NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Sendirian?

Suara kursi bergeser, tawa pecah di berbagai sudut kelas. Dalam hitungan detik, suasana berubah jadi ramai—orang berdiri, saling panggil, ada yang langsung keluar, ada yang berkumpul.

Hana masih duduk di tempatnya. Ponselnya di tangan dengan layar yang menyala. Akan tetapi matanya… kosong.

“Han.”

Suara itu pelan. Tapi sudah cukup untuk membuat Hana menoleh sedikit. Arga sudah berdiri di samping mejanya.

“Keluar bentar.”

Singkat. Biasa. Tapi nadanya nggak bisa ditolak.

Hana diam sebentar. Lalu mengangguk kecil.

“Iya…”

Ia berdiri, meraih ponselnya, lalu mengikuti Arga keluar. Begitu melewati pintu,

“Tumben ya… sekarang berdua terus.”

“Dari pagi juga bareng.”

“Wah… cepet banget.”

“Tapi katanya dulu juga gitu nggak sih?”

“Tetep aja… dari SMP nggak berubah.”

“Tinggal nunggu yang satunya lagi aja…”

Tawa kecil. Nada setengah bercanda. Setengah nyindir. Langkah Hana sempat melambat. Sedikit. Tapi ia tetap jalan. Wajahnya datar. Seolah nggak dengar. Padahal dadanya terasa berat.

“Masih sama,” gumamnya dalam hati.

Arga melirik ke arah suara itu. Tatapannya tajam sebentar. Tangannya mengepal erat. Tapi ia tetap diam.

Mereka berhenti di lorong dekat tangga. Agak sepi. Hana bersandar ke dinding, menghela napas pelan. Arga langsung ke inti topik.

“Pesannya masih?”

Hana membuka ponsel. Menunjukkan layar. Arga mendekat.

“Makin sering…” gumamnya. “Ini udah berapa kali?”

“Begitulah,” jawab Hana pelan. “Dari semalam.”

Arga mengangguk kecil. “Dia tahu kamu di sekolah, dan bahkan tahu kondisi kamu.”

Hana menunduk. “Iya…”

Hening sebentar. “Menarik.”

Suara baru masuk. Nada yang santai. Hana dan Arga langsung menoleh. Kenzo sudah berdiri di ujung lorong. Seolah sudah lama di situ.

“Atau aku yang nggak diajak?” lanjutnya ringan.

Hana sedikit kaget. “Kakak dari kapan…?”

“Lumayan,” jawab Kenzo. “Dari sebelum kalian mulai serius.”

Arga langsung mendecih. “Nguping ya.”

Kenzo jalan mendekat. “Pengamatan, beda tipis."

“Bedanya jauh,” balas Arga cepat.

Kenzo berhenti di dekat mereka. “Kalau kamu ngomong keras, itu bukan rahasia lagi.”

Arga menatapnya datar. “Ini bukan urusan lo.”

“Sekarang jadi,” jawab Kenzo santai. “Dia bilang ‘nggak sendiri’. Berarti aku juga termasuk.”

Hana menegang sedikit. Arga meliriknya lagi.

“Jangan asal masuk.”

Kenzo menghela napas pelan. “Relax. Aku cuma lihat pola.”

Hana ragu sebentar, lalu tetap menyerahkan ponselnya. Kenzo membaca. Ekspresinya berubah menjadi lebih fokus.

“Dia pakai kata mengancam,” gumamnya. “Berarti dia bakal merencanakan sesuatu."

Arga melirik. “Maksud?”

“Dia itu bukan cuma asal ngomong” jawab Kenzo. “Dia udah lama rencanain ini semua."

Hana menegang. “Jadi yang kemarin itu belum selesai?"

Kenzo mengangkat bahu. “Kemungkinan besar begitu."

Hening. Angin masuk pelan. Arga melipat tangan.

“Nomornya nggak jelas,” katanya. “Aku udah cek.”

Kenzo mengangguk. “Ya, jelas dia nggak bodoh.”

Arga langsung menatap tajam. “Lo ngerti banyak ya.”

Kenzo menoleh santai. “Cukup.”

“Cukup buat ikut campur?”

“Cukup buat nggak diem.”

Arga menghela napas kasar. “Lo tuh selalu gini ya.”

Kenzo mengangkat alis. “Gimana?”

“Datang, sok tau, terus nganggep semua hal harus lewat lo.”

Kenzo tersenyum tipis. “Kalau aku nggak tau, aku nggak bakal ngomong.”

“Emang sekarang lo tau?” nada Arga naik sedikit.

Kenzo mendekat setengah langkah. “Lebih dari lo kira.”

Hana langsung melirik mereka berdua. Suasana mulai panas.

Arga menyeringai tipis. “Ketua OSIS punya banyak waktu luang ya.”

Hening. Kenzo diam sebentar. Lalu tertawa kecil. “Ah. Akhirnya keluar kata-kata andalannya."

“Jawab,” kata Arga.

Kenzo memasukkan tangan ke saku. “Kalau aku bilang aku sibuk, kamu bakal bilang aku sok penting.” Dia terkekeh pelan “Kalau aku bilang aku santai, kamu bakal bilang aku nggak guna.”

Ia menatap Arga. “Jadi aku pilih jujur aja.”

“Yang mana?” tanya Arga dingin.

“Aku di sini karena aku mau.”

Sunyi. Arga menyipitkan mata. “Dan itu alasan lo?”

Kenzo mengangguk kecil. “Iya.”

“Kenapa?” tekan Arga.

Kenzo menatap Hana sebentar. Lalu balik lagi.

“Karena ini bukan hal kecil.” Arga langsung membalas,

“Atau lo cuma nggak suka ketinggalan?”

Kenzo tersenyum tipis. “Lo selalu mikir kompetisi ya.”

“Gue realistis.”

“Enggak,” Kenzo menggeleng. “Lo defensif.”

Arga maju sedikit. “Ulangin.”

Kenzo tetap santai. “Lo defensif.”

Hana langsung angkat suara, “Cukup!"

“Dia tiba-tiba muncul, Ga,” lanjut Kenzo, mengabaikan ucapan Hana “Dan lo langsung pasang batas. Kenapa?”

Arga menatap tajam. “Karena gue nggak percaya orang yang datang tiba-tiba.”

Kenzo mengangguk pelan. “Fair.” “Jadi jaga jarak aja." Lanjut Kenzo tenang.

“Dari tadi juga udah.”

Hening. Arga diam beberapa detik. Lalu menghela napas. "Jangan campurin masalah pribadi ke orang yang nggak ada kaitannya.”

Kenzo mengangkat tangan sedikit. “Deal.”

Hana menghela napas pelan. “Fokus ke ini aja…” katanya.

Mereka akhirnya diam. Hana menatap layar lagi. Pesan baru itu masih di sana.

"Ini bahkan belum dimulai, kok udah nyerah?"

Tangannya sedikit gemetar. "Dia mengawasi aku” gumamnya.

Arga langsung waspada. Matanya menyapu lorong. “Dari mana?”

Kenzo ikut menoleh ke sekitar. Tatapannya lebih tajam sekarang.

“Entah,” katanya pelan. “Tapi satu hal pasti…” Ia berhenti sebentar. “…dia lagi ada di sini.”

1
Ran
jahad bener orang orang tuh ya kalw iri
Ran
duh Hana, jangan kebanyakan insecure dong
Bunga Ros
maaf thoooorrr kurang berbobot judulnya apa isinya apa 😄😄😄
Ran: rasanya sih nyambung2 aja ke alurnya, cuman ya agak kompleks ceritanya menurut gw. bukan cuma bahas soal cantik doang kan ad di deskripsi novelny
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!