NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Badai Buatan Di Langit Kendal

Matahari baru saja naik di ufuk timur ketika siluet-siluet raksasa mulai muncul di langit. Bukan awan mendung, melainkan selusin balon udara militer milik Inggris yang ditarik oleh kapal uap dari kejauhan sebelum dilepaskan untuk melayang mengikuti arah angin menuju Kendal. Di bawah keranjang-keranjang rotan yang diperkuat baja itu, bergantung tabung-tabung berisi minyak tanah dan bubuk mesiu—Bom Bakar pertama dalam sejarah peperangan Nusantara.

"Mereka menyerang dari titik buta kita," bisik Yusuf sambil menengadah dengan cemas. "Senapan kita tidak bisa menjangkau mereka, Raden. Jaraknya terlalu tinggi, dan angin membuat peluru kita meleset."

Jatmika memperhatikan pergerakan balon-balon itu melalui teodolitnya. Ia menghitung kecepatan angin dan daya angkat gas hidrogen yang digunakan musuh. "Mereka merasa aman karena mereka pikir gravitasi adalah satu-satunya hukum yang berlaku di sana. Mereka lupa bahwa langit adalah konduktor energi yang sangat besar."

Jatmika segera berlari menuju menara pusat di Lembah Batu Kapur. Di sana, ia telah menyiapkan proyek paling ambisius dan berbahayanya: Menara Pemancar Magnitudo (Versi Awal Kumparan Tesla). Menara ini terdiri dari tumpukan cakram tembaga raksasa yang diisolasi oleh porselen, dihubungkan langsung ke generator PLTA yang telah ditingkatkan outputnya.

"Suro! Aktifkan Kapasitor Mika! Kita butuh loncatan arus searah yang bisa memionisasi udara!" perintah Jatmika.

Prinsipnya adalah Ionisasi Udara. Jatmika tahu bahwa gas hidrogen di dalam balon musuh sangat mudah terbakar. Jika ia bisa mengirimkan aliran listrik bertegangan jutaan volt melalui udara—menciptakan jalur petir buatan—maka balon-balon itu akan meledak seketika tanpa perlu satu butir peluru pun.

Di atas langit, Kolonel Thorne berada di dalam balon komando yang dilapisi sutra khusus. Ia tersenyum melihat kota Kendal yang tampak kecil di bawahnya. "Jatmika mungkin menguasai tanah dan air, tapi di sini, aku adalah dewa yang akan menghujani dia dengan api."

"Siapkan bom pertama!" perintah Thorne.

Namun, saat para serdadu Inggris bersiap menjatuhkan tabung mesiu, udara di sekitar mereka mulai terasa aneh. Rambut mereka berdiri, dan percikan-percikan listrik kecil mulai muncul di kabel-kabel penahan balon. Suara dengung rendah yang memekakkan telinga terdengar dari arah lembah.

"Apa itu suara guntur?" tanya seorang prajurit dengan panik.

Di bawah, Jatmika menarik tuas pemicu utama.

CRAAAACCCCKKKKKK!

Sebuah busur cahaya biru raksasa melesat dari puncak menara Jatmika. Cahaya itu tidak lurus seperti peluru, melainkan bercabang-cabang seperti akar pohon di langit, mencari jalur dengan hambatan listrik terendah. Karena balon-balon udara Inggris menggunakan rangka logam ringan, mereka bertindak sebagai Penangkal Petir alami.

Busur listrik itu menyambar balon terdepan.

BOOOOOOMMMM!

Gas hidrogen di dalamnya bereaksi seketika dengan loncatan listrik. Balon itu meledak dalam bola api raksasa yang menerangi pagi hari. Serpihan baja panas dan rotan yang terbakar jatuh menghujani posisi pasukan darat Belanda di bawahnya.

"Lagi! Arahkan ke formasi pusat!" teriak Jatmika, wajahnya berkilat terkena pendar cahaya biru dari kumparannya.

Satu per satu, balon-balon udara Inggris meledak di langit. Udara dipenuhi bau ozon yang tajam. Thorne, yang balonnya berada di posisi paling belakang, melihat pemandangan mengerikan itu. Ia menyaksikan pasukannya musnah bukan oleh ledakan mekanis, melainkan oleh kekuatan alam yang dijinakkan.

"Potong tali pemberat! Buang semua beban! Kita harus naik lebih tinggi!" teriak Thorne.

Balon Thorne berhasil meloloskan diri karena jaraknya yang berada di luar jangkauan ionisasi efektif menara Jatmika. Namun, serangan udara itu gagal total. Sisa-sisa armada udara Inggris mundur dengan kepanikan yang tak terlukiskan. Bagi para serdadu yang selamat, Jatmika bukan lagi seorang manusia—ia adalah Bethoro Kolo, dewa penghancur yang bisa memerintah petir.

Kemenangan di langit ini disambut sorak-sorai luar biasa oleh rakyat Kendal. Namun, Jatmika terduduk lemas di samping kumparannya yang berasap. Penggunaan energi sebesar itu telah membakar sebagian besar isolator tembaganya.

"Kita butuh bahan yang lebih kuat, Yusuf," gumam Jatmika. "Tembaga biasa tidak akan bertahan lama untuk perang energi seperti ini."

Namun, di tengah perayaan itu, seorang pengintai dari pelabuhan datang dengan berita yang lebih dingin. "Raden, seorang pria asing baru saja mendarat di Semarang. Dia tidak membawa tentara. Dia membawa koper penuh buku dan alat kaca. Dia menyebut dirinya Dr. Van Helmont, ahli kimia terbaik dari Universitas Leiden."

Jatmika menegang. Ia tahu apa artinya ini. Inggris dan Belanda menyadari bahwa senjata fisik tidak bisa mengalahkan Jatmika. Mereka kini mengirimkan Perang Otak. Van Helmont dikirim bukan untuk menyerang Kendal, melainkan untuk melakukan Sabotase Biokimia.

"Dia akan mencoba meracuni tanah kita," bisik Jatmika. "Dia akan menyerang mikroba di sawah kita, atau menyebarkan wabah yang tidak bisa dilihat mata."

Jatmika menyadari bahwa ia baru saja memenangkan perang fisika, tapi ia akan segera menghadapi Perang Biologi. Ia harus membangun laboratorium mikroskop pertamanya untuk melawan musuh yang tidak bisa disambar oleh petir buatannya.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!