NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu, Jingga berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya. Seragam perawat berwarna putih sudah melekat di tubuhnya, rambutnya terikat rapi, dan wajahnya terlihat pucat karena kurang tidur. Ia sudah kembali bekerja sejak kemarin setelah mengambil cuti untuk berduka, tetapi sampai sekarang, hatinya belum benar-benar pulih.

Jingga mengambil foto putranya yang terletak di atas meja. Senyum mungil dalam foto itu membuat dadanya terasa sesak. Ia mengusap bingkai tersebut dengan lembut, mengingat wajah kecil yang dahulu selalu mencari pelukannya setiap kali merasa takut.

“Bunda berangkat kerja dulu, Sayang,” bisiknya. “Doakan Bunda kuat, ya.”

Senyumnya perlahan menghilang ketika ingatan tentang malam kematian putranya kembali muncul. Ia masih bisa mengingat tubuh mungil yang kejang, suara monitor yang berbunyi, serta kepanikan yang memenuhi ruang perawatan.

Malam itu, ia hanya bisa menggenggam tangan anaknya sambil berharap keajaiban datang menyelamatkan mereka. Namun, keajaiban itu tidak pernah datang.

Jingga segera meletakkan foto tersebut. Ia tidak ingin menangis lagi sebelum berangkat kerja. Bagaimanapun, ia adalah seorang perawat. Ada pasien yang menunggunya, dan ia tidak mungkin terus bersembunyi dari kenyataan hanya karena kehilangan yang belum sanggup ia terima.

Setibanya di rumah sakit swasta tempatnya bekerja, Jingga menyapa beberapa rekan yang berpapasan dengannya. Maya yang selama ini mendukungnya, sempat mengirim pesan untuk memastikan Jingga baik-baik saja.

Pagi itu, Maya kebetulan sedang bertugas di bagian lain sehingga belum sempat menemuinya.

Jingga mengganti alas kaki, menyimpan tas di loker, lalu bersiap menjalankan tugasnya. Ia berusaha bersikap biasa, seolah tidak ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.

“Jingga, kamu sudah siap kembali bertugas?” tanya salah seorang rekan perawat.

Jingga mengangguk. “Sudah, aku juga nggak bisa terus-terusan diam di kos.”

“Kalau capek, jangan dipaksakan, ya. Kami semua tahu kamu baru melewati masa sulit.”

“Terima kasih, aku akan berusaha.”

Jingga tersenyum tipis sebelum melanjutkan pekerjaannya. Awalnya, semua berjalan lancar. Ia memeriksa suhu tubuh pasien, mencatat hasil pemeriksaan, dan membantu seorang ibu menenangkan anaknya yang menangis karena takut disuntik.

Namun, ketika ia melewati ruang rawat anak, terdengar tangisan keras dari salah satu kamar. Seorang anak sedang menangis karena kesakitan, sementara keluarganya terlihat panik memanggil perawat.

Langkah Jingga mendadak terhenti.

Tangisan itu membuat pikirannya kembali ke malam ketika putranya mengalami kejang. Ia teringat bagaimana tubuh kecil itu bergerak tanpa kendali, bagaimana dirinya berusaha meminta pertolongan, dan bagaimana ketakutan membuatnya sulit berpikir jernih.

Napas Jingga mulai memburu, ia mencengkeram ujung meja di dekatnya. Telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdebar semakin cepat, dan pandangannya perlahan kabur. Ia tahu dirinya sedang berada di rumah sakit, tetapi bayangan masa lalu terasa begitu nyata hingga ia seolah kembali berdiri di samping ranjang putranya.

“Tidak... jangan...” gumamnya lirih.

Ia berusaha menarik napas dalam-dalam, tetapi dadanya justru terasa semakin sesak. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia merasa tidak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri.

“Jingga?”

Seseorang memanggilnya dari belakang.

Jingga tidak menjawab. Kedua tangannya gemetar, sementara lututnya terasa lemas. Ia mencoba bertahan agar tidak jatuh, tetapi tubuhnya sudah terlalu sulit diajak bekerja sama.

Seorang dokter yang kebetulan melewati lorong segera mendekatinya. Ia mengenakan jas putih dengan stetoskop di leher. Ketika melihat keadaan Jingga, ia meminta orang di sekitarnya memberi ruang.

“Jingga, kamu bisa mendengar saya?” tanyanya tenang.

Jingga hanya menggeleng sambil menangis. Kedua tangannya gemetar, sementara napasnya semakin tidak teratur.

Samudera mengenal perempuan itu. Jingga adalah salah satu perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut. Namun, selama ini mereka hanya sebatas saling mengetahui nama dan wajah tanpa pernah berbincang secara pribadi.

“Tidak apa-apa, Jingga. Kamu sedang berada di rumah sakit. Coba fokus pada suara saya. Kamu aman sekarang,” ucapnya lembut.

Samudera membantunya duduk di kursi terdekat, lalu meminta seorang perawat mengambilkan air minum. Ia tidak mendesak Jingga untuk segera menjelaskan apa yang terjadi. Ia membiarkan perempuan itu menenangkan diri terlebih dahulu.

Setelah napas Jingga mulai teratur, Samudera duduk di hadapannya.

“Boleh saya tahu apa yang kamu rasakan tadi?” tanyanya. “Apakah kamu merasa sesak, jantung berdebar, atau seperti sedang mengalami kejadian yang sama berulang kali?”

Jingga mengangguk lagi.

“Sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?”

“Sudah beberapa kali,” jawabnya lirih. “Biasanya kalau mendengar anak menangis keras atau melihat anak yang kondisinya tiba-tiba memburuk.”

Samudera mendengarkan tanpa memotong ucapannya.

“Anak saya meninggal beberapa bulan lalu,” lanjut Jingga, suaranya bergetar. “Dia mengalami kejang. Saya seorang perawat, Dok. Seharusnya saya tahu apa yang harus dilakukan, seharusnya saya bisa menyelamatkannya.”

Air matanya kembali jatuh.

Samudera terdiam sesaat sebelum menjawab dengan hati-hati. “Jingga, menjadi perawat bukan berarti kamu bisa mengendalikan semua keadaan. Kehilangan anak tidak otomatis berarti kamu gagal sebagai ibu ataupun sebagai tenaga kesehatan.”

“Tapi saya ada di sana, Dok. Saya melihat semuanya. Saya seharusnya bisa melakukan sesuatu.”

“Saya mengerti kamu merasa bersalah. Namun, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa kamu gagal hanya karena hasil akhirnya tidak seperti yang kamu harapkan. Kamu juga berhak mendapatkan bantuan untuk menghadapi kehilangan itu.”

Selama ini, Jingga terbiasa menyalahkan dirinya sendiri. Ia terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan malam itu, seolah-olah mengulang kejadian tersebut bisa mengubah kenyataan. Rangga pernah menyakitinya dengan perkataan dan perlakuannya, tetapi suara paling kejam justru berasal dari pikirannya sendiri.

Ia merasa gagal menjadi ibu, ia merasa tidak becus menjalankan perannya. Ia merasa tidak pantas bahagia setelah kehilangan anaknya.

“Saya takut kejadian itu terulang,” kata Jingga. “Setiap melihat anak sakit, saya langsung teringat anak saya. Saya takut tidak bisa merawat pasien dengan baik.”

Samudera mengangguk. “Kalau begitu, kita hadapi perlahan-lahan. Kamu perlu menjalani pemeriksaan dan penilaian lebih lanjut supaya kita memahami apa yang sedang kamu alami. Jangan memaksakan diri melakukan semuanya sekaligus.”

Jingga mengusap pipinya. “Apa saya masih bisa bekerja seperti dulu?”

“Saya tidak bisa menjanjikan kapan semuanya akan terasa mudah. Tapi mengalami serangan panik bukan berarti kamu kehilangan kemampuan menjadi perawat. Kamu hanya sedang menghadapi sesuatu yang berat dan membutuhkan pertolongan.”

Perkataan itu membuat Jingga terdiam. Selama ini, ia selalu berusaha kuat untuk orang lain. Ia menjadi istri yang berusaha menyenangkan suami, menantu yang menghindari pertengkaran, dan ibu yang ingin memberikan segala hal terbaik untuk anaknya. Kini, setelah semuanya hilang, ia bahkan tidak tahu bagaimana memperlakukan dirinya sendiri dengan baik.

Samudera kemudian mengantarnya ke ruang pemeriksaan untuk memastikan kondisinya stabil. Ia menyarankan Jingga beristirahat dan membicarakan penyesuaian tugas sementara dengan atasannya. Ia juga menjelaskan bahwa Jingga sebaiknya mendapatkan bantuan profesional untuk mengatasi kecemasan dan kenangan traumatis yang terus mengganggunya.

Sebelum meninggalkan ruangan, Samudera kembali menatap wanita itu. “Kalau gejalanya muncul lagi, jangan memaksakan diri sendirian. Beri tahu rekan kerjamu. Kamu juga boleh datang padaku untuk membicarakan langkah perawatan yang sesuai.”

“Terima kasih, Dokter Samudera.”

“Sama-sama, Jingga.”

Setelah dokter itu pergi, Jingga duduk sendirian sambil memandangi kedua tangannya. Ia masih merasa malu, tetapi ada sedikit kelegaan yang sulit dijelaskan. Setidaknya, hari itu ia bertemu seseorang yang tidak menyebutnya lemah hanya karena dirinya menangis.

Sementara itu, Samudera masih memikirkan Jingga. Ia tahu Jingga sedang memikul kehilangan besar, dan ia tidak ingin perempuan itu merasa harus menyembunyikan penderitaannya hanya demi terlihat kuat.

Hari itu, Jingga kembali bekerja setelah beristirahat. Ia masih merasa cemas ketika mendengar tangisan anak dari kejauhan, tetapi ia mencoba mengingat bahwa dirinya sedang berada di masa sekarang, bukan kembali ke malam ketika putranya meninggal.

Ia belum sembuh, ia bahkan belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Namun, Jingga mulai memahami bahwa ia tidak harus menyelesaikan seluruh lukanya dalam sehari.

Ada kehilangan yang perlu ditangisi, rasa bersalah yang perlu dipahami, dan dirinya sendiri yang selama ini terlalu lama ia abaikan. Mungkin... sebelum bangkit dari pernikahan yang menyakitinya, Jingga harus terlebih dahulu belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

1
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
Mundri Astuti
ga sabar ...segala kebusukkan Rangga dan Dira terbongkar didepan keluarga besarnya Rangga termasuk papanya rangga
Nani Haryatiyati
bolehkah aku bahagia di atas masalah mu Rangga?🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
ada kemauan,and i like it☺️
Rohmi Yatun
Ohh berarti yg benar Samudera ya Thor.. okeeyyy..
lanjut Thor👍
𝓡𝓡: Iyesss kak😘
total 1 replies
Rohmi Yatun
Ohh ternyata dewangga dan samudra itu orang yg sama.. kemarin sempat agak bingung sih....
Nani Haryatiyati: iya kak, sama. smpat heran dan spekulasi sendiri,mngkin namanya Samudra Dewangga. Krn formalitas d panggilnya dokter dewangga...gituuu
total 4 replies
Agunk Setyawan
ayo gebukin kak biar otaknya sadar😆😆
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Mundri Astuti
Leo kamu ke nya jangan terlalu berharap deh sama jingga, kamu masih ada embel" sama masa lalu kelamnya jingga, mending jingga sama dewangga yg sama" pernah nikah
𝓡𝓡: Nah iya, semoga jg gk terobsesi s Leo ini takutnya jd jahat 😳
total 1 replies
Mundri Astuti
dasar biang kerok tu org berdua...pake nyalahin org lain ...sok paling tersakiti...enek banget dah
Venty Imama
aduh songong itu si rangga ngapain baru sekarang setelah bercerai, setelah rumah tangganya hancur baru kepoin mantan kemana sebelumnya ketika istrinya kesusahan,kemana ketika istri dan anaknya yang sekarat membutuhkannya...manjain wanita dan anak orang lain meski itu keponakannya setelah ditinggal baru tahu rasa sukurin
𝓡𝓡: laki laxknat baru cemburu lah gmn Jingga yagg serasa mau ikut mati pas anaknya meninggal tp dia gak peduli 😬
total 1 replies
Mundri Astuti
biarin aja foto itu sampai pada Rangga, biar ga sombong tu org...jingga berhak bahagia dng org baru, yg lebih baik dari mantan, lebih menghargainya ...

thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu
Sarmini Isang
situ waras rangga,laki2 gak tau diri...masa dr segitu banyaknya keluargamu semuanya bodoh,harusnya ada yg pinter dong cari tau siapa dalang penyebaran berita itu
Agunk Setyawan
lanangan edan
Mundri Astuti
katanya keluarga kaya dan terpandang...masa gitu aja ga bisa cari pelaku penyebaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!