NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:766.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

"Jadi, kapan Papa akan mulai menyerahkan kendali perusahaan itu sepenuhnya padaku?" tanya Nawang langsung pada intinya dan melipat kedua tangan di dada.

Nawang berdiri di sisi ranjang setelah meletakkan map tebal berisi laporan bulanan perusahaan properti milik ayahnya.

Yudha tidak langsung menjawab. Ia memakai kacamata bacanya, membalik halaman berkas yang dibawa Nawang dengan perlahan sebelum mendongak.

"Kinerja kamu di kantor bagaimana sebulan ini, Nawang? Apakah masih sama seperti dulu yang sering terlambat, atau sudah ada perubahan nyata?"

Nawang mendengus kesal, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

"Kamu juga belum lupa dengan syarat yang Papa berikan, kan? Syarat mutlak supaya kamu bisa mendapatkan sepuluh persen sisa saham dan aset pribadi milik Papa?" Yudha meletakkan berkas itu di pangkuannya.

Mendengar kata syarat, Nawang seketika mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuh. Ingin rasanya ia memaki kasar lelaki tua di hadapannya ini, namun akal sehatnya masih berjalan. Ia menahan diri demi harta yang selama ini ia incar bersama ibunya, Yeni.

"Papa masih saja meragukan kemampuanku?" tanya Nawang dengan nada suara yang meninggi, tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. "Mau sampai kapan Papa bersikap egois begini pada anak sendiri? Dan soal syarat konyol dari Papa itu, bagaimana bisa aku menikah dan punya anak dalam waktu dekat, kalau aku saja belum menemukan pria yang benar-benar layak dan pas buat aku!"

Yudha menghela napas panjang. Pria paruh baya itu mengulurkan tangan, mencoba mengusap kepala Nawang dengan lembut untuk menenangkannya.

"Papa melakukan ini demi masa depanmu sendiri, Nawang. Kamu cukup menikah saja dengan Satria, anak dari teman bisnis Papa. Setelah kalian menikah dan memiliki anak—"

"Cukup, Pa!" potong Nawang kasar, menepis tangan Yudha dari kepalanya. "Aku tidak mau menikah dengan Satria! Dia itu pria lumpuh yang cuma bisa duduk di kursi roda! Papa benar-benar kelewatan sama aku. Ini tidak adil tahu, Pa! Kenapa aku harus mengorbankan masa mudaku untuk merawat orang sakit hanya demi selembar kertas saham?!" cerocos Nawang berapi-api.

Tepat saat suasana di dalam kamar itu memanas hingga ke puncaknya, pintu kamar yang sedikit terbuka diketuk pelan. Ningsih melangkah masuk dengan anggun, masih mengenakan kemeja putihnya yang rapi setelah insiden di dapur tadi. Tangan kanannya menggandeng erat jemari Luna yang tampak mengantuk.

"Pa, aku pamit pulang sekarang. Urusanku di sini sudah selesai," ucap Ningsih dengan nada datar dan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh keributan yang baru saja terjadi antara ayah dan adik tirinya.

Luna yang berada di sampingnya ikut mendongak, melambaikan tangan kecilnya ke arah ranjang.

"Kakek, Luna pulang duluan ya. Sudah malam, Luna sudah mengantuk."

Nawang seketika menoleh ke arah sumber suara. Matanya membelalak sempurna saat mendapati kakak tirinya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini, kini sedang berdiri kokoh di depan pintu.

"Lho... Mbak Ningsih? Mbak ada di sini?" tanya Nawang dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi canggung dan kaget. Tatapannya kemudian turun ke arah anak kecil di samping Ningsih. "Dan Mbak Ningsih sudah punya anak sebesar ini? Kapan Mbak menikah?"

Ningsih tidak berniat menjelaskan panjang lebar soal badai rumah tangganya dengan Hendra pada Nawang. Ia hanya mengangguk pendek sekilas sebagai jawaban kesopanan, tanpa berniat membalas pembicaraan lebih jauh.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Nawang sebenarnya menyimpan rasa kesal dan cemburu yang teramat besar. Sejak kecil, ia selalu merasa Ningsih-lah yang mendapatkan keberuntungan terbesar, garis wajah yang tegas, serta kasih sayang yang melimpah dari Yudha, meskipun Ningsih selalu bersikap dingin.

Tapi, bagaimanapun juga, garis darah tidak bisa bohong. Di balik rasa irinya, Nawang tetap menganggap Ningsih sebagai kakaknya.

Yudha yang melihat Ningsih hendak pergi langsung panik. Ia mengulurkan tangannya ke arah cucunya.

"Ningsih, menginaplah malam ini di sini. Jangan pulang dulu. Papa masih sangat kangen dengan Luna. Papa belum sempat mengobrol banyak dengannya."

"Tapi, Pa, besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali. Barang-barang Luna juga tidak ada yang dibawa ke sini," tolak Ningsih dengan halus namun tetap tegas.

Belum sempat Ningsih melangkah pergi, Luna tiba-tiba melepaskan gandengan tangan ibunya. Bocah kecil itu malah berlari kecil mendekati ranjang Yudha, lalu menatap Ningsih dengan mata yang berkedip-kedip memelas, mengerucutkan bibirnya yang menggemaskan.

"Mama... Luna betah di sini. Rumah Kakek besar sekali seperti istana Princess. Boleh ya, malam ini Luna menginap di sini saja? Please, Mama..." rengek Luna sembari menggoyang-goyangkan ujung bajunya dengan gaya yang sangat greget dan manja.

Yudha langsung tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan cucunya. "Dengar itu, Ningsih. Anakmu saja betah di sini. Menginaplah satu malam ini saja demi Papa."

Ningsih mengembus napas pasrah, menatap putrinya yang sudah pandai merayu itu dengan gelengan kepala heran.

Tampaknya, malam ini ia harus menunda kepulangannya demi sang putri.

"Semoga saja tidak ada drama selama aku berada di sini," gumam Ningsih.

*

*

"Mbak, tunggu!"

Nawang berlari kecil mengejar Ningsih yang baru saja keluar dari kamar Yudha, meninggalkan Luna yang sedang asyik mendengarkan dongeng dari sang kakek.

Ningsih menghentikan langkahnya di lorong lantai dua. Ia berbalik perlahan, menatap adik tirinya dengan pandangan dingin yang membuat Nawang sempat salah tingkah.

"Ada apa, Nawang?"

Nawang memamerkan senyum manis yang dipaksakan. "Mbak Ningsih kok tidak ada kabar-kabarnya sama sekali kalau sudah menikah? Sama siapa, sih? Kenalin dong ke aku."

"Kami sudah cerai," jawab Ningsih singkat, padat, dan tanpa ekspresi.

"Cerai?!" Mata Nawang membelalak sempurna, tak bisa menyembunyikan rasa syoknya. "Kok bisa, Mbak? Kenapa?"

Ningsih mengembuskan napas kasar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Nawang dengan sorot mata dingin.

"Kamu kepo sekali dengan urusan orang, Nawang. Aku menikah dengan siapa dan kenapa aku bercerai, apa hubungannya denganmu?"

Nawang langsung mengerucutkan bibirnya, mencoba membela diri. "Ya, aku cuma mau tahu saja, Mbak. Rasanya setelah menikah itu bagaimana. Apalagi papa sekarang sedang memaksaku menikah."

Ningsih tersenyum sinis, menatap Nawang dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kalau mau tahu rasanya, cari tahu sendiri. Jangan pakai hidupku sebagai bahan eksperimenmu."

Malas meladeni pertanyaan tidak bermutu adik tirinya, Ningsih membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Nawang begitu saja di lorong sepi.

Nawang menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Ih! Dasar pelit! Ditanya soal nikah saja kenapa ketus begitu, sih?!" gumamnya jengkel.

Namun, sedetik kemudian, senyum licik terukir di wajah Nawang. Ia mengingat postur tubuh Hendra, sopir pribadi barunya yang baru ia rekrut siang tadi.

"Tapi tidak apa-apa. Aku harus segera mencari suami yang gagah dan perkasa agar bisa dimanfaatkan. Mas Hendra yang tadi siang badannya kekar juga boleh. Yang penting aku cepat menikah, punya anak, dan Papa segera memberikan semua hartanya padaku!" batin Nawang penuh rencana busuk.

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!