NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 30

Di tengah hiruk-pikuk ekspansi teknologi dan energi itu, seorang pemuda bernama Elias datang ke Arlan. Ia bukan eksekutif dari Silicon Valley, melainkan seorang ahli biologi kelautan dari Yunani yang datang untuk meneliti simbiosis antara aliran sungai Arlan dengan ekosistem pesisir di muara.

Elias tidak membawa koper besar; ia hanya membawa tas punggung usang dan sebuah alat rekam suara bawah air. Di minggu pertamanya, ia tidak banyak bicara. Ia lebih sering menghabiskan waktu menyelam di bawah jembatan ulin atau duduk diam di samping Andi, mengamati cara pria tua itu menyatukan sendi-sendi kayu tanpa paku.

"Arla," panggil Andi suatu sore saat mereka sedang memantau turbin Arlan Flow. "Pemuda itu... dia punya jenis kesunyian yang sama dengan kita. Dia tidak melihat hutan ini sebagai data, tapi sebagai rumah."

Arla awalnya bersikap profesional, namun keteguhan Elias mulai menarik perhatiannya. Elias adalah orang pertama yang berani mengkritik algoritma Arlan OS.

"Sensor ini terlalu berisik, Arla," ujar Elias suatu malam di laboratorium. "Kau mendengarkan suara hutan, tapi kau lupa mendengarkan suara air. Air punya frekuensi kesedihan jika suhunya naik meski hanya nol koma sekian derajat. Jika kau ingin bisnismu benar-benar melindungi bumi, kau harus mendengarkan denyut nadinya, bukan hanya langkah kaki pemburu."

Kritik itu membuat Arla terjaga semalaman. Untuk pertama kalinya, ia menemukan seseorang yang tidak terpesona oleh nama besar Arlan, melainkan peduli pada esensinya.

Kerja sama profesional mereka perlahan berubah menjadi diskusi panjang di bawah bintang. Elias mengajari Arla tentang rahasia samudera, sementara Arla menunjukkan pada Elias bagaimana sebuah pohon ulin bisa menyimpan ingatan ratusan tahun.

Suatu malam, di tepi sungai yang tenang, Elias menyerahkan sebuah kerang kecil yang sudah memfosil kepada Arla. "Ini dari laut Mediterania, tempat kakekku dulu melaut. Di sana, kami sudah kehilangan banyak hal karena keserakahan. Aku datang ke sini untuk mencari tahu apakah masih ada harapan. Dan melihat apa yang kau dan keluargamu bangun... aku menemukan jawabannya."

Arla menerima kerang itu, jarinya bersentuhan dengan jari Elias. Ada getaran yang lebih kuat daripada sensor teknologi mana pun yang pernah ia ciptakan. "Harapan itu bukan tempat, Elias. Harapan itu adalah apa yang kita bangun setiap hari."

Siska dan Andi memantau dari kejauhan, berdiri di teras pondok mereka yang kini sudah menjadi saksi sejarah. Siska tersenyum melihat putrinya tertawa bersama pemuda itu—tawa yang sama dengan tawa yang ia miliki saat pertama kali jatuh cinta pada Andi di tengah keputusasaan puluhan tahun silam.

"Sepertinya Arlan akan punya anggota keluarga baru, Ndi," bisik Siska.

"Dan sepertinya," jawab Andi sambil merangkul Siska, "bisnis Arlan akan segera merambah ke lautan."

Malam itu, Arlan bukan lagi sekadar pusat bisnis atau benteng restorasi. Ia menjadi tempat di mana dua jiwa dari dua belahan dunia yang berbeda bertemu untuk merajut mimpi yang lebih besar. Perjalanan Arlan belum berakhir; ia justru baru saja mendapatkan napas barunya.

Pernikahan itu tidak dirayakan di gedung mewah Athena maupun hotel berbintang di Jakarta. Arla dan Elias memilih untuk menyatukan dua dunia mereka di atas pertemuan arus sungai Arlan, di mana air tawar yang jernih mulai mengalir menuju samudera.

Elias membawa keluarganya dari sebuah desa kecil di pinggir Mediterania. Ayahnya, seorang nelayan tua dengan tangan yang sama kasarnya dengan tangan Andi, berdiri terpana melihat kemegahan kanopi Borneo. Mereka membawa zaitun dan kain tenun biru laut, sementara warga Arlan menyiapkan anyaman rotan dan sajian hasil bumi.

"Dulu, Ayah membangun jembatan untuk menghubungkan dua tepi sungai," bisik Andi saat membantu Elias mengenakan rompi tenun khas Dayak untuk upacara. "Sekarang, kalian harus membangun jembatan yang menghubungkan hutan dan lautan."

Upacara itu dilakukan dengan cara yang unik. Siska menyerahkan sebuah botol berisi benih ulin terbaik, sementara ayah Elias menyerahkan sebuah guci kecil berisi air laut Mediterania. Arla dan Elias mencampurkan keduanya ke dalam sebuah wadah tanah liat, simbol bahwa sirkulasi kehidupan planet ini tidak mengenal batas geografi.

Lahirnya "Arlan Blue": Bisnis Restorasi Samudera

Setelah pernikahan itu, energi Arlan merambah ke wilayah yang belum pernah terjamah sebelumnya. Elias membawa keahlian biologinya, sementara Arla membawa kekuatan infrastruktur teknologi Arlan.

 * Arlan Reef-Genesis:

   Menggunakan teknologi 3D printing dari limbah kalsium, mereka menciptakan terumbu karang buatan yang strukturnya meniru pola akar ulin. Terumbu ini ditanam di muara-muara sungai yang rusak untuk mengembalikan populasi ikan.

 * Sistem Logistik Maritim Hijau:

   Elias merancang kapal-kapal nelayan bertenaga surya dan arus air, menggunakan adaptasi dari turbin Arlan Flow. Mereka menjalin bisnis dengan koperasi nelayan di pesisir, memastikan bahwa hasil laut dapat dipasarkan tanpa merusak ekosistem bawah air.

 * Audit Karbon Biru (Blue Carbon):

   Arlan menjadi lembaga pertama yang mampu menghitung secara akurat berapa banyak karbon yang diserap oleh hutan mangrove dan padang lamun. Bisnis jasa audit ini menjadi incaran negara-negara kepulauan yang ingin melindungi wilayah pesisir mereka.

Suatu malam di dermaga kayu yang baru dibangun, Elias dan Arla duduk bersandar menatap riak air yang memantulkan cahaya bulan.

"Kau tahu, Arla," ujar Elias sambil memutar cincin kayu gaharu yang kini melingkar di jarinya, "di negaraku ada pepatah: Masyarakat tumbuh besar ketika orang-orang tua menanam pohon yang mereka tahu mereka tidak akan pernah duduk di bawah naungannya."

Arla tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Elias. "Di sini, kita tidak hanya menanam pohon. Kita menanam masa depan agar laut tidak lagi merasa kesepian karena kehilangan hutannya."

Dari teras pondok atas, Siska dan Andi melihat dua bayangan itu menyatu dengan latar belakang hutan dan sungai. Mahesa, yang kini sudah benar-benar menetap di Arlan, bergabung dengan mereka membawa teko teh hangat.

"Siapa sangka, Ma?" tanya Siska pelan. "Dari sebuah mimpi untuk menyelamatkan satu petak hutan, sekarang kita sedang mencoba menyelamatkan satu planet."

Mahesa terkekeh, matanya yang sudah tua tetap menyiratkan kecerdasan yang sama. "Itulah sifat alami sebuah akar, Sis. Jika ia menemukan tanah yang subur, ia tidak akan pernah berhenti merambat."

Malam semakin larut. Bisnis Arlan kini telah menjelma menjadi sebuah imperium kebaikan yang menjangkau dari puncak gunung hingga ke palung terdalam. Sebuah bukti bahwa ketika cinta, teknologi, dan integritas bersatu, tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi.

Dunia mungkin masih panas di luar sana, tapi di Arlan, udara tetap sejuk, air tetap jernih, dan masa depan selalu punya cara untuk terus tumbuh.

Beberapa bulan setelah penyatuan dua dunia tersebut, Elias mengajak Arla untuk melakukan perjalanan "napak tilas" ke Mediterania. Namun, ini bukan sekadar perjalanan bulan madu; ini adalah misi diplomasi lingkungan pertama yang dilakukan oleh Arlan secara lintas benua.

Mereka tiba di sebuah desa nelayan tua di Yunani, tempat kelahiran Elias. Pemandangannya kontras dengan Arlan—bukannya hijau zamrud yang lembap, di sini adalah biru safir yang kering dan berbatu. Namun, masalahnya sama: ekosistem yang sekarat. Terumbu karang mati, dan ikan-ikan menghilang karena polusi serta pemanasan suhu laut.

"Ini adalah tantangan bisnis terbesar kita, Elias," ujar Arla saat melihat garis pantai yang kini dipenuhi sampah plastik dan sisa-sisa industri. "Kita akan menerapkan 'Arlan Way' di sini."

Menjalin Bisnis di Negeri Dewa-Dewa

Arla dan Elias tidak membawa modal uang yang besar, mereka membawa Sistem Koperasi Hijau. Mereka mendirikan "Arlan-Aegean Initiative".

 * Restorasi Padang Lamun:

   Mereka menggunakan teknik pembibitan bawah air yang diadaptasi dari cara Siska menyemai ulin. Lamun adalah penyerap karbon yang luar biasa. Bisnis ini didanai melalui penjualan kredit "Karbon Biru" kepada maskapai penerbangan Eropa yang ingin mengompensasi emisi mereka.

 * Pariwisata Regeneratif:

   Mereka mengubah kapal-kapal nelayan tua menjadi kapal penelitian wisata. Turis tidak lagi datang hanya untuk berjemur, mereka membayar untuk ikut menanam bibit karang buatan hasil cetakan Arlan Tech.

 * Kuliner Beretika:

   Arla menjalin kerja sama dengan restoran-restoran di Athena untuk hanya menyuplai hasil laut dari nelayan yang menggunakan turbin arus rendah dan alat tangkap ramah lingkungan milik Arlan.

Kepulangan dan Kelahiran Generasi Ketiga

Setelah setahun berada di Eropa, Arla dan Elias kembali ke Borneo dengan membawa segenggam benih zaitun dan botol air laut Mediterania yang baru. Kepulangan mereka disambut oleh tangis bayi yang pecah di tengah kesunyian pondok Andi.

Siska dan Andi kini resmi menjadi kakek dan nenek.

Anak laki-laki itu diberi nama Liman, sebuah nama yang dalam bahasa lokal berarti "pertemuan air", namun juga memiliki rima dengan nama-nama Yunani kuno. Liman adalah simbol sempurna dari ekspansi bisnis dan cinta yang melampaui batas benua.

Di usianya yang kini senja, Andi membuatkan sebuah ayunan bayi dari kayu ulin yang paling halus. Ia tidak lagi memahat kursi untuk CEO, tapi memahat masa depan untuk cucunya.

"Ndi," bisik Siska sambil memperhatikan Liman yang tertidur di pelukan Arla. "Bisnis kita sudah menjangkau samudera, tapi lihatlah... pada akhirnya semuanya kembali ke hal yang paling sederhana ini."

Andi mengangguk, menggenggam tangan Siska yang kini dipenuhi keriput namun tetap terasa hangat. "Bisnis Arlan akan terus tumbuh, Sis. Selama ada anak-anak seperti Liman dan Arla, hutan dan laut ini tidak akan pernah merasa sendirian lagi."

Mahesa, yang duduk di sudut ruangan sambil menyesap teh jahenya, tersenyum lebar. Ia melihat data di tabletnya: luas hutan yang berhasil dikembalikan oleh Arlan kini telah mencakup ratusan ribu hektar, dan ribuan hektar terumbu karang di Mediterania mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Arlan bukan lagi sebuah perusahaan atau sebuah desa. Arlan telah menjadi sebuah kesadaran kolektif global. Di bawah lindungan Si Mbah Jagat, sejarah baru terus ditulis—bukan lagi tentang bagaimana menyelamatkan dunia, tapi tentang bagaimana manusia akhirnya belajar untuk hidup sebagai bagian darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!