Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 13
Bu Rahmi berdehem pelan, memaksakan seulas senyum yang terlihat sangat dipaksakan. Ia menyapu pelipisnya yang basah oleh keringat dingin dengan ujung lengannya, berusaha sekuat tenaga menyusun kebohongan baru.
"Oh... itu, Mima... Dia itu Dina. Dina itu... sepupu jauhnya istrinya temannya Hendra!" ujar Bu Rahmi terbata-bata, nadanya naik satu oktav karena panik.
"Iya, betul! Dia lagi merantau di Jakarta, tapi kasihan... suaminya lagi dinas di luar pulau. Karena dia lagi hamil enam bulan dan nggak ada yang jaga di kontrakan, temannya Hendra itu titip dia sementara di sini. Biar ada yang bantu-bantu Ibu juga di dapur."
Siska melangkah maju, memotong dengan raut wajah sok tegas untuk meyakinkan Zemima.
"Iya, Mbak Mima! Dina itu cuma menumpang sementara di sini! Cuma orang luar yang nggak ada hubungannya sama keluarga kita! Lagian Mbak Mima nggak usah kepo banget deh, berprasangka buruk melulu sama keluarga suami sendiri!"
Zemima tidak langsung membalas. Ia melangkah satu tindak mendekati meja, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Bu Rahmi.
"Sepupu jauh dari istrinya teman Mas Hendra?" ulang Zemima pelan, mengulangi kalimat itu dengan nada bernuansa sindiran halus.
"Aneh ya, Bu. Kalau cuma orang luar yang menumpang, kenapa dia panggil Ibu dengan sebutan 'Ibu'? Kenapa dia dengan santainya bilang 'anakku sedang ingin makan yang segar-segar' sambil mengelus perutnya tepat di depan mata saya? Sudah berapa lama dia tingal di sini? Apa Mas Arsyad juga tahu ada orang lain tinggal di rumah ibu?"
Bu Rahmi mencoba kembali bersikap tenang dan mulai ketus kepada Zemima yang banyak bertanya.
"Ya... ya namanya juga anak muda zaman sekarang, Mima! Dia panggil Ibu ya karena menghormati Ibu yang sudah tua ini! Terus soal dia ngomong gitu... ya namanya orang hamil kan memang suka asal ceplos! Lagian Arsyad juga sudah tahu kok, Dina tinggal di sini sudah mau empat bulan, pokoknya setelah itu sakit itu dia datang!"
"Benar, Mbak!" timpal Rika yang baru saja kembali dari arah dapur dengan wajah merah padam.
"Dina itu memang kurang tata krama! Nanti biar aku sama Siska yang tegur dia biar nggak asal keluar kamar dan ganggu tamu lagi! Mbak Mima nggak usah besar-besarkan masalah sepele begini!"
"Masalah sepele? Dan Mas Arsyad juga tahu? Tapi tak ada dari kalian yang cerita ke aku?" Zemima terkekeh pelan, tawa dingin yang membuat ketiga wanita di depannya merinding seketika.
"Kamu itu kenapa sih, Mima? Selalu saja ngotot mau cari masalah!" cetus Bu Rahmi tiba-tiba, suaranya meninggi dengan nada defensif. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah keruh, mencoba menutupi kepanikannya dengan kepura-puraan menjadi pihak yang terintimidasi.
"Memangnya Arsyad harus laporan semua hal kecil sama kamu? Rumah ini kan rumah Ibu! Mau siapa saja yang tinggal di sini, itu urusan Ibu dan Arsyad, bukan urusan kamu!"
Siska melipat kedua tangannya di dada, berkacak pinggang sambil mendengus keras.
"Betul kata Ibu! Mbak Mima itu berlebihan banget deh! Mas Arsyad sengaja nggak cerita ke Mbak Mima ya karena tahu tabiat Mbak Mima yang suka overthinking dan bikin heboh begini! Niat kita itu cuma mau tolong orang, kok malah dituduh macam-macam? Mbak Mima itu memang dasarnya nggak punya rasa simpati ya?"
"Lagian ya, Mima," timpal Rika dengan mata melotot, ikut-ikutan menyudutkan,
"Kamu kan jarang banget datang menjenguk Ibu! Datang-datang bukannya bawa kedamaian, malah mau menginterogasi keluarga sendiri kayak polisi! Harusnya Kamuitu ngaca, kenapa Arsyad lebih nyaman cerita dan terbuka sama Ibu dibanding sama istrinya sendiri!"
Bu Rahmi mengangguk-angguk setuju, memegangi dadanya seolah-olah hatinya tersakiti oleh pertanyakan Zemima.
"Ibu ini sudah tua, Mima. Jangan kamu tekan-tekan terus seperti ini! Kamu datang ke sini cuma mau membuat masalah, menuduh dan menghakimi keluarga suami kamu sendiri, kan? Kalau kamu nggak suka ada Dina di sini, ya sudah, nggak usah datang-datang lagi ke sini! Bikin darah tinggi Ibu kumat saja!"
Zemima berdiri mematung di tengah ruangan, mendengarkan serangan bertubi-tubi dari ibu mertua dan kedua adik iparnya. Senyum tipis yang dingin justru makin terukir di bibirnya, menatap satu per satu wajah ketiga wanita yang kini bersatu padu memutarbalikkan fakta dan menyudutkan dirinya.
Zemima tak sedikit pun terpancing oleh rentetan tuduhan dan intonasi tinggi dari ibu mertua serta kedua adik iparnya. Raut wajahnya tetap tenang, lembut, dan tertata rapi—sama sekali tidak memperlihatkan kejengkolan, amarah, ataupun gelagat bahwa ia sedang mencurigai sesuatu.
Ia mengulas senyum tipis yang tampak begitu sopan dan santun, seolah perkataan tajam mereka hanyalah angin lalu.
"Maaf ya, Bu, Siska, Rika... kalau kedatangan Mima sore ini malah bikin Ibu sama yang lainnya jadi tidak nyaman atau berpikiran yang tidak-tidak dan bahkan membuat tekanan darah tingi ibu naik tiba-tiba..," ucap Zemima dengan nada suara yang sangat lembut dan halus.
Dengan gerakan yang anggun, Zemima meletakkan dua kantong makanan mewah serta amplop berisi uang tunai secara perlahan di atas meja tamu.
"Mima ke sini murni cuma mau silaturahmi dan mengantarkan makanan dan uang bulanan untuk ibu," lanjutnya seraya merapatkan kedua tangannya di depan dada dengan penuh rasa hormat.
"Mima sama sekali tidak ada niat untuk menyudutkan atau menuduh siapa pun. Mima minta maaf ya, Bu, kalau pertanyaan Mima tadi terkesan berlebihan."
Ia sempat melirik sebentar ke arah halaman rumah, menatap mobil SUV dan motor baru itu dengan pandangan sekilas yang terkesan biasa saja lalu kembali menatap Bu Rahmi dengan tatapan teduh. Firasat ganjil yang membawanya datang sore ini memang telah terjawab tuntas oleh pemandangan kendaraan mewah dan kehadiran wanita hamil tersebut, namun Zemima memilih menyimpan rapat-rapat semua kartu di tangannya.
"Karena Mima lihat Ibu juga sedang butuh istirahat dan suasana rumah lagi agak tegang, Mima pamit pulang dulu ya, Bu," pamit Zemima santai. Ia meraih tangan Bu Rahmi lalu menciumnya dengan sangat sopan.
"Tolong dimakan ya Bu makanannya selagi hangat. Siska, Rika... Mbak pamit ya."
Tanpa menunggu balasan yang canggung dari ketiganya, Zemima berbalik dengan tenang. Langkah kakinya begitu mantap dan anggun menuju pintu keluar, meninggalkan Bu Rahmi, Siska, dan Rika yang berdiri terpaku dengan rasa bersalah bercampur kebingungan karena respons Zemima yang sama sekali tak terduga.
"Bu..." bisik Maya saat mereka keluar dari rumah Bu rahmi. Zemima hanya menganggukkan kepalanya pelan.