Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GADIS DI DERMAGA
Arus Sungai Acheron malam itu benar-benar menggila. Badai yang tak kunjung reda membuat debit air naik drastis, membawa apa saja yang terapung di sepanjang alirannya menuju hilir. Batang pohon tumbang, sampah plastik, hingga puing-puing kayu terbawa arus hitam yang bergemuruh membelah kota.
Tiga kilometer di sebelah selatan dari Grand Royale Hotel, terletak sebuah area pelabuhan tua yang sudah dibiarkan membusuk selama belasan tahun. Pemerintah kota berulang kali berjanji akan merevitalisasi tempat ini, namun dana yang selalu habis dikorupsi oleh para pejabat yang dibekingi mafia membuat Pelabuhan Tua Utara ini hanya menjadi kuburan bagi bangkai-bangkai kapal dan tumpukan kontainer karatan.
Di tengah guyuran hujan lebat dan kilatan petir yang menyambar, sosok ramping berbalut jas hujan kuning gelap tampak berjongkok di balik sebuah derek kargo yang sudah reyot.
Gadis itu bernama Elena.
Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit memegang sebuah senter taktis berukuran kecil, sementara tangan kirinya sibuk membongkar sebuah kotak panel listrik tua yang sudah lama tak berfungsi. Di balik kabel-kabel yang putus dan sarang laba-laba basah, ia menarik keluar sebuah kotak kedap air berukuran sekepal tangan.
"Akhirnya ketemu juga," gumam Elena pelan seraya menepis air hujan yang menetes dari tudung jas hujannya.
Ia membuka kotak tersebut, memastikan sebuah *hard drive* padat berwarna hitam masih tersimpan aman di dalamnya. Ini adalah data transaksi rahasia dari jaringan penyelundup senjata yang berhasil ia sadap seminggu lalu. Sebagai pengelola tunggal "Phantom"—jaringan peretas dan makelar informasi paling dicari di dunia bawah tanah—mengumpulkan kotoran dari berbagai faksi mafia adalah cara Elena bertahan hidup, dan sekaligus amunisinya untuk balas dendam.
Elena memasukkan *hard drive* itu ke dalam saku dalam jaket kedap airnya. Tugasnya malam ini selesai. Hujan badai ini adalah waktu yang sempurna untuk melakukan pertukaran barang karena anjing-anjing penjaga mafia biasanya lebih suka berteduh sambil minum bir daripada berpatroli di tempat kumuh seperti ini.
Ia bangkit berdiri, menepuk lututnya yang kotor oleh lumpur dermaga, dan memutar tubuhnya bersiap untuk kembali ke tempat persembunyiannya.
Namun, baru dua langkah ia berjalan menjauhi derek kargo, telinganya menangkap sebuah suara yang ganjil.
*Brak... Byur...*
Suara itu sangat samar, nyaris sepenuhnya tenggelam oleh derau hujan dan gemuruh petir. Tapi insting Elena yang sudah terasah oleh kerasnya jalanan langsung membunyikan alarm di kepalanya. Itu bukan suara ombak yang menghantam tiang beton. Itu suara benda berat yang baru saja menabrak tumpukan ban bekas pelindung lambung kapal di pinggiran dermaga.
Elena menghentikan langkahnya seketika. Tangan kanannya dengan sigap meluncur ke balik jas hujannya, menarik keluar sepucuk pistol Glock 26 *subcompact* yang selalu menemaninya. Ia mematikan senternya, membiarkan dirinya sepenuhnya menyatu dengan kegelapan.
Dengan langkah sepelan kucing, Elena mengendap-endap mendekati tepi dermaga kayu yang sudah lapuk. Matanya menyipit, mencoba menembus tirai hujan yang menderas. Petir kembali menyambar di langit, memberikan kilatan cahaya putih sepersekian detik yang menerangi seluruh area sungai.
Pada kilatan cahaya itulah, Elena melihatnya.
Sesosok tubuh manusia tersangkut di antara jaring nelayan robek dan tumpukan ban bekas yang terikat di tiang dermaga. Sebagian tubuhnya masih terendam air sungai yang bergolak, sementara bagian kepalanya bersandar pada jaring kotor. Gelombang air terus menerjangnya, nyaris menyeret tubuh itu kembali ke tengah sungai.
Elena tetap waspada. Di dunia gelap kota ini, mayat yang dibuang ke sungai adalah hal biasa. Namun, kadang-kadang itu juga merupakan jebakan.
Ia menunggu selama satu menit penuh, mengamati sekeliling. Tidak ada pergerakan lain. Tidak ada suara mesin perahu atau teriakan orang mencari. Hanya ada suara badai.
Perlahan, Elena menyalakan kembali senternya, kali ini mengarahkan sorotan cahayanya lurus ke bawah dermaga.
Tubuh itu mengenakan sisa-sisa pakaian yang sangat tidak cocok untuk berada di tempat sampah seperti ini. Sebuah kemeja putih yang robek parah dan celana bahan berwarna hitam. Meski sudah basah kuyup dan tertutup lumpur, Elena yang punya mata tajam untuk barang mewah tahu betul bahwa potongan kain itu berasal dari penjahit kelas atas.
Lalu, matanya menangkap warna merah pekat yang terus mengalir dari tubuh pria itu, mewarnai air sungai di sekitarnya menjadi merah gelap. Pria itu terluka parah.
"Sialan, orang ini hampir mati," desis Elena seraya mengembalikan senjatanya ke sarung pinggang.
Insting kemanusiaannya bereaksi lebih cepat dari logika pragmatisnya. Elena berlutut di tepi dermaga yang licin, meletakkan senternya di atas balok kayu agar tetap menyinari area bawah, lalu meraba turun melalui tangga besi berkarat yang menempel di dinding dermaga.
Air sungai yang sedingin es langsung menyapa sepatu bot dan kakinya saat ia turun ke bantalan ban bekas. Aroma amis darah dan air kotor langsung menyengat hidungnya.
Elena mencengkeram kerah kemeja pria itu dengan kedua tangannya dan menariknya dengan sekuat tenaga agar tubuhnya tidak kembali tersapu arus sungai.
"Berat sekali, brengsek," umpat Elena dengan napas ngos-ngosan saat ia menyadari pria ini memiliki otot yang padat.
Dengan susah payah, Elena berhasil menggeser tubuh pria itu ke atas pijakan ban yang lebih lebar, setengah mengangkatnya keluar dari air. Pria itu sama sekali tidak merespons. Wajahnya tertutup oleh rambut yang basah dan noda lumpur kotor.
Elena meraba leher pria itu, mencari denyut nadi. Ada denyutan, tapi sangat lemah dan tidak beraturan. Jika dibiarkan lima belas menit lagi di tengah cuaca seperti ini, pria ini pasti tewas karena kehabisan darah atau hipotermia.
"Hei! Buka matamu!" panggil Elena seraya menepuk pipi pria itu lumayan keras.
Tidak ada jawaban. Kepala pria itu hanya terkulai lemah ke samping.
Elena menggeser sorotan senternya untuk melihat kondisi luka-lukanya. Ia menarik napas tajam. Pundak kanan pria itu hancur berantakan. Daging dan ototnya terkoyak parah, meninggalkan lubang menganga yang terus memompa darah segar. Dari bentuk lukanya, Elena tahu itu adalah tembakan jarak dekat dari senapan laras panjang. Ia juga melihat goresan tembakan lain di dekat sana, serta robekan peluru di betis kiri pria tersebut.
Seseorang benar-benar ingin pria ini mati dengan cara yang menyakitkan.
Elena mengambil ujung lengan jas hujannya dan mengusap lumpur tebal dari wajah pria itu agar ia bisa melihat siapa yang sebenarnya ia selamatkan.
Ketika lapisan lumpur itu tersapu, wajah tegas dengan rahang kaku dan hidung mancung perlahan terlihat di bawah cahaya senter.
Mata Elena membelalak lebar. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Tubuhnya menegang. Ia mundur setengah langkah hingga punggungnya nyaris menabrak tiang beton dermaga.
"Tidak mungkin..." bisik Elena tidak percaya, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
Ia kembali menyorotkan senter ke wajah pria itu, lalu meraih tangan kirinya yang terkulai lemas di atas ban bekas. Di jari manis pria itu, melingkar sebuah cincin emas tua yang ukirannya sangat ia kenali—ukiran kepala serigala bersayap.
"Leo Valenti," desis Elena seraya menatap wajah pria yang tak sadarkan diri itu.
Tentu saja Elena tahu siapa dia. Tidak ada satu pun orang di dunia bawah tanah yang tidak mengenal wajah pewaris takhta klan Valenti. Keluarga Valenti adalah raksasa yang menguasai setengah dari perputaran uang gelap di kota ini. Mereka adalah hukum, mereka adalah eksekutor, dan bagi Elena pribadi, klan Valenti adalah daftar teratas orang-orang yang harus ia hancurkan di masa depan karena dosa masa lalu yang menghancurkan keluarganya.
Lalu, apa yang dilakukan pangeran mafia ini di tempat pembuangan sampah dengan dada hancur akibat peluru?
"Jika kau mati di sini, kota ini akan hancur besok pagi," gumam Elena pada dirinya sendiri, otaknya berputar dengan kecepatan gila menganalisis situasi. "Siapa yang berani menembak pewaris utama pada malam perayaan suksesi?"
Di tengah dilema itu, Leo tiba-tiba terbatuk pelan. Air bercampur darah keluar dari mulutnya. Kelopak matanya yang memar bergerak sedikit, setengah terbuka. Dari balik pandangan yang buram, Leo melihat bayangan seorang gadis berjas hujan kuning yang wajahnya tak terlihat jelas karena menempelung membelakangi cahaya senter.
"A-Ayah..." erang Leo dengan vokal yang sangat parau dan bergetar hebat.
Tangannya yang sedingin es mendadak terangkat sedikit, jari-jarinya mencengkeram ujung jas hujan Elena dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Cengkeraman itu begitu putus asa, layaknya orang yang berpegangan pada tepi jurang.
"T-tolong..." bisik Leo sebelum matanya kembali tertutup rapat dan cengkeramannya mengendur. Ia kembali jatuh pingsan, sepenuhnya tidak berdaya.
Elena terdiam mematung. Ia menatap tangan Leo yang terjatuh lemas. Sebagian dari logika Elena menjerit untuk menendang tubuh pria ini kembali ke sungai. Valenti adalah musuh. Menyelamatkan Leo sama saja dengan menarik seluruh masalah dunia gelap ke dalam ruang tamu rumahnya. Belum lagi jika orang-orang yang mengejar Leo tahu bahwa "Phantom" yang menyembunyikannya, Elena akan diburu oleh seluruh mafia kota.
Namun, di sisi lain dari otak peretasnya yang selalu melihat peluang, Elena menyadari satu hal yang jauh lebih besar.
Jika ada pihak yang berani menumbangkan klan Valenti dari dalam, maka keseimbangan kekuasaan kota akan runtuh. Dan Leo Valenti yang sekarat ini bukan lagi seorang pangeran yang berkuasa, melainkan buronan yang memiliki dendam. Musuh dari musuhku adalah senjataku. Leo bisa menjadi kartu as paling berbahaya yang pernah dimiliki Elena untuk membongkar seluruh struktur mafia dari akar-akarnya.
"Sialan," umpat Elena keras-keras, mengalahkan suara petir di atasnya. Keputusannya sudah bulat, dan ia tahu ia mungkin akan menyesali ini seumur hidupnya.
Elena kembali berjongkok. Ia menyelipkan lengannya ke bawah ketiak Leo dan melingkarkan lengan kiri pria itu ke lehernya.
"Kau berutang nyawa padaku, Valenti," geram Elena seraya mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat tubuh besar Leo dari atas ban bekas. "Dan percayalah, tagihanku tidak akan murah."
Dengan napas yang tersengal dan otot yang menjerit protes, Elena menyeret tubuh Leo menaiki tangga dermaga. Hujan terus membasuh darah yang berceceran di kayu lapuk, menyamarkan jejak pelarian mereka. Di tengah kegelapan badai, gadis peretas itu membawa sang pangeran buangan menuju tempat persembunyian rahasianya, sebuah tempat di mana operasi tanpa belas kasihan harus segera dilakukan sebelum nyawa Leo benar-benar melayang.