NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di balik wangi melati

Pagi di Pesantren Salsabila biasanya diawali dengan aroma tanah basah dan wangi kopi yang mengepul dari dapur ndalem. Namun bagi Aira, pagi ini terasa sangat berbeda. Harum bunga melati yang biasanya menjadi sumber inspirasi desainnya, mendadak terasa begitu menyengat hingga menusuk rongga dadanya.

Aira sedang berada di butik, mencoba menyesuaikan kain brokat pada manekin untuk pesanan pelanggan dari Surabaya. Namun, ketika Zivanna masuk membawa nampan berisi sarapan dan secangkir kopi hitam kesukaan Ghibran yang tertinggal, perut Aira bergejolak hebat.

"Mbak Aira, ini kopi Kak Ghibran tadi ketinggalan di meja makan, sekalian saya bawakan sarapan untuk Mbak," ujar Zivanna dengan senyum tulus.

Aira tidak sempat menjawab. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap. Tanpa kata, ia berlari sekencang mungkin menuju toilet di bagian belakang butik.

"Mbak! Mbak Aira kenapa?" seru Zivanna panik. Ia segera meletakkan nampan di atas meja potong dan menyusul ke depan pintu toilet.

Suara mual yang hebat terdengar dari dalam. Tak lama kemudian, Aira keluar dengan langkah gontai. Keringat dingin sebesar biji jagung menghiasi keningnya. Zivanna segera membimbingnya untuk duduk di sofa panjang yang biasa digunakan para pelanggan untuk menunggu.

"Mbak salah makan? Apa karena martabak telur yang dibawa Mas Azka semalam?" tanya Zivanna cemas sambil mengusap punggung Aira.

Aira menggeleng lemah, ia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. "Aku tidak tahu, Ziva. Hanya saja... aroma kopi itu tiba-tiba terasa sangat amis dan memuakkan. Padahal biasanya aku sangat suka."

Zivanna terdiam sejenak. Sebagai seorang ibu yang sudah melewati masa kehamilan Rayyan, ia melihat tanda-tanda yang sangat familiar. Ia menatap Aira dengan binar mata yang penuh selidik namun penuh kebahagiaan.

"Mbak... kapan terakhir kali datang bulan?" bisik Zivanna pelan.

Aira tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat jadwalnya yang biasanya sangat teratur. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat menyadari bahwa ia sudah melewati siklusnya lebih dari dua minggu. "Sudah... sudah lewat cukup lama, Ziva."

Zivanna tersenyum lebar, ia menggenggam tangan Aira. "Mbak harus cek sekarang. Saya punya cadangan testpack di tas, baru beli kemarin karena sempat ragu dengan siklus saya sendiri, tapi sepertinya Mbak lebih membutuhkannya."

Kepanikan sang Singa Salsabila

Di kantor yayasan, Ghibran sedang serius membedah draf anggaran renovasi asrama yatim piatu bersama Azka. Suasana sangat formal hingga tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan suara dentuman keras. Zivanna berdiri di sana dengan wajah yang tampak tegang namun matanya berbinar.

"Mas Ghibran! Mas Azka! Cepat ke butik sekarang! Mbak Aira pingsan!" seru Zivanna.

Mendengar kata "pingsan", Ghibran langsung melompat dari kursinya. Penanya jatuh ke lantai, ia tidak peduli. Wajahnya yang biasanya tenang seperti permukaan air di danau, kini berubah pucat.

"Pingsan?! Bagaimana bisa?" teriak Ghibran. Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar kantor, melompati anak tangga dua-dua, mengabaikan tatapan heran para staf dan santri.

"Eh, Ghib! Tunggu aku!" Azka ikut berlari di belakangnya, wajahnya tak kalah panik namun otaknya mulai bekerja menebak-nebak situasi.

Ghibran sampai di butik dalam waktu kurang dari dua menit. Ia mendapati Aira sedang berbaring di sofa dengan Zivanna yang mengipasi wajahnya. Ghibran langsung berlutut di samping istrinya, memegang tangannya yang terasa dingin dengan tangan yang bergetar hebat.

"Aira! Sayang, buka matamu. Apa yang sakit? Kita ke dokter sekarang, aku sudah siapkan mobil," suara Ghibran terdengar sangat rapuh, sebuah pemandangan yang membuat Azka yang baru sampai tertegun di ambang pintu.

Aira membuka matanya perlahan, tersenyum lemah melihat wajah suaminya yang sangat berantakan karena panik. Ia meraih sebuah benda kecil yang tergeletak di samping bantal sofa dan menyerahkannya pada Ghibran.

"Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya butuh Kakak melihat ini," bisik Aira.

Ghibran menerima benda putih panjang itu. Matanya terpaku pada dua garis merah yang tampak sangat jelas di sana. Ia menatap benda itu selama hampir satu menit, seolah sedang membaca laporan paling rumit di dunia.

"Ini... ini dua garis, Aira," gumam Ghibran, suaranya parau. "Artinya apa? Apa alat ini rusak?"

Azka, yang sudah berdiri di belakang Ghibran, mengintip dan langsung menepuk jidatnya sendiri. "Ya Tuhan, Ghib! Kau ini senior editor, masa membaca dua garis saja tidak tahu? Itu artinya kau akan jadi ayah, bodoh!"

Ghibran mendongak, menatap Aira dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menyembunyikan wajahnya di telapak tangan Aira, bahunya bergetar hebat. "Terima kasih... terima kasih, Salsabila."

Perayaan Kecil di Ndalem

Malam harinya, suasana di ndalem berubah menjadi sangat protektif. Ghibran tidak membiarkan Aira berjalan tanpa ia rangkul, bahkan ia melarang Aira menuangkan air minumnya sendiri.

"Kak, aku hanya hamil, bukan sedang sakit parah," protes Aira saat Ghibran mencoba menyuapinya sup ayam.

"Di dalam perutmu ada masa depan Salsabila, Aira. Dan ada belahan jiwaku. Aku tidak mau kau kelelahan sedikit pun," jawab Ghibran tegas namun lembut.

Azka, yang datang membawa martabak spesial untuk "perayaan", duduk di hadapan mereka dengan cengiran yang tak kunjung hilang.

"Nah, sekarang ketahuan kan siapa yang paling 'aktif' di sini?" goda Azka sambil mencomot martabak. "Ghib, aku ingat kata-katamu tempo hari. 'Olahraga pagi sudah cukup'. Ternyata hasilnya memang sangat instan, ya? Kau benar-benar efisien dalam bekerja, bahkan dalam urusan reproduksi."

"Azka, diam atau martabak itu akan mendarat di kepalamu," tegur Ghibran, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

"Jangan galak-galak, Ghib. Ingat, istrimu sedang hamil. Kau harus banyak bersabar, karena setelah ini dia akan sering minta yang aneh-aneh. Kalau dia minta bulan, kau mungkin bisa memanjat pohon kelapa untuk mengambilnya," ledek Azka lagi.

Aira tertawa renyah, meski rasa mualnya sesekali masih datang. Ia menatap Ghibran, lalu menatap Zivanna yang sedang menggendong Rayyan di sudut ruangan. Kebahagiaan di Pesantren Salsabila kini terasa lengkap. Bukan lagi soal harta atau kekuasaan, melainkan tentang kehidupan baru yang akan meneruskan cahaya di tempat ini.

"Selamat, Bos," ujar Azka lebih tulus kali ini, sambil mengangkat gelas tehnya. "Sepertinya 'Singa Salsabila' sebentar lagi akan berubah jadi 'Ayah Siaga' yang paling cengeng sedunia."

Ghibran hanya membalas dengan senyuman tipis, tangannya mengusap perut Aira yang masih rata dengan penuh damba. Malam itu, di bawah langit Salsabila yang penuh bintang, mereka merayakan awal dari sebuah perjalanan baru yang jauh lebih menantang sekaligus membahagiakan.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!