Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah-celah gorden kamar, menyengat mata Arabella hingga ia mengerjap pelan. Gadis itu menggeliat di atas tempat tidur king-size-nya, merasakan kepalanya yang masih sedikit berat akibat sisa-sisa alkohol semalam. Bella mendadak tersentak ketika melirik jam dinding digital di atas nakas yang sudah menunjukkan angka sembilan lewat.
Hari Minggu, batinnya. Sekolah libur.
Bella mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih berserakan. Perlahan, ingatan semalam mulai berputar kembali di benaknya—bagaimana ia pulang diam-diam, jatuh terkulai di sofa ruang tamu karena mabuk berat, hingga bayangan samar saat ia melihat... Vero?
Dahi Bella berkerut dalam. Tunggu dulu. Vero kan sudah pamit mengantar sepupunya ke hotel semalam. Tidak mungkin pria itu ada di rumahnya.
Seketika itu juga, mata Bella membelalak lebar. Darahnya mendadak berdesir dingin. Rumah ini bukan miliknya seorang diri lagi. Di mansion megah ini ada Om Christian—pria dingin berwibawa yang bertugas menjaga dirinya.
Bella langsung memeriksa pakaian yang melekat di tubuhnya. Gaun malam hitam minim yang ia kenakan semalam masih terpasang rapi, dan ia sudah berada di dalam kamar tidurnya sendiri dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
Astaga... batin Bella histeris, wajahnya langsung memerah padam menahan rasa malu dan takut yang luar biasa. Bagaimana bisa ia pindah ke tempat tidur? Apakah Om Tian yang menggendongnya? Apakah pamannya melihat keadaannya yang kacau dan mencium bau alkohol menyengat dari tubuhnya?
Belum sempat Bella merutuki kebodohannya, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.
"Non Bella? Apa Non sudah bangun?" suara lembut Bibi Hani, asisten rumah tangga di mansion itu, terdengar dari balik pintu.
Bella menelan ludah dengan susah payah, berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar panik. "U-sudah, Bi! Sebentar lagi aku turun!"
"Baik, Non. Bibi tunggu di bawah ya, sarapannya sudah disiapkan."
Setelah langkah kaki Bibi Hani menjauh, Bella dengan cepat merapikan rambut panjangnya yang berantakan dengan jemari tangannya. Ia melirik sekilas ke arah cermin. Ia terlalu malas untuk mengganti pakaian. Toh, pikirnya, Om Tian pasti sudah sibuk di rumah sakit sejak pagi buta untuk urusan medis atau jadwal operasi darurat, seperti lazimnya seorang dokter spesialis. Jadi, ia bebas mengenakan gaun mini rumahan yang sama seperti semalam.
Dengan langkah santai, Bella berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah yang tampak lengang.
Aman, batin Bella bernapas lega. Rumah benar-benar sepi.
Karena perutnya sudah terasa keroncongan akibat energi yang terkuras semalam, Bella langsung melangkah menuju meja makan yang menyajikan berbagai menu sarapan lezat. Ia menarik kursi, mengambil piring, dan mulai menyendok makanan dengan lahap.
Namun, baru beberapa suap makanan masuk ke mulutnya, suara langkah kaki tegap yang mendekat dari arah koridor samping menghentikan gerakan tangan Bella.
Seorang pria mengenakan kaos santai berwarna abu-abu terang dengan celana bahan hitam kasual muncul di ambang ruang makan. Lengan kaos itu sedikit memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Tanpa kacamata berbingkai tipis dan jas dokter, Christian Gerald di pagi hari tampak jauh lebih muda, matang, dan berbahaya secara bersamaan.
Bella yang sedang mengunyah makanan seketika tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil, matanya membelalak kaget hingga hampir menyemburkan isi makanannya ke atas meja.
Christian menghentikan langkahnya, menatap keponakannya yang tampak panik setengah mati. Pria itu menarik sebelah alisnya, lalu berjalan tenang mendekati meja makan.
"Pelan-pelan makannya, Arabella. Tidak ada yang sedang mengejarmu," suara bariton Christian mengudara, begitu tenang dan datar, kontras dengan jantung Bella yang kini berdegup kencang seperti hendak copot.
Christian menarik kursi tepat di sebelah kursi Bella—bukan di ujung meja yang biasa ia tempati—lalu duduk dengan santai. Ia mengambil piring saji dan mulai mengambil beberapa potong roti panggang serta telur orak-arik.
Bella menelan makanannya dengan susah payah, dadanya naik turun menahan gugup. Ia melirik pamannya dari ujung mata, mencoba mencari celah kemarahan di wajah pria itu, namun ekspresi Christian tetap datar bagai porselen.
"O-Om..." sapa Bella terbata-bata, mencoba memasang senyuman kaku. "Om... nggak ada jadwal praktik atau ke rumah sakit hari ini?"
Christian menoleh pelan. Ia menggelengkan kepalanya singkat. "Tidak. Hari ini akhir pekan, dan saya mengambil cuti jaga."
Cuti jaga? Jantung Bella serasa berhenti berdetak sesaat. Kalau pamannya tidak pergi ke rumah sakit, lalu apa yang akan dilakukan pria itu seharian ini di rumah bersama dirinya?
Christian mulai menyantap sarapannya dengan tenang, mengabaikan tatapan gelisah yang dilayangkan keponakannya. Suasana di meja makan mendadak terasa begitu hening dan tegang bagi Bella, seolah kejadian memalukan tadi malam—termasuk racauannya dan ciuman nekat itu—hanyalah ilusi angin lalu bagi sang paman. Atau jangan-jangan... Om Tian benar-benar tidak ingat, atau pura-pura pikun? pikir Bella dalam hati.
Namun, dugaan Bella langsung runtuh berkeping-keping begitu Christian meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring secara perlahan. Pria itu mengambil serbet kertas, menyeka bibirnya dengan anggun, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap lurus ke dalam iris mata Bella.
Sorot mata cokelat gelap itu mendadak menajam, memancarkan wibawa dingin yang langsung membuat Bella terpaku di kursinya.
"Tentang semalam, Arabella," suara Christian mengalir rendah, begitu tenang namun sarat akan tekanan mutlak.
Bella menelan ludah dengan susah payah, jemarinya mencengkeram erat tepi meja makan. "S-semalam... semalam kenapa, Om?" tanyanya pura-pura bodoh, meski wajahnya sudah pucat pasi.
Christian menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangan di depan dada bidangnya. "Kamu pulang dalam keadaan mabuk berat, bau alkohol, dan hampir tidak sadarkan diri. Kamu bahkan mengacaukan waktu istirahat saya."
Pipi Bella memanas hebat hingga menjalar ke lehernya. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pamannya. "Maaf..." cicitnya kecil.
"Saya tidak peduli seberapa liar kamu di luar sana, Arabella," lanjut Christian, setiap kata yang diucapkannya meluncur dengan nada dingin tanpa ampun. "Itu urusan pribadi kamu. Selama kamu bisa menjaga diri dan martabat nama keluarga Allegra, saya tidak akan ikut campur terlalu jauh."
Bella tertegun mendengar kalimat itu. Ia mendongak perlahan, menatap Christian dengan pandangan tak percaya. Pria itu melarangnya keluar, tapi terdengar seolah memberi kebebasan asal tahu batas?
Namun, kalimat berikutnya dari sang paman langsung memupus segala kelegaan semu di kepala Bella.
"Tapi," Christian melanjutkan, sorot matanya kian menajam, "karena kamu terbukti tidak bisa mengontrol diri dan menyalahgunakan fasilitas yang diberikan, saya ambil alih penuh keputusan finansial kamu."
Bella langsung melotot. "Maksud Om apa?!"
"Mulai hari ini, batas pengeluaran kartu kredit kamu dipangkas habis. Kamu hanya akan mendapat uang jajan tunai sebesar seratus ribu rupiah sehari." ucap Christian tegas, tanpa memberi ruang bantahan. "Dan aturan kedua—jam malam kamu tidak boleh lebih dari pukul delapan malam. Jika lewat dari jam itu, pintu rumah ini akan terkunci untuk kamu."
"Apa?! Seratus ribu sehari?!" jerit Bella histeris, tak terima dengan keputusan yang bagaikan lelucon buruk baginya. "Om gila, ya?! Uang segitu mana cukup buat aku nongkrong atau sekadar beli kopi di mall! Dan jam delapan malam?! Aku bukan anak TK, Om!"
Christian sama sekali tidak terusik dengan teriakan keponakannya. Pria itu justru berdiri dari kursinya dengan tenang, merapikan sedikit lipatan kaos abu-abunya, lalu menundukkan sedikit kepalanya mendekati telinga Bella.
"Itu keputusan mutlak, Arabella. Kamu bisa terima aturan itu, atau aku akan bicara pada kak karin, aku tak mau mengurus putrinya yang liar." bisik Christian tepat di samping telinga Bella, suaranya terdengar begitu dekat, hangat, namun bagai vonis mati yang mutlak.
Sebelum Bella sempat membalas bentakan atau protes lebih lanjut, Christian sudah membalikkan badan dan melangkah santai meninggalkan ruang makan, meninggalkan keponakannya yang terduduk lemas dalam keputusasaan dan amarah yang membakar dada.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang