H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Jauh dari kemewahan Kota Bandung yang sejuk, kontras drastis terjadi di sebuah sudut sempit ibu kota Jakarta. Di dalam petak kontrakan berukuran 6x3 meter persegi yang pengap dan berbau lembap, suasana malam itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada udara luar.
Tidak ada lagi lampu kristal, tidak ada lagi pendingin ruangan yang sejuk, dan yang paling mengenaskan: tidak ada lagi makanan layak di atas meja.
Di sudut ruangan yang hanya beralaskan karpet tipis plastik, Gisella terbaring lemas dengan wajah pucat pasi. Kehamilannya yang mulai memasuki trimester rentan membuat fisiknya sering kali dilanda mual dan lemas berkepanjangan. Di sebelah Gisel, Bu Maya duduk bersila sambil mengusap-ngusap kepala putrinya penuh rasa iba, sementara Pak Bambang mondar-mandir mondar-mandir gelisah dengan langkah berat di ruangan yang sempit itu.
Ceklek.
Pintu petak kontrakan terbuka perlahan. Reno Alamsyah melangkah masuk dengan bahu merosot dan wajah kuyu. Di tangan kanannya, ia membawa kantong plastik putih tipis berisi dua bungkus nasi uduk sederhana yang dibungkus kertas minyak menu paling murah yang bisa ia beli di ujung gang dengan sisa uang tunai terakhir di dompetnya.
Reno meletakkan bungkusan plastik itu di atas lantai semen yang kasar. Ia menarik napas panjang, mencoba memasang wajah setegar mungkin di hadapan istri dan mertuanya.
"Gisel, Bu, Pak... Ini makan malamnya sudah saya belikan," ucap Reno dengan suara parau, berusaha menutupi rasa malunya yang amat dalam.
Bu Maya bergeser mendekati kantong plastik tersebut, lalu membukanya perlahan. Wanita paruh baya itu mengerutkan kening begitu melihat isinya. Hanya ada dua bungkus nasi uduk berukuran kecil dengan taburan bawang goreng tipis, separuh telur rebus, dan sedikit irisan timun tanpa lauk tambahan yang berarti.
"Ren..." panggil Bu Maya dengan nada suara ragu-ragu dan keheranan. "Cuma dua bungkus nasi uduk? Terus kita berempat makannya gimana?"
Reno menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. "Iya, Bu... Uang tunai di dompet saya benar-benar sisa sedikit tadi. Jadi... terpaksa kita bagi dua."
Mendengar penjelasan itu, Pak Bambang yang sejak tadi menahan diri mendadak menghentikan langkah mondar-mandirnya. Pria paruh baya itu membelalakkan mata, menatap menantunya dengan tatapan tidak percaya bercampur geram yang mulai membakar dada.
"Maksud kamu apa, Reno?!" suara Pak Bambang meninggi, memecah keheningan petak kontrakan yang sempit. "Dua bungkus nasi uduk untuk empat orang dewasa?! Istri kamu ini sedang hamil! Dia butuh nutrisi, bukan makanan sisa pinggir jalan yang dibagi-bagi begini."
Gisella yang mendengar bentakan bapaknya langsung meneteskan air mata. Ia menatap bungkusan nasi uduk itu dengan rasa jijik sekaligus sedih yang teramat sangat. Semasa ia masih bersama Reno di masa lalu, atau saat ia masih tinggal di rumah lama sebelum dihancurkan Mahika, jangankan nasi uduk sebungkus berdua, makanan restoran mewah pun selalu tersedia di meja makan.
Sekarang, untuk mengisi perut saja mereka harus berebut sebungkus nasi murahan.
"Ren... aku lapar banget..." lirih Gisel tertunduk lemah, air matanya menetes membasahi pipinya yang tirus. "Anak di dalam perutku dari siang belum dapat asupan yang benar. Kenapa hidup kita jadi begini...?"
Melihat istrinya menangis dan mendengar omelan mertuanya yang bertubi-tubi, ego dan rasa frustrasi Reno yang sudah di ambang batas akhirnya meledak. Selama beberapa hari terakhir, ia menanggung beban dipecat dari pekerjaan, diusir oleh orang tua kandungnya sendiri, hidup berdesakan di petak kumuh, dan kini harus dihakimi gara-gara sebungkus nasi uduk.
Reno mendongak, menatap tajam ke arah Pak Bambang dengan napas memburu.
"Terus mau saya bagaimana lagi, Pak?!" sergah Reno dengan suara tinggi, tidak mau disalahkan sepenuhnya. "Bapak pikir cari uang di Jakarta sekarang gampang?! Saya sudah berusaha keliling seharian cari lowongan kerja, tapi semua menolak karena ijazah saya tertahan atau karena nama saya sudah jelek di mana-mana."
Pak Bambang terperanjat kaget mendengar nada tinggi menantunya. Urat di leher pria tua itu menonjol keluar karena amarah yang langsung meluap.
"Kamu jangan membentak saya, ya!" maki Pak Bambang murka, menunjuk tepat di depan wajah Reno. "Kamu itu kepala rumah tangga! Tanggung jawab kamu menafkahi istri dan keluarganya! Kalau kamu bawa anak saya nikah, kamu harusnya siap dengan segala konsekuensinya, bukan malah merengek seperti anak kecil di hadapan mertua."
Reno mendengus sinis, tertawa hambar penuh kepahitan. "Harus bertanggung jawab? Bapak pikir saya tidak berusaha?! Tapi harusnya Bapak juga sadar diri! Jangan cuma bisa menuntut saya seorang diri."
Mendengar kalimat itu, mata Pak Bambang melebar dua kali lipat. "Apa kamu bilang?! Kamu menyuruh saya sadar diri?."
"Iya!" balas Reno ngegas, hilang sudah rasa hormatnya sebagai menantu. "Kita kan sama-sama laki-laki, Pak! Harus sama-sama bertanggung jawab! Jangan semua beban hidup dibebankan ke pundak saya! Bapak kan bapak kandungnya Gisel, kenapa Bapak nggak ikut usaha cari uang juga bantu-bantu di luar sana?! Jangan cuma duduk diam di petak kontrakan nunggu saya bawa hasil."
Deg!
Suasana di dalam petak kontrakan ukuran 6x3 meter itu mendadak membeku. Kalimat yang dilontarkan Reno barusan benar-benar menohok harga diri Pak Bambang sebagai seorang ayah dan kepala keluarga.
Wajah Pak Bambang memerah padam menahan amarah yang luar biasa besar. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Oh... jadi sekarang kamu main hitung-hitungan sama saya, Ren?!" desis Pak Bambang dengan suara bergetar penuh kemarahan yang tertahan. "Kamu bilang kita sama-sama laki-laki? Hei, dengar baik-baik! Kamu yang merebut anak saya, kamu yang menghamilinya di luar nikah, kamu yang berjanji akan memberikan hidup mewah bagaikan ratu! Dan sekarang, setelah semuanya hancur, kamu malah menyuruh saya ikut banting tulang membiayai hidup kalian?."
"Ya daripada Bapak cuma jadi beban tambahan di sini?!" tukas Reno tanpa berpikir panjang, emosinya sudah menutup seluruh akal sehatnya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Reno.
Bukan dari Pak Bambang, melainkan dari Bu Maya yang sejak tadi berusaha melerai namun akhirnya tidak tahan lagi mendengar ucapan keji menantunya. Bu Maya berdiri dengan dada naik turun, air mata membasahi wajahnya.
"Kurang ajar kamu, Reno!" jerit Bu Maya histeris, menatap menantunya dengan tatapan penuh kebencian. "Berani-beraninya kamu bicara begitu ke suami saya! Kamu benar-benar laki-laki tidak tahu diuntung!"
Reno memegang pipinya yang panas akibat tamparan sang ibu mertua. Ia menatap Bu Maya, lalu beralih menatap Pak Bambang yang memandangnya bagaikan musuh bebuyutan.
Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan keluarga. Yang ada hanyalah rasa sesak dan kebencian yang memenuhi ruangan sempit itu.
"Cukup!" bentak Reno kalap, menendang kecil kaleng kosong di lantai hingga terpental. "Kalian semua sama saja! Kerjanya cuma bisa menuntut dan menyalahkan saya! Kalau kalian tidak suka cara saya hidup, silakan urus diri kalian sendiri!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun dan tanpa memperdulikan jeritan Gisella yang memanggil namanya, Reno berbalik badan dengan kasar. Ia menyambar kunci mobil sedan lamanya yang ditaruh di atas meja kecil, lalu membanting pintu petak kontrakan itu dengan sangat keras hingga dinding triplek kontrakan bergetar hebat.
Brak!
Reno melangkah keluar terburu-buru menyusuri gang sempit menuju area parkir motor dan mobil warga di ujung jalan. Ia membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam kabin, menyalakan mesin dengan suara deru gas yang tinggi, and langsung memacu kendaraannya pergi meninggalkan kontrakan itu tanpa arah tujuan yang jelas di tengah malam buta kota Jakarta.
I
Di dalam petak kontrakan yang pengap, Gisella menangis histeris meratapi kepergian suaminya, sementara Pak Bambang terduduk lemas di lantai sambil mengepalkan tangan, menyadari bahwa keputusan menikahkan putrinya dengan Reno adalah malapetaka terbesar dalam hidup mereka.
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪