Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — MUSUH ATAU PELINDUNG?
Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Arga Pratama berdiri di depan gedung utama penyelenggara National Automotive Engineering Challenge. Langit Jakarta masih kelabu, sementara kendaraan mulai memenuhi jalan di luar kompleks.
Di tangannya terdapat salinan surel yang diterima malam sebelumnya.
PEMBERITAHUAN PENANGGUHAN PESERTA NOMOR 17.
Nama Marcus Hale tercantum sebagai pejabat yang mengajukan permintaan tersebut.
Arga membaca surat itu sekali lagi, bukan karena ia tidak memahami isinya, melainkan karena ia ingin memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
Penangguhan itu didasarkan pada dugaan akses tidak sah terhadap data teknis proyek lama yang terhubung dengan sistem kompetisi. Namun, surat tersebut tidak menyebutkan bukti teknis yang mendasari tuduhan itu.
Baginya, ada dua kemungkinan.
Seseorang telah menggunakan penyelidikannya sebagai alasan untuk menyingkirkannya dari kompetisi, atau memang terdapat aktivitas pada sistem yang perlu diperiksa secara serius.
Ia tidak akan memilih salah satu sebelum mengetahui faktanya.
“Arga!”
Nadia berjalan cepat menghampirinya. Di belakangnya, Fajar membawa map berisi salinan dokumen kompetisi.
“Kami sudah membaca suratnya,” kata Nadia. “Panitia meminta kau hadir dalam pemeriksaan pukul delapan.”
“Aku akan datang.”
“Kau tidak khawatir mereka akan langsung mendiskualifikasimu?”
Arga memasukkan surat itu ke dalam map.
“Kalau aku tidak melakukan akses tanpa izin, aku harus menjelaskan itu dengan tenang. Aku juga ingin tahu data apa yang mereka maksud.”
Fajar mengangguk.
“Aku sudah meminta panitia mempertahankan catatan akses sistem. Jangan sampai ada log yang dihapus selama pemeriksaan.”
“Bagus,” ujar Arga. “Pastikan permintaan itu tercatat secara resmi.”
Mereka bertiga berjalan menuju ruang administrasi.
Arga tahu bahwa kompetisi bukan lagi satu-satunya hal yang dipertaruhkan. Jika tuduhan itu dibiarkan tanpa pemeriksaan yang adil, namanya bisa kembali tercemar sebelum ia sempat mengungkap kebenaran tentang ARX-9.
Namun, kali ini ia tidak akan menghadapi semuanya sendirian.
Ruang pemeriksaan berada di lantai dua gedung administrasi. Di dalamnya sudah menunggu Marcus Hale, dua orang petugas keamanan sistem, dan seorang perwakilan panitia bernama Surya Adinata.
Marcus duduk di ujung meja dengan wajah serius.
“Silakan duduk, Arga.”
Arga mengambil kursi tanpa menunjukkan kegugupan.
Surya Adinata membuka berkas.
“Kami menerima laporan mengenai dugaan akses tidak sah terhadap profil teknis lama yang terhubung dengan sistem pengujian kompetisi. Aktivitas tersebut perlu kami periksa untuk memastikan keamanan data dan keselamatan peserta.”
“Saya setuju aktivitas itu perlu diperiksa,” jawab Arga. “Saya juga ingin mengetahui waktu kejadian, jenis akses yang tercatat, dan bukti yang menghubungkannya dengan saya.”
Marcus menatapnya tajam.
“Kau memiliki pengetahuan mendalam tentang sistem ARX-9.”
“Pengetahuan bukan bukti bahwa saya mengakses sistem tanpa izin.”
Suasana ruangan menjadi hening.
Salah seorang petugas keamanan membuka laptop dan menampilkan catatan awal.
“Ada pemberitahuan mengenai profil bernama ARX Legacy Profile yang muncul selama pemeriksaan kendaraan final. Kami menemukan bahwa profil itu tidak tercantum dalam konfigurasi awal kendaraan.”
Arga mengangguk.
“Saya yang pertama kali melaporkan pemberitahuan tersebut kepada panitia. Saya meminta pemeriksaan dan penghentian pengujian sampai keamanan kendaraan dipastikan.”
“Itu benar,” jawab petugas. “Namun, kami juga menemukan aktivitas administratif yang terjadi setelah pemberitahuan muncul.”
“Apakah aktivitas itu menggunakan akun peserta saya?”
Petugas itu memeriksa catatan di layar.
“Kami belum dapat memastikan. Data awal menunjukkan penggunaan kredensial dengan tingkat akses yang tidak tersedia bagi peserta biasa. Kami masih memeriksa sumbernya.”
Arga menoleh kepada Marcus.
“Kalau begitu, apa dasar permintaan penangguhan yang Anda ajukan?”
Marcus merapatkan kedua tangannya di atas meja.
“Karena sistem menampilkan hubungan antara profil lama dan penyelidikan yang sedang kau lakukan. Saya tidak ingin ada risiko terhadap integritas kompetisi.”
“Apakah Anda memiliki bukti bahwa saya mengubah sistem?”
Marcus tidak segera menjawab.
“Saya memiliki alasan untuk meminta pemeriksaan.”
“Itu berbeda dengan bukti bahwa saya melakukan pelanggaran.”
Surya Adinata mengangkat tangan untuk menghentikan perdebatan.
“Kami tidak akan mengambil keputusan berdasarkan dugaan semata. Pemeriksaan ini akan berlangsung sampai catatan teknis dapat diverifikasi.”
Arga menarik napas lega, meskipun ia tetap waspada.
Surya melanjutkan, “Untuk sementara, Anda tidak boleh mengakses perangkat administrasi atau sistem teknis kompetisi di luar tugas peserta. Namun, status Anda belum menjadi diskualifikasi permanen.”
“Saya akan mematuhi pembatasan itu,” kata Arga. “Saya hanya meminta agar seluruh catatan akses disimpan dan tidak diubah selama pemeriksaan.”
Permintaan tersebut dicatat dalam berita acara.
Setelah pemeriksaan awal selesai, Arga berdiri.
Sebelum ia mencapai pintu, Marcus memanggilnya.
“Arga, aku ingin bicara secara pribadi.”
Arga berhenti.
“Jika pembicaraan itu menyangkut pemeriksaan, saya lebih memilih ada catatan resmi.”
Marcus menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
“Bukan tentang kompetisi. Ini menyangkut ARX-9.”
Arga kembali duduk.
Nadia dan Fajar tetap berada di ruangan atas persetujuan panitia.
Marcus memandang mereka, kemudian berbicara dengan suara lebih rendah.
“Kalian harus berhenti mencari salinan pertama laporan keselamatan.”
Arga tidak mengalihkan pandangannya.
“Kenapa?”
“Karena laporan itu tidak lagi berada dalam arsip perusahaan.”
“Lalu di mana?”
Marcus terdiam.
“Aku tidak tahu tempat penyimpanan terakhirnya.”
“Namun, Anda tahu laporan itu pernah ada.”
Marcus mengusap wajahnya.
“Tentu saja aku tahu. Aku adalah salah satu orang yang memeriksa laporan keselamatan ARX-9 sebelum proyek dihentikan.”
“Apakah nama saya tercantum di dalamnya?”
“Ya.”
“Sebagai orang yang bertanggung jawab atas insiden?”
Marcus menatap meja.
“Bukan dalam versi awal.”
Arga merasakan dadanya menegang.
“Jelaskan.”
Marcus menghela napas panjang.
“Versi awal mencatat bahwa pengujian dihentikan karena ketidaksesuaian antara konfigurasi pengendali dan hasil validasi keselamatan. Laporan itu juga mencantumkan beberapa permintaan pemeriksaan lanjutan. Namamu tercatat sebagai insinyur yang meminta pengujian dihentikan sampai masalah tersebut diselesaikan.”
Nadia mencondongkan tubuh.
“Kalau begitu, mengapa laporan final menyebut Arga bertanggung jawab atas kegagalan pengujian?”
“Itulah yang sedang kucoba pahami,” jawab Marcus.
Arga menatapnya tanpa berkedip.
“Lima tahun lalu, Anda memiliki kesempatan untuk menjelaskan perbedaan itu. Mengapa Anda tidak melakukannya?”
Wajah Marcus mengeras.
“Karena saat itu aku percaya pada dokumen yang diserahkan kepada dewan direksi.”
“Dan ketika saya membantah isi laporan tersebut?”
“Aku menganggapmu terlalu emosional setelah proyek dihentikan.”
Arga tertawa pendek, tetapi tidak ada kegembiraan dalam suaranya.
“Jadi, Anda memilih mempercayai laporan daripada orang yang bekerja bersama Anda setiap hari.”
Marcus tidak membantah.
“Aku membuat keputusan yang salah.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Arga, kalimat tersebut membawa beban lima tahun yang tidak bisa dihapus hanya dengan sebuah pengakuan.
“Apakah Anda mengubah laporan itu?” tanya Arga.
“Tidak.”
“Apakah Anda menghapus nama dari daftar persetujuan?”
“Tidak.”
“Apakah Anda tahu siapa yang melakukannya?”
Marcus mengangkat wajah.
“Aku punya dugaan. Tetapi dugaan itu tidak cukup untuk menuduh seseorang.”
Arga terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mendengar Marcus menggunakan alasan yang sama dengannya.
Namun, ia belum tahu apakah itu tanda kejujuran atau sekadar cara lain untuk menghindari pertanyaan.
“Kalau Anda ingin membantu, berikan informasi yang dapat kami verifikasi,” kata Arga. “Bukan hanya peringatan agar kami berhenti.”
Marcus menatapnya lama.
“Ada satu orang yang mungkin mengetahui lokasi laporan itu.”
“Siapa?”
“Ratih.”
Fajar langsung mengangkat kepala.
“Ratih yang dulu menangani administrasi proyek?”
Marcus tampak terkejut.
“Kau mengenalnya?”
“Kami baru mencoba menghubunginya kemarin.”
Marcus menghela napas.
“Kalau begitu, kalian harus berbicara dengannya sebelum orang lain melakukannya.”
“Apakah Anda tahu bahwa dia masih menyimpan salinan dokumen?” tanya Nadia.
“Aku tidak tahu. Namun, sebelum laporan final diserahkan, Ratih pernah menolak menghapus sebuah lampiran dari paket dokumen. Ia mengatakan lampiran itu merupakan bagian dari catatan keselamatan.”
“Lampiran apa?” tanya Arga.
Marcus menggeleng.
“Aku tidak pernah melihatnya.”
Arga berdiri.
“Kalau begitu, kami akan bertanya langsung kepada Ratih.”
Marcus tidak mencoba menghentikannya.
Namun, saat Arga sudah berada di ambang pintu, Marcus berkata sekali lagi.
“Arga.”
Arga menoleh.
“Jangan menganggap semua orang yang membuat keputusan buruk adalah orang yang merencanakan kehancuranmu.”
Arga menatap pria itu dengan dingin.
“Dan jangan menganggap semua orang yang mengaku menyesal layak dipercaya.”
Ia meninggalkan ruangan bersama Nadia dan Fajar.
Di belakang mereka, Marcus tetap duduk tanpa bergerak.
Menjelang siang, ketiganya berkumpul di ruang istirahat peserta.
Nadia membuka catatan yang mereka kumpulkan.
“Informasi Marcus cocok dengan beberapa hal yang kita temukan. Laporan awal mungkin mencatat permintaan penghentian pengujian, sedangkan laporan final memberikan gambaran berbeda.”
“Namun, kita belum melihat laporan awal itu sendiri,” ujar Fajar.
“Benar,” kata Arga. “Kita juga belum tahu siapa yang mengubah dokumen, siapa yang memberikan otorisasi, atau apakah perubahan tersebut berkaitan langsung dengan insiden teknis.”
Nadia mengangguk.
“Yang jelas, kita perlu menghubungi Ratih dengan cara yang aman dan profesional. Jangan sampai dia merasa sedang dipaksa memilih pihak.”
Fajar mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah mendapat balasan darinya.”
Ia menunjukkan sebuah pesan singkat.
Saya bersedia berbicara, tetapi tidak melalui telepon. Ada beberapa hal yang tidak ingin saya bahas sebelum saya yakin dokumen yang kalian cari memang masih diperlukan.
Arga membaca pesan itu.
“Dia ingin bertemu langsung?”
“Ya. Besok pukul sepuluh pagi, di perpustakaan umum dekat pusat kota.”
Nadia berpikir sejenak.
“Kita bisa datang bertiga. Pertemuan di tempat umum, tanpa membawa dokumen asli. Kalau dia memberikan salinan, kita catat asal dan kondisinya.”
Arga setuju.
Namun, ia belum sempat menambahkan sesuatu ketika Dimas Prakoso muncul di pintu.
“Arga, kau dicari seseorang.”
“Siapa?”
Dimas tampak ragu.
“Seorang pria dari tim teknis. Dia mengatakan ada hasil pemeriksaan tambahan mengenai profil ARX Legacy.”
Arga berdiri.
“Apa dia memberikan nama?”
“Namanya Bima Saputra.”
Arga mengenal nama itu. Bima adalah salah satu teknisi senior yang membantu pemeriksaan kendaraan selama kompetisi berlangsung.
Mereka segera menuju ruang teknis yang telah ditetapkan panitia untuk pemeriksaan internal.
Bima menunggu di dekat meja dengan beberapa lembar laporan.
“Aku tidak bisa menunjukkan semua data karena pemeriksaan masih berlangsung,” katanya. “Namun, ada temuan yang perlu kalian ketahui.”
Ia meletakkan laporan ringkas di atas meja.
“Profil ARX Legacy yang muncul pada kendaraan final tidak berasal dari perangkat peserta. Berdasarkan pemeriksaan awal, profil itu dimasukkan melalui jalur administrasi pemeliharaan.”
Arga membaca ringkasan tersebut.
“Apakah kalian sudah mengidentifikasi akun yang digunakan?”
“Belum. Kredensial yang tercatat berasal dari kelompok akun dengan akses teknis khusus. Kami sedang memeriksa apakah kredensial itu digunakan oleh pemilik aslinya atau melalui mekanisme lain.”
“Apakah profil itu mengubah parameter kendaraan?”
“Belum ada bukti yang memastikan perubahan parameter aktif selama pengujian. Yang kami ketahui, profil tersebut terdaftar dalam sistem dan tidak seharusnya muncul pada konfigurasi kompetisi.”
Nadia menunjuk salah satu baris.
“Di sini tertulis bahwa profil terdaftar sebelum kendaraan menjalani pemeriksaan akhir.”
“Benar. Tetapi waktu pada sistem administrasi dan sistem kendaraan belum sepenuhnya tersinkronisasi. Kami tidak akan menyimpulkan urutan kejadian secara pasti sebelum seluruh log dibandingkan.”
Arga mengangguk.
“Terima kasih sudah menjelaskan.”
Bima menatapnya dengan ekspresi serius.
“Ada satu hal yang membuatku khawatir. Ketika kami mencoba memeriksa riwayat profil, beberapa catatan tidak muncul dalam tampilan biasa.”
“Apakah catatan itu dihapus?” tanya Fajar.
“Kami belum bisa mengatakan demikian. Bisa jadi karena pembatasan akses, pengarsipan otomatis, atau masalah sinkronisasi. Tim sistem sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”
Arga menutup laporan.
“Jangan mengubah atau memulihkan data sebelum salinan pemeriksaan dibuat. Catat setiap tindakan yang dilakukan.”
Bima mengangguk.
“Sudah kami masukkan ke prosedur pemeriksaan.”
Arga merasa lega. Setidaknya, orang-orang yang menangani kasus ini mulai memahami pentingnya menjaga bukti tanpa membuat kesimpulan terburu-buru.
Namun, ketika mereka keluar dari ruang teknis, Arga menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di ujung lorong.
Rendy Mahardika.
Wajahnya serius, jauh berbeda dari ekspresi angkuh yang biasa ia tunjukkan.
“Aku perlu bicara denganmu,” katanya.
Rendy mengajak Arga ke teras samping gedung yang relatif sepi.
“Ayahku akhirnya memberitahuku sedikit tentang Gunawan Wiratama,” kata Rendy.
Arga menunggu.
“Lima tahun lalu, ayahku menghadiri pertemuan dengan beberapa pemasok komponen dan konsultan teknologi. Gunawan hadir sebagai pengawas eksternal. Pertemuan itu membahas proyek yang mengalami masalah validasi.”
“Apakah ayahmu menyebut ARX-9?”
“Dia tidak mau memastikan. Katanya, sebagian dokumen bisnis lama masih tersimpan, tetapi ia belum memeriksanya.”
“Apakah ada nama lain?”
Rendy terdiam sejenak.
“Adrian Voss.”
Arga tidak menunjukkan keterkejutan, meskipun nama itu terus muncul dalam penyelidikannya.
“Apakah ayahmu tahu hubungan Adrian dengan perubahan dokumen?”
“Tidak. Dia hanya mengatakan Adrian memiliki wewenang untuk meninjau sejumlah dokumen teknis dan administratif pada proyek yang melibatkan beberapa perusahaan.”
“Apakah ayahmu bersedia menunjukkan dokumen tersebut?”
“Aku akan bertanya lagi. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
Rendy menatap Arga.
“Dia ingin tahu kenapa kau mencari semua ini. Bukan karena dia ingin melindungi Adrian, melainkan karena dia tidak mau nama perusahaannya ikut terseret tanpa dasar.”
Arga mengangguk.
“Itu permintaan yang masuk akal. Kita bisa menjelaskan apa yang sudah kita ketahui dan apa yang masih belum terbukti.”
Rendy tampak sedikit terkejut.
“Kau tidak akan langsung menuduh ayahku?”
“Kenapa aku harus menuduhnya kalau belum ada bukti?”
Rendy menunduk, kemudian tertawa kecil.
“Aku kira kau akan mengatakan sesuatu yang menyindir.”
“Kalau aku ingin menyindir semua orang yang pernah meremehkanku, aku tidak akan punya waktu memperbaiki mesin.”
Rendy akhirnya tersenyum tipis.
“Baiklah. Aku akan bicara dengan ayahku.”
Sebelum pergi, ia berhenti.
“Arga, aku mendengar kau mungkin dikeluarkan dari kompetisi.”
“Statusku masih dalam pemeriksaan.”
“Kalau mereka mendiskualifikasimu tanpa bukti, aku akan meminta panitia menjelaskan dasar keputusannya. Aku tidak mau final kompetisi berubah menjadi permainan politik.”
Arga menatapnya.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih dulu. Aku masih ingin mengalahkanmu di arena.”
“Kalau begitu, pastikan kau tidak sibuk mengawasi orang lain sampai lupa berlatih.”
Rendy mendengus.
“Dasar menyebalkan.”
Ia pergi, tetapi kali ini Arga tidak melihat kebencian di wajahnya.
Persaingan mereka belum berakhir. Namun, perlahan-lahan, Rendy mulai memahami bahwa mengalahkan Arga tidak harus berarti menjatuhkannya.
Sore harinya, Adrian Voss tiba di kompleks kompetisi.
Ia berjalan melewati ruang administrasi dengan langkah tenang, mengenakan setelan gelap yang rapi. Beberapa panitia menyapanya dengan hormat.
Arga melihatnya dari kejauhan.
Adrian juga melihat Arga.
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap.
Kemudian Adrian menghampiri.
“Aku mendengar statusmu sedang diperiksa,” katanya.
“Informasi itu menyebar dengan cepat.”
“Dalam kompetisi sebesar ini, kabar seperti itu sulit disembunyikan.”
“Apakah Anda datang untuk memastikan saya dikeluarkan?”
Adrian tersenyum tipis.
“Kalau aku ingin kau dikeluarkan, aku tidak perlu datang sendiri.”
“Lalu apa tujuan Anda?”
Adrian melirik Nadia dan Fajar yang berdiri tidak jauh dari Arga.
“Aku ingin memperingatkanmu. Penyelidikanmu sudah mulai menyentuh urusan yang tidak hanya berkaitan dengan ARX-9.”
“Semua orang terus memperingatkanku, tetapi tidak ada yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Karena kau mengira semua informasi harus diberikan kepadamu sekaligus.”
“Tidak. Aku hanya meminta fakta yang bisa diperiksa.”
Senyum Adrian menghilang.
“Kau masih sama seperti lima tahun lalu. Selalu percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan hanya dengan mengikuti jejak angka dan dokumen.”
Arga melangkah mendekat.
“Setidaknya angka dan dokumen tidak mengubah cerita hanya karena seseorang memiliki jabatan lebih tinggi.”
Tatapan Adrian menjadi dingin.
“Berhati-hatilah, Arga. Ada perbedaan antara mencari kebenaran dan membuka rahasia yang tidak kau pahami.”
“Kalau rahasia itu digunakan untuk menghancurkan hidup seseorang, orang itu berhak mengetahui kebenarannya.”
Adrian diam beberapa detik.
Kemudian ia berkata, “Tanyakan kepada Marcus mengapa ia menandatangani laporan final meskipun ia tahu ada perbedaan dengan laporan awal.”
Arga membeku sesaat.
“Bukankah tadi Anda mengatakan saya terlalu percaya pada dokumen?”
“Aku mengatakan kau belum memahami keseluruhan cerita.”
“Apakah Anda tahu siapa yang mengubah laporan itu?”
Adrian membetulkan manset jasnya.
“Aku tahu bahwa dokumen tidak berubah dengan sendirinya.”
“Siapa yang memberi perintah?”
Adrian tidak menjawab.
Ia berbalik dan berjalan menuju ruang administrasi.
Arga tidak mengejarnya. Ia sudah cukup sering melihat orang menggunakan potongan informasi untuk mengarahkan penyelidikan ke tempat yang mereka inginkan.
Namun, satu pertanyaan dari Adrian kini tidak bisa ia abaikan.
Mengapa Marcus menandatangani laporan final jika ia mengetahui adanya perbedaan dengan laporan awal?
Apakah Marcus takut?
Apakah ia menerima tekanan?
Atau apakah ia mengetahui sesuatu yang membuatnya memilih diam?
Malam itu, Arga kembali ke penginapan bersama Nadia.
Fajar telah mengonfirmasi bahwa pertemuan dengan Ratih tetap berlangsung keesokan pagi. Mereka juga mendapat kabar bahwa panitia belum menjatuhkan keputusan final mengenai status Arga.
Untuk sementara, ia masih boleh mengikuti kegiatan peserta yang tidak memerlukan akses ke sistem teknis khusus.
Arga duduk di meja kecil dekat jendela dan membuka catatan penyelidikannya.
Ia menulis tiga pertanyaan utama.
Pertama, siapa yang mengajukan revisi terhadap dokumen CC-117B?
Kedua, siapa orang yang namanya dihapus dari daftar persetujuan?
Ketiga, mengapa Marcus menandatangani laporan final setelah mengetahui adanya perbedaan dengan laporan awal?
Ketiganya saling berkaitan, tetapi belum ada bukti yang cukup untuk menyatukannya menjadi satu kesimpulan.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Kevin.
Arga, aku baru mengingat sesuatu. Orang yang mengubah jadwal pengujian bukan orang yang sama dengan orang yang menyetujui laporan final.
Arga segera membalas.
Apakah kau memiliki bukti?
Balasan datang beberapa saat kemudian.
Belum. Tapi aku ingat ada dua rangkaian persetujuan berbeda. Salah satunya tidak pernah dibahas dalam rapat evaluasi.
Arga mengetik lagi.
Bisakah kita bertemu besok?
Kali ini, Kevin tidak langsung membalas.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Lalu sebuah pesan muncul.
Aku tidak bisa datang. Seseorang baru saja menghubungiku dan menyebut nama Ratih.
Arga langsung duduk tegak.
Apa yang mereka katakan?
Balasan Kevin membuat darah Arga terasa dingin.
Mereka mengatakan Ratih tidak pernah menyimpan laporan keselamatan apa pun.
Sebelum Arga sempat membalas, sebuah pesan lain masuk dari nomor yang sama.
Itu bohong. Aku pernah melihat sendiri laporan yang disimpan Ratih.
Arga menatap layar dengan serius.
Pesan ketiga muncul.
Dan ada satu nama di halaman terakhir yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi.
Arga mengetik cepat.
Siapa nama itu?
Tidak ada balasan.
Ia mencoba menelepon Kevin, tetapi panggilan tidak tersambung.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar lagi.
Bukan dari Kevin.
Nomor tak dikenal mengirimkan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan halaman terakhir sebuah laporan keselamatan lama. Gambarnya buram, sebagian sudut halaman terpotong, dan beberapa bagian tampak tertutup bayangan.
Namun, satu baris di bagian bawah masih terbaca.
FINAL APPROVAL — ADRIAN VOSS.
Di bawahnya terdapat tanda tangan kedua yang tidak lengkap.
Arga memperbesar gambar tersebut.
Ia mengenali bentuk awal tanda tangan itu.
Bukan tanda tangan Marcus.
Bukan pula tanda tangan Gunawan.
Tanda tangan tersebut milik seseorang yang selama ini mereka anggap hanya sebagai saksi teknis dalam proyek ARX-9.
Seseorang yang pernah berdiri di samping Arga ketika pengujian terakhir dihentikan.
Seseorang yang pernah berjanji bahwa semua data keselamatan akan disimpan dengan benar.
Kevin Santoso.
Arga menatap foto itu dalam diam.
Jika tanda tangan tersebut asli, Kevin mungkin mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini ia akui.
Namun, jika foto itu sengaja dikirim untuk menjebaknya, seseorang sedang berusaha menghancurkan kepercayaan yang baru saja mulai dibangun kembali.
Arga menyimpan gambar itu tanpa menyebarkannya.
Besok, ia akan bertemu Ratih.
Dan apa pun yang terjadi, ia harus memastikan satu hal terlebih dahulu: apakah Kevin benar-benar berusaha mengungkap kebenaran, atau justru sedang menutupi bagian terakhir dari pengkhianatan lima tahun lalu?
Di luar jendela, suara kendaraan malam terdengar semakin jauh.
Arga menutup catatannya.
Penyelidikan itu akhirnya menemukan nama yang selama ini tersembunyi.
Tetapi nama tersebut justru milik orang yang paling mungkin membantu Arga membersihkan masa lalunya.
Bersambung.