NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

​Pagi itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit abu-abu menggantung rendah, dan kemacetan di ruas jalan menuju Rumah Sakit Medika Utama tampak lebih parah dari biasanya. Fani, dengan jas dokter yang tersampir di kursi penumpang, berkali-kali melirik jam tangan pintarnya.

​"Aduh, sepuluh menit lagi operan jaga! Kenapa sih ini jalanan kayak parkiran raksasa?" gerutunya sembari memukul setir mobil sedan putihnya.

​Begitu melihat celah di jalur kanan yang sedikit lowong, Fani segera menginjak gas. Namun, nasib sial tampaknya sedang betah membuntutinya. Di ujung jalan, tepat di bawah flyover, beberapa kerucut oranye terpasang. Operasi Zebra.

​Seorang polisi muda dengan postur tegap, seragam yang sangat rapi, dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, memberikan isyarat dengan tangan agar Fani menepi.

​"Aduh, mati aku! Kenapa harus ada razia sekarang?" Fani menepikan mobilnya dengan kasar. Ia membuka kaca jendela dengan wajah yang sudah ditekuk seribu.

​Polisi itu—yang papan namanya tertulis ALVIN—berjalan menghampiri dengan langkah tenang yang menurut Fani sangat menyebalkan. Alvin melepas kacamata hitamnya, menampakkan mata tajam yang dingin namun tenang.

​"Selamat pagi, Ibu. Mohon maaf mengganggu perjalanannya. Boleh lihat surat-surat kendaraannya? SIM dan STNK, silakan," ucap Alvin dengan nada bariton yang sangat formal.

​Fani merogoh tasnya dengan terburu-buru. Ia mengeluarkan dompetnya, mencari-cari di selipan kartu. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari sesuatu yang horor bagi setiap pengendara.

​"A-anu, Pak Polisi... sepertinya SIM saya ketinggalan di tas yang satu lagi. Tapi STNK ada kok! Ini, Pak," Fani menyodorkan STNK dengan tangan sedikit gemetar, mencoba memberikan senyum paling manis (meski paksa) yang ia miliki.

​Alvin menerima STNK itu, membacanya sebentar, lalu kembali menatap Fani tanpa ekspresi. "SIM adalah syarat mutlak berkendara, Ibu. Kalau ketinggalan, berarti Ibu melanggar aturan."

​"Tapi Pak, saya ini Dokter! Saya ada pasien darurat di rumah sakit. Cuma lima menit lagi saya harus sampai. Tolonglah, Pak, kebijakannya. Saya bukan penjahat," rayu Fani, suaranya naik satu oktav karena panik.

​Alvin mengeluarkan buku tilang. "Mau dokter, mau insinyur, aturan tetap aturan. Silakan tanda tangan di sini. Kendaraan tidak saya sita karena ada STNK, tapi Ibu harus mengurus tilang ini di kejaksaan atau bayar denda lewat bank."

​Fani melotot. "Hah? Bapak beneran nilang saya? Bapak nggak lihat saya sudah pakai baju kerja? Pak Alvin—ya, Pak Alvin yang terhormat—saya ini sedang mau menyelamatkan nyawa orang! Masa Bapak tega nilang saya cuma gara-gara kartu plastik yang ketinggalan?"

​Alvin tetap bergeming, tangannya lincah menulis di atas kertas merah itu. "Saya juga sedang menjalankan tugas, Ibu Dokter. Menertibkan jalanan juga bagian dari menyelamatkan nyawa agar tidak terjadi kecelakaan. Ini surat tilangnya. Selamat pagi, silakan lanjutkan perjalanan, dan jangan ngebut."

​Alvin menyerahkan surat tilang itu dengan sangat sopan, lalu kembali memakai kacamata hitamnya dan memberi hormat. Fani menerima kertas itu dengan perasaan ingin meledak. Ia menginjak gas mobilnya hingga berdecit, meninggalkan Alvin yang hanya menatap knalpot mobilnya dengan gelengan kepala kecil.

​Siang harinya, ruang istirahat dokter di rumah sakit menjadi saksi bisu kemarahan Fani. Alisa yang baru saja selesai memeriksa pasien di poli, dikagetkan dengan bantingan tas Fani di atas meja makan.

​"Alisa! Aku benci polisi! Sumpah, aku benci banget!" teriak Fani tanpa salam.

​Alisa mengerutkan kening, menaruh botol minumnya. "Eh, ada apa sih, Fan? Datang-datang kok marah-marah. Mas Vino ada salah sama kamu?"

​"Bukan Davino! Tapi anak buahnya, atau entah siapa itu, namanya Alvin! Mukanya kayak tembok, nggak punya perasaan!" Fani duduk dengan kasar dan mulai menceritakan kronologi "tragedi" tilang pagi tadi.

​Alisa mencoba menahan tawa saat mendengar Fani dikalahkan oleh argumen formal seorang polisi. "Ya ampun, Fan. Kan emang kamu yang salah nggak bawa SIM. Aturannya emang gitu."

​"Iya, aku tahu aku salah! Tapi masa nggak ada diskon sedikit pun buat dokter yang lagi buru-buru? Dia itu kaku banget, Al! Kayak robot! Mana pas ngasih surat tilangnya pakai sok-sokan hormat lagi. Ih, pengen banget aku suntik vitamin C dosis tinggi biar dia nggak kaku gitu!"

​Alisa tertawa lepas. "Namanya juga tugas, Fan. Kamu jangan dendam gitu, nanti malah jodoh lho."

​"Jodoh mata kamu! Amit-amit, Al! Jangan sampai aku ketemu dia lagi," sumpah Fani sambil menyuap nasi uduknya dengan penuh dendam.

​Tiga hari kemudian, takdir tampaknya sedang ingin bercanda.

​Fani sedang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) saat sebuah mobil patroli polisi masuk dengan sirine menyala. Beberapa anggota polisi turun, memapah rekan mereka yang tampak meringis kesakitan memegangi perutnya.

​"Dokter! Tolong rekan kami, dia jatuh saat pengejaran tersangka tadi, perutnya terbentur besi pagar cukup keras," seru salah satu polisi.

​Fani segera memakai sarung tangan latex-nya dan menghampiri brankar. Namun, langkahnya terhenti. Matanya membulat sempurna. Pasien yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan keringat dingin itu adalah... Alvin. Polisi robot yang menilangnya.

​Alvin membuka matanya sedikit, menatap wajah dokter di depannya. Meskipun sedang kesakitan, ia sepertinya mengenali wajah itu. "Ibu... dokter... yang nggak bawa SIM?" gumamnya lirih.

​Fani mendengus, namun insting dokternya tetap bekerja. Ia mulai menekan beberapa titik di perut Alvin untuk pemeriksaan fisik. "Oho, ternyata Bapak Polisi yang terhormat bisa sakit juga ya? Kirain terbuat dari baja," sindir Fani pelan, meski tangannya sangat telaten memasang infus.

​"Aduh... pelan-pelan, Dok," rintih Alvin saat Fani sedikit menekan area yang memar.

​"Sakit? Tadi pas nilang saya kayaknya Bapak kuat banget. Sekarang kenapa manja begini?" Fani tersenyum miring, namun matanya tetap fokus pada monitor detak jantung. "Suster, siapkan USG abdomen. Kita harus cek ada perdarahan dalam atau tidak."

​Setelah pemeriksaan intensif, ternyata Alvin hanya mengalami trauma tumpul ringan dan memerlukan observasi selama 24 jam. Ia dipindahkan ke ruang rawat inap.

​Sore hari, Fani masuk ke ruangan Alvin untuk mengecek tensi. Alvin sudah terlihat lebih baik, meski masih sedikit pucat. Ia duduk bersandar di tempat tidur tanpa seragam, hanya memakai kaus putih rumah sakit yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang—hal yang tanpa sadar membuat Fani salah fokus sejenak.

​"Gimana, Pak Alvin? Masih mau nilang saya karena saya telat lapor perkembangan kondisi Bapak?" tanya Fani sembari melilitkan manset tensimeter.

​Alvin menatap Fani dalam-dalam. "Terima kasih, Dokter Fani. Saya minta maaf soal kemarin. Tapi... saya tetap tidak menyesal menilang Anda."

​Fani menarik mansetnya dengan kencang hingga Alvin sedikit meringis. "Bapak ini beneran ya! Sudah ditolong malah masih bahas tilang!"

​"Karena itu tugas saya, Dok. Sama seperti tugas Anda menyembuhkan saya sekarang. Kita sama-sama profesional, kan?" Alvin memberikan senyum tipis—pertama kalinya Fani melihat sisi manusiawi dari polisi ini. Senyum itu entah kenapa terasa jauh lebih berbahaya bagi jantung Fani daripada surat tilang merah kemarin.

​"Terserah Bapak lah! Yang penting jangan pingsan lagi di depan saya," ketus Fani, meskipun pipinya mulai terasa hangat. Ia segera berbalik dan keluar ruangan sebelum Alvin menyadari rona merah di wajahnya.

​Di koridor, Fani berpapasan dengan Alisa yang hendak pulang.

​"Al! Kamu tahu siapa yang aku rawat di kamar 302?" bisik Fani penuh penekanan.

​Alisa menaikkan alisnya. "Siapa?"

​"Si polisi robot itu! Alvin! Dia ada di sana! Dan dia... dia malah makin nyebelin pas sakit!"

​Alisa tersenyum penuh arti, teringat kata-kata "benci jadi cinta". "Hati-hati, Fan. Kamar 302 itu dekat lho sama ruang jaga kamu. Bisa sering-sering 'konsultasi' nanti."

​"Alisa! Jangan mulai deh!" Fani berjalan cepat meninggalkan sahabatnya, sementara di dalam kamar 302, Alvin diam-diam memandangi nama "dr. Fani" yang tertera di slip pemeriksaan yang ditinggalkan di meja, dengan tatapan yang sulit diartikan.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!