Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Sekte Besar Mulai Mencari Goo Yoon
Matahari terbenam perlahan di balik pegunungan, menebarkan cahaya jingga ke seluruh hutan. Goo Yoon berdiri di tepi tebing tinggi, menatap ke bawah di mana lembah terbentang luas. Ia baru saja menyelesaikan sesi latihan intensif Teknik Pedang Langit bersama Han Seol. Tubuhnya lelah, namun jiwanya terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Han Seol duduk di sebuah batu besar, tersenyum tipis sambil menatap pemuda itu. “Hari ini kau telah memahami gerakan dasar dari Teknik Pedang Langit. Tapi ingat, ini baru permulaan. Di luar sana, dunia para pendekar tidak akan menunggu kita bersiap.”
Goo Yoon mengangguk pelan. Ia masih mencoba mencerna semua yang telah dipelajari—setiap gerakan, setiap arus energi yang mengalir di tubuhnya, dan setiap filosofi di balik teknik keluarga Pedang Langit.
“Tapi guru Han,” tanya Goo Yoon, “apakah orang-orang dari sekte lain sudah tahu tentang darahku? Tentang warisan keluarga Pedang Langit?”
Han Seol menatapnya serius. “Mereka pasti tahu. Sekarang kau mulai muncul dalam kabar burung para pendekar. Kekuatanmu, pertarunganmu melawan Kang Dae-Rin, dan energi yang bangkit dalam tubuhmu… Semua itu menjadi berita yang menyebar cepat.”
Goo Yoon menelan ludah. Ia menyadari bahwa pertarungan terakhirnya dengan Kang Dae-Rin bukan hanya sekadar duel biasa. Keberhasilannya mengalahkan seorang pendekar inti Sekte Naga Hitam telah menarik perhatian banyak pihak.
“Jadi itu sebabnya aku merasa ada mata-mata yang mengawasi,” gumam Goo Yoon. “Aku tidak salah perasaan selama ini.”
Han Seol mengangguk. “Benar. Sekarang kau harus bersiap. Sekte besar mulai bergerak. Mereka akan mencoba menemukanmu, dan kemungkinan besar, mereka tidak akan datang dengan damai.”
Goo Yoon memandang ke lembah yang luas, merasakan ketegangan yang perlahan menyelimuti hatinya. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Dunia para pendekar tidak hanya tentang latihan dan pertarungan—tapi juga intrik, perebutan kekuatan, dan rahasia yang terkubur selama berabad-abad.
Tiba-tiba Han Seol berdiri. “Mari kita mulai persiapan berikutnya. Aku akan mengajarkanmu cara membaca aura lawan, serta bagaimana mengendalikan energi dalam pertarungan lebih efektif. Kekuatanmu sekarang masih mentah, dan musuh-musuh di luar sana akan memanfaatkan setiap kelemahanmu.”
Goo Yoon mengangguk, mengikuti langkah guru tua itu. Mereka berjalan menyusuri tebing ke arah sebuah gua tersembunyi, yang menjadi tempat latihan rahasia keluarga Pedang Langit. Gua itu cukup luas, dengan dinding berlapis batu hitam yang memantulkan cahaya bulan, menciptakan suasana mistis.
“Di sinilah kau akan belajar memahami energi lawan,” kata Han Seol sambil menunjuk ke dinding gua. “Energi setiap orang berbeda. Musuh yang kuat akan meninggalkan jejak energi yang khas, dan jika kau bisa membacanya, kau bisa mengantisipasi gerakan mereka bahkan sebelum mereka menyerang.”
Goo Yoon menatap serius, memusatkan seluruh perhatiannya. Ia menutup mata dan mulai merasakan aliran energi di sekeliling gua. Awalnya sulit. Energi dari alam sekitar bercampur dengan aura lawan yang samar, membuatnya hampir kehilangan fokus. Namun perlahan, dengan bimbingan Han Seol, ia mulai memisahkan setiap aliran energi, mengenali pola dan intensitas yang berbeda.
“Bagus,” puji Han Seol. “Kau mulai memahami. Sekarang, bayangkan bahwa setiap serangan bukan hanya serangan fisik, tapi juga manipulasi energi. Pedangmu bukan hanya untuk menebas, tapi untuk membaca, merasakan, dan mengontrol aliran itu.”
Sesi latihan itu berlangsung berjam-jam. Setiap tebasan, setiap gerakan, membuat Goo Yoon semakin peka terhadap energi lawan. Ia mulai merasakan kekuatan yang sebelumnya tersembunyi dalam tubuhnya berinteraksi dengan energi luar, menciptakan keselarasan yang membuatnya lebih cepat dan lebih presisi.
Ketika malam tiba, Goo Yoon duduk termenung di ujung gua. Tubuhnya lelah, namun pikiran dan nalurinya terasa lebih tajam.
“Guru Han,” kata Goo Yoon perlahan, “apakah sekte besar itu… akan datang segera?”
Han Seol menatap pemuda itu dengan mata tajam. “Tidak ada yang bisa dipastikan. Tapi aku bisa merasakan bahwa beberapa dari mereka sudah mulai bergerak. Sekte Naga Hitam, Sekte Bayangan Hitam, bahkan beberapa sekte tua yang selama ini tersembunyi… Mereka semua mengincarmu. Mereka ingin memastikan bahwa darah Pedang Langit tidak akan bangkit lagi, atau jika bangkit, harus berada di bawah kendali mereka.”
Goo Yoon menelan ludah. Ia merasa beban yang baru saja ia pahami semakin berat. Kekuatan yang bangkit dalam tubuhnya bukan hanya sebuah anugerah, tapi juga alasan mengapa banyak pihak ingin menyingkirkannya.
“Tapi aku tidak akan mundur,” gumamnya dalam hati. “Aku harus tahu kebenaran tentang keluargaku… dan aku harus menjadi kuat agar tidak ada yang bisa mengancamku atau orang-orang yang kucintai.”
Han Seol tersenyum tipis. “Itulah semangat yang benar. Tapi ingat, dunia para pendekar bukan hanya tentang kekuatan fisik. Kau harus belajar strategi, pengamatan, dan bagaimana bertahan hidup dalam intrik yang mungkin lebih berbahaya daripada pedang manapun.”
Malam itu, Goo Yoon memandang ke langit yang dipenuhi bintang. Ia merasa bahwa perjalanan sejatinya baru dimulai. Sekte besar mulai mencari, musuh mulai bergerak, dan rahasia keluarganya semakin menuntut jawaban.
Namun dalam hatinya, ada tekad yang membara. Ia tidak akan takut. Ia tidak akan mundur. Goo Yoon akan menguasai Teknik Pedang Langit, mempelajari rahasia darahnya, dan menghadapi setiap ancaman yang muncul.
Di kejauhan, di balik bayangan gunung lain, beberapa sosok mulai bergerak cepat. Mata mereka tajam, penuh tujuan. Mereka adalah utusan dari sekte besar yang telah mendengar kabar tentang Goo Yoon. Mereka membawa pesan: pendekar muda yang memiliki darah Pedang Langit itu harus ditemukan—hidup atau mati.
Goo Yoon tidak tahu kapan mereka akan sampai. Namun satu hal pasti: waktunya untuk menghadapi dunia yang lebih luas telah tiba. Dunia yang penuh dengan pertarungan, intrik, dan rahasia yang akan menguji batas kekuatannya.
Dan perjalanan Goo Yoon sebagai pewaris darah Pedang Langit, pendatang baru yang kini mulai diperhitungkan di dunia para pendekar, baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya—di mana setiap langkahnya akan menentukan nasibnya sendiri, dan mungkin nasib dunia para pendekar itu sendiri.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/