"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: PERJAMUAN DI SINGAPURA
Fajar menyingsing di cakrawala Singapura, menyepuh gedung-gedung pencakar langit Marina Bay dengan warna emas yang dingin. Kapal pesiar The Volkov membuang sauh di sebuah dermaga pribadi yang tersembunyi di balik gugusan pulau kecil, jauh dari jangkauan patroli pantai biasa. Di sini, kedaulatan bukan ditentukan oleh bendera negara, melainkan oleh kekuatan senjata dan pengaruh Viktor Sokolov.
Saga berdiri di dek observasi, mengenakan jubah beludru hitam yang diberikan pelayan kapal. Matanya yang sembap karena kurang tidur menatap lurus ke arah sebuah mobil van medis dan dua SUV hitam yang sudah menunggu di dermaga. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sesosok pria tua dengan bahu yang masih sedikit bungkuk turun dari van tersebut, dipandu oleh seorang perawat.
"Sakti..." bisik Saga. Suaranya pecah oleh kelegaan yang luar biasa.
Nikolai muncul di belakangnya, wajahnya tetap datar seperti batu karang. "Ayahmu menepati janjinya, Saga. Sakti dan Bramasta dievakuasi lewat jalur udara medis segera setelah kita lepas jangkar dari Pluit. Mereka aman. Tapi ingat, di dunia ini, setiap hadiah memiliki label harga."
Saga tidak mempedulikan peringatan Nikolai. Ia berlari menuruni tangga gangway, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang masih terbalut perban tipis. Begitu kakinya menyentuh semen dermaga, ia langsung menghambur ke pelukan Sakti.
Pria tua itu tertegun, lalu air mata mengalir deras di pipinya yang penuh keriput. "Nona... demi Tuhan, saya pikir saya tidak akan pernah melihat Anda lagi."
"Sakti, maafkan aku... maafkan aku karena membiarkanmu terluka," Saga terisak di pundak pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri melebihi siapa pun.
"Saya hanya melakukan tugas saya, Nona. Tuan Wirya pasti bangga melihat Anda berdiri tegak di sini," Sakti melepaskan pelukannya, menatap Saga dengan tatapan menyelidik. "Tapi siapa orang-orang ini? Dan kapal raksasa itu... Nona, apa yang terjadi?"
Saga menoleh ke arah kapal, di mana Viktor Sokolov berdiri di tepi dek atas, menatap mereka dengan tatapan seorang penguasa yang sedang mengamati bidak-bidak caturnya. "Itu adalah masa laluku yang hilang, Sakti. Dan masa depanku yang baru."
Sore harinya, mereka dipindahkan ke sebuah penthouse mewah di kawasan Orchard Road. Seluruh lantai teratas gedung itu dikosongkan dan dijaga oleh orang-orang Nikolai. Bramasta, yang kondisinya sudah lebih stabil meski masih harus menggunakan kursi roda, duduk di ruang tamu yang luas, menatap pemandangan kota dengan tatapan kosong.
"Saga," panggil Bramasta saat Saga masuk ke ruangan. "Dokumen-dokumen yayasan... aku berhasil menyelamatkan sebagian kecil lewat server bayangan sebelum markas kita diledakkan. Tapi aset kita di Jakarta dibekukan oleh pemerintah atas tekanan Dewan Waskita."
Saga duduk di depan Bramasta, menggenggam tangannya. "Biarkan saja, Bram. Kita tidak butuh uang mereka lagi. Viktor... ayahku... dia memiliki lebih dari cukup untuk menghancurkan mereka semua. Tapi ada satu hal yang mengusikku."
"Apa itu?"
"Dia tidak menyelamatkan kalian karena kasihan padaku. Dia menyelamatkan kalian karena dia butuh orang-orang yang paling aku percayai tetap berada di bawah kendalinya. Dia sedang mengikatku dengan rantai emas, Bram."
Belum sempat Bramasta menjawab, pintu penthouse terbuka. Viktor masuk, kali ini mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Di belakangnya, Nikolai membawa sebuah koper perak.
"Makan malam sudah siap," ujar Viktor tanpa basa-basi. "Dan kita punya tamu istimewa yang akan bergabung."
Di ruang makan yang megah, meja panjang sudah dipenuhi dengan hidangan Rusia klasik—kaviar beluga, borscht, dan daging rusa panggang. Namun, bukan makanan itu yang menarik perhatian Saga, melainkan seorang pemuda yang duduk di ujung meja.
Pemuda itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan rambut pirang pucat dan mata biru es yang sangat tajam. Wajahnya tampan dengan cara yang sangat dingin dan kalkulatif.
"Saga, perkenalkan Dmitri Volkov," Viktor memperkenalkan pria itu dengan nada bangga. "Putra dari sekutu terdekatku di Moskow. Ayahnya adalah orang yang mengendalikan jalur pipa gas di seluruh Eropa Timur."
Dmitri berdiri, membungkuk kecil, dan mengecup punggung tangan Saga. "Sebuah kehormatan akhirnya bertemu dengan putri yang hilang dari legenda Viktor Sokolov. Kecantikanmu hanya dikalahkan oleh keberanianmu menghancurkan Waskita."
Saga menarik tangannya kembali dengan sopan namun tegas. "Terima kasih, Tuan Volkov. Tapi aku bukan legenda. Aku hanya seorang wanita yang mencoba bertahan hidup."
Makan malam berlangsung dengan penuh ketegangan. Viktor dan Dmitri berbicara dalam bahasa Rusia sesekali, mendiskusikan pergerakan pasar saham dan posisi Dewan Waskita yang kini mulai bersembunyi di Eropa.
"Romo Waskita sudah tidak berguna lagi," ujar Dmitri dalam bahasa Inggris, matanya tetap tertuju pada Saga. "Tapi anggota Dewan lainnya, seperti Menteri Pertahanan dan beberapa taipan properti, sudah melarikan diri ke Zurich. Mereka membawa kunci akses ke dana cadangan yang seharusnya menjadi hak milik Sindikat Sokolov."
"Dan itulah sebabnya kita butuh persatuan yang lebih kuat, Dmitri," Viktor menatap Saga dengan tatapan yang sangat serius. "Saga, dunia ini adalah rimba bagi mereka yang berdiri sendirian. Aliansi antara keluarga Sokolov dan Volkov akan memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota Dewan Waskita yang bisa bernapas dengan tenang di benua mana pun."
Saga meletakkan garpunya. "Aliansi apa yang kamu maksud, Ayah?"
Viktor menyesap anggurnya perlahan. "Pernikahan, Saga. Kamu dan Dmitri akan bertunangan bulan depan. Ini akan memperkuat posisi kita di mata Sindikat Internasional dan memberikanmu perlindungan hukum serta militer yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun."
Ruangan itu mendadak sunyi. Sakti yang berdiri di sudut ruangan menegang, tangannya mengepal di balik punggungnya. Bramasta menatap Saga dengan kekhawatiran yang mendalam.
Saga tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan penuh ejekan. "Baru tiga hari aku mengenalmu sebagai ayah, dan kamu sudah mencoba menjualku untuk kepentingan pipas gas?"
"Ini bukan penjualan, ini strategi, Saga!" suara Viktor meninggi, mengirimkan getaran dingin ke seluruh ruangan. "Agatha Waskita menjadikanmu pion untuk menghancurkan Janardana. Aku menjadikanmu ratu untuk menguasai dunia. Pilihannya ada di tanganmu."
"Aku sudah pernah menjadi pion, dan aku sudah pernah menjadi korban," Saga berdiri, menatap Viktor dan Dmitri bergantian. "Aku tidak akan menjadi bagian dari transaksi apa pun. Jika kalian ingin memburu Dewan Waskita, lakukanlah. Tapi jangan harap aku akan mengenakan gaun pengantin hanya untuk mempermudah urusan bisnis kalian."
Dmitri tersenyum tipis, tampak lebih tertarik daripada tersinggung. "Dia memiliki api yang sama dengan ayahnya, Viktor. Aku suka itu."
"Nikolai, bawa Saga ke kamarnya," perintah Viktor, matanya berkilat amarah yang tertahan. "Kita akan membicarakan ini lagi besok setelah kamu lebih tenang."
Saga melangkah keluar tanpa menoleh. Nikolai mengikutinya menuju kamar utama yang luas. Begitu pintu tertutup, Saga berbalik dan menatap Nikolai.
"Kamu tahu tentang rencana ini?" tuntut Saga.
Nikolai menghela napas. "Di dunia Viktor, pernikahan adalah kontrak keamanan. Dmitri bukan pria yang buruk, Saga. Dia salah satu operator terbaik di Sindikat. Bersamanya, kamu akan aman."
"Aku tidak butuh suami untuk merasa aman, Nikolai. Aku butuh kebebasanku!" Saga berjalan mondar-mandir di ruangan itu. "Cari tahu tentang Dmitri. Cari tahu kelemahannya. Dan cari tahu di mana tepatnya anggota Dewan Waskita bersembunyi di Zurich. Jika aku bisa menemukan mereka sendiri dan mengambil kembali dana itu tanpa bantuan Volkov, Viktor tidak punya alasan untuk menekanku."
Nikolai terdiam sejenak. "Itu bunuh diri, Saga. Zurich adalah sarang mereka. Kamu akan dikelilingi oleh pembunuh bayaran internasional."
"Aku sudah pernah mati di aspal Jakarta dan hidup kembali, Nikolai. Zurich hanyalah taman bermain baru," Saga menatap Nikolai dengan penuh keyakinan. "Kamu bilang kesetiaanmu milik mereka yang berani berdiri tegak. Bantu aku sekali lagi. Jangan sebagai pengawal Viktor, tapi sebagai sekutuku."
Nikolai menatap mata abu-abu Saga yang berkilat penuh tekad. Untuk pertama kalinya, Nikolai tampak ragu, namun akhirnya ia mengangguk pelan. "Saya akan mencari datanya. Tapi jika Viktor tahu, kita berdua tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."