Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIDAH BERSAYAT
Lagi-lagi, Yasmin mencoba mengalihkan gemuruh di dadanya dengan menyibukkan diri di dapur, membantu Mbok Sari menyiapkan bahan masakan. Aroma bawang putih yang ditumis dan denting pisau di atas talenan menjadi satu-satunya pelarian sementara dari bayang-bayang ketakutan semalam.
"Non Yasmin, simpan saja pisaunya. Biar Simbok yang teruskan potong sayurnya. Non istirahat saja di depan, ya?" ujar Mbok Sari lembut, merasa sungkan melihat majikan mudanya itu sibuk di dapur.
"Tidak apa-apa, Mbok. Saya di minta Tante Maura untuk membantu Mbok," sahut Yasmin dengan senyum yang dipaksakan, meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Ya, sudah..." Angguk Mbok Sari. "... kalau begitu, gak apa-apa kalau Simbok tinggal dulu sebentar ke depan?"
Yasmin mengangguk pasrah, sebuah gerakan kecil yang menyedihkan. Meski hatinya dirongrong keragu-raguan yang hebat, meski perasaannya perlahan berkecamuk hebat dalam dada, ia tak punya kekuatan untuk melawan. Di rumah sebesar ini, ia merasa kerdil. Sebenarnya, alasan utama ia memutuskan ke dapur adalah karena ia takut ditinggal sendirian. Ia merasa aman jika ada Mbok Sari yang menemani di sisinya, seseorang yang bisa menjadi saksi atau pelindung tak kasatmata.
Tapi ternyata, keamanan itu hanyalah ilusi yang rapuh. Begitu Mbok Sari melangkah pergi ke belakang, celah itu langsung dimanfaatkan oleh Tama.
"Kenapa diam saja? Bukankah kamu suka keramaian?"
Suara berat dan datar itu memecah keheningan dapur yang mencekam, seolah-olah menertawakan ketakutan yang tengah merayap di dada Yasmin.
Yasmin tersentak hebat, jantungnya seakan melompat keluar dari tempatnya.
Suara itu…
Suara yang paling ia hindari di rumah ini. Perasaannya mendadak tak enak, seperti ada beban berat yang menghimpit ulu hatinya.
Ia perlahan memutar tubuhnya, melepaskan pisau dapur yang tadi digenggamnya erat di atas meja, takut jika senjata tajam itu justru akan melukainya sendiri karena tangannya yang gemetar parah.
Tama.
Pria itu berdiri di sana, di ambang pintu dapur, dengan pakaian santai namun tatapan matanya tajam dan mengintimidasi. Orang yang paling Yasmin takutkan, orang yang akhir-akhir ini menghantui mimpi buruknya, kini berdiri tepat di hadapannya.
Tama tidak bergerak, ia hanya diam menatap Yasmin, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang dingin. Tatapannya seolah-olah bisa menembus kulit Yasmin, membaca setiap ketakutan yang ia sembunyikan.
Di dapur yang luas ini, hanya ada mereka berdua. Mbok Sari sudah lama pergi ke belakang, dan Arya pun sudah berangkat kantor. Yasmin merasa terjebak, terkurung dalam jaring yang perlahan-lahan ditarik oleh pria di hadapannya.
"Ma-Mas Tama..." bisik Yasmin, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia ingin sekali berteriak, memanggil Mbok Sari, tapi lidahnya seolah kelu, tertahan di kerongkongan.
Tama lalu mendekat, langkahnya pelan dan berirama, seolah-olah sedang menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari wajah Yasmin. Hingga, jarak di antara mereka pun semakin terkikis, aroma parfum maskulinnya kian terasa menyengat, kontras dengan aroma masakan yang tadi sempat ia cium.
Yasmin kemudian mundur selangkah, mencoba menciptakan jarak, namun Tama justru semakin mendekat, memerangkapnya di antara tubuh tegapnya dan meja dapur yang keras.
Dan dengan gerakan lembut namun penuh penekanan, Tama menarik tubuh Yasmin, memeluknya dengan erat. Sepasang lengan kekarnya melingkari pinggang Yasmin, menariknya hingga merapat pada dada bidang yang keras itu.
Perlahan, napas hangat Tama menyapu leher Yasmin, membuat bulu kuduknya seketika meremang hebat. Pelukan itu terasa begitu posesif, seolah-olah Tama ingin menunjukkan bahwa Yasmin adalah miliknya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja.
"Masih gemetar, Sayang?" bisik Tama rendah, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Bukankah aku sudah bilang? Jangan coba-coba menghindar, Non Yasmin."
Yasmin hanya bisa pasrah, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia terperangkap dalam sangkar emas yang dibangun oleh suaminya, dan kini kuncinya dipegang erat oleh sang kakak ipar.
"Tolong..." lirih Yasmin penuh permohonan. "... jangan lakukan."
Tama tersenyum dan kembali berbisik di telinga Yasmin. "Tapi aku sudah membayarmu, sayang. Kamu harus melakukannya. Aku rugi enam puluh juta hanya ingin menikmati tubuh seorang pelayan tercantik di restoran itu."
Yasmin menggeleng. Jemarinya mencoba melepaskan lengan kekar Tama yang begitu erat melingkari pinggang rampingnya.
"Kalau kamu mencoba berteriak..." Kalimat Tama menggantung di udara, dingin dan tajam, memotong sisa keberanian yang masih Yasmin miliki.
Bersamaan dengan itu, satu tangan Tama terulur perlahan, melewati bahu Yasmin yang kaku. Jemarinya yang panjang meraih pisau dapur yang tadi Yasmin letakkan di atas meja. Bunyi logam yang bergeser di atas permukaan granit terdengar begitu nyaring di telinga Yasmin, seolah-olah suara itu adalah detak jantungnya yang sedang dipacu maut.
Tama lalu memutar-mutar pisau itu dengan gerakan santai namun penuh ancaman, membiarkan mata pisau yang berkilat itu memantulkan cahaya matahari pagi ke arah wajah pucat Yasmin.
"... pisau ini tak segan-segan menembus tubuhmu, sayang." lanjut Tama setengah berbisik. "Pilih mana? Mau aku yang menusukmu dengan nikmat atau pisau ini yang menusukmu kesakitan?"
Pertanyaan itu meluncur dengan nada tenang, namun sarat akan kegilaan yang membuat seluruh sendi Yasmin terasa lumpuh. Air matanya luruh tanpa suara, membasahi punggung tangan Tama yang tengah memainkan senjata tajam itu di depan dadanya. Ia ingin berteriak, ingin memanggil Mbok Sari yang mungkin hanya berjarak beberapa meter di balik pintu belakang, namun ancaman itu telah mengunci lidahnya rapat-rapat.
"Mas... Mas Tama, tolong..." rintih Yasmin, suaranya pecah dan nyaris hilang.
Tama justru terkekeh rendah, sebuah tawa kering yang terdengar sangat puas melihat kehancuran di wajah istrinya Arya itu.
"A-aku..." Suara Yasmin bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam isak tangis yang tertahan di kerongkongan. "... aku akan mengganti semua uang atau kerugian yang telah kamu keluarkan. Aku mohon, Tama... lepaskan aku."
Yasmin mencoba menawarkan satu-satunya jalan keluar yang terlintas di benaknya yang kalut. Ia berharap materi bisa memuaskan dahaga kekuasaan pria di belakangnya ini. Namun, harapannya hancur seketika.
"Ganti rugi?" Tama memotong kalimatnya dengan nada yang meremehkan. Sebuah seringai sinis terukir di wajah tampannya yang dingin. Ia justru semakin mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya menyentuh kulit leher Yasmin yang dingin karena keringat ketakutan.
"Kamu mau bayar pakai apa, Sayang? Uang Arya?" Tama terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Yasmin.
Cengkeramannya di pinggang Yasmin semakin mengerat, seolah ingin meremukkan tulang rusuk wanita itu. "Kalau Arya tanya uang itu buat apa, kamu mau jawab apa? Kamu jawab untuk membayar semua ini? Itu sama saja kamu... menjerumuskan aku!"
Tama menekan kalimat terakhirnya dengan bisikan yang tajam. Mata pisau yang masih berada di tangannya digeser perlahan di atas meja, menciptakan bunyi nyaring yang menyayat rungu.
"Jangan bodoh, Non Yasmin. Aku tidak butuh uang receh dari adikku," lanjut Tama dengan nada yang kian gelap. "Ada hal lain yang jauh lebih berharga yang aku inginkan... itu kamu. Aku... ingin kamu."
"Jangan..." Yasmin terisak, tubuhnya bergetar hebat dalam dekapan yang terasa seperti jerat kematian itu. "Aku mohon, lepas, Mas!"
Namun, permohonan itu bagai angin lalu bagi Tama. Alih-alih menjauh, pria itu justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yasmin. Tanpa permisi, Tama kemudian mendaratkan ciuman yang menuntut di sana, melumat kulit halus itu dengan kasar hingga menciptakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh Yasmin.
"Mas Tama... jangan..." Yasmin merintih, tubuhnya bergelinjang hebat mencoba melepaskan diri. Namun, tenaga pria itu jauh lebih besar. Anehnya, rasa takut yang luar biasa justru membuat persendian Yasmin mendadak lemas. Ia ingin mendorong dada Tama, ingin berlari sekencang mungkin, tapi kakinya seolah terpaku di lantai dapur yang dingin. "Mas..."
"Yasmiiiin!"
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan dapur, menghantam telinga mereka seperti petir di siang bolong.
Tama tersentak. Serta-merta ia melepaskan dekapannya dan menjauhkan wajahnya dari leher Yasmin yang kini telah membenamkan tanda. ketika ia hendak berbalik dengan gerakan cepat, Maura sudah muncul di ambang pintu dan mendapatinya.
"Tama?" tanya Maura dengan nada heran, matanya menyipit curiga. "Kamu ngapain di sini?"
Pandangan Maura kemudian turun, tertuju pada pisau dapur yang masih digenggam erat oleh putranya. Sementara, bulu kuduk Yasmin meremang, ia berdiri mematung dengan napas yang masih tersengal, berusaha menutupi lehernya dengan rambut yang tergerai berantakan.
"Ngapain kamu pegang pisau?" selidik Maura lagi, langkahnya perlahan memasuki area dapur.
"Uhm. Ini..." Tama berdeham panjang, mencoba menetralkan suaranya yang sempat serak. Ia menoleh sekilas ke arah Yasmin yang tengah menyeka air matanya dengan gerakan kasar, lalu kembali menatap ibunya dengan sorot mata yang mendadak dingin.
"... Ma, Yasmin itu ternyata pelayan resto," ujar Tama santai, seolah baru saja menjatuhkan bom informasi yang remeh.
Maura terbelalak, wajahnya seketika menegang karena syok. "Apa?! Jadi kamu seorang pelayan resto?! Pantas saja... rendah!"
Hinaan itu meluncur begitu saja dari bibir Maura, menambah luka di hati Yasmin yang sudah hancur. Tama kemudian mengangkat pisau di tangannya, memutar-mutarnya seolah sedang memamerkan keahlian.
"Aku cuma mau coba bantu dia masak. Aku pegang pisau karena waktu aku datang ke restorannya dan mencicipi masakannya, potongan dagingnya terlalu besar. Tidak rapi," dusta Tama dengan nada bicara yang begitu meyakinkan. "Aku tanya siapa yang memotongnya, ternyata dia sendiri. Dan sekarang, aku cuma coba ajari dia cara memotong daging yang benar agar tidak memalukan keluarga ini di depan tamu nanti."
Maura mendesis sinis. Ia melipatkan kedua lengannya di bawah dada, melangkah mendekat hingga jaraknya hanya beberapa senti dari Yasmin. Sorot matanya penuh kebencian dan penghinaan, memindai Yasmin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sudah saya duga, asal-usulmu memang tidak jelas," desis Maura tajam. "Kamu itu memang wanita tidak guna! Menyiapkan makanan saja harus diajari oleh kakak iparmu sendiri? Apa saja yang kamu lakukan selama ini selain menggoda anak saya?"
Yasmin hanya bisa menunduk dalam, membiarkan air matanya jatuh ke lantai dapur yang dingin. Ia ingin berteriak bahwa Tama berbohong, bahwa pria itu baru saja melecehkannya, namun keberaniannya telah lenyap ditelan ancaman pisau dan tatapan menghakimi dari ibu mertuanya.
Tama pun menyeringai tipis—sebuah kemenangan mutlak yang membuat Yasmin merasa kian terperosok dalam lubang hitam yang tak berujung.
****