NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Sang Sultan dan Jawaban dari Sebuah Tamparan

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, tapi Wahyu masih berguling ke sana kemari di atas kasurnya, tidak bisa tidur.

Pertama, membuang waktu sehari semalam di sini, entah berapa banyak masalah yang sudah menumpuk di meja kerja Grup Adiyaksa. Kedua, karena kemarin dia sempat berdebat dan bertengkar dengan Raka, membuat batinnya merasa sedikit bersalah.

Lagipula, Raka sekarang berstatus sebagai orang sakit, pasien dengan kondisi mental yang sedang stres berat.

Karena tidak bisa memejamkan mata, Wahyu akhirnya memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan mencari udara segar.

Menyusuri lorong sanatorium, langkah kakinya tanpa sadar berhenti tepat di depan pintu kamar Raka.

TOK! TOK! TOK! Dia mengetuk pintu tiga kali.

"Bos? Gue salah, maafin gue ya," Wahyu menundukkan kepalanya, bersiap untuk mengakui kesalahan dan berdamai. "Bang Raka? Gue masuk ya?"

Melihat tidak ada jawaban dari dalam setelah sekian lama, sebersit rasa khawatir mulai menjalar di dada Wahyu.

Sesaat kemudian, dia langsung menekan handle dan mendorong pintu itu masuk. Namun, yang menyambut pandangannya hanyalah tempat tidur yang sudah dirapikan dengan sempurna dan lantai yang dipel hingga mengkilap.

"What?! Dia kabur dari rumah sakit?!"

Wahyu seketika panik dan emosi. Dia segera memanggil semua petugas satpam jaga untuk memeriksa rekaman CCTV.

Di saat yang bersamaan, dia juga berlari mengecek kamar rawat Bella Anindya. Sesuai dugaannya, hasilnya sama saja. Kamar itu kosong melompong.

"Sialan, kenapa gue nggak kepikiran ke arah sana dari semalem?!"

Wahyu merutuki kebodohannya sendiri. Dia mengingat kembali saat dia sedang sibuk meladeni omong kosong Vino Pratama di luar gerbang, dia sempat melihat ada perubahan ekspresi halus di wajah Raka.

Sayangnya, waktu itu dia sudah terlalu mengantuk dan kelelahan, jadi Wahyu tidur dengan harapan semua akan baik-baik saja. Tidak disangka, hal absurd semacam ini benar-benar terjadi!

"Ada apa ini?!"

Mendengar keributan yang heboh dari arah bangsal, Vino Pratama beserta pengawalnya ikut bergegas datang menyusul.

Wahyu hanya merentangkan kedua tangannya dengan wajah lelah, memberikan isyarat bahwa dirinya tidak tahu-menahu ke mana Raka pergi.

Menatap tempat tidur yang kosong itu, Vino Pratama langsung menjerit histeris bak orang kesetanan: "Raka Adiyaksa! Lo culik ke mana istri gue?!"

"Ehem," Wahyu terbatuk pelan, menyindirnya dengan ketus. "Nggak usah ngaku-ngaku deh. Belum tentu juga dia bakal jadi istri lo."

"Gue nggak peduli! Orangnya ilang di rumah sakit lo, jadi pihak lo harus tanggung jawab penuh buat nemuin dia!" Vino yang tidak punya cara lain, kembali mengulangi jurus ngamuk tidak masuk akalnya.

"Bangsat, lo pikir gue lagi nyariin siapa?! Lo pikir gue lagi ngebantuin elo?!" Wahyu balas menyemprotnya dengan penuh amarah. "Gue lagi nyari bro gue, si Raka!"

Sekalipun Vino tidak membuat keributan di sini, Wahyu pastinya akan tetap bertanggung jawab untuk melacak dan menemukan mereka berdua.

Bagaimanapun juga, dengan kondisi mental Raka yang sedang labil dan penuh penyesalan, membiarkannya menyetir supercar dan keluyuran membelah jalanan Jakarta benar-benar membuat Wahyu merasa sangat waswas.

"Bos nggak punya hati nurani emang. Udah segede gaban tapi kelakuan masih kayak bocah tiga tahun. Ada masalah dikit aja langsung kabur minggat dari rumah, nggak mikir apa kalau kelakuannya ini bikin orang lain panik!" gerutu Wahyu dengan suara pelan.

Raka belakangan ini memang menjadi semakin sembarangan dan impulsif, semua tindakannya sama sekali tidak bisa diukur dengan logika orang normal.

Wahyu awalnya mengira dia sudah sangat mengenal seluk-beluk bosnya itu, tapi sekarang, dia semakin merasa tidak bisa menebak isi kepala Raka.

Setelah mengecek ruang keamanan, rekaman CCTV ternyata tidak memberikan banyak informasi yang berguna. Kamera hanya merekam adegan di mana Raka membopong Bella masuk ke dalam mobil sport-nya di tengah malam, lalu melesat kabur menembus gerbang.

Wahyu sadar diri, dia jelas tidak punya kapasitas dan resource untuk menyisir seluruh sudut kota Jakarta hanya demi mencari satu mobil.

Jadi, dia langsung teringat pada Inspektur Kepolisian yang meninggalkan nomor teleponnya tempo hari. Tapi... kalau baru sehari sudah kembali merepotkan polisi, rasanya agak tidak enak dan bisa memperbesar skala masalah.

Setelah berpikir sejenak, Wahyu akhirnya memutar sebuah nomor yang memiliki kekuatan jauh lebih besar.

"Bang Albert, si Raka ngilang."

"Hah? Dia kabur gara-gara nunggak gaji lo? Tenang aja, Dek, biar gue yang cari dan hajar dia nanti!" jawab Albert Kusuma dari seberang sana.

"Bukan gitu, Bang. Kondisi mentalnya sekarang tuh lagi labil banget. Dia bawa lari pacarnya entah kabur ke mana. Harusnya kan mereka berdua masih stay di rumah sakit sanatorium ini. Abang paham kan bahayanya?"

"Oh, jadi gitu ceritanya. Oke, lo jangan panik. Pasien RS Sanatorium kabur... gue bakal langsung kerahin orang buat bantu lo nyari sekarang juga!"

Begitu Albert Kusuma mendengar bahwa Raka sedang memiliki masalah mental/stres, dia langsung antusias. Ini jelas berita yang sangat besar! Kalau sampai Bos Grup Adiyaksa tertangkap kamera media sedang keluyuran seperti orang linglung, efeknya pasti bakal sangat bombastis di pasar saham.

Tapi tentu saja, untuk saat ini, mengamankan "elemen berbahaya" yang nekat membawa lari pasien koma ini adalah prioritas yang paling krusial.

Maka dari itu, Albert tanpa membuang waktu langsung mengerahkan dua puluh bodyguard VIP-nya untuk menyisir seluruh kota melacak keberadaan mobil Raka. Para pengawal Keluarga Kusuma ini bukanlah kacung kaleng-kaleng, mereka semua adalah personel profesional yang sangat terlatih, efisiensi kerja dan jaringannya bahkan tidak kalah jauh dari aparat kepolisian.

"Kalian ikut gue sekarang." Wahyu juga tidak berniat diam saja menunggu. Dia menarik Vino Pratama dan pengawalnya untuk ikut masuk ke pusat kota mencari Raka.

"Apa perlu gue telpon bokap gue sekalian?" Vino Pratama mendengus kesal dan tidak terima disuruh-suruh. "Anak buah bokap gue pasti kerjanya lebih cepet dari pada lo!"

"Mending nggak usah deh," tolak Wahyu tajam. "Emangnya apa untungnya buat lo kalau lo sampe bikin Raka makin marah?"

"Dengan kondisi Raka yang udah kayak orang gila sekarang, emang lo pikir gue takut nyinggung dia?" balas Vino pongah.

Wahyu memutar badannya, menatap Vino lekat-lekat dari balik kacamatanya. "Terus... gimana kalau lo nyinggung gue?"

"Ah, itu..."

Mendapat tatapan intimidasi dari Wahyu, Vino seketika kicep. Dia sadar betul situasinya sekarang. Wahyu saat ini bukan sekadar 'Asisten Raka', tapi dia sudah resmi diakui sebagai sepupu dan bagian dari klan Keluarga Kusuma! Mencari masalah dengan Wahyu sama saja dengan menantang murka Albert Kusuma.

Menimbang risiko itu, Vino akhirnya memilih untuk menelan gengsinya dan tutup mulut.

Sementara itu...

Di sebuah vila liburan (Resor Mewah) yang terletak di lereng bukit pinggiran kota.

Raka sedang duduk bersandar di tepi tempat tidur yang empuk, dengan lembut membaringkan kepala Bella di atas pangkuannya.

"Huft... akhirnya berhasil lolos juga dari gerombolan orang berisik itu."

Tempat ini sama sekali tidak asing bagi mereka berdua. Dulu, mereka pernah mendaki anak tangga batu dan melihat matahari terbit (sunrise) bersama di puncak bukit wisata ini. Di dalam perut bukit ini terdapat deretan apartemen liburan super mewah yang disembunyikan, dan kamar yang mereka tempati saat ini adalah salah satunya.

"Gue inget lo pernah bilang kalau lo suka tempat ini... tapi nggak tau deh omongan lo itu murni beneran atau cuma bohong," gumam Raka pelan sambil membelai rambut Bella.

"Kalau emang beneran suka, please cepetan bangun ya. Kita hari ini masih punya banyak waktu buat nonton matahari terbenam (sunset) bareng-bareng."

Raka membisikkan kata-kata itu dengan sangat lembut ke telinga Bella.

"Eh?"

Tiba-tiba, mata Raka menangkap gerakan kecil. Dia melihat jari tangan Bella bergerak sedikit. Raka mengerjap, mengira matanya sedang berhalusinasi karena kurang tidur, jadi dia mengucek kedua matanya. "Oh... beneran cuma halusinasi gue doang rupanya."

Jari tangan itu memang tidak bergerak lagi. Namun, Raka sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah sana, kedua mata gadis itu ternyata sudah terbuka sedikit, dan saat ini sedang menatapnya lekat-lekat dalam diam.

Alasan mengapa Raka tidak bisa melihat mata Bella yang terbuka adalah karena dia sedang membaringkan kepalanya dan terhalang oleh posisi jatuhnya rambut Bella di pangkuannya.

"Aduh!"

Entah dari mana asalnya, wajah Raka tiba-tiba merasakan sensasi panas dan perih yang menyengat dengan sangat cepat.

PLAK!

Oh, ternyata dia baru saja ditampar.

"Siapa yang berani nampar gue?!" Raka langsung emosi dan bersiap meledak. Namun, saat dia menunduk, dia langsung tertegun kaku.

Bella Anindya sedang menatapnya dengan dada yang naik-turun dan sorot mata yang menyiratkan amarah luar biasa.

"Bella? Kakak Senior... lo... lo udah sadar?!"

Raka begitu emosional dan bahagia hingga dua baris air mata langsung mengalir membasahi pipinya tanpa bisa ditahan.

Namun balasannya...

PLAK!

Dia justru kembali menerima tamparan kedua di pipi kirinya.

"Lo ngapain nampar gue lagi sih?"

Baru saja Raka ingin menuntut penjelasan, dia langsung tersadar dan menelan kembali semua protesnya. Dia ingat bahwa wanita di depannya ini sampai rela meminum obat dan kopi pahit hingga koma murni karena kesalahannya yang fatal.

Dengan nada merendah, sangat lembut, dan penuh kepasrahan, Raka berkata, "Kakak Senior, tampar aja gue. Kalau lo mau nampar gue, tampar aja terus. Lo bebas ngelakuin apa aja buat ngehukum gue, gue pantes nerimanya."

Namun, Bella yang baru saja terbangun dari tidur koma yang sangat panjang, lengannya masih sangat lemah dan rapuh. Dua tamparan barusan sebenarnya sama sekali tidak terasa sakit bagi Raka.

"Lo bikin gue takut," suara Bella terdengar sangat serak dan datar, tanpa memancarkan emosi apa pun.

Raka dengan sigap langsung meraih gelas air mineral hangat di meja nakas. "Nih, Kak. Minum airnya dulu pelan-pelan."

Bella tidak menolak, karena dia memang sangat kehausan. Selama beberapa hari berbaring tak sadarkan diri, bahkan dalam alam bawah sadarnya pun dia bisa merasakan betapa kering kulit dan kerongkongannya.

Setelah minum beberapa teguk, Bella kembali menatap pria di depannya.

"Kenapa lo jadi berantakan gini sih? Lo sekarang kelihatan jelek banget tau nggak." Bella berkata dengan suara serak yang memancarkan campuran rasa kesal dan iba.

"Junior Raka, siapa yang berani bikin lo jadi sehancur ini?"

Raka awalnya ingin menjawab dengan nada bercanda, "Itu semua kan gara-gara elo". Tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.

Sebagai gantinya, dengan tatapan yang sangat dalam dan lembut, Raka menjawab singkat: "Ini semua... karena cinta."

"Cinta?" Alis Bella langsung bertaut, insting protektifnya menyala waspada. "Lo... udah jadian punya pacar baru?"

Raka hanya tersenyum tipis dan tidak memberikan kepastian.

Mata Bella seketika memerah menahan tangis. Dengan sisa tenaga yang ada, dia meronta dan berusaha beringsut pergi menjauh dari Raka.

"Kalau lo emang udah jadian sama pacar baru lo, terus ngapain lo bawa-bawa gue nginep ke tempat ini segala?! Maksud lo apa?! Mau pamer?!"

Raka tidak membiarkan gadis itu pergi. Dia dengan cepat menarik tubuh ramping itu dan mendekapnya erat-erat dalam pelukannya.

Tanpa membuang waktu, Raka menunduk dan langsung mengunci bibir tipis gadis itu dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut.

Napas mereka seketika saling beradu dan berbaur. Hembusan napas yang hangat dan memabukkan, memancarkan aroma manis bagai bunga anggrek yang sedang mekar di tengah malam.

Setelah melepaskan tautan bibir mereka perlahan, Raka menatap mata Bella yang masih melebar karena shock, lalu berbisik pelan.

"Lo bersedia nggak jadi pacar gue?"

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!