Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Pria Paling Miris
Bellona menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku kayu. Angin malam yang bertiup makin dingin membuat selimut tebal yang melilit tubuhnya mengembang pelan. Ia melirik Devan dari sudut mata—menatap pria yang masih memegangi leher gitarnya dengan mata sembap dan sisa air mata yang mengering di pipi kusamnya.
"Hidup lo miris banget ya, Devan," cetus Bellona ketus, suaranya parau tapi nada ejekannya terdengar sangat tajam di tengah hening nya malam.
Devan tak langsung membalas. Pria itu menyandarkan kepala gitar tua itu ke lantai teras, menghembuskan napas berat yang membawa uap dingin dari mulutnya.
"Gue emang kagak pernah tahu lo punya arah hidup atau kagak," lanjut Bellona, membuang pandangannya ke jalanan gelap. "Kerjaan lo cuma mabok-mabokan, bising sama band kagak jelas lo itu, terus ngutang ke sana-sini. Lo hidup kayak orang yang kagak punya tujuan dari lahir."
Devan terkekeh pelan—tawa getir tanpa sisa rasa marah. Pria itu menyapu wajahnya dengan telapak tangan, lalu mendongak menatap langit malam yang kelam tanpa bintang.
"Punya tujuan?" bisik Devan serak. "Buat orang kayak gue... mimpi atau tujuan hidup itu cuma barang mewah yang kagak pernah bisa gue beli, Bell."
Bellona mengerutkan dahinya kaku, mendengkus mendengar alasan yang ia anggap omong kosong itu.
Namun, Devan tidak melanjutkan dengan nada tengil seperti biasanya. Matanya menerawang jauh, seolah kembali melempar kesadarannya ke belasan tahun yang lalu.
"Waktu gue umur tujuh tahun," kata Devan pelan, suaranya mendadak berubah amat dingin dan datar, "nyokap gue ninggalin gue sendirian di pasar malam pas hujan deras."
Bellona tersentak pelan. Ia tidak memotong, walau dahinya makin berkerut heran.
"Dia suruh gue duduk di bangku kayu, dibilang mau beli makanan sebentar," Devan menyunggingkan senyum pahit, jemarinya meremas kain celananya sendiri. "Gue nurut. Gue duduk di sana sampai wahana dimatikan satu-satu, sampai hujan petir turun dan baju gue basah kuyup."
Bellona merapatkan selimutnya, mendadak merasa hawa dingin menyengat kulitnya lebih dari sebelumnya.
"Gue panik, gue lari nyari dia sambil teriak-teriak di tengah hujan," lanjut Devan, suaranya mulai bergetar. "Tapi pas gue nyampe di ujung jalan raya... ramai orang ngumpul. Dan di atas aspal yang genang air bercampur darah... nyokap gue terbaring di sana."
Sentakan cerita itu membuat Bellona membeku total. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Tertabrak truk," Devan menelan ludahnya yang terasa pahit. "Darahnya di mana-mana. Gue meluk tubuhnya yang udah dingin di tengah hujan, meraung-raung nyuruh dia bangun... tapi dia kagak pernah bangun lagi."
Hening sejenak. Bellona menatap Devan dari samping dengan mata membelalak pelan.
"Sejak hari itu, gue kagak pernah tahu gimana caranya punya arah," kata Devan pelan, menatap jarinya yang kotor oleh bekas senar gitar. "Gue hidup asal jalan aja. Mabok, musik, ngutang... cuma itu hal-hal bodoh yang bisa bikin otak gue lupa sama bau darah dan suara hujan malam itu."
Devan menoleh, menatap Bellona yang masih mematung membisu di ujung bangku.
"Makanya pas lo bilang hidup gue miris..." Devan tersenyum kaku, mata merahnya memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. "...lo kagak salah, Bell. Gue emang pria paling miris dan hancur yang pernah ada."
Bellona membuang pandangannya dari Devan, kembali menatap lurus ke arah jalanan gang yang remang. Kain selimut di bahunya ia tarik makin rapat. Rasa terkejut atas cerita tragis Devan perlahan mengendap, berganti jadi gumpalan emosi lain yang menuntut untuk dikeluarkan.
"Semua orang udah punya takdirnya masing-masing," kata Bellona pelan tapi tajam. "Begitu juga sama ibu lo."
Devan menghentikan gerakan jemarinya di tepi kayu gitar, menoleh kaku ke arah Bellona.
"Harusnya lo berusaha buat bikin ibu lo bangga di atas sana," lanjut Bellona dengan nada dingin, "bukan malah merusak diri lo sendiri kayak gini. Lo melampiaskan semuanya ke alkohol sama hidup kagak jelas, terus lo jadiin luka masa lalu lo sebagai alasan buat nyerah."
Devan terkekeh pahit—sebuah tawa kecil tanpa suara yang meluncur begitu saja dari tenggorokannya yang serak. Pria itu menyandarkan kepalanya ke dinding semen kusam di belakangnya, menatap langit-langit teras yang berdebu. Tawa itu dipenuhi rasa ketidakberdayaan yang begitu kental.
Bellona menghembuskan napas panjang. Uap dingin berembus tipis dari bibirnya yang pucat.
"Gue... sebenarnya juga bakal hancur kayak lo kalau kagak ada Oma dulu," bisik Bellona pelan. Suaranya mendadak melunak.
Devan menurunkan pandangannya, menatap Bellona dari samping dengan kening berkerut halus.
"Mama... si Sarah itu..." Bellona menyebut nama ibunya dengan nada kaku yang penuh luka. "Dia dari dulu kagak pernah peduli sama gue. Dia selalu sibuk sama dunianya sendiri, sama pria-pria di hidupnya, sama pekerjaannya. Gue berasa kagak pernah dianggap ada di rumah itu."
Bellona meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Memory masa SMP-nya mendadak berputar kembali di benaknya.
"Dulu gue pernah benci banget sama keadaan. Gue pernah berniat mau berontak, mau bolos sekolah, mau jadi berandal sekalian biar Sarah nengok ke gue walau cuma buat nampar gue," kata Bellona dengan mata berkerak air mata yang tertahan. "Gue pengin merusak diri gue sendiri biar dia merasa gagal."
Bellona menarik napas gemetar, lalu melanjutkan, "Tapi waktu itu... Oma nahan gue. Oma meluk gue erat banget sambil nangis. Oma bilang..."
Bellona terdiam sejenak, menelan ludahnya yang pahit sebelum menirukan bisikan hangat yang selalu menyelamatkan hidupnya.
"'Jangan rusak hidup kamu cuma buat ngebuktiin rasa sakit kamu ke orang yang gak peduli, Bellona. Hidup kamu itu berharga, bukan senjata buat membalas dendam.'"
Suara Bellona pecah di ujung kalimat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan air mata dingin menetes perlahan menimpa pangkuannya.
"Oma yang bikin gue tetep bertahan buat jadi orang benar," gumam Bellona serak. "Makanya gue benci banget pas ngeliat lo... orang yang gampang banget nyerah sama hidup cuma gara-gara luka lama."
Devan mematung mendengar penuturan Bellona. Kalimat dari almarhumah ibu Sarah—sosok Oma yang selama ini menjadi pelindung tunggal Bellona—terdengar bagaikan dentang lonceng yang menggempa di dadanya.
Pria itu menatap punggung kecil anak gadisnya yang bergetar menahan tangis di balik selimut tebal. Rasa malu melingkupi hati Devan. Di hadapan seorang remaja belasan tahun yang berhasil bertahan dari hancurnya kasih sayang keluarga, Devan merasa dirinya begitu kerdil karena telah bertahun-tahun bersembunyi di balik rasa keputusasaan.
"Oma lo..." Devan bersuara serak, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin malam. "...orang yang luar biasa hebat, Bell."
Bellona menyapu air matanya kasar dengan pinggiran kain selimut. Gadis itu tidak menyahut, tetapi bahunya yang tegang perlahan meluruh.
Devan menghembuskan napas panjang. Pria itu menggeser duduknya sedikit lebih dekat, meski tetap memberi jarak yang cukup agar Bellona tak merasa terintimidasi. Ia meletakkan gitarnya di samping bangku, lalu menatap lurus ke arah jalanan gang yang sepi.
"Gue kagak punya Oma kayak lo yang bisa meluk atau mengingatkan gue pas gue mau hancur," Devan tersenyum pahit, tatapannya menyuarakan penerimaan yang jujur atas kekurangannya sendiri. "Gue sendirian dari kecil. Kagak ada yang pernah ngasih tahu gue gimana caranya bertahan tanpa merusak diri."
Bellona melirik Devan dari balik kain selimutnya, melihat samping wajah Devan yang tampak begitu lelah namun tak lagi memancarkan kemarahan.
"Tapi lo bener," lanjut Devan pelan, menoleh dan menatap mata Bellona dengan kehangatan yang jujur. "Nyerah sama hidup dan merusak diri itu cuma tindakan penakut. Gue udah terlalu lama jadi penakut, Bell. Dan gue kagak mau nyokap gue di atas sana... atau lo di sini... terus-terusan ngeliat gue kayak gini."
Keheningan kembali datang menyergap, tetapi kali ini terasa jauh lebih hangat. Gesekan daun-daun pohon di sekitaran rumah mengiringi napas mereka berdua yang perlahan mulai teratur.
Devan merogoh saku jaketnya, menarik keluar sebungkus rokok yang tinggal tersisa dua batang. Namun saat hendak memantik apinya, matanya melirik Bellona yang masih pucat gara-gara demam. Devan menghentikan tangannya, lalu meremas bungkus rokok itu sampai remuk dan melemparnya ke dalam tempat sampah kecil di sudut teras.
Bellona memperhatikan gestur kecil itu tanpa bersuara. Bibirnya yang kering merapat rapat, tetapi rasa benci yang pekat yang selama ini membelenggu dadanya mendadak mengendur, menyisakan sepetik kepasrahan untuk menerima keberadaan pria di sampingnya itu.
"Masuk sana," kata Devan lembut sambil berdiri dari bangku kayu. "Udara malam makin dingin. Lo belum sembuh total."
Bellona tidak membantah kali ini. Ia berdiri perlahan dari bangku, membetulkan letak selimut di bahunya. Saat langkahnya sudah mencapai ambang pintu, Bellona berhenti sejenak tanpa memutar tubuhnya.
"Devan..." panggil Bellona pelan.
Devan tersentak, menoleh kaget. "Kenapa, Bell?"
"...besok gue kagak usah dibangunin pagi-pagi," bisik Bellona ketus, berusaha mengembalikan nada judesnya walau suaranya terdengar canggung. "Gue mau tidur seharian."
Devan terkekeh pelan—tawa lepas pertamanya yang terdengar tulus tanpa beban. "Iya, Bocah. Tidur aja sepuas lo. Ntar makanan gue siapin di meja."
Bellona melangkah masuk dan menutup pintu teras pelan-pelan, meninggalkan Devan yang berdiri sendirian di bawah pendar lampu remang dengan senyum tipis yang tak kunjung surut dari bibirnya.