Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Sorotan
Suasana di ruangan itu berubah.
Jika tadi hanya rasa penasaran…
kini mulai terasa tekanan.
Semua mata tertuju pada satu orang—
Ryan.
Ia berdiri di depan mobil itu.
Kap mesin terbuka.
Peralatan tersusun rapi di sampingnya.
Namun yang membuat berbeda—
bukan alatnya.
Melainkan…
tatapan orang-orang di sekitarnya.
Beberapa mekanik senior berdiri tidak jauh dari sana.
Tangan terlipat.
Wajah serius.
Dan jelas—
tidak semua dari mereka percaya.
“Dia?” bisik salah satu dari mereka.
“Anak bengkel pinggir jalan?” tambah yang lain.
Nada meremehkan tidak disembunyikan.
Namun Ryan…
tetap diam.
Seolah tidak mendengar.
Atau mungkin—
memang tidak peduli.
Ia mulai bekerja.
Tangannya membuka bagian mesin dengan hati-hati.
Namun kali ini—
setiap gerakannya diawasi.
Setiap langkahnya dinilai.
Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Sedikit saja salah—
kepercayaan itu bisa hilang.
“Jangan sampai dia merusak,” terdengar suara pelan dari belakang.
Ryan berhenti sejenak.
Bukan karena ragu.
Tapi karena…
ia merasakan tekanan itu.
Namun hanya sesaat.
Ia menarik napas.
Lalu kembali fokus.
Beberapa menit berlalu.
Ryan mulai menyadari—
masalah mobil ini tidak sesederhana yang terlihat.
Mesinnya tidak rusak secara langsung.
Namun…
ada ketidakseimbangan.
Seolah ada sesuatu yang tidak sinkron.
Ia memperhatikan lebih dalam.
Mencoba memahami pola.
“Hmm…”
gumamnya pelan.
Salah satu mekanik senior mendekat.
“Kalau tidak bisa, bilang saja.”
Nada suaranya datar.
Namun jelas meremehkan.
Ryan tidak menoleh.
“Saya belum selesai.”
Jawaban singkat.
Namun cukup membuat suasana sedikit tegang.
Waktu berjalan.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Ryan masih bekerja.
Namun kini—
gerakannya sedikit melambat.
Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena ia sedang berpikir.
Masalah ini…
tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.
Ia menutup matanya sejenak.
Mengingat kembali semua yang ia lihat.
Semua yang ia pelajari selama ini.
Lalu—
ia membuka mata.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
“Bukan di sini…” bisiknya.
Ia segera membuka bagian lain.
Lebih dalam.
Lebih kompleks.
Beberapa orang mulai terkejut.
“Dia buka sampai situ?”
“Itu berisiko…”
Namun Ryan tetap lanjut.
Karena ia yakin—
jawabannya ada di sana.
Dan benar saja—
beberapa saat kemudian—
ia menemukan sesuatu.
Sebuah komponen kecil.
Namun posisinya…
tidak tepat.
“Ini…” gumamnya.
Ia memperhatikannya lebih dekat.
Lalu tersenyum tipis.
Bukan karena mudah.
Tapi karena—
ia akhirnya mengerti.
Ryan segera memperbaiki posisi komponen itu.
Dengan sangat hati-hati.
Tanpa tergesa.
Semua orang kini diam.
Memperhatikan.
Tidak ada lagi bisikan.
Karena suasana sudah berubah.
Dari meremehkan…
menjadi serius.
Setelah selesai—
Ryan menutup kembali mesin itu.
Lalu berdiri.
Tangannya sedikit kotor.
Namun matanya tenang.
“Coba nyalakan,” katanya.
Salah satu teknisi masuk ke dalam mobil.
Semua orang menahan napas.
“Klik…”
Mesin menyala.
Beberapa detik pertama—
suara masih terdengar kasar.
Namun perlahan—
menjadi halus.
Stabil.
Dan kuat.
Semua terdiam.
Benar-benar diam.
Salah satu mekanik senior mendekat.
Mendengarkan lebih dekat.
Lalu menatap Ryan.
Dengan ekspresi yang berbeda.
Bukan lagi meremehkan.
Melainkan…
terkejut.
“Kamu… tahu dari mana?” tanyanya.
Ryan mengelap tangannya.
“Dari bunyinya.”
Jawaban sederhana.
Namun cukup membuat semua orang terdiam lagi.
Di kejauhan—
pria itu tersenyum.
Lebih lebar dari sebelumnya.
“Menarik sekali…” gumamnya.
Ryan berdiri di sana.
Di tengah ruangan besar itu.
Di bawah sorotan banyak orang.
Namun tidak ada rasa gugup.
Tidak ada rasa bangga berlebihan.
Ia hanya…
tenang.
Seolah semua ini…
adalah hal yang wajar.
Dan untuk pertama kalinya—
orang-orang di ruangan itu mulai menyadari satu hal.
Ryan…
bukan orang biasa.