Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Tenggelamkan Peti Ke laut Dalam
Pohon Revan sudah tumbang sejak kemarin sore. Batangnya yang besar tergeletak di tanah seperti mayat raksasa. Daunnya yang rontok menutupi seluruh tanah Langgur seperti karpet duka. Warga tidak ada yang berani sentuh batang pohon itu, mereka biarkan tergeletak karena mereka masih berduka, seperti kehilangan keluarga sendiri.
Di dalam lubang tempat akar pohon itu tercabut, peti kayu hitam dengan rantai berkarat itu masih ada, terbuka sedikit tutupnya, dan dari celah tutupnya keluar asap hitam tipis yang bau anyir, asap lima hantu penjaga emas yang marah karena rumahnya, pohonnya, ditebang.
Dion masih pingsan di samping lubang itu sejak kemarin, dijaga Jali dan dua bapak-bapak. Wajahnya pucat, bibirnya hitam, di lehernya bekas cekikan lima jari masih jelas. Dia belum bangun, tapi kadang-kadang mulutnya komat-kamit sendiri, "Jangan tenggelamkan... jangan tenggelamkan..."
Pagi jam enam, sebelum matahari panas, Pak RT Unus mengumpulkan semua bapak-bapak terkuat di Langgur, ada 15 orang, dengan perintah, "Hari ini kita harus angkat peti itu dan tenggelamkan ke laut dalam, sesuai pesan Revan terakhir. Kalau tidak, malam nanti lima hantu itu akan bangkit lagi dan pakai tubuh Dion lagi, dan Langgur akan kena kutukan lagi."
Semua bapak-bapak mengangguk, walaupun takut.
Ara yang matanya bengkak karena menangis semalaman karena Revan hilang selamanya, datang membawa jaket hitam Revan yang sudah robek itu dan kalung batu R dan A yang sudah jadi debu. Dia sudah tidak menangis lagi, wajahnya datar tapi tegas.
"Aku ikut angkat petinya. Ini tugas terakhirku buat Revan."
Jali mencoba melarang. "Ara, kamu perempuan, jangan. Peti itu berat dan beratnya bukan berat biasa, beratnya berat kutukan. Biar kami saja."
Tapi Ara menggeleng. "Revan mati karena jaga peti ini. Aku harus yang tenggelamkan."
Akhirnya diputuskan, 15 bapak-bapak plus Ara dan Jali, total 17 orang, akan angkat peti itu dengan bambu dan tali besar dan bawa ke perahu besar milik Pak RT, lalu bawa ke tengah laut Langgur yang paling dalam, yang dalamnya katanya 80 meter, tempat yang tidak ada orang bisa selam.
Jam tujuh pagi, proses pengangkatan dimulai.
Bambu dimasukkan ke bawah peti, tali diikat, 17 orang pegang bambu itu bersama-sama dan angkat dengan hitungan.
"Satu! Dua! TIGA! ANGKAT!"
Peti itu terangkat sedikit, hanya 10 cm dari tanah, tapi langsung ada kejadian aneh! Peti itu bergetar keras! Tutupnya yang terbuka sedikit itu membuka lebih lebar dan dari dalam peti keluar suara jeritan lima orang bersamaan!
"LEPAS! JANGAN BAWA KAMI KE LAUT! KAMI TIDAK MAU TENGGELAM!"
Asap hitam tebal keluar dari peti dan membentuk lima wajah! Wajah lima maling Singapura yang kemarin ditelan peti! Wajah mereka marah, mata mereka merah, mereka menjerit-jerit!
Warga yang angkat bambu itu langsung ketakutan dan hampir lepas bambunya! Ada yang jatuh karena berat peti itu tiba-tiba jadi sangat berat, seperti ada 5 orang lagi duduk di atas peti!
"BERAT! BERAT SEKALI! SEPERTI ANGKAT BONGKAHAN KARANG!" teriak Pak RT Unus, keringatnya bercucuran.
Ara yang ada di depan, melihat lima wajah asap hitam itu, langsung mengambil debu emas sisa batu R dan A dari tangannya dan menaburkannya ke peti!
"DIAM! KALIAN SUDAH MATI! JANGAN GANGGU LANGGUR LAGI!"
Debu emas itu kena lima wajah asap hitam itu dan lima wajah itu menjerit kesakitan dan masuk lagi ke dalam peti! Tutup peti tertutup sendiri dengan keras, BRAK!
Peti jadi ringan lagi!
"CEPAT! BAWA KE PERAHU SEKARANG SEBELUM MEREKA KELUAR LAGI!" teriak Ara!
17 orang itu langsung lari-lari kecil membawa peti itu di atas bambu, seperti membawa keranda mayat, menuju pantai. Setiap langkah, peti itu bergetar dan mencoba buka lagi, tapi Ara terus tabur debu emas sisa-sisa terakhir yang dia punya.
Sampai di pantai, peti itu dinaikkan ke perahu besar. Perahu itu langsung miring ke bawah karena berat peti!
Perahu didayung oleh 6 orang, termasuk Jali dan Ara, menuju tengah laut. Dion yang masih pingsan juga dibawa di perahu itu, karena kata Pak RT, kalau Dion ditinggal di darat, hantunya akan narik dia dari jauh.
Di tengah perjalanan ke laut dalam, sekitar 30 menit dari pantai, langit Langgur yang tadinya cerah, tiba-tiba mendung hitam! Angin kencang datang dari arah Pohon Revan yang tumbang! Ombak besar datang!
Peti di tengah perahu itu bergetar lagi lebih keras! Tutupnya terbuka lagi dan kali ini bukan asap hitam yang keluar, tapi air hitam! Air hitam bau anyir keluar dari peti dan membasahi perahu! Air hitam itu mencoba tenggelamkan perahu!
"PERAHU BOCOR! PERAHU MAU TENGGELAM!" teriak Jali panik sambil buang air hitam itu dengan ember!
Ara yang melihat peti itu mau tenggelamkan perahu mereka sebelum sampai laut dalam, langsung berdiri di atas perahu yang oleng-oleng itu, memegang peti itu dengan kedua tangannya!
"KALIAN MAU TENGGELAM? AKU TENGGELAMKAN SEKARANG! TAPI KALIAN YANG TENGGELAM, BUKAN KAMI!"
Ara dengan tenaga terakhirnya, bersama Jali, mengangkat peti itu tinggi-tinggi di atas kepala mereka dan melemparkannya ke laut dalam!
Peti kayu hitam dengan rantai berkaratnya itu melayang di udara sebentar, tutupnya terbuka dan terlihat di dalamnya, bukan emas, tapi hanya ada lima tengkorak yang menyeringai! Lima tengkorak maling itu!
BYUR! Peti itu jatuh ke laut dalam! Tenggelam! Air laut bergejolak seperti ada yang berontak di bawah, ada pusaran air besar di tempat peti jatuh, pusaran air hitam!
Selama 5 menit pusaran air hitam itu berputar-putar, perahu mereka hampir tersedot! Semua orang berpegangan erat di perahu!
Setelah 5 menit, pusaran itu hilang, laut kembali tenang, langit mendung hitam hilang, matahari keluar lagi cerah!
Peti itu sudah tenggelam di kedalaman 80 meter, tidak akan ada yang bisa ambil lagi!
Dion yang pingsan di perahu itu tiba-tiba bangun! Matanya sudah tidak hitam lagi, sudah putih normal! Bekas cekikan lima jari di lehernya hilang!
Dia melihat sekeliling, melihat dia ada di tengah laut bersama warga Langgur yang menatapnya marah, dan dia langsung menangis.
"Maaf... maafkan aku... aku... aku mimpi buruk... ada lima orang mau tarik aku ke peti..."
Ara menatap Dion, tidak marah lagi, hanya lelah.
"Semua sudah selesai, Dion. Peti sudah tenggelam. Kamu bebas sekarang."
Perahu kembali ke pantai Langgur dengan pelan, membawa kabar bahwa kutukan emas Belanda yang sudah 80 tahun di Langgur, akhirnya benar-benar selesai, ditenggelamkan ke laut dalam selamanya.
Di pantai, warga yang menunggu bertepuk tangan dan menangis bahagia, tapi Ara hanya duduk diam di pasir pantai, memandang ke tengah laut tempat peti itu tenggelam, sambil memegang jaket hitam Revan yang robek itu.
Di dalam hatinya dia berbisik, "Selesai ya, Van? Langgur sudah benar-benar merdeka sekarang?"