Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditemani Suami (1)
Bab 31
Beberapa hari yang melelahkan menjaga Adly di rumah sakit, stamina Ruby benar-benar terkuras. Begitu selesai makan malam dan memastikan Adly sudah nyaman di kasurnya di bawah pengawasan Bu Siti.
“Gak usah ditemenin bun, aku sudah sehat.”
“Iya, tapi khusus malam ini. Biar Bu Siti tidur di sini,” titah Ruby sambil membentangkan selimut menyelimuti tubuh Adly. “Butuh apa-apa bilang bu Siti. Minta tolong bukan berarti kita lemah, daripada memaksakan diri tapi berakhir menyusahkan diri dan orang lain.”
Adly diam saja, mendengar nasihat Ruby.
“Kamu dengar ‘kan?” tanya Ruby.
“Dengar bun.”
“Oke, selamat tidur. Bunda juga mau tidur. Bu Siti, titip ya.”
“Iya bu, saya jagain. Ibu istirahat saja.”
Ruby melangkah gontai ke kamar, langsung menenggelamkan wajahnya di atas bantal empuk. Bahkan melewatkan ritual malam membersihkan wajah, serta mengoleskan lotion sejak di rumah sakit. Sekedar melongok apalagi menyapa Bara di ruang kerjanya pun tidak sempat. Ponselnya ia tinggal begitu saja di atas meja rias.
Rupanya Bara sudah mengatur pembelian meja rias dan lemari di walk in closet untuk barang-barang milik istrinya. Tidak butuh waktu lama, Ruby sudah terlelap dibalik selimut dengan lampu masih terang benderang.
Hampir pukul sebelas malam, pintu kamar terdorong pelan. Bara melangkah masuk dengan senyum tipis terkembang di bibirnya. Langkah kakinya sengaja dibuat sesunyi mungkin. Cukup lama mengerjakan hasil riset yang sudah tertuang dalam laporan dan hampir rampung untuk program doktornya.
Berniat menagih hadiah yang sempat dijanjikan Ruby, malah sempat berpikir nakal kalau malam ini akhirnya bisa unboxing istrinya. Membayangkan itu, senyum tipis merekah di bibirnya.
Namun, begitu pandangannya jatuh ke atas tempat tidur, senyum usil Bara perlahan luntur berganti dessahan kecewa.
Di sana, Ruby tertidur sangat lelap. Selimut yang sudah tersibak dan kancing piyama yang tidak terkait memperlihatkan perut rata dan pinggang ramping tubuh istrinya.
Bara mendengus pelan, hasratnya bisa tidak terkendali meski hanya melihat lubang pusar. Keinginan romantisnya seketika buyar, berganti menjadi rasa geli bercampur gigit jari. Niat hati ingin menagih hak, apa daya sang istri sudah berada di alam mimpi.
Melangkah mendekati sisi tempat tidur. Ia berlutut di samping kasur, menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap wajah polos istrinya. Tidak ada rasa kesal sedikitpun di hatinya. Justru sebaliknya, dada Bara mendadak berdesir hangat. Hatinya pun terenyuh.
Wanita muda ini, yang merengek dan menolak saat mereka akan menikah. Ia pikir akan kesulitan menghadapinya dan tidak berekspektasi kalau hubungan mereka akan baik-baik saja. Nyatanya Ruby memerankan sebagai ibu yang baik.
"Aku pikir menikahimu seperti memiliki anak bungsu yang nakal," gumam Bara lirih, mengusap pelan puncak kepala istrinya. "Ternyata kamu bisa diandalkan, ibu yang baik untuk Adly dan Jelita."
Ruby hanya menggeliat kecil lalu berbaring miring. Bara terkekeh pelan tanpa suara. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat merapikan helai rambut yang menutupi dahi Ruby. Dengan penuh kasih sayang, Bara merunduk dan mengecup dahi istrinya agak lama.
"Makasih ya, mas sayang kamu," bisik Bara tepat di telinga Ruby. "Urusan 'hadiah' sama unboxing-nya... bisa lain kali."
Bara menyusup pelan ke bawah selimut, menarik tubuh hangat Ruby ke dalam pelukannya, lalu ikut memejamkan mata.
***
“Morning mas suami,” ucap Ruby saat Bara membuka matanya. “Udah siang loh, tumben banget. Biasanya subuh udah melek. Apa karena tidurnya sambil peluk aku ya.”
“Aku peluk kamu?” Ruby mengangguk. “Mana mungkin.”
“Iya juga sih, mana mungkin Mas Bara peluk aku. Kayaknya aku dipeluk setan penghuni kamar ini.” Ruby akan menurunkan kakinya dari ranjang, tapi tangan Bara dengan gerakan cepat meraih tubuhnya lalu dibaringkan dan dipeluk.
“Mas!”
“Maksud kamu aku setan penghuni kamar ini.”
“Ya kan yang peluk aku mas Bara, masa harus nuduh tetangga.”
“Ck, kenapa semalam aku ditinggal tidur.”
“Ngantuk mas, sumpah!”
“Hadiahku!” Bara menarik selimut menutupi tubuh mereka, pekikan dan tawa Ruby membahana di kamar itu.
“Papi … bunda!” teriakan Jelita dan gedoran pintu membuat Bara menarik nafas dan Ruby tergelak.
“Sabar ya. orang sabar cintanya lebar.”
Bara pun beranjak dari ranjang dan membuka pintu.
“Papi di bawah ada tamu, mau ketemu bunda. Opa sama oma juga udah datang dari pagi.”
“Tamu, siapa?” tanya Bara dan Ruby sudah berada di samping pria itu.
“Itu loh, om yang kemarin datang ke rumah sakit.”
“Meldy,” ucap Ruby dan Bara serempak.
“Iya, om Meldy.”
Ruby menepuk dahinya, hampir melupakan jadwalnya hari ini. Kemarin Meldy sudah, mengingatkan. Nyatanya ia benar lupa.
“Aku ada jadwal siang ini.”
“Jelita, kamu ke bawah lagi. Minta bibi siapkan minum untuk Om Meldy, papi bicara dulu dengan Bunda.” Bara mengusap kepala Jelita yang mengangguk lalu meninggalkan mereka.
“Kamu ada jadwal di hari minggu?” tanya Bara sambil bersedekap.
“Nggak selalu, kebetulan aja sih. Mas Bara boleh lihat schedule aku.”
“Ruby, kemarin kita sudah bicara serius tentang masa depan kita dan kamu ….”
“Iya, mas Bara ganteng. Aku nggak niat teruskan pekerjaan ini. Hanya selesaikan yang sudah kita approve sebelumnya. Tenang aja, Meldy nggak akan terima tawaran baru. Atau mas Bara mau ikut aku ke lokasi?” Ruby tersenyum sambil mengerlingkan matanya menggoda Bara.
“Tidak, untuk apa aku nonton orang di foto.”
“Ck, ya sudah kalau tidak mau ikut, tapi jangan cemburu ya.”
“Tidak akan,” ujar Bara lalu meninggalkan kamar untuk menemui orangtuanya.
Bertempat di studio dengan deretan busana sebuah butik ternama di Jakarta yang akan launching katalog baru. Bukan hanya Ruby, ada beberapa model lainnya. Sudah selesai di make up dengan busana pertama, dress navy pendek.
“Mel, tisu,” pinta Ruby merasa dahinya berkeringat padahal sesinya belum mulai.
“Sini gue seka. Ck, mending pake MUA yang biasa ya. Bawaan butik, MUA nya gak kualitas,” oceh Meldy.
“Jangan berisik, gak enak didengar orangnya.”
“Gak pa-pa dong, biar dia dengar. Ini ‘kan masukan juga buat mereka.”
Terdengar kasak kusuk dari model dan pada manager.
“Iya, ganteng banget. Om-om siapa tuh.”
“Mau deh gue jadi ani-aninya."
Ruby menatap Meldy seolah bertanya ada apa, tapi dijawab dengan mengedikan bahu.
“Mbak Ruby, ada yang cari nih.”
“Aku?” tanya Ruby.
“Biar gue yang temuin. Siapa sih, ganggu kerjaan orang aja.”
Ruby masih sibuk mematut wajahnya memperhatikan detail kecil dengan penampilannya. Belum jauh Meldy melangkah, pria itu berteriak.
“Ya ampun, om ganteng. Kirain nanya lokasi Cuma iseng doang, taunya sampe sini juga. Ayo, lihat istrimu sedang beraksi di depan kamera.”
“Siapa Mel? Eh, mas Bara!”
aku yakin bara salting di jawab begitu🤣🤣🤣
hidung pegangin bar takut terbang🤭
siap-siap aja di ledek ruby tiada henti😂😂
bahaya mel yuk buruan pindah🤭
lah kalau rumahnya dari sabang sampai Merauke ya gempor mel😂😂
ampe orang kagak boleh liat, sekalian aja bar pakein sarung itu muka ruby biar gak keliatan🤣