Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Bidak yang Seharusnya Mati
Hujan mengguyur Desa Qingyuan sejak sore, membasahi jalanan tanah dan atap-atap rumah yang mulai lapuk. Di tengah hujan, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun berjalan sambil membawa keranjang berisi tanaman obat. Pakaiannya lusuh, wajahnya pucat, dan lengan kirinya terluka akibat duri-duri di hutan. Namanya Gu Chen, seorang pemuda dari keluarga biasa yang tidak pernah memiliki kedudukan berarti di dunia kultivasi. Meridian spiritualnya rusak sejak lahir, membuatnya sulit menyerap energi spiritual. Bagi penduduk desa, ia hanyalah sampah yang tidak akan pernah mencapai apa pun. Namun, Gu Chen tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain. Selama ayahnya masih hidup, ia merasa kehidupannya belum sepenuhnya buruk.
Ketika tiba di rumah, langkahnya mendadak berhenti. Pintu kayu rumahnya terbuka lebar, kursi-kursi berserakan, dan bercak darah terlihat di lantai. Keranjang berisi tanaman obat terlepas dari tangannya.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban. Gu Chen segera berlari ke dalam dan menemukan ayahnya terbaring di sudut ruangan dengan tubuh berlumuran darah. Lelaki itu masih bernapas, tetapi setiap tarikan napas terdengar begitu lemah.
“Ayah! Siapa yang melakukan ini?”
Gu Chen berlutut dan berusaha mengangkat tubuh ayahnya. Gu Yuan membuka mata dengan susah payah, lalu mencengkeram pergelangan tangan putranya.
“Chen… dengarkan Ayah. Apa pun yang terjadi, jangan pernah percaya pada takdir.”
Gu Chen mengerutkan kening. “Apa maksud Ayah? Siapa yang datang ke sini?”
Sebelum Gu Yuan sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari pintu. Tiga pria berjubah abu-abu memasuki rumah. Di dada mereka terukir lambang pedang perak, tanda milik Sekte Pedang Awan. Pria yang berada di depan menatap Gu Yuan dengan ekspresi dingin.
“Gu Yuan, serahkan benda itu. Kami sudah membuang terlalu banyak waktu untuk mencarimu.”
Gu Yuan tertawa lemah. “Kalian menghancurkan rumahku, melukaiku, bahkan mengancam anakku hanya demi benda yang tidak kalian pahami.”
“Itu bukan urusanmu. Serahkan sekarang, atau anakmu akan mati bersamamu.”
Gu Chen berdiri dan menghalangi jalan mereka. Meskipun tubuhnya gemetar, ia tetap menatap ketiga pria tersebut.
“Jika kalian menginginkan sesuatu, bicaralah denganku. Jangan sentuh ayahku.”
Pria berjubah abu-abu itu memandangnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu tertawa meremehkan.
“Bocah dengan meridian rusak berani menghalangi kultivator? Kau bahkan tidak pantas menjadi batu pijakan.”
Ia mengangkat satu tangan. Energi spiritual berkumpul di telapak tangannya, kemudian menghantam dada Gu Chen. Pemuda itu terlempar menabrak dinding dan memuntahkan darah. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia mencoba bangkit, tetapi kakinya tidak mampu menopang tubuhnya.
“Bunuh keduanya,” perintah pria itu. “Pastikan tidak ada yang mengetahui urusan ini.”
Salah satu pria menghunus pedangnya dan berjalan mendekati Gu Chen. Pada saat itulah Gu Yuan mengumpulkan sisa tenaganya untuk mendorong putranya menjauh.
“LARI, CHEN!”
Kilatan pedang menyambar ruangan. Gu Chen melihat tubuh ayahnya terjatuh, lalu semuanya terasa melambat. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya seolah menghilang. Ia ingin bergerak, tetapi tubuhnya tidak merespons. Sesaat kemudian, serangan kedua menghantamnya. Kesadarannya lenyap bersama suara hujan yang terus mengguyur Desa Qingyuan.
Namun, kematian bukanlah akhir yang menunggunya.
Ketika Gu Chen membuka mata, ia berdiri di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya. Langit berwarna hitam tanpa matahari atau bintang, sementara tanah di bawah kakinya menyerupai kaca. Di kejauhan melayang ribuan papan raksasa yang dipenuhi bidak hitam dan putih. Beberapa bidak bergerak sendiri, sedangkan yang lain dihancurkan oleh tangan-tangan besar yang muncul dari balik kegelapan. Gu Chen menatap pemandangan itu dengan wajah bingung.
“Tempat apa ini? Apakah aku sudah mati?”
“Belum sepenuhnya.”
Suara asing terdengar dari segala arah. Gu Chen langsung berbalik, tetapi tidak menemukan siapa pun.
“Tunjukkan dirimu!”
“Tidak perlu terburu-buru. Lihatlah papan di hadapanmu.”
Sebuah papan raksasa muncul di udara. Di antara ribuan bidak yang tersusun di atasnya, terdapat satu bidak putih di bagian paling bawah. Pada permukaannya terukir nama yang sangat dikenalnya.
GU CHEN.
Pemuda itu terdiam. Ia mendekati papan tersebut dan menemukan garis-garis tipis yang menghubungkan bidaknya dengan bidak lain. Beberapa garis berwarna putih, sementara sisanya merah seperti darah.
“Apa maksud semua ini?”
“Dunia tempatmu tinggal hanyalah sebuah permainan. Kerajaan, sekte, peperangan, kelahiran para jenius, bahkan kematian orang-orang yang kau cintai—semuanya merupakan bagian dari permainan yang lebih besar.”
Gu Chen menatap papan itu dengan tatapan tajam. “Kau mengatakan bahwa kehidupan manusia hanyalah permainan?”
“Benar. Kalian adalah bidak. Sementara mereka yang menggerakkan bidak berada di luar jangkauan kalian.”
Tiba-tiba, sebuah tangan raksasa muncul dari langit. Dua jarinya menjepit bidak Gu Chen, kemudian mengangkatnya dari papan. Di bawah bidak itu terbentang jurang tanpa dasar.
“Permainanmu telah berakhir.”
Bidak tersebut dijatuhkan. Gu Chen menyaksikannya jatuh ke dalam kegelapan, tetapi anehnya, ia tidak merasa takut. Ia justru memperhatikan tangan yang telah menjatuhkannya, mengingat setiap detail yang bisa dilihatnya.
Lalu, ia tersenyum tipis.
“Jadi, ada seseorang yang mengendalikan semuanya.”
Suara asing itu terdiam sejenak.
“Lalu kenapa?”
Gu Chen mengangkat kepalanya. “Karena jika kalian bisa menentukan hidup dan matiku, berarti kalian juga bisa melakukan kesalahan.”
“Bidak tidak berhak berbicara tentang kesalahan pemain.”
“Kalau begitu, jangan biarkan bidak mengetahui keberadaan kalian.”
Untuk pertama kalinya, papan raksasa itu bergetar. Retakan kecil muncul di permukaannya, menjalar melewati ribuan bidak. Suara asing yang sebelumnya tenang kini terdengar jauh lebih dingin.
“Siapa sebenarnya dirimu?”
Gu Chen tertawa pelan. “Aku? Aku hanya seseorang yang tidak suka diperintah.”
Cahaya putih menyelimuti seluruh tempat itu. Papan raksasa pecah menjadi serpihan, dan kesadaran Gu Chen kembali ditelan kegelapan.
Gu Chen terbangun sambil terbatuk keras. Ia kembali berada di rumahnya yang berantakan. Dadanya terasa sangat sakit, sementara darah masih mengalir dari sudut bibirnya. Ketiga pria berjubah abu-abu telah pergi, meninggalkan ruangan yang sunyi dan tubuh ayahnya yang terbaring tanpa gerakan. Gu Chen merangkak mendekati ayahnya, kemudian mengguncang bahunya perlahan.
“Ayah… aku sudah kembali.”
Tidak ada jawaban.
“Aku membawa tanaman obat. Bukankah Ayah bilang ingin melihatku menjadi kultivator?”
Tangannya gemetar ketika menyentuh wajah ayahnya yang mulai dingin. Untuk beberapa saat, Gu Chen hanya duduk diam. Tidak ada tangisan keras atau teriakan penuh amarah. Ia hanya menundukkan kepala, menggenggam tangan ayahnya, dan membiarkan kesunyian memenuhi ruangan.
Tiba-tiba, sebuah benda jatuh dari saku pakaian Gu Yuan. Gu Chen memungutnya dan menemukan sebuah bidak catur hitam. Pada permukaannya terukir simbol yang sama dengan simbol di papan raksasa dalam penglihatannya. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah tulisan tipis muncul di permukaan bidak tersebut.
\[Pemain telah melakukan kesalahan.\]
Gu Chen menyipitkan mata. Sebelum ia sempat memahami tulisan itu, kalimat kedua muncul.
\[Bidak yang seharusnya mati masih hidup.\]
Ia menatap bidak hitam tersebut cukup lama, kemudian perlahan berdiri. Kesedihan masih memenuhi dadanya, tetapi di balik kesedihan itu mulai tumbuh sesuatu yang jauh lebih dingin.
“Jadi, kalian benar-benar ada.”
Ia menggenggam bidak tersebut erat-erat.
“Aku tidak tahu siapa kalian, berapa banyak dunia yang kalian kendalikan, atau seberapa kuat kalian. Namun, aku akan menemukan jawabannya.”
Gu Chen menyimpan bidak itu di balik pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Hujan mulai mereda, memperlihatkan langit malam yang gelap. Di hadapannya terbentang dunia kultivasi yang luas, penuh sekte, kerajaan, ahli pedang, dan makhluk-makhluk yang mampu menghancurkan gunung dengan satu serangan. Dengan kekuatannya saat ini, ia bahkan tidak sanggup mengalahkan seorang murid luar Sekte Pedang Awan.
Namun, untuk pertama kalinya, Gu Chen memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar bertahan hidup.
Ia akan menjadi kuat, bukan untuk dipuja atau disembah, melainkan agar suatu hari nanti bisa berdiri di hadapan mereka yang menganggap kehidupan manusia sebagai permainan.
“Jika aku memang hanya bidak,” gumamnya, “maka aku akan menjadi bidak pertama yang membunuh pemainnya.”
Jauh di atas dunia fana, di sebuah ruang yang tidak tercatat dalam sejarah mana pun, puluhan sosok duduk mengelilingi papan raksasa. Mereka mengenakan topeng berbeda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: tatapan mereka seolah mampu menembus batas kehidupan.
Salah satu sosok tiba-tiba berdiri.
“Bidak Gu Chen masih hidup.”
Sosok lain tertawa meremehkan. “Mustahil. Aku sendiri yang menghapus namanya dari papan.”
“Periksa kembali.”
Mereka semua menoleh ke arah papan tersebut. Di antara jutaan bidak, satu bidak hitam yang seharusnya telah hancur perlahan berdiri kembali. Tidak ada tangan yang menggerakkannya. Tidak ada pemain yang memberikan perintah.
Bidak itu bergerak sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah jutaan tahun, para pemain saling berpandangan dengan kegelisahan yang tidak dapat mereka sembunyikan.
Sebab, mereka mengetahui satu aturan yang tidak pernah berubah sejak permainan itu diciptakan.
Bidak boleh saling membunuh, tetapi tidak pernah boleh menyentuh pemainnya.