Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Di Antara Hujan Bunga
Selamat membaca
...
Usia kandungan Aura kini memasuki bulan ketiga. Sesuai janjinya, Evan Adijaya benar-benar mengubah cara kerjanya. Ruang kerja lantai dua kediaman Adijaya kini disulap menjadi markas utama sang CEO. Hampir seluruh dokumen penting diperiksa dari rumah, dan rapat-rapat direksi Adijaya Group lebih sering digelar via konferensi video, membuat Pak Bimo harus bolak-balik membawa berkas setiap sore.
Pagi itu, cuaca Jakarta terasa begitu sejuk. Aura terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan Evan di sisinya. Namun, aroma wangi bunga segar yang menyeruak di seluruh sudut kamar utama seketika menyapa indra penciumannya.
Aura mendudukkan tubuhnya perlahan. Matanya membelalak takjub saat melihat meja nakas, sofa santai, hingga karpet di sepanjang jalan menuju balkon dipenuhi oleh ratusan tangkai bunga mawar merah muda dan tulip putih bunga favorit yang pernah secara tak sengaja ia sebutkan saat mereka makan malam bulan lalu.
Di dekat pintu balkon, Evan berdiri dengan kemeja kasual berwarna abu-abu yang lengannya tergulung santai. Di tangannya, pria itu membawa nampan berisi segelas susu hamil hangat, potongan buah segar, dan secangkir teh herbal.
"Selamat pagi, Ibu dari anak-anakku," sapa Evan dengan suara bass-nya yang begitu hangat dan penuh pesona.
Aura tersenyum manis, rasa hangat menjalar hebat di dadanya. "Evan... apa-apaan semua bunga ini? Kamar kita jadi seperti taman bunga."
Evan melangkah mendekat, meletakkan nampan di atas meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Pria itu menunduk, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Aura, lalu berpindah menempelkan telinganya di perut Aura yang mulai tampak sedikit mengembung.
"Selamat pagi, Jagoan Papa," bisik Evan lembut pada perut Aura, membuat Aura terkekeh geli seraya mengusap rambut suaminya.
"Dia baru tiga bulan, Evan. Belum bisa mendengar ucapanmu," ujar Aura gemas.
"Dokter bilang stimulan suara sejak dini sangat bagus untuk tumbuh kembangnya," kilah Evan santai, lalu menegakkan tubuhnya dan mengusap pipi Aura yang kini tampak lebih berisi dan merona sehat. "Bagaimana perasaanmu pagi ini? Masih mual?"
"Tidak sama sekali," sahut Aura manis, meraih gelas susu hangat yang disodorkan Evan dan meminumnya hingga tandas. "Sejak kau ada di rumah setiap hari, rasanya semua rasa mual itu hilang begitu saja."
"Bagus," puji Evan seraya mengambil kembali gelas kosong itu. "Karena hari ini aku punya kejutan lain untukmu."
Aura mengerutkan keningnya penasaran. "Kejutan apa lagi, Evan? Bunga sebanyak ini saja sudah terlalu berlebihan."
Evan tak menjawab. Pria itu membimbing Aura berdiri, mengalungkan sebuah mantel rajut yang lembut di bahu istrinya, lalu menuntun langkah Aura menuju balkon kamar utama.
Saat Aura melangkah keluar ke balkon, matanya membelalak lebar.
Di halaman belakang kediaman Adijaya yang luas, sebuah bangunan kaca bergaya greenhouse klasik Eropa berdiri megah di samping kolam renang. Di dalam bangunan kaca transparan itu, ribuan jenis tanaman hias dan bunga-bunga langka tertata dengan sangat indah, dilengkapi dengan kursi santai yang nyaman serta perpustakaan mini.
"Ini..." Aura menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru seketika menggenang di sudut matanya.
"Kau pernah bilang, kalau kau lelah atau jenuh, kau ingin punya tempat tenang berisi bunga dan buku untuk membaca," bisik Evan dari belakang, merangkul pinggang Aura dan melabuhkan dagunya di bahu sang istri. "Tempat itu dibangun khusus untukmu dan anak kita."
Aura memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam iris mata hitam Evan yang selalu memancarkan rasa cinta yang teramat dalam. Tanpa ragu, Aura melingkarkan tangannya di leher Evan, berjinjit dan mendaratkan ciuman manis di bibir suaminya.
"Terima kasih, Evan... Terima kasih karena selalu mewujudkan setiap impian kecilku," ucap Aura tulus dengan suara serak menahan haru.
Evan tersenyum menawan, membalas ciuman itu dengan kehangatan yang makin dalam, menikmati setiap detik kebahagiaan yang kini tumbuh begitu sempurna di antara mereka.
Namun, di tengah momen manis itu, ponsel Evan di saku celananya bergetar. Evan melepaskan pelukannya pelan, melihat layar ponsel yang menampilkan nama Pak Bimo.
"Ada apa, Bimo?" tanya Evan tegas.
Di seberang sana, suara Pak Bimo terdengar cukup serius namun tenang. "Tuan Presdir, pengadilan baru saja mengetok palu putusan untuk kasus Siska, Raka, dan Aris Pratama. Mereka bertiga resmi dijatuhi hukuman penjara lima belas tahun tanpa remisi. Seluruh aset kejahatan mereka telah disita negara."
Evan diam sejenak, melirik ke arah Aura yang menatapnya dengan pandangan penasaran.
"Bagus. Pastikan tidak ada lagi celah bagi mereka untuk mengganggu keluargaku," jawab Evan dingin sebelum menutup panggilan.
Evan kembali memasukkan ponselnya ke saku, lalu menatap Aura dengan senyuman hangat yang kembali terkembang di wajahnya.
"Ada berita buruk?" tanya Aura pelan.
"Tidak ada," jawab Evan lembut seraya merangkum jemari Aura dalam genggamannya. "Hanya penegasan bahwa tidak akan ada lagi bayangan masa lalu yang bisa menyentuh kebahagiaan kita."
Evan membawa jemari manis Aura yang melingkar cincin pernikahan mereka ke bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, cinta mereka yang diawali dari sebuah ketidakmungkinan kini telah mekar sempurna menjadi takdir abadi yang tak tergoyahkan.
...
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...