NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan dari lantai dua

“Selamat pagi, semuanya!” teriak Rania dari arah tangga dengan suara yang cukup keras.

Rhea yang sedang sarapan langsung menatapnya sinis. Tanpa banyak bicara, ia melemparkan garpu ke arah adiknya. Namun dengan sigap Rania menangkapnya di udara, lalu tersenyum puas.

“Ini bukan hutan, Rania,” ucap Rhea kesal.

Rania hanya tercengir, lalu berjalan santai dan duduk di samping kakaknya.

“Biar suasana pagi ini gak membosankan, Kak,” jawab Rania dengan nada dramatis.

Rhea menatapnya malas, seolah sudah terbiasa dengan tingkah adiknya, lalu kembali melanjutkan sarapannya tanpa menanggapi lagi.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Terlihat Radit dan Raisa turun bersama sambil saling berpegangan tangan.

“Pagi, kesayangan,” sapa Radit dan Raisa.

“Pagi, Mom, Dad,” balas kedua putrinya hampir bersamaan.

Radit dan Raisa kemudian duduk di meja makan. Seperti biasa, Raisa langsung melayani suaminya.

“Ini kopinya, Mas.”

“Terima kasih, sayang,” balas Radit lembut.

Setelah itu, tatapan Radit beralih pada Rania.

“Bagaimana sekolah kamu?”

“Aman, Dad,” jawab Rania singkat.

“Gak ada masalah, kan?”

Rania sempat terdiam sejenak, lalu menatap ayahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa Daddy tahu masalah aku dengan Adrian?

“Nggak ada, Dad,” jawabnya akhirnya.

Radit mengangguk pelan. “Baguslah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita pada Daddy atau Mommy.”

Rania mengangguk sebagai jawaban.

Tak lama kemudian, tatapan Radit beralih pada putri sulungnya.

“Bagaimana kerjaan kamu?”

“Lancar, Dad,” jawab Rhea singkat.

“Ingat ya, kamu cuma punya waktu satu tahun.”

“Iya-iya, Dad. Sudah ribuan kali Daddy kasih tahu aku,” keluh Rhea dengan nada sedikit kesal.

Beberapa saat kemudian, mereka kembali melanjutkan sarapan dengan suasana yang cukup santai.

Setelah semuanya selesai, masing-masing mulai bersiap dengan rutinitas mereka.

“Hati-hati,” pesan Raisa pada kedua putri dan suaminya yang sudah bersiap berangkat.

~~

Rania mengendarai motornya dengan kecepatan sedang di jalanan pagi yang cukup ramai. Udara pagi terasa sejuk, dan suasana terlihat cukup bersahabat.

Tiba-tiba terdengar suara klakson dari sampingnya.

Bim! Bim! Bim!

Rania menoleh ke arah suara itu.

Ternyata Revano sedang berkendara tepat di sampingnya.

Rania hanya menatapnya sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.

Revano melajukan motornya sejajar dengan Rania.

“Pagi,” ucapnya singkat dari balik helm.

Rania melirik sekilas. “Pagi.”

Beberapa detik mereka berkendara berdampingan tanpa bicara.

“Lo biasa lewat sini?” tanya Revano.

“Iya.”

“Sendiri?”

Rania mengangkat alis sedikit. “Emangnya kenapa?”

Revano menatap lurus ke jalan. “Nggak. Nanya aja.”

Lampu merah di depan membuat mereka berhenti. Motor keduanya kini berdampingan.

Rania menoleh sedikit. “Lo ngikutin gue?”

Revano menoleh santai.

“Jalan gue juga lewat sini.”

Rania hanya mengangguk kecil, tidak memperpanjang.

Lampu berubah hijau.

Mereka kembali melaju. Namun kali ini Revano tetap mempertahankan motornya di samping Rania, seolah sengaja memastikan gadis itu baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian gerbang sekolah terlihat di depan.

Revano memarkir motornya, begitu juga Rania.

Baru saja Rania melepas helmnya, beberapa siswi langsung berbisik-bisik.

“Eh itu Revano sama Rania barengan?”

“Seriusan?”

“Sejak kapan mereka dekat?”

Rania mengabaikan semuanya. Ia mengambil tasnya dan mulai berjalan menuju kelas.

Namun baru beberapa langkah, suara Revano terdengar dari belakang.

“Ran.”

Rania berhenti lalu menoleh.

Revano berdiri santai dengan satu tangan di saku celana.

“Kalau mantan lo ganggu lagi,” ucapnya datar, “bilang ke gue.”

Rania menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Gue masih bisa urus sendiri.”

Revano tidak terlihat tersinggung. Justru sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Gue tau.”

“Gue cuma nawarin.”

~~

“Gue gak salah lihat, kan?” ucap Bunga sambil menggosok matanya, seolah ingin memastikan apa yang ia lihat benar.

Balqis yang berdiri di dekatnya menatap heran melihat tingkah sahabatnya itu.

“Lo lihat apa memang?” tanyanya bingung.

Bunga langsung menunjuk ke arah parkiran sekolah.

“Tuh sana, Rania dan Revano barengan datang,” ucapnya antusias.

Balqis pun mengikuti arah yang ditunjuk Bunga. Ia melihat dua orang yang baru saja memarkir kendaraan mereka di area parkiran.

“Terus apa hubungannya? Mungkin kebetulan aja kali. Lebay lo,” ucap Balqis santai.

Bunga langsung menggeleng.

“Bukan gitu, Qis. Revano itu punya parkiran khusus di sekolah ini. Dia gak biasa di parkiran biasa. Dan ini pertama kalinya dia muncul di sini. Biasanya dia punya jalan lain tanpa harus lewat depan,” jelas Bunga dengan nada yakin.

Balqis menatapnya dengan alis terangkat.

“Lo tau semua tentang dia?”

Bunga mengangguk sambil tercengir lebar.

“Gue kan masuk group Most Wanted sekolah.”

Balqis langsung menghela napas panjang. Ia hampir lupa kalau sahabatnya yang satu ini memang sedikit berbeda dari yang lain, terutama kalau sudah menyangkut hal-hal seperti ini.

“Qis, kalau dilihat-lihat Rania dan Revano cocok ya,” ucap Bunga lagi sambil memperhatikan mereka dari kejauhan.

“Lo gak cemburu? Secara kan lo kagum sama Revano?” tanya Balqis.

Bunga menggeleng pelan.

“Kagum belum tentu suka, Qis,” jawabnya santai.

Balqis menatap Bunga sebentar, lalu kembali menghela napas panjang.

“Ya sudah, terserah lo deh,” ucapnya malas.

Setelah mengatakan itu, Balqis berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.

“Eh! Qis!” panggil Bunga cepat.

Namun Balqis tidak berhenti.

“Tungguin gue, Qis!” teriak Bunga lagi sambil berlari kecil menyusul sahabatnya.

~~

Saat Rania masuk ke dalam kelas, suara bising langsung menyambutnya. Para siswa terlihat saling melempar canda dan tawa satu sama lain, membuat suasana kelas terasa ramai dan penuh kegaduhan.

Rania sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti ini di kelasnya. Tanpa terlalu memedulikan keributan itu, ia berjalan santai menuju bangkunya.

Di samping bangkunya, Clara terlihat sedang mencatat sesuatu dengan sangat serius di buku miliknya. Setiap kali Rania melihat Clara, gadis itu hampir selalu sibuk menulis.

“Lo nulis apaan, Cla?” tanya Rania penasaran.

Clara menghentikan aktivitasnya, lalu mendongak menatap Rania.

“Lo tanya gue, Ran?” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Rania mengangguk.

“Iya, emang salah?”

“Gak salah sih, cuma cukup kaget aja, hehe,” jawab Clara sambil tersenyum kecil. “Oh ya, gue lagi nulis novel.”

“Novel?”

“Iya, Ran. Hobi gue nulis novel.”

Rania mengangguk pelan. Ia akhirnya tahu kalau Clara punya hobi menulis.

Tak lama kemudian, dua orang masuk ke dalam kelas.

“Hai, guys,” ucap Lara dan Bintang hampir bersamaan saat memasuki ruangan.

Rania menoleh sekilas ke arah mereka lalu hanya mengangguk sebagai balasan.

Tiba-tiba ketua kelas berdiri di depan.

“Hari ini semua guru gak masuk, lagi rapat. Jadi kita bisa bebas,” ucapnya.

Seketika kelas menjadi semakin heboh. Beberapa siswa langsung bersorak, sementara yang lain mulai merencanakan kegiatan mereka sendiri.

“Kantin yuk, Ran?” ajak Bintang.

“Gue lagi mager, Bin,” jawab Rania santai.

Bintang mendecak pelan. “Ya udah, gue sama Lara ke kantin dulu.”

Rania mengangguk kecil. “Titip air mineral.”

Ia merogoh saku tasnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya pada Bintang.

Namun Bintang justru menepis tangan Rania.

“Udah, gak usah.”

Rania mengernyit. “Kenapa?”

“Air mineral doang, Ran. Nanti gue beliin.”

Rania tetap menyodorkan uangnya. “Ambil aja.”

Bintang menggeleng sambil mundur satu langkah. “Serius, gak usah. Anggap aja traktiran.”

Lara yang berdiri di samping mereka ikut menimpali sambil tertawa kecil. “Sekali-sekali biarin Bintang yang baik, Ran.”

Rania menatap mereka berdua beberapa detik, lalu akhirnya memasukkan kembali uangnya ke dalam tas.

“Terserah.”

“Gitu dong,” ucap Bintang puas.

Lara dan Bintang kemudian keluar dari kelas menuju kantin.

Rania kembali duduk santai di bangkunya, sementara Clara di sampingnya sudah kembali tenggelam dalam tulisan novelnya.

Suasana kelas semakin bising, membuat Rania mulai merasa sedikit terganggu. Ia menghela napas pelan, lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari kelas.

Langkahnya yang teratur membawa Rania menuju taman sekolah, menjauh dari suasana kelas yang riuh.

Di taman, Rania berhenti sejenak. Ia menikmati udara yang terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang berembus pelan, membuat helaian rambutnya bergerak mengikuti arah angin.

Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya.

Revano berdiri bersandar pada dinding koridor lantai dua. Tatapannya tertuju pada sosok Rania yang tampak sendirian di taman.

Rambut gadis itu bergerak pelan tertiup angin, sementara wajahnya tetap menampilkan ekspresi datar seperti biasanya.

Revano menatapnya cukup lama.

“Menawan…” gumamnya pelan.

Entah kenapa, Rania selalu terlihat berbeda di mata Revano. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tapi juga karena sikapnya yang tenang dan tidak peduli pada sekitar.

Revano menyilangkan kedua tangannya di dada.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Semakin menarik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!