NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Satu Bidak, Dua Jiwa

Bidak berwarna merah gelap itu berdiri di tengah papan hitam.

Di permukaannya terukir dua nama: Gu Chen dan Gu Yuan.

Sembilan sosok tanpa wajah mengelilinginya. Tidak seorang pun bergerak. Untuk pertama kalinya sejak permainan dimulai, mereka tidak mampu menentukan siapa yang harus melangkah lebih dahulu.

“Bagaimana mungkin dua identitas berada dalam satu bidak?” tanya salah satu sosok.

“Tidak mungkin,” jawab sosok lainnya. “Kecuali salah satunya bukan identitas.”

“Lalu apa?”

Sosok yang duduk di ujung meja mengangkat kepalanya. Di balik topeng putihnya terdapat dua lingkaran hitam yang berputar perlahan.

“Utang.”

Kata itu membuat seluruh ruangan bergetar.

“Gu Yuan telah mengorbankan identitasnya untuk mempertahankan keberadaan anak itu. Selama utang tersebut belum dibayar, keduanya akan tetap terikat.”

“Kalau begitu, bunuh Gu Chen.”

“Kita sudah mencoba.”

“Kalau begitu, hapus namanya.”

“Kita juga sudah mencoba.”

Sosok di ujung meja mengetukkan jarinya.

“Dan setiap kali kita mencoba, sesuatu yang lain ikut terhapus. Kota, sejarah, bahkan sebagian aturan yang kita ciptakan sendiri. Kalian masih belum mengerti? Gu Chen bukan sekadar bidak yang menolak bergerak. Dia adalah kesalahan yang membuat seluruh papan kehilangan maknanya.”

Salah satu sosok bangkit.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Sosok di ujung meja menatap bidak merah itu.

“Kita tidak akan membunuhnya.”

Ia mengangkat tangan.

“Kita akan membuatnya membunuh orang yang ingin diselamatkannya.”

Bidak merah itu retak.

Dari celahnya terdengar suara seorang anak laki-laki tertawa.

Di Kota Wuming, Gu Chen sama sekali tidak mengetahui bahwa para pemain sedang menyusun rencana baru untuknya.

Ia sibuk memandangi Bai.

“Jadi, lelaki tua tadi adalah dirimu sebelum dihapus dari sejarah?”

Bai mengangguk perlahan.

“Sepertinya begitu.”

“Dan kau tidak mengingatnya?”

“Tidak.”

“Bagus. Sekarang kita punya dua orang tanpa ingatan, seorang ayah yang mungkin sudah mati, dua gadis yang memiliki wajah sama, dan sebuah kota yang seharusnya tidak ada.” Gu Chen mengusap wajahnya. “Aku mulai merindukan kehidupan sederhana ketika masalah terbesarku hanyalah mencari makan.”

Lin Yue melipat kedua tangannya.

“Kau bisa berhenti mengejar rahasia kalau memang ingin hidup sederhana.”

Gu Chen menatapnya seolah ia baru saja menyarankan sesuatu yang sangat bodoh.

“Lalu bagaimana aku mencari tahu siapa yang membunuh ayahku?”

“Kau sudah tahu siapa yang mengaku membunuhnya.”

“Bai mengaku membunuh Gu Yuan yang kita kenal. Itu tidak menjawab siapa yang membunuh Gu Yuan tiga ribu tahun lalu, siapa yang menciptakan Papan Kesepuluh, atau mengapa aku memiliki dua identitas.”

Lin Yue menghela napas.

“Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimana kau masih bisa berjalan dengan kepala yang dipenuhi begitu banyak pertanyaan.”

“Bakat alami.”

“Penyakit alami.”

Gu Chen tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang ketika ia memandang gelang kayu di tangannya.

PEMILIK: GU YUAN.

PENJAGA TERAKHIR: BAI.

Dua nama tersebut terasa seperti potongan teka-teki yang sengaja diletakkan di hadapannya. Ia belum mengetahui bagaimana keduanya terhubung, tetapi satu hal sudah jelas: Bai tidak sekadar menyembunyikan masa lalunya. Seseorang telah mengambil masa lalu itu darinya.

Dan jika seseorang mampu menghapus identitas Bai, orang tersebut mungkin juga mampu melakukan hal yang sama kepada Gu Chen.

“Bai, aku ingin kau menjawab satu pertanyaan.”

“Tanyakan.”

“Apakah kau pernah memiliki keluarga?”

Bai terdiam.

“Aku tidak ingat.”

“Apakah kau pernah memiliki nama lain?”

“Aku juga tidak ingat.”

“Apakah kau pernah mengenal Gu Yuan sebelum kejadian di Desa Qingyuan?”

Bai menatapnya cukup lama.

“Ada sesuatu yang kuingat.”

“Apa?”

“Setiap kali aku mencoba mengingat kehidupan sebelum menjadi penjaga Arsip Kesepuluh, aku selalu melihat sebuah ruangan putih. Di tengah ruangan itu terdapat seorang anak laki-laki yang duduk di kursi. Kedua tangannya dirantai.”

Gu Chen tidak mengatakan apa-apa.

Bai melanjutkan, “Di belakang anak itu berdiri seorang lelaki berjubah hitam. Aku tidak pernah bisa melihat wajahnya. Namun, setiap kali lelaki itu berbicara, aku merasa ingin berlutut.”

“Dan apa yang dikatakannya?”

Bai memejamkan mata.

“Dia berkata bahwa aku harus memilih siapa yang akan dihapus.”

Gu Chen merasakan tengkuknya menegang.

“Siapa yang harus kau pilih?”

Bai membuka mata.

“Aku tidak tahu. Ingatanku selalu berakhir sebelum aku bisa melihat wajah mereka.”

Gu Chen menatap Bai dengan lebih serius.

“Kalau suatu hari kau mengingatnya, jangan membuat keputusan sendiri.”

Bai mengerutkan kening.

“Kau tidak memercayaiku?”

“Justru karena aku tidak memercayaimu, aku ingin kau memberitahuku sebelum melakukan sesuatu yang bodoh.”

Lin Yue mendengus kecil.

“Nasihat yang sangat ironis, mengingat siapa yang mengatakannya.”

Gu Chen mengabaikannya.

“Sekarang, kita harus menemukan jalan keluar dari kota ini.”

Bai mengangguk.

“Gerbang yang kita lewati sebelumnya sudah tidak ada. Kota ini sedang berubah.”

“Berubah menjadi apa?”

“Menjadi sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.”

Gu Chen memandang jendela yang tidak ada ketika mereka pertama kali memasuki menara. Kini, sebuah celah panjang telah terbuka pada dinding, memperlihatkan langit berwarna merah gelap. Di kejauhan, bangunan-bangunan kota mulai bergeser, seolah seluruh jalan sedang disusun ulang oleh tangan yang tidak terlihat.

Kemudian ia mendengar suara lonceng.

Bukan dari tasnya.

Bukan pula dari meja.

Suara itu datang dari bawah tanah.

Dong.

Lonceng hitam di dalam tas Gu Chen langsung bergetar. Retakan pada permukaannya melebar sedikit, tetapi tidak mengeluarkan suara.

Gu Chen segera memegang tasnya.

“Jangan bilang ada lonceng lain.”

Bai memandang lantai.

“Bukan lonceng lain. Itu adalah suara dari tempat yang sedang kita cari.”

“Tempat kelahiran Papan Kesepuluh?”

Bai mengangguk.

“Tempat itu mulai terbuka.”

Lin Yue memasang busur di punggungnya.

“Apakah kita harus pergi ke sana?”

“Tidak,” jawab Bai. “Kita harus meninggalkan kota ini sebelum pintunya terbuka sepenuhnya.”

Gu Chen menatapnya.

“Kau baru saja mengatakan bahwa tempat itu adalah satu-satunya jalan untuk menemukan Gu Yuan yang sebenarnya.”

“Benar.”

“Dan sekarang kau ingin pergi?”

“Aku ingin kau tetap hidup.”

Gu Chen tersenyum hambar.

“Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar dari orang-orang yang menyembunyikan sesuatu dariku.”

Ia berbalik menuju tangga.

“Kalau tempat itu adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan jawaban, aku akan masuk.”

Bai meraih lengannya.

“Gu Chen, kau tidak memahami apa yang sedang terjadi.”

“Memang. Karena semua orang terus berbicara tanpa menjelaskan apa pun.”

“Jika pintu itu terbuka, identitas pertamamu bisa kembali.”

“Kalau begitu, aku akan menghadapinya.”

“Dan jika identitas pertamamu mengambil alih tubuhmu?”

Gu Chen terdiam sesaat.

Kemudian ia menjawab, “Setidaknya aku akan mengetahui siapa yang selama ini berusaha mengambilnya.”

Bai melepaskan tangannya.

Ia menyadari bahwa Gu Chen tidak akan berubah pikiran. Bukan karena pemuda itu tidak takut, melainkan karena ia lebih takut menjalani hidup dengan jawaban yang sengaja disembunyikan darinya.

Dan justru itulah kelemahan yang paling mudah dimanfaatkan oleh para pemain.

Tangga menuju ruang bawah tanah kini memanjang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.

Setiap anak tangga memiliki ukiran yang berbeda. Ada nama-nama yang dikenal Gu Chen, nama-nama yang pernah ia baca dalam arsip, serta nama-nama yang tidak pernah tercatat dalam sejarah mana pun.

Di anak tangga ketiga puluh sembilan, ia melihat nama ayahnya.

GU YUAN.

Di anak tangga keempat puluh, terdapat nama Lin Yue.

Gadis itu berhenti ketika melihatnya.

“Kenapa namaku ada di sini?”

Gu Chen menatap ukiran tersebut. Di bawah nama Lin Yue terdapat kalimat kecil.

PEMBAWA KUNCI AKAN MEMBUKA PINTU, TETAPI TIDAK AKAN MENENTUKAN APA YANG KELUAR.

Lin Yue menyentuh tulisan itu.

“Apakah keluargaku mengetahui tempat ini?”

“Mungkin,” jawab Gu Chen. “Ayahmu tampaknya mengetahui jauh lebih banyak daripada yang ia katakan.”

Lin Yue menarik tangannya.

“Aku tidak tahu apakah keluargaku terlibat dalam semua ini. Tetapi jika mereka memang menyembunyikan sesuatu, aku akan menemukan jawabannya sendiri.”

Gu Chen mengangguk.

“Bagus. Kita sama-sama punya keluarga yang menyebalkan.”

“Jangan samakan ayahku dengan ayahmu.”

“Aku belum mengatakan siapa yang lebih buruk.”

Lin Yue meliriknya tajam.

Gu Chen segera melanjutkan perjalanan.

Mereka akhirnya tiba di sebuah pintu batu besar. Tidak ada gagang, lubang kunci, atau tulisan pada permukaannya. Hanya terdapat sebuah cekungan berbentuk lingkaran di bagian tengah.

Bai berhenti beberapa langkah dari pintu.

“Inilah pintunya.”

Gu Chen mengeluarkan kepingan logam yang sebelumnya ditinggalkan lelaki tua itu? Tidak. Kepingan itu sudah dibawa pergi oleh sosok tersebut. Ia memandang Bai dengan kesal.

“Jangan katakan kita harus mencari kunci lagi.”

Bai menggeleng.

“Pintu ini tidak membutuhkan kunci biasa. Ia membutuhkan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari penciptaannya.”

Gu Chen langsung memahami maksudnya.

Ia mengeluarkan lonceng hitam.

Lin Yue menatap benda itu dengan cemas.

“Kalau kita menggunakannya, apakah itu akan menjadi dentangan ketiga?”

“Tidak,” jawab Bai. “Lonceng ini belum dibunyikan sejak terakhir kali kita berada di desa. Getarannya tadi bukan berasal dari tangan manusia.”

Gu Chen mengamati retakan pada permukaan lonceng.

“Dan jika aku membunyikannya?”

“Tidak ada yang bisa menjamin akibatnya.”

Gu Chen menghela napas.

“Jawaban favoritmu.”

Ia mendekatkan lonceng ke cekungan pintu.

Begitu benda itu menyentuh batu, seluruh ukiran di tangga menyala. Nama-nama yang terukir pada dinding bergerak seperti makhluk hidup, lalu mengalir menuju pintu.

Cekungan tersebut memancarkan cahaya pucat.

Sebuah tulisan muncul.

\[PEMERIKSAAN ASAL-USUL DIMULAI.\]

\[OBJEK TERDETEKSI: LONCENG PENGINGAT.\]

\[PENCIPTA: GU YUAN.\]

\[TUJUAN PENCIPTAAN: MEMPERTAHANKAN SESUATU YANG TIDAK DAPAT DIPERTAHANKAN.\]

Gu Chen mengerutkan kening.

“Mempertahankan apa?”

Tulisan itu berubah.

\[JAWABAN TIDAK DAPAT DITAMPILKAN.\]

Ia hampir mengumpat ketika tulisan berikutnya muncul.

\[IDENTITAS PEMEGANG TERDETEKSI.\]

\[GU CHEN: IDENTITAS SAAT INI.\]

\[GU CHEN: IDENTITAS PERTAMA.\]

\[KONFLIK TERDETEKSI.\]

\[MEMULAI PEMISAHAN.\]

Lonceng hitam mendadak melayang dari tangan Gu Chen.

Cahaya merah membungkus tubuhnya. Ia mencoba bergerak, tetapi kakinya terasa tertanam di lantai. Lin Yue meraih tangannya, sementara Bai menghunus pedang dan mencoba memutus cahaya yang mengikatnya.

Tidak berhasil.

Gu Chen merasakan sesuatu ditarik keluar dari dadanya.

Bukan tubuhnya.

Bukan pula jiwanya.

Sesuatu yang lebih mendasar daripada keduanya.

Ia mendengar suara retakan, lalu melihat bayangan dirinya muncul di hadapannya.

Bayangan itu perlahan berubah menjadi sosok lelaki berambut putih panjang, dengan lingkaran hitam pada mata kirinya.

Sosok yang sama dengan yang pernah dilihatnya di dalam cermin.

Namun, kali ini sosok itu tidak berada di balik kaca.

Ia berdiri tepat di hadapan Gu Chen.

“Sudah lama,” katanya.

Gu Chen menatapnya dengan napas tertahan.

“Siapa kau?”

Sosok berambut putih tersenyum.

“Aku adalah orang yang kau tinggalkan.”

Ia mengulurkan tangan.

“Dan aku datang untuk mengambil kembali hidupku.”

Gu Chen mencoba menghunus pisaunya, tetapi tangannya tidak dapat bergerak.

Sosok berambut putih itu berdiri begitu dekat hingga Gu Chen dapat melihat bekas luka tipis di bawah mata kanannya. Bekas luka yang sama sekali tidak dimiliki tubuh Gu Chen sekarang.

“Kau tidak bisa mengambil tubuhku begitu saja,” kata Gu Chen.

“Tubuhmu?”

Sosok itu tertawa pelan.

“Kau benar-benar sudah melupakan semuanya.”

“Kalau kau memang diriku yang dahulu, kenapa kau tidak bisa kembali tanpa merebut tubuhku?”

“Karena kita tidak pernah menjadi dua orang yang berbeda.”

Sosok itu menyentuh dada Gu Chen.

“Kau adalah kehidupan yang kuberikan kepadamu. Aku adalah kehidupan yang kau tinggalkan. Dunia tidak mampu mempertahankan dua identitas yang sama dalam satu keberadaan.”

“Kalau begitu, kita bisa mencari cara lain.”

“Cara lain?”

Senyumnya menghilang.

“Kau masih berpikir seperti bidak yang berharap pemainnya akan mengubah aturan demi kebaikannya.”

Gu Chen menggertakkan gigi.

“Aku tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun.”

“Benarkah?”

Sosok itu mendekatkan wajahnya.

“Kalau begitu, katakan kepadaku. Ketika kau mengetahui bahwa orang yang membesarkanmu bukanlah ayah yang sebenarnya, apakah kau akan tetap memercayainya? Ketika kau mengetahui bahwa Lin Yue mungkin hanya ditempatkan di sisimu untuk membuka pintu ini, apakah kau akan tetap melindunginya? Dan ketika kau akhirnya mengingat siapa yang kau bunuh, apakah kau akan tetap menganggap dirimu manusia?”

Gu Chen tidak menjawab.

Sosok itu tersenyum puas.

“Itulah sebabnya kau tidak boleh mendapatkan kembali ingatanmu terlalu cepat. Kau belum siap menghadapi dirimu sendiri.”

Cahaya merah semakin kuat.

Lin Yue berteriak memanggil Gu Chen, tetapi suaranya terdengar semakin jauh.

Bai mencoba menebas ikatan cahaya itu sekali lagi. Pedangnya patah menjadi dua.

“Gu Chen!” teriak Bai. “Jangan biarkan dia mengambil alih!”

Gu Chen menatap sosok di hadapannya.

“Apa yang terjadi jika aku menolak?”

Sosok itu terdiam sejenak.

“Kalau kau menolak, kita berdua akan hancur.”

“Dan jika aku membiarkanmu kembali?”

“Aku akan mendapatkan kembali ingatanku, kekuatanku, dan namaku.”

“Lalu aku?”

Sosok berambut putih menatapnya dengan ekspresi yang hampir menyerupai rasa kasihan.

“Kau akan menjadi ingatan.”

Gu Chen tertawa pendek.

“Jadi, pada akhirnya kau juga sama seperti para pemain. Kau ingin menghapusku demi mendapatkan sesuatu yang kau inginkan.”

Wajah sosok itu berubah.

Untuk pertama kalinya, senyumnya benar-benar lenyap.

“Aku bukan mereka.”

“Kalau begitu, buktikan.”

Gu Chen mengangkat tangan yang gemetar dan meraih pergelangan tangan sosok itu.

“Jika kau memang diriku, kau pasti tahu satu hal.”

“Apa?”

Gu Chen menatap matanya.

“Aku tidak pernah menyerahkan hidupku kepada siapa pun tanpa melawan.”

Ia memusatkan perhatian pada benang yang menghubungkan sosok itu dengan tubuhnya.

Kemampuan Pemutus Benang kembali berdenyut.

Namun, kali ini ia tidak berusaha memutus hubungan antara sosok tersebut dan seorang pengamat.

Ia mencoba memutus hubungan antara dua identitas yang berbagi satu kehidupan.

Sebuah peringatan muncul.

\[TINDAKAN TERLARANG.\]

\[PEMUTUS BENANG TIDAK DAPAT MEMISAHKAN IDENTITAS YANG MEMILIKI ASAL YANG SAMA.\]

Gu Chen mengabaikannya.

Ia menggenggam benang itu sekuat tenaga.

Rasa sakit meledak di kepalanya.

Sosok berambut putih terkejut.

“Apa yang kau lakukan?”

Gu Chen tersenyum dengan susah payah.

“Memperkenalkan diriku.”

Ia menarik benang tersebut.

“Namaku Gu Chen.”

Kemudian ia memutuskannya.

KRAAAK!

Seluruh ruang bawah tanah berguncang.

Cahaya merah pecah menjadi ribuan serpihan. Lonceng hitam jatuh ke lantai, sementara sosok berambut putih terlempar beberapa langkah ke belakang.

Gu Chen jatuh berlutut. Ia merasakan darah mengalir dari telinga dan hidungnya. Seluruh tubuhnya gemetar, tetapi ia masih sadar.

Di hadapannya, sosok berambut putih menatap kedua tangannya dengan tidak percaya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi terlihat seperti penguasa yang datang mengambil haknya.

Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat penting.

“Kau memutuskan hubungan kita,” bisiknya.

Gu Chen berusaha berdiri.

“Kalau kau ingin hidup di dunia ini, cari tubuhmu sendiri.”

Sosok berambut putih menatapnya lama.

Kemudian ia tertawa.

Bukan tawa marah, melainkan tawa seseorang yang akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah lama menghantuinya.

“Sekarang aku mengerti.”

Ia mengangkat wajah.

“Kau memang bukan lagi diriku.”

Gu Chen tidak menjawab.

Sosok itu perlahan memudar.

Namun, sebelum menghilang sepenuhnya, ia meninggalkan satu kalimat.

“Kalau begitu, aku akan mencari orang yang menciptakanmu.”

Cahaya menghilang.

Pintu batu terbuka.

Di baliknya tidak terdapat ruangan, tangga, ataupun lorong.

Hanya sebuah hamparan putih tanpa ujung.

Di tengah hamparan tersebut berdiri seorang lelaki yang mengenakan pakaian sederhana.

Rambutnya hitam. Wajahnya tenang. Kedua tangannya berada di belakang punggung.

Gu Chen mengenali wajah itu dari sebuah kenangan yang baru saja muncul dalam pikirannya.

Lelaki yang berdiri di hadapannya adalah Gu Yuan.

Bukan ingatan Gu Yuan.

Bukan bayangan yang disimpan di Kota Wuming.

Melainkan seseorang yang benar-benar memiliki tubuh.

Lelaki itu menatap Gu Chen.

“Anakku,” katanya pelan.

Gu Chen berdiri dengan susah payah.

“Apakah kau benar-benar ayahku?”

Gu Yuan mengangguk.

“Ya.”

“Kalau begitu, aku ingin kau menjawab satu pertanyaan.”

“Tanyakan.”

Gu Chen menatapnya tanpa berkedip.

“Siapa yang menciptakanku?”

Gu Yuan terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab, “Aku.”

Gu Chen merasakan seluruh tubuhnya membeku.

Namun, Gu Yuan belum selesai berbicara.

“Aku menciptakan kehidupan yang kau jalani sekarang. Aku memberimu nama Gu Chen, memberimu ingatan, dan membawamu ke dunia yang tidak mengenal masa lalumu.”

Ia menundukkan kepala.

“Tetapi aku bukan orang yang menciptakan dirimu yang pertama.”

Gu Chen menggenggam pisaunya.

“Lalu siapa?”

Gu Yuan mengangkat wajah.

Tatapannya dipenuhi kesedihan yang begitu dalam hingga Gu Chen tidak sanggup langsung membalasnya.

“Orang yang menciptakan dirimu yang pertama adalah seseorang yang bahkan para pemain tidak berani sebut namanya.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan orang itu adalah orang yang sedang berdiri di hadapanmu sekarang.”

Gu Chen menatapnya dengan kebingungan.

“Apa maksudmu?”

Gu Yuan tersenyum getir.

“Anakku, aku telah berbohong kepadamu sejak kau dilahirkan kembali.”

Hamparan putih di sekitar mereka mulai retak.

“Karena jika kau mengetahui kebenaran sejak awal, kau tidak akan pernah mau hidup.”

Bersambung ke Bab 20 — Orang yang Menciptakan Dirinya Sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!