Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis-Garis Berbahaya
Sudut Pandang Rebecca
Aku sudah berbaring. Siap mencoba tidur. Tapi kepalaku… tak mau membantu. Tak ada yang membantu.
Langit-langit terasa lebih menarik daripada memejamkan mata. Sampai pintu terbuka. Tanpa mengetuk. Tanpa permisi.
"Tante."
Henrique. Tentu saja.
Keduanya masuk seolah kamar itu masih milik mereka. Seperti biasanya. Mereka melompat ke ranjang. Satu di tiap sisi. Dan aku tak protes. Tak pernah protes.
"Sekolahnya menyenangkan?" tanyaku. Sudah tahu jawabannya.
"Iya," kata Henrique. Bersemangat.
"Tapi bukan itu," Heitor menyambung. Lebih kalem.
Aku menoleh ke arahnya. "Lalu apa?"
Ia menatapku. Lurus. "Dia sedang berusaha."
Aku langsung tahu siapa yang ia maksud. Aku mendesah. "Aku tahu."
"Dan kami juga berusaha," Henrique menambahkan. "Untuk mendekatinya."
Dadaku menyempit. Tapi bukan dengan cara yang buruk. Dengan cara yang… aneh.
"Enak," ujar Heitor. Pelan. "Punya ayah."
Hening. Sebentar. Tapi berat.
"Tapi—" Henrique menoleh ke arahku, "—kami nggak mau itu kalau kau membencinya."
Aku mengembuskan napas lewat hidung. Nyaris tertawa. "Aku tidak membencinya."
Keduanya menatapku. Bersamaan. Dengan raut wajah yang seolah berkata… bohong.
Aku memutar bola mata. "Aku tidak benci," aku mengulang. "Kami cuma…" aku mencari kata-katanya, "…berbeda pandangan."
Mereka terus menatapku. Jelas tak percaya. Tapi tak memaksa.
"Itu tidak menghalangi kalian," kataku. Lebih tegas sekarang. "Untuk menjalin hubungan dengannya. Itu tak ada urusannya denganku. Dan kalian tak perlu mengkhawatirkanku."
Mereka diam.
"Aku memutuskan…" aku ragu sedetik, "…menuruti dia."
Henrique memasang wajah masam. "Aneh dengar itu dari mulutmu."
"Iya, kan," aku menggumam.
Mereka tersenyum. Mendekat. Lalu—sebuah kecupan di pipiku. Satu dari tiap sisi.
"Kami sayang kamu," kata Heitor. "Banget," Henrique menyambung.
Hatiku menghangat sesak.
"Aku juga sayang kalian."
"Semua akan baik-baik saja," ujar Heitor. "Dan kau akan bebas lagi."
Aku tersenyum. Meski tak yakin aku memercayainya.
"Pasti," jawabku.
Mereka bangkit. Lalu keluar. Meninggalkanku sendirian lagi.
Aku mencoba tidur. Sungguh-sungguh. Tapi tak bisa. Berguling ke satu sisi. Ke sisi lain. Percuma. Aku mendesah. Lalu menyerah. Bangkit. Kuusap wajahku. Lalu keluar dari kamar.
Aku menuruni tangga dalam diam. Rumah itu senyap. Seperti biasa di malam hari. Aku ke dapur. Membuka lemari. Mengambil yang kubutuhkan. Cokelat panas. Sederhana. Menenangkan. Mungkin bisa membantu.
Sambil mengaduk isi panci… aku berusaha tidak berpikir. Tapi tentu saja… gagal.
Sampai kudengar langkah kaki. Tubuhku langsung menegang. Lalu dia muncul. Dante. Berdiri di ambang pintu. Menatapku.
Dan tatapan itu… turun. Perlahan. Tanpa disamarkan. Tanpa tergesa. Aku merasakannya. Tentu saja aku merasakannya.
Dan sesaat… aku melakukan hal yang sama. Menatap. Tanpa sengaja. Atau mungkin sengaja. Celana training yang tergantung rendah. Dada telanjang. Perut kencang. Tatapanku tertahan di situ sedetik lebih lama dari seharusnya.
Lalu—sial. Kujilat bibirku. Otomatis. Ketika kusadari apa yang kulakukan… aku langsung mengalihkan pandangan. Berpura-pura tak terjadi apa-apa.
"Aku…" aku berdeham, "…mau minta maaf." Suaraku keluar lebih pelan. "Soal tadi."
Ia tak langsung menjawab. Hanya mengamatiku.
"Aku mengerti," aku melanjutkan. "Apa yang kau coba lakukan." Aku menarik napas dalam. "Dan… terima kasih."
Kata-kata itu keluar agak tersendat. Tapi keluar juga.
Keheningan bertahan. Berat. Pekat. Berbeda.
Ia melangkah maju. Lalu selangkah lagi. Mendekat.
"Buatkan untukku juga."
Suaranya keluar rendah. Serak. Nyaris seperti permintaan. Nyaris seperti perintah.
Aku mengangguk. Tanpa membantah. Kusiapkan satu cangkir lagi. Dengan tangan yang… sedikit kurang mantap dari sebelumnya. Kuserahkan kepadanya. Jari-jari kami bersentuhan sesaat. Sekejap. Tapi cukup. Ia tak mengalihkan tatapan. Aku juga tidak.
Kami bersandar ke meja dapur. Berdampingan. Menyeruput. Dalam diam. Tapi bukan keheningan yang kosong. Melainkan penuh. Sarat. Berat. Dan pada saat yang sama… anehnya terasa nyaman.
Tapi ada satu hal. Yang kurasakan. Meski tak menatap langsung. Ia tak berhenti memandangiku.
Dan itu… membuatku gelisah. Karena, untuk pertama kalinya… yang ada di antara kami bukan cuma amarah. Melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbahaya. Dan aku tak yakin… apakah aku ingin lari darinya. Atau mendekatinya.