Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Surat Cinta Palsu
Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara para pejabat. Beberapa orang saling bertukar pandang, sedangkan yang lain buru-buru menundukkan kepala, seolah-olah mereka takut ketahuan menikmati kehancuran seseorang yang pernah berdiri begitu tinggi. Wang Laoyin merasakan darahnya seakan membeku.
“Surat?” Wang Laoyin membeliak tak percaya yang di dengarnya.
Qian Bei mengangguk cepat
"Benar, Ang Mulia Permaisuri.”
“Surat apa? Mana? Tunjukkan padaku!” suara Wang Laoyin meninggi, rahangnya menggeram menahan amarah, dia benar-benar merasa di fitnah.
Penasihat Qian Bei tidak langsung bergerak. Ia terlebih dahulu memandang Raja Han Quan , menunggu izin. Setelah sang Raja mengangguk dengan ekspresi dingin, barulah ia berjalan mendekati Wang Laoyin dan menyerahkan surat tersebut kepada seorang kasim, yang kemudian membawanya dengan kedua tangan. Wang Laoyin menerima amplop itu. Tangannya terasa dingin.
Ia membuka lipatan kertas dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat selembar surat yang ditulis menggunakan tinta hitam. Tulisan pada kertas itu tampak rapi dan anggun, dengan goresan-goresan halus yang lazim digunakan oleh perempuan terdidik di lingkungan istana.Ia membaca baris pertama.
Lalu baris kedua. Dan seketika, seluruh suara di aula seolah-olah menghilang.
"Shen Rui, setiap malam yang memisahkan kita terasa seperti hukuman. Di hadapan dunia, aku adalah Permaisuri yang terikat oleh aturan istana. Namun, di hadapanmu, aku hanyalah seorang perempuan yang merindukan seseorang yang tidak seharusnya kucintai."
Wang Laoyin terdiam.
Matanya bergerak menelusuri baris-baris berikutnya.
"Jangan datang ketika lentera di paviliun masih menyala. Tunggu hingga seluruh pelayan terlelap. Aku akan menunggumu di balik tirai kamarku, sebagaimana malam-malam sebelumnya. Jangan biarkan siapa pun mengetahui rahasia kita, sebab jika rahasia ini terbongkar, tidak ada satu pun dari kita yang akan selamat."
Kalimat terakhir ditulis dengan goresan yang sedikit lebih panjang.
Wang Laoyin.
Surat itu terlepas hampir jatuh dari jemarinya. Bukan karena ia takut pada isi surat tersebut. Melainkan karena ia mengenali sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kebohongan yang tertulis di sana. Tulisan tangan itu bukan miliknya tetapi begitu mirip dengan hasil goresan tangannya.
Ia membaca kembali setiap huruf, setiap lengkungan, setiap tarikan tinta. Sebagai seorang perempuan yang sejak kecil diwajibkan mempelajari kaligrafi istana, Wang Laoyin mengenali tulisan tangannya sendiri seperti ia mengenali garis-garis pada telapak tangannya. Ia tahu bagaimana ia membentuk huruf wang, bagaimana ujung kuasnya berhenti sejenak sebelum menyelesaikan karakter terakhir, dan bagaimana ia selalu memberi jarak tertentu di antara nama dan kalimat penutup. Tulisan di hadapannya meniru gaya kaligrafinya. Namun, tiruan tetaplah tiruan. Goresan huruf pertama terlalu tajam. Lengkungan pada karakter kedua terlalu sempit. Tekanan kuasnya tidak konsisten. Bahkan cara nama Wang Laoyin ditulis di bagian akhir terasa asing, seperti seseorang yang telah menghafal bentuk sebuah wajah tetapi tidak pernah benar-benar mengenal orang yang memilikinya. Seseorang telah mempelajari tulisannya. Seseorang telah menirunya dengan sengaja.
Dan seseorang itu ingin seluruh kerajaan percaya bahwa ia adalah perempuan yang tidak bermoral, perempuan yang tak punya harga diri dan penghianat kotor rendahan yang memalukan.
“Ini palsu!”
Suara Wang Laoyin meledak di tengah aula. Beberapa pejabat tersentak. Seorang kasim bahkan tanpa sadar mundur setengah langkah.
Wang Laoyin mengangkat surat itu tinggi-tinggi. Wajahnya yang semula pucat kini memerah oleh kemarahan. Matanya menyala seperti bara api yang ditiup angin kencang, sementara urat-urat halus di punggung tangannya tampak menegang akibat cengkeramannya pada kertas.
“Yang Mulia, surat ini bukan tulisan hamba!” katanya dengan suara bergetar, tetapi bukan karena ketakutan.
“Seseorang telah meniru tulisan tangan hamba dan menggunakannya untuk memfitnah hamba!” Tegas Wang Laoyin, matanya berkaca-kaca.
“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”Raja Han Quan menyipitkan mata.
“Karena hamba menulis ribuan lembar surat selama bertahun-tahun berada di istana ini!” Wang Laoyin melangkah maju.
“Hamba mengenali tulisan tangan hamba sendiri, sebagaimana hamba mengenali wajah hamba ketika bercermin. Lihatlah goresan ini, Yang Mulia. Bentuk karakternya salah. Tekanan kuasnya berbeda. Bahkan cara nama hamba ditulis pun tidak sama dengan kebiasaan hamba!”
Ia mengulurkan surat tersebut kepada Raja Han Quan,
“Mohon perintahkan seorang ahli kaligrafi kerajaan untuk memeriksanya. Bandingkan dengan surat-surat resmi yang pernah hamba tulis. Perintahkan penyelidikan menyeluruh. Jika hamba berbohong, hamba bersedia menerima hukuman sesuai hukum kerajaan!” Suara terakhirnya menggema hingga ke langit-langit aula.
Untuk sesaat, tidak seorang pun berani berbicara.
Wang Laoyin menatap Raja Han Quan dengan mata yang dipenuhi keyakinan. Ia masih percaya bahwa kebenaran, jika diperlihatkan dengan jelas, akan mampu menembus kabut kecurigaan. Ia masih percaya bahwa lelaki yang pernah menggenggam tangannya di bawah pohon prem, yang pernah berjanji akan melindunginya dari segala ketidakadilan, akan mendengarkan penjelasannya.
Namun, ia tidak menyadari bahwa Qian Bei telah menyiapkan jawaban untuk setiap jalan keluar yang mungkin ia tempuh.
“Yang Mulia,” ujar Qian Bei, memecah keheningan,
“hamba menghormati penjelasan Permaisuri. Akan tetapi, surat ini ditemukan di antara barang-barang pribadi Shen Rui, bukan di tempat umum. Kertasnya pun menggunakan jenis yang biasa dipakai di lingkungan dalam istana.” Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang terdengar penuh kehati-hatian.
Adapun mengenai tulisan tangan, tentu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, apabila Permaisuri benar-benar tidak memiliki hubungan apa pun dengan Shen Rui, mengapa seseorang bersedia mengambil risiko sebesar ini untuk membuat surat semacam itu?” Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun, di dalamnya tersimpan racun.
Qian Bei tidak secara langsung menyatakan bahwa Wang Laoyin bersalah. Ia hanya menanamkan keraguan, lalu membiarkan keraguan itu tumbuh menjadi tuduhan di dalam pikiran orang-orang yang mendengarnya. Wang Laoyin menoleh kepadanya. Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas bahwa ketenangan pejabat itu bukanlah ketenangan seorang saksi yang mencari kebenaran. Itu adalah ketenangan seseorang yang sudah mengetahui akhir permainan sebelum bidak pertama digerakkan.
“Pejabat Qian,” katanya dingin, “apakah menurutmu setiap orang yang difitnah harus membuktikan alasan mengapa dirinya difitnah sebelum ia berhak membela diri?”
Qian Bei membungkuk tipis. “Hamba hanya menyampaikan pertanyaan yang mungkin muncul dalam penyelidikan.”
“Tidak.” Wang Laoyin menggeleng. “Kau sedang menyembunyikan tuduhan di balik kata-kata yang sopan.”
Wajah beberapa pejabat berubah.
Qian Bei tetap menunduk, tetapi sepasang matanya berkilat sesaat.
“Permaisuri terlalu jauh menafsirkan perkataan hamba.” Ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya.
“Dan kau terlalu pandai memilih perkataan agar tidak terlihat seperti orang yang sedang menuduh!” Suara Wang Laoyin kembali meninggi.
“Jika surat ini benar-benar ditemukan pada barang milik Shen Rui, tunjukkan daftar barangnya! Tunjukkan siapa yang pertama kali menemukannya! Siapa yang menyentuhnya? Siapa yang membawanya ke hadapan Yang Mulia? Apakah segelnya masih utuh ketika ditemukan? Apakah ada saksi yang melihat surat ini berada di tempat asalnya?”
(Bersambung, yaaaah....jangan lupa like, komen dan Vote redeeeer kesayangan🥰)