“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Arunika menatap layar ponselnya cukup lama dengan bimbang. Jemarinya yang gemetar menggantung di atas tombol video call, ragu-ragu untuk menyentuhnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak karuan.
"Tidak. Aku tidak boleh berbohong lebih jauh lagi pada suamiku," gumam Arunika lirih.
Apa pun risiko dan konsekuensi yang akan terjadi nantinya, Arjuna sebagai ayah kandung berhak sepenuhnya mengetahui keadaan sang buah hati. Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Arunika akhirnya menekan ikon panggil hijau di layar.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi, sebelum akhirnya wajah tampan Arjuna muncul di layar ponsel.
Latar belakang di balik sang jenderal tampak begitu sibuk, menyerupai sebuah pos komando militer darurat di medan tugas. Beberapa prajurit berseragam tampak berlalu-lalang membawa map berkas penting dan perlengkapan tempur.
"Kau sedang berada di mana, Arunika?" tanya Arjuna dengan kening berkerut dalam. "Tempat itu jelas bukan di dalam rumah kita."
Arunika menundukkan pandangannya sesaat, mengumpulkan keberanian sebelum bersuara. "Begini, suamiku. Sejujurnya aku sedang berada di rumah sakit sekarang."
Mata Arjuna seketika membelalak sempurna di seberang sana.
"Apa?! Kau sakit?!"
Nada suara sang jenderal berubah drastis dalam sekejap. Ketegasan dingin yang biasa ia miliki lenyap, berganti dengan kepanikan yang luar biasa.
"Kau terluka? Ada orang lain yang menyakitimu di rumah itu? Katakan padaku sekarang juga!"
Arunika bahkan bisa melihat dari layar bagaimana pria itu berdiri mendadak dari kursi kerjanya, napasnya terdengar memburu tak beraturan.
"Bukan aku yang sakit, Arjuna," potong Arunika cepat.
"Lalu siapa?!"
Arunika mengangkat ponselnya perlahan, mengarahkan kamera depan untuk memperlihatkan papan nama dan pintu lorong ruang perawatan gawat darurat di belakangnya.
"Tapi... ini tentang Nakula."
Deg!
Wajah Arjuna di layar seketika kehilangan seluruh warnanya, pucat pasi. "Apa katamu? Nakula? Apa yang sebenarnya terjadi pada putraku?!"
Arunika bisa melihat benteng pertahanan dingin yang selama ini kokoh menutupi diri Arjuna runtuh begitu saja dalam hitungan detik. Pria itu berjalan mondar-mandir tanpa sadar di ruang komando.
"Ceritakan semuanya padaku! Sekarang juga, Arunika!"
Arunika mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Lalu, dengan suara terbata-bata, ia menceritakan seluruh kronologi kejadian secara detail.
Tentang Damar yang dengan arogan memaksa Pak Surya meninggalkan Nakula di sekolah. Tentang Pak Surya yang lebih memilih menyelamatkan posisinya dan membawa Damar pulang dengan mobil mewah. Tentang Nakula yang dibiarkan terlantar sendirian di gerbang sekolah dalam kondisi babak belur, lebam, dan berdarah. Tentang langit yang mendadak gelap gulita. Tentang hujan badai yang mengguyur tanpa ampun. Tentang halte bus yang sepi. Dan tentang bocah kecil berusia enam tahun yang ditemukan sudah terkulai pingsan karena kedinginan.
Tidak satu pun detail kecil yang ia sembunyikan dari suaminya.
Di seberang sana, rahang Arjuna mengeras. Kedua tangan pria itu mengepal begitu kuat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya berubah putih karena kehilangan darah.
"Pak Surya sendiri yang mengaku dan menceritakan semuanya langsung padaku tadi," ucap Arunika lirih penuh kepedihan.
Arjuna menatap tajam ke arah layar ponsel tanpa berkedip sedikit pun.
"Kau yakin itu semua benar-benar terjadi padanya?"
"Aku sangat yakin. Dan pak Surya sudah mengakuinya tanpa ada paksaan."
Suasana mendadak hening. Beberapa detik berlalu begitu lambat, terasa sangat panjang dan menyesakkan dada.
Brak!
Suara benturan yang sangat keras mendadak terdengar dari ruangan Arjuna. Pria itu menghantam meja kerjanya dengan tinju penuh amarah hingga cangkir berisi kopi di atasnya terjatuh membentur lantai dan menggelinding jauh.
"Brengsek!"
Beberapa prajurit yang berada di dekatnya langsung menghentikan aktivitas mereka dengan terkejut. Seumur hidup, baru kali ini mereka melihat komandan tertinggi mereka marah besar hingga kehilangan kendali.
"Kalau benar keponakanku tega berbuat sekeji itu pada Nakula, aku sendiri yang akan menghukumnya!" murka Arjuna dengan mata menyala-nyala.
Arunika terdiam menyimak. Ia tahu betul, amarah yang ditunjukkan Arjuna saat ini bukan lagi sekadar emosi kemarahan seorang jenderal militer, melainkan kepedihan dan murka mutlak dari seorang ayah yang hatinya hancur berkeping-keping.
"Aku akan segera mengajukan izin darurat dan pulang malam ini juga," tegas Arjuna.
Arunika terkejut mendengarnya. "Tapi, bukankah kau sedang memimpin operasi militer penting di perbatasan? Tugasmu belum selesai sepenuhnya, kan?"
"Tentu saja aku harus meminta izin evakuasi mendadak pada atasan!" jawab Arjuna tanpa keraguan. "Setelah itu, aku akan langsung pulang dan menemui kalian. Tidak ada satu pun misi atau operasi militer di dunia ini yang jauh lebih penting daripada nyawa putraku sendiri!"
Arunika menggigit bibir bawahnya, merasa iba. "Kalau memang izin itu sulit dan tidak memungkinkan, jangan terlalu memaksakan diri, suamikh. Aku yang akan menjaga Nakula."
Arjuna menggeleng pelan di seberang layar.
"Terima kasih karena kau sudah sudi berada di sisi Nakula saat aku tidak bisa hadir melindunginya."
Suara bariton yang biasanya tegas itu kini dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
"Aku memang ayah yang buruk. Aku terlalu sibuk mengurus negara sampai-sampai tidak tahu bagaimana keadaan putraku."
Kalimat penyesalan itu bagaikan bilah pisau tajam yang menghujam ulu hati Arunika. Ia bisa melihat dengan jelas beban berat di wajah suaminya.
Arjuna kemudian mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, menatap Arunika lekat-lekat penuh permohonan. "Arunika."
"Iya, suamiku? Aku mendengarkan."
"Tolong, jangan pernah tinggalkan Nakula sendirian di rumah sakit. Temani dia sampai aku tiba di sana."
Arunika mengangguk mantap penuh keyakinan. "Aku janji padamu. Tidak akan pernah ada satu orang pun di dunia ini yang berani menyakiti putra kita lagi."
Mendengar kata putra kita terucap dari bibir Arunika, Arjuna terdiam sejenak.
"Meski tak akan pernah menggantikan posisi Alana di hatiku, setidaknya dia bisa jadi ibu yang baik untuk Nakula," batinnya.
dasar parasit gk tau diri...dh d tampung mlh ngelunjak ..merasa jd nyonya besar...tunggu aja hukuman utk kalian parasit..
ya elahhhhhhh..... bner" benalau tak tau diri.... 😄😄😄
Sejak awal penasaran, kemana bapaknya Damar
kl Wina kakak kandung atau kakak tiri Arjuna ya 😇😇😇...lanjut Thorr😘😘😘
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian