirana memiliki kemampuan pengobatan yang luar biasa, rasa terkejutnya segera berubah menjadi kegembiraan yang sulit disembunyikan.
Itulah sebabnya Cassia sengaja datang pagi-pagi sekali ke kediaman keluarga Lin. Ia ingin bertemu langsung dengan calon menantu yang berhasil membuat putranya menunjukkan perkembangan yang selama ini dinantikan.
“Pokoknya, Mami sangat berterima kasih kepadamu,” ujar Cassia sambil kembali menggenggam tangan Kirana. “Kendra memang keras kepala dan tidak mudah mempercayai orang lain, tetapi sepertinya dia sudah menemukan seseorang yang bisa membuat hidupnya lebih menarik.”
Kirana hanya bisa tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus menanggapi perkataan Cassia yang semakin lama semakin sulit diprediksi.
Cassia kemudian menepuk tangan Kirana dengan penuh semangat. “Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu terus. Sekarang waktunya berbelanja!”
Kirana mengangkat wajahnya.
“Seminggu lagi kalian akan menikah,” lanjut Cassia dengan mata berbinar. “Mami akan memastikan kamu tampil cantik dan anggun pada hari pernikahan nanti.”
Ia kemudian menoleh ke arah Marco. “Marco, langsung pergi ke pusat perbelanjaan yang biasa Mami kunjungi. Hubungi manajernya juga, katakan bahwa Mami datang bersama calon menantu kesayangan.”
“Baik, Nyonya,” jawab Marco patuh.
Kirana buru-buru mengambil buku kecilnya dan menulis sesuatu.
“Mami, sebenarnya tidak perlu terlalu merepotkan. Saya sudah memiliki pakaian yang cukup.”
Cassia membaca tulisan itu, lalu langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa! Ini pernikahan pertamamu, Mami harus memastikan semuanya sempurna.”
Kirana terdiam, sementara Cassia sudah mulai menyebutkan berbagai hal yang ingin dibelinya, mulai dari gaun, sepatu, perhiasan, hingga perlengkapan pernikahan.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭