Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Dibalik mawar hitam
Suara pintu besi yang tertutup di ruang bawah tanah masih terngiang di telinga Aira saat ia melangkah menuju balkon kamarnya. Napasnya masih sedikit memburu. Menghadapi Julian dengan kelembutan palsu tadi menguras energinya lebih banyak daripada mencambuknya. Aira menyentuh bibirnya yang tadi mencium kening Julian—sebuah tindakan yang ia tahu akan membuat Julian menjadi budak cintanya selamanya.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.
Sesosok bayangan besar melompat dari kegelapan atap, mendarat tanpa suara di balkon. Zane berdiri di sana, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam. Matanya yang tajam seperti elang menatap Aira dengan intensitas yang sanggup menguliti jiwa.
"Ikut aku, Nyonya," bisik Zane. Itu bukan permintaan, melainkan perintah yang dibalut kesetiaan yang mengancam.
"Zane, ini sudah lewat tengah malam—"
"Sekarang," potong Zane pendek. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar. "Atau aku akan membiarkan Dante tahu apa yang baru saja kau lakukan di sel Julian. Aku tahu kau tidak hanya memberikan air padanya, Aira."
Mendengar Zane menyebut nama aslinya lagi, Aira membeku. Ia menyadari bahwa Zane adalah mata-mata yang paling berbahaya karena dia tidak bicara, dia hanya melihat. Tanpa pilihan, Aira meraih tangan Zane. Dengan kekuatan yang luar biasa, Zane membawa Aira melompat turun dari balkon, melewati rimbunnya pepohonan, menuju jantung Hutan Kabut yang terlarang.
Mereka berhenti di sebuah pemakaman tua yang tersembunyi, tempat di mana bunga mawar hitam merambat di antara nisan-nisan batu yang sudah retak. Di tengahnya terdapat sebuah pohon tua yang dahannya menyerupai tangan-tangan yang memohon ampunan.
Zane memojokkan Aira ke batang pohon tersebut. Hawa dingin dari kayu tua itu menembus gaun sutranya. Zane meletakkan kedua tangannya di samping kepala Aira, mengurungnya sepenuhnya.
"Kau memberikan kelembutan pada Julian di dalam sel yang kotor itu," geram Zane, wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Aroma hutan dan bahaya memancar dari tubuhnya. "Kau menghancurkan mentalnya dengan kasih sayang. Katakan padaku... apakah itu bagian dari rencanamu untuk bertahan hidup, atau kau benar-benar mulai mencintai ular itu?"
Aira menatap mata Zane yang dipenuhi hasrat yang tertahan dan kecemburuan yang mendidih. Ia perlahan mengangkat tangannya, jemarinya menelusuri tato mawar hitam di dada Zane yang terekspos di balik kemeja yang terbuka.
"Kau cemburu, Zane? Pengawal bayanganku merasa iri pada seorang tahanan?" Aira memberikan smirk yang sangat tipis, namun matanya melembut—sebuah senjata baru yang ia pelajari. "Julian butuh harapan untuk tetap setia. Tapi kau... kau butuh sesuatu yang lebih nyata, bukan?"
Zane mencengkeram pinggang Aira, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa celah di bawah sinar rembulan yang pucat. "Aku tidak butuh permainan mentalmu, Isabella...Aku ingin sumpah yang lebih kuat dari sekadar kata-kata."
Zane mencengkeram rahang Aira di bawah pohon mawar hitam. Belatinya menekan kulit leher Aira hingga setetes darah muncul.
"Katakan!" geram Zane. "Siapa kau? Isabella yang asli tidak akan pernah menatap Julian dengan mata sedih seperti itu!"
Zane mengambil belati kecilnya, mengiris sedikit telapak tangannya sendiri, lalu menawarkan belati itu pada Aira. "Sumpah darah. Jika kau benar-benar ingin aku menjadi mata-matamu, ikat jiwamu padaku di sini. Jika kau mengkhianatiku, darah ini yang akan menuntut nyawamu."
Aira menatap belati itu, lalu menatap Zane. Ia menyadari bahwa Zane adalah satu-satunya yang memegang kunci keselamatannya. Dengan perlahan, Aira mengiris telapak tangannya sendiri. Rasa perih itu membuatnya mendesah kecil.
Aira menatap Zane. Detik itu, dia hampir menyerah. Dia ingin berteriak bahwa dia hanya gadis biasa bernama Aira. Tapi kemudian, ia teringat peringatan Isabella di cermin. Jika Zane tahu dia bukan "Nyonya"-nya, Zane bisa saja menghabisinya karena menganggap Aira adalah parasit.
Aira tertawa. Sebuah tawa yang serak dan meremehkan. Ia mendorong belati yang sudah melukai tangannya.
"Kau ingin tahu rahasia itu, Zane? Kau pikir kau cukup istimewa untuk mendengarnya?" Aira mendekatkan bibirnya ke telinga Zane, membisikkan sesuatu yang jauh lebih kejam: "Jika kau ingin tahu siapa aku, merangkaklah lebih dalam ke kegelapan bersamaku. Tapi jangan harap aku akan memberikan namaku padamu semudah itu."
Aira kemudian mencium Zane dengan paksa—sebuah klaim kekuasaan. Zane yang haus akan kebenaran justru terjebak dalam gairah yang menyesakkan. Dia tidak mendapatkan jawaban, tapi dia mendapatkan obsesi baru.
Zane tidak melepaskan cengkeramannya. Napasnya yang panas memburu di ceruk leher Aira, menciptakan kontras yang menyiksa dengan kulitnya yang dingin terkena angin malam. Ujung belati itu masih menekan, menciptakan rasa perih yang nyata. Di dalam kepalanya, Aira merasa dunianya berputar. Nama "Aira" sudah berada di ujung lidahnya, siap untuk ditumpahkan sebagai bentuk penyerahan diri agar Zane berhenti menyiksanya dengan tatapan predator itu.
Namun, tepat saat bibir Aira terbuka, sebuah penglihatan melintas. Ia melihat pantulan dirinya di mata gelap Zane—bukan sebagai Aira yang malang, melainkan sebagai Ratu yang kejam. Ia menyadari satu hal: di tempat ini, kebenaran adalah kelemahan. Jika ia mengaku sebagai gadis biasa dari dunia lain, ia bukan lagi sosok yang dipuja; ia hanya akan menjadi objek eksperimen atau bahkan sampah yang harus dibuang.
Aira menelan kembali nama itu. Ia memaksakan sebuah tawa rendah yang terdengar sangat menyeramkan di tengah keheningan hutan.
"Kau ingin aku mengaku, Zane? Kau ingin aku menangis dan memohon padamu agar kau melepaskan belati ini?" Aira menantang, matanya berkilat dengan kekejaman murni yang ia pinjam dari Isabella. "Kau salah besar. Jika kau ingin membunuhku karena aku 'berbeda', lakukanlah sekarang. Tapi ingat, kau tidak akan pernah menemukan wanita lain yang sanggup membuatmu merasa segila ini hanya dengan satu tatapan."
Zane tertegun. Keberanian Aira yang menantang maut justru memicu sesuatu yang lebih gelap di dalam dirinya. Ia melepaskan belatinya, membiarkan senjata itu jatuh ke tanah berlumut, namun ia justru mencengkeram rahang Aira lebih kuat dengan tangan kosongnya.
"Kau benar-benar iblis yang licik," geram Zane, suaranya parau oleh hasrat yang tersiksa. "Kau tahu aku tidak akan bisa membunuhmu. Kau tahu aku sudah terjebak dalam jaringmu, siapa pun kau yang bersembunyi di balik wajah ini."
Zane mencium Aira lagi, kali ini dengan keputusasaan yang menghancurkan. Ia tidak lagi mencari kebenaran; ia hanya ingin memiliki raga yang ada di depannya, peduli setan dengan siapa jiwa yang menghuninya. Aira mendesah panjang, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman yang terasa seperti racun itu. Di balik pohon mawar hitam, Isabella asli menutup matanya, menikmati bagaimana Aira akhirnya memahami bahwa rahasia adalah senjata yang paling mematikan.
Malam itu, rahasia "Aira" tetap terkunci rapat, namun Zane telah menjadi budak dari ketidaktahuannya sendiri.
Lanjuutt