Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Busan
Busan di akhir tahun memberikan suasana yang berbeda. Meskipun udara musim dingin tetap menusuk, semilir angin laut di kota pelabuhan ini terasa lebih bersahabat dibandingkan hiruk-pikuk Seoul yang membeku. Sinclair Group benar-benar tidak main-main dalam memanjakan karyawannya; satu kompleks vila mewah di pinggir pantai Haeundae telah dipesan khusus untuk acara kebersamaan selama tiga hari dua malam ini.
William dan Rosetta tampak santai dengan pakaian musim dingin yang elegan, menyapa para staf yang terlihat sangat antusias. Bagi para karyawan, ini adalah momen langka untuk melihat sisi manusiawi dari sang pemilik takhta Sinclair.
"Wah, Ayah benar-benar memilih tempat yang tepat. Suaranya menenangkan sekali," ujar Alessia sambil menghirup udara laut yang segar dari balkon vila utama. Ia mengenakan coat bulu berwarna krem yang membuatnya tampak seperti boneka salju yang anggun.
"Ini ide Ibumu, Al. Katanya staf butuh melihat cakrawala agar ide-ide baru muncul tahun depan," sahut William sambil tersenyum ke arah Rosetta.
Di sisi lain, Nathaniel tampak sibuk berkoordinasi dengan tim operasional vila. Meskipun ini acara bersantai, insting manajerial dan perlindungannya tidak pernah benar-benar mati. Ia memastikan pembagian kamar staf teratur dan keamanan kompleks terjaga ketat.
"Kak, berhenti bekerja! Ini waktunya liburan," seru Alessia dari kejauhan, melambaikan tangannya ke arah Nathaniel yang sedang memegang tab proyek.
Nathaniel mendongak, menatap Alessia sejenak sebelum menutup perangkatnya. Ia melangkah mendekat dengan gaya tenangnya yang biasa. "Aku hanya memastikan semua orang mendapatkan kamar yang nyaman, Al. Termasuk kamu."
"Aku kan satu vila dengan Ayah dan Ibu, pasti nyaman. Yang tidak nyaman itu kalau melihat Kakak terus-menerus mengerutkan kening begitu," goda Alessia.
Rosetta yang memperhatikan interaksi itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum penuh arti pada William. "Lihat mereka, William. Bahkan di Busan pun, dunia mereka seolah hanya berputar di antara satu sama lain."
Malam pertama di Busan rencananya akan diisi dengan pesta barbekyu di area terbuka kompleks vila.
Api unggun besar sudah disiapkan, dan aroma daging panggang mulai menggoda selera. Namun, di tengah keriuhan staf yang mulai bernyanyi dan tertawa, Alessia menyadari sesuatu.
"Kak, Lady tidak ikut kan?" tanya Alessia tiba-tiba dengan nada menyelidik saat mereka berjalan menuju area api unggun.
Nathaniel menghentikan langkahnya sejenak, menatap Alessia dengan tatapan datar namun ada sedikit kilatan jahil di matanya. "Dia bukan staf Sinclair, Al. Kenapa dia harus ikut?"
———
Matahari mulai turun ke ufuk barat, menciptakan semburat warna jingga yang memantul indah di atas permukaan laut Busan. Di area penyewaan sepeda dekat vila, Alessia sedang melancarkan aksi andalannya: merengek.
"Ayolah, Kak... please... temani aku keliling pantai pakai sepeda," rengek Alessia sambil menarik-narik ujung jaket Nathaniel.
Nathaniel menghela napas panjang, menatap sepeda-sepeda yang berjajar di sana dengan dahi berkerut. "Al, udara makin dingin. Lagipula kita bisa jalan kaki saja kalau mau ke pantai."
"Tidak seru! Aku mau naik sepeda!" Alessia mengerucutkan bibirnya, memberikan tatapan memohon yang paling sulit ditolak oleh Nathaniel di seluruh dunia.
"Astaga... kamu seperti anak kecil saja, ya sudah ayo," akhirnya Nathaniel luluh juga. Ia meraih sebuah sepeda, yang kebetulan berwarna pink cerah, membuat sosoknya yang maskulin dan berwibawa terlihat sangat kontras.
Alessia bersorak senang. Ia segera naik di boncengan belakang dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Nathaniel, memeluknya dengan sangat erat seolah takut terjatuh.
"Ayo, go!" teriaknya penuh semangat.
Beberapa staf yang sedang bersantai di area depan vila tidak bisa menahan tawa melihat pemandangan langka itu. Siapa sangka direktur mereka yang biasanya sedingin es di kantor, kini tengah mengayuh sepeda pink dengan "tuan putri" Sinclair yang memeluknya erat di belakang.
Nathaniel tidak menghiraukan tawa para staf. Ia justru sengaja melambatkan laju sepedanya saat mereka memasuki jalur setapak di tepi pantai Haeundae. Ia ingin Alessia benar-benar menikmati hembusan angin laut yang sejuk dan pemandangan cakrawala yang luas tanpa harus merasa pusing karena kecepatan.
Setelah merasa cukup jauh dari keramaian staf, Nathaniel menghentikan sepedanya di dekat area pasir yang lebih sepi. Mereka turun dan berjalan beberapa langkah menuju bibir pantai, lalu duduk di atas sebuah batang kayu besar yang terdampar.
Angin laut tiba-tiba berhembus lebih kencang, membuat Alessia sedikit menggigil di balik coatnya. Tanpa berkata-kata, Nathaniel langsung melepas jaket bomber tebalnya yang berwarna gelap. Dengan gerakan protektif, ia menyampirkan jaket besar itu ke bahu Alessia, membungkus tubuh mungil gadis itu hingga aroma maskulin Nathaniel seketika mengepung indranya.
"Pakai ini. Kamu tidak kuat dingin, jangan memaksakan diri," ucap Nathaniel rendah. Suaranya terdengar jauh lebih hangat dibandingkan angin malam yang mulai menusuk.
Alessia merapatkan jaket itu ke dadanya, menenggelamkan sebagian wajahnya di kerah jaket yang masih menyimpan panas tubuh Nathaniel. "Terima kasih, Kak. Ternyata Busan kalau sore begini cantik sekali, ya."
Nathaniel tidak menatap laut. Ia justru menatap profil samping wajah Alessia yang diterpa sisa cahaya senja. "Iya, cantik sekali," gumamnya pelan, entah merujuk pada pemandangan di depannya atau pada gadis yang sedang memakai jaketnya itu.
Suasana yang tadinya tenang mendadak pecah oleh tawa renyah Alessia. Dengan ide jahil yang muncul tiba-tiba, ia menarik ujung lengan kemeja Nathaniel, menyeret kakaknya itu mendekat ke arah buih ombak yang menyapu pasir pantai.
"Al, jangan! Airnya dingin sekali!" protes Nathaniel, namun ia tidak benar-benar menahan tarikan tangan mungil itu.
"Sedikit saja, Kak! Ayolah!" Alessia tertawa nakal sambil menyipratkan air laut ke arah celana kain Nathaniel yang mahal.
Tak mau kalah, Nathaniel membalas dengan cipratan kecil yang membuat ujung gaun Alessia basah. Mereka berakhir dalam aksi tarik-menarik yang kekanak-kanakan di tepi pantai Haeundae. Nathaniel terus memegang pergelangan tangan Alessia dengan erat, memastikan adiknya itu tidak kehilangan keseimbangan di atas pasir yang licin terkena air.
"Kena kau!" seru Alessia, mencoba menarik Nathaniel lebih dalam ke arah air.
Namun, pasir pantai yang labil berkhianat. Kaki Alessia tersandung bongkahan karang kecil yang tertimbun pasir. Tubuhnya terhuyung ke depan, kehilangan keseimbangan sepenuhnya.
"Alessia!"
Dengan refleks secepat kilat, Nathaniel menarik tubuh Alessia dan memutar posisinya agar gadis itu tidak jatuh ke air yang dingin. Dalam satu gerakan mantap, Alessia mendarat dengan indah di pelukan Nathaniel. Kedua tangan kokoh pria itu melingkar sempurna di pinggangnya, sementara tangan Alessia refleks mencengkeram bahu Nathaniel untuk mencari tumpuan.
Waktu seolah melambat di pantai Busan sore itu. Suara deburan ombak yang tadinya bising mendadak teredam oleh suara lain yang jauh lebih nyata di telinga Alessia. Di balik dada bidang yang kini menempel pada pipinya, ia bisa merasakan detak jantung Nathaniel yang berpacu cepat.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah dirinya sendiri.
Alessia terdiam mematung, napasnya tertahan. Ia menyadari bahwa jantungnya tidak benar-benar berdetak normal. Ada dentuman yang terlalu keras dan terlalu cepat di dalam dadanya, sebuah ritme yang tidak pernah ia rasakan saat bersama Noah atau pria mana pun.
Ia mendongak, menatap mata cokelat gelap Nathaniel yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Di mata itu, ia tidak menemukan sosok "Kakak" yang protektif, melainkan seorang pria yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup meluluhkan seluruh pertahanannya.
"Kamu... tidak apa-apa?" bisik Nathaniel, suaranya kini terdengar rendah dan serak, seolah ia juga sedang berjuang mengendalikan debar jantungnya sendiri.
Alessia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa merasakan kehangatan tubuh Nathaniel di tengah dinginnya angin laut, dan kenyataan pahit yang kini mulai ia akui: ia telah jatuh cinta pada pria yang selama sepuluh tahun ini ia panggil "Kakak".