"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Rapuh Azeus
Di koridor depan UGD RS Pendidikan, Erena duduk dengan gelisah, sesekali merapikan rambutnya yang berantakan karena panik. Di sampingnya, Irwan berdiri kaku seperti patung, menempelkan ponsel ke telinganya dengan wajah yang sangat tegang. Ia sedang menghubungi Ayah Azeus di kantor pusat.
"Halo, Pak. Den Azeus baru saja dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya ambruk di ruang kerja," lapor Irwan dengan nada bicara yang sangat formal namun tersirat rasa bersalah.
"Sepertinya asam lambungnya kumat parah. Sejak pengawasan ketat satu bulan ini, Den Azeus sangat bandel, Pak. Berkali-kali saya ingatkan untuk makan siang, tapi beliau selalu menolak dan memilih fokus pada berkas-berkasnya. Beliau benar-benar tidak peduli pada kesehatannya sendiri."
Di seberang telepon, Ayah Azeus terdiam sejenak. Rasa sesal mulai mengusik hatinya. ia sadar bahwa didikannya yang keras untuk mendewasakan Azeus mungkin sudah melampaui batas fisik putranya.
"Aku segera ke sana. Pastikan dia ditangani dokter terbaik!" Ucap sang Ayah sebelum memutus sambungan.
Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. dr. Gathan melangkah keluar, melepas masker medisnya dengan gerakan tenang. Aura dinginnya sebagai dokter yang profesional terpancar kuat, menutupi rasa khawatir pribadinya pada sang sahabat.
Erena dan Irwan langsung menyerbu Gathan dengan rentetan pertanyaan.
"Gimana kondisinya, Gath?!" tanya Erena tanpa sadar memanggil nama aslinya karena panik.
Gathan menatap mereka bergantian dengan tatapan datar.
"Dia terkena Gastritis Akut. Tekanan stres yang sangat tinggi dan pola makan yang benar-benar berantakan merusak lambungnya. Dia beruntung segera dibawa ke sini sebelum terjadi pendarahan internal. Sekarang saya sudah berikan suntikan pereda nyeri dan cairan infus untuk menstabilkan kondisinya. Dia butuh istirahat total, bukan tumpukan kertas laporan." Jelas Gathan sedikit menyindir.
Irwan hanya bisa menunduk lesu mendengar penjelasan Gathan. Ia tahu, di balik wajah dingin Azeus yang dipaksa bekerja bagai robot, ada hati yang hancur dan fisik yang kelelahan karena menanggung kerinduan sekaligus tekanan pekerjaan yang luar biasa.
.
Gathan mengangguk sekilas kepada Irwan sebelum melangkah pergi menuju bangsal lain. Meskipun ia cemas sebagai sahabat, tanggung jawabnya sebagai Dokter Internsip menuntutnya untuk tetap profesional.
Erena dan Irwan segera masuk ke ruang perawatan VVIP. Di sana, Azeus terbaring lemah dengan selang infus menancap di punggung tangannya. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh kini tampak begitu pucat dan rentan.
"Erena, saya harus ke lobi sekarang untuk menyambut kedatangan Bapak. Tolong jaga Den Azeus sebentar," instruksi Irwan yang langsung diangguki cepat oleh Erena.
Begitu pintu tertutup dan menyisakan kesunyian, Erena mendekat ke arah ranjang. Matanya yang manipulatif berkilat penuh rencana. Ia merogoh saku celana bahan milik Azeus dan menemukan ponsel mahal pria itu. Erena mencoba memasukkan kata sandi beberapa kali namun gagal. Tak kehilangan akal, ia meraih tangan kanan Azeus yang lunglai, lalu menempelkan jempol pria itu ke sensor sidik jari.
Klik. Ponsel terbuka.
Erena langsung disuguhi riwayat percakapan WhatsApp terakhir Azeus dengan kontak bernama "Ayang ❤️". Ia membaca rentetan pesan posesif Azeus dan balasan dingin Aluna yang mungkin memicu ambruknya Azeus. Sebuah seringai licik muncul di bibirnya.
Erena segera berpose. Ia menggenggam erat tangan Azeus yang tak sadarkan diri, memastikan jarum infus dan wajah pucat Azeus masuk ke dalam bingkai foto. Dengan cepat, ia mengirimkan foto mesra itu ke nomor Aluna melalui ponsel Azeus.
"Rasakan ini,," bisiknya sinis.
Setelah pesan terkirim, Erena dengan sangat rapi menghapus riwayat pesan tersebut agar Azeus tidak curiga nantinya. Ia meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas, tepat di samping kepala Azeus, lalu kembali memasang wajah sedih dan prihatin saat mendengar langkah kaki mendekat dari arah koridor.
^^^
Aluna sedang membereskan buku-bukunya di selasar fakultas saat ponselnya bergetar. Ia membukanya, mengira itu adalah rentetan pesan posesif Azeus seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda.
Sebuah foto masuk dari nomor "Ayang ❤️". Aluna mematung, dunianya seolah berhenti berputar. Di layar ponselnya, terlihat jelas tangan berurat milik Azeus yang tampak lunglai, digenggam erat oleh sepasang tangan lentur dengan kuku-kuku cantik yang terawat sempurna. tangan seorang wanita. Latar belakang foto itu memperlihatkan wajah Azeus yang pucat pasi, matanya terpejam rapat dengan masker oksigen menutupi sebagian wajah maskulinnya.
Dada Aluna sesak seketika. Antara rasa cemburu yang membakar dan kekhawatiran yang mencekik, ia merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Siapa wanita itu? Kenapa dia yang ada di sana di saat Azeus seperti ini? pikirnya dengan tangan gemetar.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan lain muncul, kali ini dari Gathan;
"Azeus dilarikan ke UGD RS Pendidikan. Lambungnya kena, dia ambruk di kantor tadi. Kalau kamu mau ke sini, sekarang waktunya."
Pesat singkat dari Gathan seolah menjadi konfirmasi pahit. Aluna tidak tahu harus merasa apa. Ia marah karena foto genggaman tangan itu, tapi ia juga hancur membayangkan Azeus yang selama ini terlihat gagah kini harus bernapas dengan bantuan mesin. Rasa bersalah karena telah mengerjai Azeus habis-habisan lewat chat kini kembali menghantamnya berkali-kali lipat.
Tanpa pikir panjang, Aluna menyambar tasnya dan berlari menuju parkiran kampus. Ia tidak peduli lagi pada gengsinya. Ia harus melihat dengan matanya sendiri siapa wanita di balik kuku cantik itu dan bagaimana keadaan pria yang tetap menjadi satu-satunya pemilik hatinya tersebut.
Aluna sampai di Rumah Sakit Pendidikan dengan napas tersengal. Langkahnya yang tergesa-gesa menggema di lorong rumah sakit yang dingin. Ia terus menatap layar ponselnya, meyakinkan diri bahwa ia tidak salah melihat nomor ruangan VVIP yang dikirimkan Gathan.
Langkah Aluna terasa ringan namun penuh penekanan di atas lantai porselen Rumah Sakit Pendidikan Utama. Di lobi, Irwan yang sedang berdiri kaku menanti kedatangan sang CEO pusat, sempat menangkap bayangan Aluna yang melintas cepat. Irwan hanya diam, membiarkan gadis itu lewat tanpa interupsi karena ia tahu badai yang lebih besar yaitu Ayah Azeus akan segera tiba dalam hitungan menit.
Aluna sampai di depan pintu kamar VVIP bernomor 001. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu jati itu dengan satu sentakan kuat.
BRAK!
Pemandangan di dalamnya membuat darah Aluna mendidih. Erena masih di sana, duduk dengan anggun di sisi ranjang, menggenggam erat tangan Azeus yang masih terpejam di balik masker oksigen. Erena sengaja tidak melepas genggamannya, justru ia menatap Aluna dengan senyum provokatif yang seolah berkata,
"Lihat siapa yang menjaganya saat dia tak berdaya."
Namun, Aluna bukan lagi gadis panti yang rapuh dan mudah ditindas. Ia melangkah maju dengan aura yang sangat dominan, mengabaikan getaran di hatinya. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, Aluna menepis kasar tangan Erena dari tangan Azeus.
"Jauhkan tangan mu dari dia," desis Aluna, suaranya rendah namun tajam seperti silet.
Erena tersentak, wajah cantiknya menegang karena terkejut.
"Apa-apaan kamu? Aku sekretarisnya, Aku menjaganya secara profesional!"
Aluna tertawa sinis, menatap Erena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Sekretaris? Jangan melucu. Kamu itu cuma babu di perusahaan CALON SUAMI saya," Aluna sengaja menekan setiap suku kata pada sebutan calon suami untuk menghancurkan harga diri Erena.
"Tugas kamu itu mengurus kertas di kantor, bukan mengurusi tangan pria yang sudah punya pemilik. Sekarang, angkat kaki dari sini sebelum Aku panggil keamanan untuk menyeret kamu keluar sebagai pengganggu."
Erena terbungkam. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia tidak menyangka Aluna akan seberani ini mengklaim Azeus di depannya. Tanpa sepatah kata pun, Erena menyambar tasnya dan keluar dari kamar dengan langkah kaki yang dihentakkan, hatinya membara karena dipermalukan oleh gadis yang ia anggap remeh.
Begitu Erena pergi, Aluna langsung berubah protektif. Ia duduk di kursi yang tadi ditempati Erena, mengambil tangan Azeus, dan menggenggamnya dengan lembut namun posesif. Ia mengusap dahi Azeus yang pucat, matanya berkaca-kaca menatap pria yang karena dirinya sampai jatuh sakit seperti ini.
"Bangun, Kak... Jangan bikin aku takut begini," bisik Aluna parau di samping telinga Azeus..
^^^
Pintu kamar VVIP itu terbuka lebar. Ayah Azeus melangkah masuk dengan sisa wibawa yang kini tampak rapuh, diikuti Irwan yang setia mengekor di belakangnya. Aluna yang semula duduk di sisi ranjang segera bangkit berdiri. Dengan santun, ia meraih tangan Ayah Azeus dan menyalaminya dengan takzim, sebuah gerak-gerik yang selalu disukai sang penguasa bisnis itu dari Aluna.
Ayah Azeus mengabaikan kemewahan ruangan itu. Matanya langsung tertuju pada putra semata wayangnya yang terbaring lemah. Saat menyentuh tangan Azeus yang lunglai, napasnya terasa berat. Sebuah helaan napas panjang yang sarat akan penyesalan lolos dari bibirnya.
"Papa terlalu keras sama kamu Zeus..." bisik Ayahnya parau, menunduk, matanya berkaca kaca menggenggam tangan Azeus.
Ruangan itu seketika diliputi keheningan yang menyakitkan. Aluna dan Irwan hanya bisa berdiri menunduk, menyaksikan sisi manusiawi seorang CEO hebat yang kini hancur melihat kondisi anaknya.
Ayah Azeus teringat bahwa Azeus adalah satu-satunya warisan dari mantan istrinya. Sejak usia 12 tahun, Azeus sudah kehilangan sosok ibu dan tidak pernah lagi merasakan kehangatan kasih sayang seorang wanita dalam hidupnya.
"Papa menyesal," ucap Ayah Azeus lirih, suaranya bergetar.
"Papa terlalu menuntutmu menjadi robot perusahaan sampai lupa kalau kamu juga punya hati yang bisa hancur."
Beliau menyadari bahwa batin Azeus selama ini tersiksa antara tekanan kerja dan kerinduan pada Aluna.
Di depan Aluna dan Irwan, sang Ayah berjanji akan melonggarkan jadwal kerja Azeus dan tidak akan lagi menuntut hasil yang mustahil.
Tiba-tiba, Ayah Azeus beralih menatap Aluna. Tatapannya kini penuh permohonan.
"Aluna, Papa titip Azeus padamu. Sejak ibunya pergi, dia kehilangan arah. Mungkin... dia hanya ingin merasakan kasih sayang yang tulus, kasih sayang yang hanya bisa ia temukan padamu, seperti ia merindukan sosok ibunya."
Aluna tertegun, matanya berkaca-kaca mendengar mandat besar itu. Ia menatap wajah pucat Azeus dan berjanji dalam hati untuk menjadi pelabuhan terakhir bagi pria obsesif yang ternyata hanya seorang anak kecil yang kesepian di dalamnya..
Aluna kembali, mengingat masa lalu, Insiden yang merampas kebahagiaan di masa kecilnya.