"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Ampun, Mayor!
Beberapa hari kemudian....
Matahari sore perlahan-lahan merosot turun di balik garis cakrawala kota, memantulkan bias jingga keemasan yang menghangatkan halaman depan panti asuhan. Di balik meja gerobak kayu sederhana berlabel ‘Es Cokelat Rindu Panti’, Vina dan Ita sibuk membereskan sisa-sisa botol sirup, merapikan stoples kaca, serta menyeka tumpahan air es yang membasahi permukaan meja.
Suara gemerincing koin di dalam kaleng celengan khong guan berkarat terdengar berirama nyaring setiap kali Ita mengangkat dan mengguncangnya pelan. Senyum sumringah tak pernah lepas dari bibir Ita saat ia menghitung tumpukan uang kertas ribuan rupiah hasil penjualan hari kedua yang jauh melampaui target awal mereka.
"Wah, Vin! Liat nih, hari ini kita dapet untung bersih hampir dua kali lipat dibanding kemarin!" seru Ita dengan mata berbinar-binar, memperlihatkan isi kaleng celengan kepada sahabatnya. "Kalau ritme jualan kita kayak begini terus, dalam waktu dua minggu ke depan uang muka sewa kontrakan petak di dekat pasar beneran bakal terkumpul!"
Vina, yang tengah menggulung spanduk kain sederhana di sudut gerobak, menghentikan gerakannya sejenak. Ia tersenyum tipis, matanya memancarkan kepuasan batin yang begitu dalam. Tidak ada rasa lelah yang berarti; yang ada hanyalah kelelahan fisik yang membahagiakan—rasa penat yang dibayar lunas oleh keringat sendiri tanpa harus bergantung pada belas kasihan siapa pun.
"Alhamdulillah ... pantesan pundak rasanya ringan banget pas narik gerobak tadi," balas Vina riang, menyeka peluh di dahinya dengan ujung lengan baju kaosnya.
Di ambang pintu utama panti asuhan yang bercat putih pudar, Ibu Ummi—seorang wanita paruh baya berhijab rapi dengan senyuman sejuk di wajahnya—melangkah mendekat sambil membawa baki kecil berisi dua gelas teh hangat. Beliau meletakkan baki itu di atas kursi kayu dekat gerobak, lalu menepuk pelan bahu Vina penuh kasih sayang.
"Minum dulu, Nduk. Kelihatan banget capeknya, tapi muka kalian berdua sumringah sekali hari ini," ujar Ibu Ummi dengan suara lembut yang selalu menenangkan hati Vina. "Ibu Ummi bangga sekali sama kamu, Vina. Dulu waktu kamu masih kecil sering bantu ibu merapikan panti, sekarang malah udah bisa mandiri buka usaha sendiri di depan gerbang. Suamimu pasti sangat bangga punya istri mandiri dan rajin seperti kamu."
Mendengar pujian tulus yang mengaitkan namanya dengan sang suami, senyum di bibir Vina sedikit menipis. Ada rasa bersalah yang mencuat tipis di lubuk hatinya, bukan karena ia tidak menghormati Ibu Ummi, melainkan karena wanita berhati mulia itu sama sekali tidak tahu kebenaran di balik hidup rumah tangganya. Ibu Ummi mendoakan kesuksesan usaha Vina dengan asumsi bahwa ia sedang membangun masa depan harmonis bersama seorang perwira militer, padahal kenyataannya, Vina justru sedang merancang strategi rahasia untuk segera minggat dan kembali tinggal menetap di panti ini dalam waktu dekat.
"Aamiin, Bu ... terima kasih banyak ya doanya," jawab Vina berusaha menata suaranya agar tetap tenang dan wajar, menyembunyikan getaran rahasia di dadanya. "Vina senang kok bisa jualan di sini. Rasanya kayak pulang ke rumah yang sebenarnya."
Ibu Ummi tersenyum hangat, mengelus puncak kepala Vina sekilas sebelum pamit kembali ke dalam untuk menyiapkan makan malam anak-anak panti.
Sesaat setelah Ibu Ummi berlalu masuk ke dalam rumah panti, Ita menghela napas panjang sambil menyeruput teh hangat di gelasnya. Ia melirik Vina dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan terselubung.
"Vin," panggil Ita pelan, merendahkan suaranya agar tidak terdengar orang lain. "Tadi sore, waktu anak-anak sekolah ramai banget ngantri, aku sempat deg-degan setengah mati."
Vina menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Deg-degan kenapa, Ta? Emangnya ada yang kurang takaran cokelatnya?"
"Bukannya itu!" Ita menggeleng cepat. "Aku tadi takut banget kalau tiba-tiba Mayor Yudhana lewat jalan ini naik mobil dinasnya terus nengok ke arah gerobak kita. Coba bayangin, kalau beliau sampai turun mobil, marah-marah di depan umum, dan nyeret kamu balik ke rumah dinas ... mau ditaruh di mana muka kita?"
Mendengar nama Yudhana disebut dengan nama panggilan khawatir seperti itu, Vina justru mendengus kecil. Ia melipat tangannya di dada, menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan panti dengan sorot mata menantang.
"Biarin aja dia datang kalau berani," cetus Vina enteng tanpa beban. "Emangnya aku maling ketahuan warga? Aku kan cuma jualan es cokelat halal pakai keringat sendiri, bukan minta jatah ke dia. Kalau pun dia mau ngamuk di tempat umum, silakan aja. Biar semua orang tahu kalau perwira tinggi Batalyon itu hobi meneror istrinya sendiri yang lagi cari uang halal."
Ita menepuk jidatnya pelan mendengar jawaban ceplas-ceplos sahabatnya itu. "Ya ampun, Vina ... kamu ini ya, dinasehatin malah nantangin terus. Mulutnya itu loh, kalau ngomong pedes banget kayak seblak level sepuluh."
"Biarin!" Vina terkekeh renyah. "Intinya, aku nggak peduli sama ancaman atau gengsi Om Tentara itu. Setiap tetes es cokelat yang laku terjual hari ini adalah tiket kemerdekaanku. Semakin cepat celengan ini penuh, semakin cepat juga aku bisa lepas dari sangkar emas rumah dinas dan hidup tenang di sini."
Bagi Vina, tidak ada lagi rasa gentar. Setiap koin receh yang bergemerincing di dalam kaleng celengan adalah simbol nyata dari kebebasan yang sebentar lagi akan ia renggut kembali dari cengkeraman sang suami.
***
Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, suasana di dalam ruang kerja Komandan Batalyon Markas Komando terasa jauh lebih kaku dan menyesakkan.
Pukul lima sore baru saja terlewati. Mayor Yudhana duduk di balik meja kerja kayunya yang besar, menatap setumpuk berkas laporan kesiapan latihan taktis yang tersusun rapi. Namun, pikirannya sama sekali tidak fokus pada lembaran kertas di hadapannya.
Sejak beberapa hari terakhir, Yudhana mulai menyadari ada satu kebiasaan baru yang ganjil dari istrinya. Vina sering kali pulang menjelang magrib dengan kondisi fisik yang tampak lelah namun wajahnya berseri-seri segar, dan yang paling mencurigakan: ujung lengan baju serta jemari gadis itu selalu menyisakan aroma samar manis serbuk cokelat.
Awalnya, Yudhana mengira itu hanyalah aktivitas iseng Vina di dapur rumah dinas. Namun, naluri seorang perwira tinggi militer yang terbiasa menganalisis gelagat gerak-gerik orang lain menangkap ada rahasia yang sengaja disembunyikan. Vina tidak lagi mengeluh kesepian, tidak pernah lagi memasang wajah murung di sudut rumah, dan tampak begitu mandiri hingga membuat Yudhana merasa perannya sebagai suami sama sekali tidak dibutuhkan lagi.
Meski rasa penasaran itu sempat bergejolak di dalam dadanya, Yudhana terlalu diliputi oleh gengsi yang membubung tinggi untuk menyelidiki lebih jauh. Sebagai seorang Mayor yang terbiasa memegang kendali penuh, ia menolak untuk terlihat peduli pada hal-hal remeh di luar kedinasan militer.
Tok... tok...
Ketukan pintu ruang kerja terdengar tegas, disusul oleh terbukanya daun pintu kayu jati secara perlahan. Belum sempat petugas piket melaporkan siapa yang datang, sesosok wanita bergaun merah marun dengan riasan wajah sempurna dan aroma parfum melati yang pekat sudah melangkah masuk tanpa diundang.
Tanti.
bersambung...
Assalamu'alaikum Kakak Cantik semuanya, alhamdulillah akhirnya lulus review, tinggal nunggu kontraknya turun. Sekarang berjuang lagi menuju retensi bab 40 dan bab 80. Stay tune selalu ya menemani kisahnya Vina dan Mayor Yudhana. Makasih banyak untuk supportnya 🤗
Alhamdulillah 🤲