Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia untuk Kaning
Pagi itu, di kediaman keluarga Abimanyu di Jakarta, Kaning baru saja selesai sarapan bersama Bu Almira. Gadis kecil itu tampak bersemangat karena sejak bangun tidur, ia terus memikirkan Latifah.
“Nenek, kapan Kaning bisa bertemu Bunda lagi?” tanyanya sambil memainkan sendok di tangannya.
Bu Almira tersenyum, lalu mengusap kepala cucunya.
“Sebentar lagi, Sayang. Sekarang Papah sedang mengurus beberapa hal supaya Papah dan Bunda bisa segera menikah.”
Matanya Kaning langsung membulat.
“Menikah? Berarti Bunda nanti tinggal bersama Kaning?”
“Insyaallah, Nak. Tapi Kaning harus bersabar, ya. Ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.”
Kaning mengangguk cepat. Wajahnya begitu ceria membayangkan Latifah akan menjadi bagian dari keluarganya.
“Papah pasti senang, kan, Nek? Kalau ada Bunda di rumah, nanti Kaning bisa mengaji sama Bunda setiap hari!”
Bu Almira tersenyum haru mendengar ucapan cucunya.
“Tentu saja Papah senang kalau Kaning bahagia. Tapi ingat, Sayang, Bunda juga punya perasaan. Kita harus menyayangi Bunda dan menghormatinya, bukan hanya meminta Bunda menemani Kaning.”
“Iya, Nek! Kaning janji akan jadi anak baik.”
*
*
Sementara itu, di Mabesad Jakarta Pusat, Bima sedang menyelesaikan pekerjaannya ketika Kapten Rian Pratama memasuki ruangannya.
“Permisi, Mayor. Sepertinya ada yang berbeda dari wajah Anda akhir-akhir ini,” goda Rian sambil duduk di kursi depan meja Bima.
Bima mengangkat alisnya. “Maksud mu?”
“Biasanya wajah Komandan tegang seperti sedang memimpin operasi. Sekarang sesekali malah tersenyum sendiri saat melihat ponsel. Jangan-jangan sudah mulai jatuh cinta?”
Bima meletakkan berkasnya, lalu menatap sahabatnya datar.
“Daripada mengurusi kehidupan pribadi saya, lebih baik kamu selesaikan laporan yang kemarin saya minta.”
Rian tertawa kecil. “Nah, kalau sudah mengalihkan pembicaraan begini, berarti dugaan saya tidak sepenuhnya salah.”
“Rian.”
“Siap, Mayor!” Rian langsung duduk tegak, tetapi senyumnya belum menghilang. “Baiklah, saya tidak akan mengganggu. Tapi serius, saya senang Komandan akhirnya mau membuka hati lagi.”
Bima terdiam sesaat.
“Saya hanya sedang berusaha melakukan hal yang benar. Latifah perempuan yang baik. Saya tidak ingin memberinya harapan kosong.”
“Kalau begitu, kenali dia dengan sungguh-sungguh. Tidak perlu memaksakan perasaan, tetapi jangan pula menutup diri sebelum mencoba.”
Bima mengangguk pelan. Nasihat itu kembali membuatnya berpikir.
Ia tahu dirinya belum sepenuhnya selesai berdamai dengan kehilangan Alika. Namun, ia juga menyadari bahwa membuka lembaran baru bukan berarti menghapus kenangan tentang mendiang istrinya.
*
*
Sore harinya, Latifah kembali ke rumah setelah mengajar para santri di Pondok Pesantren Darussalam. Ia baru saja selesai membantu Umi Aisyah menyiapkan makan malam ketika ponselnya berdering.
Nama Mayor Abimanyu muncul di layar.
Latifah segera mengangkat panggilan itu.
“Assalamu'alaikum, Pak Bima.”
“Wa'alaikumussalam. Apakah saya mengganggu?”
“Tidak, Pak. Ada apa?”
“Saya baru saja berbicara dengan Ibu. Kaning terus menanyakan Anda. Sepertinya dia sangat merindukan Anda.”
Latifah tersenyum mendengar nama anak kecil itu.
“Ya Allah, saya juga merindukannya, Pak. Bagaimana kabarnya? Sudah makan? Masih suka sulit tidur?”
“Alhamdulillah, sehat. Sekarang dia sudah lebih mudah tidur, meskipun sesekali masih meminta dibacakan cerita oleh Ibu.”
“Kalau begitu, sampaikan salam saya untuk Kaning, ya, Pak. Katakan bahwa Bunda juga merindukannya.”
“Baik. Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan.”
“Apa itu, Pak?”
“Kalau akhir pekan nanti saya mengajak Anda ke Jakarta untuk bertemu Kaning, apakah Anda bersedia? Tentu saja jika tidak mengganggu kegiatan Anda di pesantren.”
Latifah terdiam sebentar, kemudian menjawab dengan suara lembut.
“Insyaallah, saya bersedia, Pak. Saya akan meminta izin kepada Abi dan Umi terlebih dahulu.”
“Baik. Nanti kita bicarakan lagi setelah Anda mendapat izin.”
Sebelum menutup panggilan, Bima sempat berkata, “Terima kasih, Bu Latifah.”
“Sama-sama, Pak Bima.”
Panggilan berakhir, tetapi senyum Latifah masih tertinggal di wajahnya.
Dari ambang pintu, Umi Aisyah yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu menghampirinya.
“Dari Bima?”
Latifah mengangguk malu-malu. “Iya, Umi. Katanya Kaning merindukan Ifah. Akhir pekan nanti, Pak Bima ingin mengajak Ifah ke Jakarta.”
Umi Aisyah tersenyum penuh arti.
“Kalau begitu, bersiaplah. Sepertinya kamu harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan barumu.”
Latifah menunduk, memainkan ujung kerudungnya.
“Doakan Ifah, Umi. Ifah ingin menjalani semuanya dengan baik.”
“Tentu, Nak. Semoga Allah menuntun hati kalian berdua.”
Malam itu, Latifah menunaikan solat dan kembali berdoa agar diberi ketenangan dalam menjalani masa depannya. Sementara itu, di Jakarta, Kaning belum mengetahui rencana sang ayah.
Gadis kecil itu hanya tahu satu hal, bahwa ia sangat merindukan Latifah.
Dan akhir pekan nanti, kerinduannya mungkin akan segera terobati. Tanpa mereka sadari, pertemuan berikutnya akan menjadi kesempatan bagi Bima dan Latifah untuk mengenal satu sama lain lebih dekat bukan lagi hanya sebagai dua orang yang dijodohkan, melainkan sebagai dua manusia yang perlahan sedang belajar menjadi keluarga.
*
*
Akhir pekan yang dinanti akhirnya tiba. Sejak pagi, Kaning sudah beberapa kali bertanya kepada Bu Almira kapan ayahnya pulang. Gadis kecil itu bahkan sengaja mengenakan gaun kesayangannya karena berharap bisa menghabiskan waktu bersama Bima.
Menjelang pukul sepuluh pagi, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.
“Papah pulang!” seru Kaning sambil berlari menuju pintu depan.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat siapa yang berdiri di samping Bima.
“BU LATIFAH?!”
Mata Kaning membulat. Sesaat kemudian, wajahnya berubah cerah dan ia berlari memeluk perempuan yang sangat dirindukannya itu.
“BUNDAAA!”
Latifah tertawa kecil sambil berjongkok, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Kaning.
“Ya Allah, Sayang! Bunda juga rindu sekali sama Kaning.”
Kaning memeluknya erat-erat, seolah takut perempuan itu akan kembali pergi.
“Kenapa Bunda baru datang? Kaning kangen sekali!”
“Maaf, Sayang. Bunda harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di pesantren dulu.”
Kaning mendongak dengan mata berbinar.
“Sekarang Bunda mau tinggal di sini?”
Latifah mengusap pipinya lembut. “Hari ini Bunda menemani Kaning dulu, ya. Kalau soal tinggal bersama, kita tunggu waktunya nanti.”
“Kalau begitu, hari ini Kaning tidak mau jauh-jauh dari Bunda!”
Bima yang berdiri beberapa langkah dari mereka hanya tersenyum tipis. Melihat putrinya sebahagia itu membuat hatinya terasa hangat.
“Kaning, beri Bunda kesempatan untuk masuk dulu. Jangan sampai Bunda kelelahan karena dipeluk terus,” goda Bima.
Kaning segera melepaskan pelukannya, lalu menggenggam tangan Latifah.
“Ayo, Bunda! Kaning mau menunjukkan kamarnya Kaning!”
Latifah menoleh kepada Bima sambil tersenyum meminta izin. Bima mengangguk, membiarkan putrinya membawa Latifah masuk ke rumah.
Dari kejauhan, Bu Almira memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Alhamdulillah,” gumamnya pelan. “Semoga kali ini Allah memberikan kebahagiaan untuk keluarga kita.”
Menjelang siang, setelah Kaning selesai makan dan bermain bersama Latifah, Bima menghampiri mereka di ruang keluarga.
“Bu Latifah, apakah Anda punya waktu sebentar?” tanyanya.
Latifah menoleh. “Tentu, Pak. Ada apa?”
“Saya ingin mengajak Anda pergi ke suatu tempat. Kalau Anda bersedia, Kaning bisa tinggal bersama Ibu terlebih dahulu.”
Kaning langsung mengerutkan keningnya.
“Papah mau pergi sama Bunda? Kaning tidak boleh ikut?”
Bima duduk di hadapan putrinya, lalu mengusap kepalanya.
“Papah ingin mengajak Bunda ke makam Mamah Alika, Sayang.”
Seketika, wajah Kaning berubah tenang. Meski masih kecil, ia tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia dan kini beristirahat di pemakaman.
“Untuk apa, Pah?” tanyanya lirih.
Bima menarik napas pelan.
“Papah ingin mendoakan Mamah. Papah juga ingin mengenalkan Bunda kepada Mamah Alika melalui doa, sekaligus menyampaikan bahwa Papah sedang berusaha membangun kehidupan baru.”
Kaning terdiam beberapa saat, kemudian menatap Latifah.
“Bunda mau menemani Papah mengunjungi makam Mamah Alika?”
Latifah mengangguk lembut.
“Insyaallah, Sayang. Bunda ingin ikut mendoakan Mamah Alika. Bunda tahu, beliau akan selalu menjadi Mamahnya Kaning dan seseorang yang punya tempat istimewa di hatinya Papah.”
Kaning kemudian menggenggam tangan Latifah.
“Kalau begitu, Bunda harus ikut. Kaning juga ingin ikut, tapi nanti Kaning mau membawa bunga untuk Mamah.”
Bima tersenyum haru.
“Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”
Sore harinya, mereka bertiga berangkat menuju pemakaman. Kaning duduk di kursi belakang bersama Latifah, sementara Bima menyetir dengan tenang.
Sesampainya di makam, Bima berjalan lebih dahulu menuju pusara Alika. Ia berjongkok, merapikan sedikit rumput di sekitar nisan, lalu terdiam lama.
Latifah berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil menggenggam tangan Kaning. Ia memberikan ruang bagi Bima untuk menyampaikan isi hatinya kepada mendiang istrinya.
Setelah beberapa saat, Bima menundukkan kepala dan mulai berdoa.
“Alika, semoga Allah mengampuni segala dosamu dan melapangkan tempat peristirahatanmu. Aku datang bersama Kaning dan Bu Latifah.”
Suaranya terdengar berat, tetapi ia berusaha tetap tenang.
“Aku tidak pernah melupakanmu. Kamu adalah bagian dari hidupku dan akan selalu menjadi ibu bagi Kaning. Namun, aku ingin mencoba melanjutkan hidupku. Aku ingin Kaning tumbuh dengan kasih sayang yang cukup, dan aku berharap Bu Latifah bisa menjadi bagian dari keluarga kami.”
Bima terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Andai kamu masih di sini, mungkin aku bisa membicarakan semua ini denganmu. Aku tidak tahu apakah keputusanku benar-benar akan membawa kebahagiaan, tetapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik.”
Di belakangnya, Latifah ikut menundukkan kepala, mendoakan Alika dengan tulus.
Ia tidak menganggap dirinya sebagai pengganti perempuan yang telah lebih dahulu mengisi hatinya Bima. Ia hanya ingin, jika kelak menjadi istrinya Bima, dirinya mampu menghormati masa lalu lelaki itu tanpa kehilangan kesempatan membangun masa depan.
Setelah selesai berdoa, Bima berdiri dan menoleh kepada Latifah.
“Terima kasih sudah bersedia datang ke sini.”
Latifah mengangguk pelan.
“Saya justru berterima kasih karena Bapak mempercayai saya untuk ikut mengunjungi tempat yang begitu berarti bagi Bapak.”
Bima menatapnya beberapa saat sebelum berkata, “Saya tidak bisa meminta restu secara langsung kepada Alika. Namun, saya ingin melangkah ke pernikahan ini tanpa menyangkal masa lalu saya.”
“Saya mengerti, Pak. Bapak tidak perlu melupakan beliau untuk memulai kehidupan baru. Kenangan itu akan tetap menjadi bagian dari hidup Bapak.”
Bima menghela napas lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa bisa membicarakan masa lalunya tanpa harus menyembunyikan kesedihan yang masih tersisa.
Tiba-tiba, Kaning mendekat sambil membawa beberapa kuntum bunga yang tadi diletakkannya di sisi pusara.
“Mamah, Kaning datang bersama Papah dan Bunda,” ucapnya polos. “Kaning akan jadi anak baik. Bunda Latifah juga baik sekali sama Kaning.”
Latifah berjongkok di sampingnya, memeluk tubuh kecil itu dengan lembut.
Bima memandang keduanya dengan mata berkaca-kaca.
Sore itu, di hadapan pusara Alika, ia tidak mendapatkan jawaban atas segala keraguannya. Namun, ia menemukan keberanian untuk melangkah maju tanpa menghapus siapa pun dari masa lalunya.
Dan ketika mereka meninggalkan pemakaman, Bima menyadari satu hal, bahwa ia belum mencintai Latifah sepenuhnya, tetapi perempuan itu telah menunjukkan sesuatu yang sangat berarti baginya, yakni ketulusan untuk menerima bukan hanya dirinya, melainkan juga kenangan yang akan selalu ia bawa.
Bersambung...
huuh bikin jengkel aja ,mau merusak rumah tangga orang ya , 😡😡