NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.Langkah & Tatapan

Matahari Jakarta bersinar terik, memantul pada fasad kaca Balai Sidang Nasional yang megah. Gedung ini adalah katedral bagi para pemburu rasa, tempat di mana reputasi dibangun dan dihancurkan dalam hitungan detik. Di depan pintu masuk, karpet merah membentang, dikelilingi oleh puluhan jurnalis kuliner dan lampu lampu kilat kamera yang tak henti memotret para koki muda terbaik dari seluruh pelosok negeri.

Ren melangkah keluar dari mobil Arata, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang efisien. Di punggungnya, tas Seruni Hitam terikat erat. Di sisi kirinya, Hana tampak sedikit gugup, ia terus merapikan rok seragamnya dan memegang ujung jaket Ren. Di sisi kanannya, Yuki membawa tas dokumen berisi berkas pendaftaran dengan wajah yang sangat serius.

"Banyak sekali orang..." bisik Hana, matanya membesar melihat kerumunan koki yang mengenakan seragam kebanggaan kota masing-masing. "Ren, lihat koki dari wilayah timur itu. Pisau-pisau mereka terlihat sangat mahal."

Ren tidak menoleh. Ia menatap lurus ke pintu masuk. "Mahalnya pisau tidak menentukan tajamnya rasa, Hana. Tetaplah di dekatku."

Saat mereka memasuki lobi utama yang berlangit-langit tinggi, suasana seketika berubah. Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredam hawa kompetisi yang menyesakkan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah monumen berbentuk sendok emas raksasa, simbol dari supremasi kuliner nasional.

Tiba-tiba, kerumunan wartawan di depan mereka terbelah secara otomatis. Sebuah keheningan yang aneh merambat melalui ruangan. Dari arah berlawanan, serombongan orang berbaju putih bersih dengan logo Asuka Group di dada mereka berjalan dengan ritme yang sangat sinkron.

Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pemuda dengan rambut hitam pendek yang sangat rapi. Ia mengenakan kacamata pintar (smart glasses) dengan bingkai perak tipis. Wajahnya sangat simetris, namun datar, tanpa emosi sedikit pun. Itulah Kenjiro—sang 'Koki Tanpa Cacat'.

Ryuji Asuka berjalan di samping Kenjiro, tampak sangat puas melihat reaksi terkejut dari orang-orang. Saat kedua kelompok itu bertemu di tengah lobi, Ryuji menghentikan langkahnya.

"Kebetulan yang sangat menarik," ucap Ryuji dengan nada merendahkan. "Ren, perkenalkan. Ini adalah Kenjiro. Versi koki yang jauh melampaui segala sesuatu yang pernah kamu temui di Karasu."

Ren berhenti. Ia menatap Kenjiro tepat di matanya. Namun, Kenjiro tidak menatap balik ke mata Ren. Matanya terus bergerak di balik lensa kacamatanya, seolah-olah sedang memindai sesuatu.

"Analisis subjek: Akira Ren," suara Kenjiro terdengar sangat monoton, dingin, dan mekanis. "Postur tubuh 88% koki aktif. Distribusi kalus pada jari tangan kanan menunjukkan spesialisasi pisau berat. Tingkat ancaman: Minimal."

Hana tersentak mendengar kata-kata itu. "Apa? Minimal?! Kamu bahkan belum pernah mencicipi masakan Ren!"

Kenjiro akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Hana, namun tatapannya tetap kosong. "Data dari babak penyisihan Kota Karasu menunjukkan variabilitas rasa yang terlalu tinggi. Kamu memasak berdasarkan insting manusia yang tidak stabil. Di sistemku, ketidakstabilan adalah kegagalan."

Yuki melangkah maju, memegang berkas pendaftarannya dengan kencang. "Masakan bukan sekadar angka di layar kacamatamu, Kenjiro. Kamu tidak akan menemukan 'jiwa' di dalam kodemu."

Kenjiro hanya sedikit memiringkan kepalanya. "Jiwa adalah istilah metafisika untuk menutupi ketidakefisienan teknik. Ryuji-sama benar, kalian hanya peninggalan masa lalu yang romantis."

Ren tetap diam sepanjang konfrontasi itu. Ia memperhatikan cara Kenjiro berdiri—sangat kaku, seolah-olah setiap persendiannya diatur oleh motor listrik. Kemistri antara Ren yang mewakili 'darah dan keringat' dengan Kenjiro yang mewakili 'baja dan data' menciptakan tegangan yang hampir bisa dirasakan secara fisik oleh orang-orang di sekitar mereka.

Perlahan, Ren mendekati Kenjiro hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Kenjiro," panggil Ren pelan, namun suaranya memiliki otoritas yang dalam. "Ikan yang kamu potong itu pernah berenang di laut. Sayuran yang kamu iris itu pernah tumbuh di tanah. Jika kamu hanya melihat mereka sebagai data, kamu tidak sedang memasak. Kamu sedang melakukan otopsi."

Mata Kenjiro sedikit berkedip—sebuah anomali kecil dalam ekspresinya yang kaku.

"Kita lihat nanti di dapur," lanjut Ren. "Saat panas api mulai membakar algoritmamu, aku ingin tahu apakah kamu masih bisa menyebut masakanmu 'sempurna'."

Ren berjalan melewati Kenjiro tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Hana dan Yuki yang menatap tajam ke arah Ryuji. Di meja pendaftaran, Ren menyerahkan formulirnya dengan tangan yang sangat stabil.

Petugas pendaftaran melihat nama Ren dan logo 'Ren's Cuisine'. "Akira Ren dari Kota Karasu. Meja nomor 13 untuk babak penyisihan pertama besok pagi. Bahan utamanya akan diumumkan sesaat sebelum dimulai."

Saat mereka berjalan keluar dari Balai Sidang, Hana memegang lengan Ren dengan erat. "Ren, dia... dia benar-benar seperti robot. Aku merasa merinding saat dia menatapku."

Ren berhenti sejenak di tangga gedung, menatap matahari yang mulai condong ke barat. "Dia memang kuat, Hana. Secara teknis, dia mungkin sempurna. Tapi dia punya satu kelemahan besar."

"Apa itu?" tanya Yuki penasaran.

"Dia tidak tahu rasanya lapar," jawab Ren pelan. "Dia tidak tahu rasanya berjuang demi sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka. Dan besok, kita akan menggunakan kelaparan kita untuk menghancurkan kesempurnaannya."

Kemistri di antara mereka bertiga kini bukan lagi sekadar persahabatan, melainkan persekutuan perang. Di tengah ibu kota yang sombong ini, mereka baru saja mendeklarasikan bahwa 'hati' tidak akan menyerah begitu saja pada 'mesin'.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!