Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Pleno di Ruang Tamu
Eleanor masih berusaha merapikan rambutnya yang berantakan setelah kejadian pelukan pagi itu, sementara Edward dengan santainya hanya mengenakan kemeja yang kancing atasnya terbuka, memberikan kesan seolah-olah sesuatu yang besar memang baru saja terjadi.
Begitu mereka menuruni tangga menuju ruang tamu, langkah Eleanor mendadak terkunci. Jantungnya hampir merosot ke lantai.
Di sana, duduk melingkar dengan wajah-wajah penuh kemenangan. Tuan Lewis dan Nyonya Lysee (orang tua Eleanor), bersama Nenek Agatha dan Nyonya Emilie (ibu Edward). Mereka semua sedang menikmati teh pagi seolah-olah sedang menunggu pertunjukan dimulai.
"Nah, itu dia sang pemeran utama kita," ucap Nenek Agatha dengan mata berbinar-binar penuh arti.
"Papa? Mama? Kenapa kalian di sini?" Suara Eleanor bergetar antara malu dan bingung. "Dan... bagaimana kalian tahu aku di sini?"
Tuan Lewis berdehem, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik cangkir teh. "Eleanor, kau lupa kalau sopir pribadimu itu digaji oleh perusahaan? Dan pelayan di mansion ini... yah, katakanlah mereka sangat loyal memberikan laporan perkembangan kepada Nyonya Agatha."
Eleanor melotot ke arah Edward, tapi pria itu justru bersandar di pilar tangga dengan wajah paling polos (dan menang) di dunia.
"Jadi katakan, kapan tanggal pernikahan mereka?" Tanya Nenek Agatha tanpa basa-basi. "Aku sudah bosan menunggu. Rumah ini butuh suara tangisan bayi, bukan cuma suara Edward yang memerintah orang."
Nyonya Lysee, ibu Eleanor, menatap putrinya dengan pandangan menggoda. "Mungkin sebaiknya besok, Lewis. Lihat saja mereka, sepertinya sudah tidak sabar karena sudah satu atap lebih awal dari jadwal."
"Hei, tunggu dulu! Apa-apaan ini?!" Ucap Eleanor, wajahnya sudah merah padam sampai ke leher. "Kami tidak melakukan apa-apa! Ini semua karena jebakan hotel itu, dan Edward bilang bahunya sakit, lalu... lalu..."
"Lalu kau merangkak masuk ke pelukanku pagi ini karena merasa bersalah, kan?" Potong Edward dengan suara rendah yang sengaja dikeraskan agar seluruh ruangan mendengar.
PRANG!
Eleanor merasa ada suara imajiner sesuatu yang pecah di kepalanya—itu adalah harga dirinya.
"Edward! Jangan menambah-nambah cerita!" Bentak Eleanor frustrasi.
"Oh, jadi sudah sampai tahap pelukan pagi?" Nyonya Emilie, ibu Edward, tampak sangat antusias. "Kalau begitu, pemberkatan di gereja minggu depan sepertinya terlalu lama. Bagaimana kalau pertunangan resminya malam ini, dan pernikahan bulan depan?"
"Setuju!" Sahut Lewis dan Nenek Agatha kompak.
Eleanor menoleh ke arah Edward, berharap pria itu membantunya. Namun, Edward justru berjalan mendekat, merangkul bahu Eleanor di depan semua orang tua mereka, dan berkata, "Aku mengikuti keputusan keluarga saja. Bagiku, semakin cepat Eleanor menjadi Nyonya Zollern secara hukum, semakin aman bahuku dari 'serangan' brutalnya."
Eleanor hanya bisa memutar bola matanya karena malas dan kesal yang luar biasa. Ia merasa sedang dikeroyok oleh dua keluarga paling berkuasa di Inggris.
"Kalian semua... benar-benar bersekongkol!" Gumam Eleanor.
"Kami tidak bersekongkol, sayang," ucap ibunya, Lysee, sambil berdiri dan memeluk Eleanor. "Kami hanya mempercepat apa yang memang sudah seharusnya terjadi. Lagipula, melihat kau bisa bertahan satu atap dengan Edward tanpa membunuhnya adalah mukjizat yang harus segera diresmikan."
Di tengah keriuhan rencana pernikahan yang disusun kilat oleh para orang tua, Edward melirik Eleanor dan berbisik sangat pelan, "Menyerahlah, Eleanor. Kau sudah masuk ke jaringku, dan orang tuamu sendiri yang memegang talinya."
Eleanor hanya bisa mendengus, tapi di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, kenapa ia tidak merasa ingin lari sekencang mungkin seperti biasanya? Apakah ia benar-benar sudah mulai menikmati jebakan manis ini?