Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Novita yang memang cantik ditambah sikapnya yang sopan membuat Pak Budi, seorang staf delivery sekaligus teman lama Om Danu, sangat penasaran. Sejak tadi ia beberapa kali memperhatikan gadis itu yang duduk dengan rapi di kursi kayu warung kopi kecil itu. Setiap kali diajak bicara, Novita selalu menjawab dengan senyum sopan dan nada suara yang lembut.
Pak Budi akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Nona ini sudah punya pacar belum?" tanyanya dengan nada setengah bercanda.
Novita yang mendengar pertanyaan itu langsung menundukkan sedikit kepalanya. Pipi gadis itu memerah malu. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
"Belum, Pak," jawabnya lembut. "Saya ingin fokus kerja dulu."
Pak Budi langsung terkekeh pelan.
"Wah, kalau begitu pas sekali," katanya sambil melirik ke arah Om Danu yang duduk di sampingnya. "Saya punya anak laki-laki. Ganteng, kerja di BUMN lagi. Siapa tahu Novita suka kalau dikenalkan."
Novita tersenyum canggung mendengar itu. Ia mengibaskan tangannya pelan seolah menolak dengan halus.
"Aduh, jangan begitu Pak," katanya. "Saya malah tidak enak. Anak Bapak hebat begitu, sedangkan saya cuma pegawai biasa."
Belum sempat Pak Budi menjawab, Om Danu yang sejak tadi mendengarkan langsung menyela sambil menunjuk temannya.
"Eh, jangan macam-macam kau, Budi," protesnya. "Kau itu lupa ya? Istrimu galak begitu. Kasihan Novita kalau jadi menantumu."
Pak Budi langsung mendengus pura-pura tersinggung.
"Galak bagaimana maksudmu?" katanya.
Om Danu tertawa kecil.
"Ah, jangan pura-pura. Semua orang juga tahu kalau istrimu marah, suaranya bisa sampai ujung gang."
Pak Budi menggeleng sambil tersenyum.
"Dia memang galak," akunya. "Tapi sebenarnya baik. Cuma kadang kurang ramah sama orang yang menurut dia tidak benar."
"Nah itu dia," sahut Om Danu cepat. "Novita ini terlalu baik. Nanti disangka macam-macam sama istrimu. Lebih baik jangan."
Novita yang duduk di antara mereka hanya bisa tertawa kecil melihat kedua pria itu berdebat seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.
Pak Imam yang sejak tadi duduk sambil menyeruput kopi hanya tersenyum tenang melihat tingkah dua temannya itu. Ia tidak ikut menyela, hanya menikmati percakapan yang semakin lama semakin lucu.
Om Danu kemudian menoleh ke arah Pak Imam.
"Imam, kau ini diam saja dari tadi," katanya. "Coba bilang sesuatu."
Pak Imam tertawa kecil.
"Mau bilang apa?" jawabnya santai. "Aku cuma punya satu anak laki-laki, itu pun sudah menikah. Sisanya dua anak perempuan."
Om Danu langsung mengangkat alisnya seolah mendapatkan ide baru.
"Nah, itu malah bagus!" katanya bersemangat. "Anak Pak Budi saja menikah dengan anakmu."
Pak Budi menatapnya heran.
"Apa hubungannya?" tanyanya.
Om Danu terkekeh.
"Kalau istrimu marah-marah, kan bisa langsung dirukiah sama istri Pak Imam. Bukannya dia ustazah terkenal di kampung kalian?"
Pak Imam langsung tertawa keras.
"Kau ini ada-ada saja, Danu," katanya sambil menggeleng.
Pak Budi ikut tertawa meskipun sedikit menghela napas.
"Dasar kau ini," gumamnya. "Istriku bukan setan yang perlu dirukiah."
"Siapa tahu," balas Om Danu sambil terkekeh.
Novita tidak bisa menahan tawanya lagi. Suasana warung kopi yang sederhana itu langsung dipenuhi tawa. Bagi Novita, momen seperti itu terasa hangat. Ia merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri.
Bagi Novita, Om Danu bukan hanya tetangga lama keluarganya. Di kota besar ini pun Om Danu tetap memperlakukannya seperti anak sendiri.
Beberapa saat kemudian Novita melirik jam di ponselnya.
"Aduh," gumamnya pelan.
Om Danu langsung menoleh.
"Kenapa, Nak?"
"Sudah malam, Om," jawab Novita. "Saya harus pulang ke kost. Masih ada baju yang harus dicuci."
Om Danu mengangguk.
"Ya sudah, pulanglah. Jangan terlalu malam di jalan."
Novita berdiri dari kursinya dan merapikan tas kecil yang ia bawa.
"Saya pamit dulu ya, Pak," katanya sopan kepada Pak Budi dan Pak Imam.
"Hati-hati di jalan," kata Pak Imam ramah.
"Kalau berubah pikiran soal anak saya, bilang saja," tambah Pak Budi sambil tertawa.
Novita hanya tersenyum malu mendengar itu.
Saat Novita hendak melangkah pergi, Om Danu tiba-tiba berdiri.
"Tunggu sebentar," katanya.
Ia merogoh dompet kulit cokelatnya. Dari dalamnya ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan.
"Ini," katanya sambil menyodorkannya.
Novita langsung menggeleng cepat.
"Jangan, Om," katanya. "Sebentar lagi juga gajian."
"Ambil saja," balas Om Danu santai.
"Tidak perlu, Om. Om sudah sering memberi saya uang," kata Novita lagi dengan nada sungkan.
Namun Om Danu tetap memegang tangan Novita dan menyelipkan uang itu ke telapak tangannya.
"Sudah, ambil saja," katanya tegas namun lembut. "Om tidak mau kamu sampai kesulitan makan."
Novita menunduk. Ia tahu Om Danu tidak akan mudah dibantah.
"Terima kasih, Om," ucapnya pelan.
"Yang penting kamu jaga diri baik-baik," kata Om Danu. "Kerja yang rajin."
"Iya, Om."
Pak Budi yang melihat itu hanya mengangguk pelan.
"Kamu beruntung punya orang yang peduli seperti Danu," katanya.
Novita tersenyum kecil.
"Iya, Pak. Saya sangat beruntung."
Namun tanpa mereka sadari, seseorang berdiri tidak jauh dari warung itu.
Andra.
Ia sebenarnya sedang mencari beberapa staf produksi yang katanya sedang minum kopi di warung dekat kantor. Tetapi langkahnya berhenti ketika matanya menangkap pemandangan di depannya.
Ia melihat dengan jelas ketika Om Danu memasukkan uang ke tangan Novita.
Tatapan Andra langsung berubah.
Matanya menyipit.
Wajahnya mengeras.
Pandangan itu kemudian beralih ke Om Danu dengan ekspresi yang penuh kebencian, seolah pria itu telah melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas.
Novita yang kebetulan menoleh melihat Andra berdiri di sana.
Wajahnya langsung sedikit terkejut.
"Pak Andra..." katanya cepat. "Bapak di sini?"
Om Danu dan yang lainnya ikut menoleh.
Namun Andra tidak menjawab.
Ia hanya menatap mereka beberapa detik dengan ekspresi dingin.
Novita langsung merasa tidak enak.
Ia tahu sifat Andra yang mudah salah paham.
"Saya sudah mau pulang, Pak," kata Novita cepat, mencoba menenangkan situasi. "Besok saya masuk seperti biasa."
Andra tetap diam.
Tatapannya masih dingin.
Beberapa detik kemudian ia memalingkan wajahnya.
Tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan warung itu.
Langkahnya keras.
Seolah ia sangat membenci apa yang baru saja ia lihat.
Novita hanya bisa berdiri diam sejenak melihat punggung atasannya yang menjauh.
Perasaan tidak nyaman muncul di dalam hatinya.
Ia tahu tatapan tadi bukan tatapan biasa.
Seolah Andra sedang menahan sesuatu.
Sesuatu yang mungkin akan menjadi masalah di kemudian hari.
Di tambah tatapan itu di tunjukkan kepada om Danu yang sangat dia hormati.
Dia jadi takut kalau om Danu menjadi target kebencian Andra setelah ini.