NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 02

Part 02

Sedangkan di sisi lainnya, seorang wanita tersenyum bahagia melihat putranya memenuhi janjinya untuk memperkenalkan wanita yang dicintainya di acara pertunangan anaknya yang kedua.

"Mama bisa percaya kan? Aku akan menikah, jadi Mama enggak perlu khawatir sekarang." Alfan berujar ke arah wanita yang tersenyum tersebut, ekspresinya tampak meyakinkan tanpa mau peduli bagaimana Tina masih syok dengan pernyataannya.

"Iya, Sayang. Terima kasih sudah membuat hati Mama tenang." Wanita itu menjawab penuh syukur, merasa lega dan bahagia di waktu yang sama. Sampai saat kakinya melangkah dan berjalan ke arah Tina lalu memeluk erat tubuhnya. Saat itu, Tina yang belum sepenuhnya sadar sempat terkejut kala tubuhnya dipeluk seseorang.

"Terima kasih sudah mencintai anak Tante. Nama kamu siapa?" Wanita itu berujar penuh kelembutan, membuat Tina terdiam dengan wajah yang semakin kebingungan, matanya terus tertuju ke arah bosnya yang justru tampak tenang.

"Ti-Tina, Tante ...." Tina menjawab kaku, bibirnya tersenyum canggung, ia belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi, padahal bosnya meneleponnya untuk memintanya datang ke rumahnya, lalu kenapa bosnya itu justru memperkenalkannya sebagai calon istrinya.

"Selamat ya, Kak, akhirnya laku." Alfina berujar ke arah kakaknya dengan nada mengejek, sebagai adik yang hampir tidak pernah melihat kakaknya bersama dengan seorang wanita, tentu saja Alfina merasa bahagia, namun bukan berarti ia tidak bisa menggoda kakaknya. Bisa dilihat sekarang bagaimana Alfan terdiam dengan tatapan tajam menusuk ke arahnya, seolah ingin berkata bila adiknya harus segera dimusnahkan dari dunia.

"Dijaga ya omonganmu! Kakak enggak mau menikah bukan berarti Kakak enggak laku," jawab Alfan tak terima, yang justru disenyumi oleh adiknya.

"Oh ya? Terus kenapa Kakak enggak pernah mau menikah kalau bukan karena Kakak enggak laku? Padahal kan umur Kak Alfan sudah tua." Alfina mengejek kakaknya yang terlihat tak terima, bahkan saat kakaknya mulai menunjukkan emosinya, ia justru berlindung di balik tubuh tunangannya.

"Kakak bukan enggak laku, Kakak cuma berpikir kalau Kakak ini terlalu sempurna untuk jatuh ke wanita yang salah. Jadi, sebelum benar-benar Kakak mencintai wanita, Kakak harus yakin siapa dia." Alfan menjawab lugas, nada suaranya bahkan terdengar menyombongkan diri, yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari mata adiknya.

"Terserah," jawab Alfina malas, kakaknya itu selalu seperti itu, memiliki alasan konyol yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.

"Sudah-sudah. Bagaimana kalau sekarang kita makan, Tina juga harus makan ya, kita bisa berbincang-bincang banyak hal." Mama Alfan itu berujar lembut ke arah Tina yang masih belum mengendalikan keterkejutannya, wajahnya tampak kaku, merasa belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

"Tante, saya mau berbicara dulu dengan Pak Alfan. Apa boleh?" tanya Tina ragu-ragu, wajahnya masih sama, tampak bingung dan pucat di waktu yang sama.

"Pak Alfan? Kenapa kamu panggil Alfan dengan sebutan Pak? Kamu kan calon istrinya, harusnya kan ...."

"Tina asisten pribadiku di kantor, Ma. Jadi wajar kalau dia memanggilku dengan sebutan Pak, kebiasaan di kantor." Alfan menyahut tenang, seolah ingin menjelaskan kebingungan mamanya melalui kalimat sederhananya.

"Jadi karena itu kamu memanggil Alfan dengan sebutan Pak? Tante bisa mengerti. Tapi lain kali jangan panggil Alfan seperti itu lagi ya, meskipun Alfan kelihatannya cuek, dia paling suka dipanggil sayang." Mamanya terkekeh kecil, yang tentu saja membuat Alfan malu mendengarnya.

"Jangan ngarang, Ma. Sudah ya, aku ke belakang dulu." Alfan menggenggam tangan Tina, berniat mengajaknya untuk pergi dari sana.

"Kalau mau berbicara serius di kamar aja ya, di belakang banyak orang, nanti didengar kan enggak nyaman."

"Iya, Ma." Alfan mengangguk patuh, namun tidak dengan Tina yang tampak kaku.

"Kamar? Kamar apa?" Tina menahan tubuhnya, merasa waspada dengan tangan bosnya yang berada di lengannya.

"Di kamar Alfan, Sayang. Tempatnya di lantai atas, cukup sepi kalau mau berbicara serius."

"Enggak serius kok, Tante. Saya cuma mau berbicara masalah kecil, enggak harus di kamar kan, Pak?" tanya Tina terdengar waswas, yang tentu saja mendapatkan tatapan keheranan dari Alfan dan Mamanya, Alfina dan tunangannya.

"Kamu kenapa sih? Kita kan mau menikah, berbicara di kamar kan juga enggak masalah. Selama ini kita sering berduaan di ruanganku, lalu apa salahnya kalau sekarang kita berbicara di kamarku?" tanya Alfan tak mengerti, ekspresinya tampak kecewa, membuat keluarganya tersenyum melihat perubahan sikapnya.

"Kita berduaan di ruangan Bapak karena memang tempat kerja saya di sana juga, Pak. Tapi kalau untuk berbicara di kamar, menurut saya itu berlebihan ...." Tina menjawab tak mengerti, matanya menatap sekitar di mana semua orang tampak tersenyum ke arahnya seolah ia dan bosnya itu sudah melakukan hal di luar pekerjaan.

"Sudah, Sayang. Enggak apa-apa, Alfan enggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Nanti kalau Alfan kurang ajar, kamu teriak aja, kan di sini juga banyak orang." Mama mereka itu menyahut tenang sembari tersenyum, ia tahu putranya itu bukan lelaki seperti itu, terlebih lagi pada wanita yang disukainya.

"Tapi, Tante ...." Tina belum menyelesaikan ucapannya, tangannya ditarik paksa oleh bosnya, membuatnya mau tak mau harus mengikuti langkahnya, walau tempat tujuannya adalah kamar, sebuah ruangan yang bahkan tidak pernah Tina bayangkan.

Sekarang bukan itu yang paling penting, karena ada penjelasan bosnya yang harus ia dengar, terutama alasan apa yang mendasari bosnya bisa berbuat seenaknya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Karena bagi Tina, sebuah pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan terlebih lagi direkayasa.

"Kita di sini saja, Pak." Tina kembali menarik tangannya saat bosnya sudah membuka pintu kamarnya. Meskipun Mama dari bosnya itu sudah mengatakan bila ia tidak perlu khawatir karena masih banyak orang di bawah dan ia bisa minta tolong kapan saja bila bosnya macam-macam, namun tetap saja Tina merasa tak nyaman masuk ke dalam sana.

"Kenapa? Saya tidak akan macam-macam kok, kamu juga bukan selera saya." Alfan menjawab ketus, yang seketika ditatap kesal oleh Tina, merasa tak percaya dengan sikap bosnya yang mudah berubah. Padahal baru beberapa menit yang lalu, lelaki itu berbicara seolah dia mencintainya, namun sekarang justru berbanding sebaliknya.

"Cepat masuk!" Alfan menunjuk ke kamarnya dengan dagunya, yang mau tak mau Tina turuti perintahnya.

"Ada apa kamu mau berbicara dengan saya?" tanya Alfan kali ini setelah mereka sudah berada di dalam kamar dengan pintu tertutup rapat.

"Saya butuh penjelasan, Pak."

"Penjelasan apa?" Alfan bertanya seolah tak memiliki dosa, membuat Tina muak melihat sikap angkuhnya.

"Maksud Bapak apa bilang kalau saya ini calon istri Bapak? Saya kan asisten Bapak, bukan wanita yang akan Bapak nikahi." Tina masih berusaha bersikap tenang, sedangkan Alfan tampak kebingungan meski tertutupi dengan wajah tenangnya.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!