Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Sarah terpaku tidak percaya melihat apa yang ada di depannya sekarang. Setelah dari rumah, Sarah berencana untuk menjemput Tamara dengan mobilnya. Tapi kini di hadapannya, bukan hanya ada Tamara tetapi ada dua sosok lain yang Sarah ingat tidak pernah mengajak atau mengundang mereka.
"Jadi? Ini maksudnya apa?" tanya Sarah menuntut.
Tamara berdeham, lalu menunjukkan deretan gigi putihnya kepada sara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hai Sar, kita mau ikut nih. Gak apa-apa kan?" Seru Alvian sambil merangkul Tamara, nama gadis itu langsung memutar tangan Avian sehingga laki-laki itu merintih kesakitan.
"Gue juga mau ikut dong. Gue sama Alvian akan buat liburan kali ini jauh lebih menyenangkan. Iya gak?" Timpal Daffa dengan alis yang dinaik turunkan.
Mata Sarah beralih pada Tamara, gadis itu masih menuntut penjelasan.
"Maaf ya Sar, dua curut ini kemarin mergokin gue packing. Terus tiba-tiba pagi ini mereka berdua udah ada di depan rumah gue." Tamara mencebikan bibirnya merasa bersalah pada Sarah.
Sarah mendengus, kemudian menatap ke arah Daffa dan Alvian." Kalian yakin mau ikut?"
Alfian dan juga Daffa dengan kompak mengangguk. Akhirnya Sarah mau tidak mau mengiyakan. Kemudian mereka pun bergegas memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.
"Mobilnya sempit banget sih, Sar. Nggak ada mobil yang lebih gede dikit apa? Ini lagi, tas lo banyak banget sih Tamara, lu mau camping atau mau pulang kampung?" Cibir Alvian dan langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Tamara. Mata gadis itu menatap dalam ke arah Avian sehingga laki-laki itu harus menutup mulutnya rapat-rapat.
"Wajar lah kan awalnya gue cuma mau pergi sama Tamara, kalian gak diajak."
"Tau nih, udah datang gak diundang banyak protes lagi," sahut Tamara.
Alvian mendelik menatap kesal ke arah Tamara.
"Oh iya, Marvin mana? Kenapa cuma ada kalian berdua?" Tanya Tamara heran, karena biasanya mereka bertiga selalu bersama seperti perangko yang lengket dan susah dipisahkan.
Sarah mendengar nama Martin disebut langsung memasang telinga, ia juga penasaran kenapa laki-laki itu tidak ikut juga.
"Oh dia, dia bilang nggak bisa katanya ada urusan lain," kata Daffa.
"Oh."
Percakapan mengenai Marvin pun terhenti, sepanjang perjalanan mereka membicarakan hal-hal random. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan Mereka pun sampai di villa milik Sarah.
"Wah, ini villa Lo? Keren banget," ujar Tamara takjub seraya menatap seluruh bangunan dan juga pemandangan di depannya.
Sarah dan ketiga temannya merasakan udara segar segera setelah mereka tiba di villa yang dikelilingi hutan lebat. Villa itu berdiri megah dengan arsitektur yang modern, dilengkapi dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan cahaya alami menerangi setiap sudut ruangan. Di luar, terhampar taman yang terawat dengan beberapa jenis flora yang menambah keindahan pemandangan.
Tidak jauh dari bangunan utama, sebuah kolam renang dengan air yang jernih terlihat menggoda untuk segera terjun dan menikmati kesegarannya. Dekat dengan kolam renang, terdapat area santai dengan beberapa kursi berjemur yang menghadap langsung ke hutan, menciptakan suasana tenang dan menyegarkan.
Lebih jauh sedikit dari villa, suara gemericik air terdengar dari sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari lokasi mereka. Air sungai yang jernih dan dingin, dikelilingi oleh batu-batu besar dan tumbuhan hijau yang tumbuh subur di sekitarnya, menambah kesan asri dan alami pada lingkungan villa tersebut.
"Gak di ragukan lagi si, kekayaan dari keluarga Sarah," ucap Alvian seraya mengangkat barang-barang nya.
Ketiganya segera masuk ke dalam villa, Tamara, Alfian dan juga Daffa terperangan melihat interior yang ada di dalam villa.
"Di sini cuma ada dua kamar. Nah kamar kalian ada di sebelah sana, sedangkan kamar gue sama Tamara ada di sebelah sini," ujar Sarah sambil menunjuk keuangan kamar yang dimaksud.
Ketiganya mengangguk Mereka pun berjalan ke kamar masing-masing untuk merapikan barang-barang yang mereka bawa.
"Lu bawa apa aja sih, Tamara?"tanya Sarah ketika melihat barang Tamara yang ternyata sangat banyak." Benar kata Alvian, gue ngeliat lo udah kayak mau pulang kampung aja."
"Ini kan namanya camping, tentu aja gue harus mempersiapkan segala perlengkapan. Niat gue kan mau camping di luar gitu loh, buat api unggun terus nyanyi bareng atau main game. Nih gue sampai bawah kartu buat kita main nanti,"ujar Tamara sambil menunjukkan barang-barang yang dimaksud.
Sarah baru tahu jika Tamara adalah perempuan yang sangat niat dalam melakukan sesuatu. " Lo kenapa gak bilang? Tahu gitu kan gue bisa siapin juga."
"Nggak perlu lah, gue nggak mau terlalu ngerepotin lo."
"Justru Gue nggak ngerasa direpotin, gue kan cuma-"
"Iya iya, Gue tahu kok lu bisa memiliki apa yang lo mau. Tapi Sar, gue nggak mau ngerepotin lo, setidaknya gue juga menyiapkan sesuatu buat Lo."
Sarah tersenyum kecil." Yaudah deh."
"Oh iya, ini dari Fabian. Katanya buat gantiin gelang lo yang rusak, emangnya gelangmu rusak kenapa?" Tanya Tamara lalu menyerahkan sebuah gelang berwarna biru langit yang terlihat sangat elegan.
"Ah bukan apa-apa."
Flashback
Dua minggu yang lalu. Sarah, Fabian dan Yuna sedang berada di sebuah cafe untuk mengerjakan tugas kelompok. Pada saat itu Marvin tidak bisa datang lebih awal karena ada urusan.
"Lo ngerti nggak sih konsepnya? Kayak gini aja lu nggak ngerti!" Ucap Yuna kesal.
Sarah mencoba untuk bersabar dengan sikap Yuna yang sedari tadi terus memojokkan dirinya. Entah punya keberanian dari mana gadis itu memarahi Sarah secara terang-terangan.
"Udah Yun, Lo gak perlu marah-marah kayak gitu. Ini cuma tugas kok," ucap Fabian menengahi.
"Lo kenapa sih selalu belain dia terus? Lo suka sama dia?!" Tuduh Yuna yang membuat Sarah kesal.
Baru saja Sarah ingin membalas ucapan Yuna, maafin tiba-tiba datang dan menatap aneh ke arah mereka.
"Kenapa?" Tanya Marvin kepada Fabian ketika merasa suasana di antara mereka sedikit aneh.
Fabian menatap ke arah Sarah dan juga Yuna secara bergantian, kemudian laki-laki itu menggeleng. "Nggak apa-apa kok, ya duduk aja ini gue mau jelasin pembagian tugasnya."
Meskipun Marvin tahu jika kalian sedang berbohong, tapi dia tidak mau ambil pusing. Akhirnya Marvin duduk dan mendengarkan penjelasan dari Fabian. setelah mendapatkan penjelasan dari Fabian Mereka pun mulai mengerjakan tugas kelompok tersebut. Beberapa menit kemudian lagi-lagi terdengar Yuna yang sedang memarahi Sarah.
"Sarah lo itu benar-benar bego ya?! Gue udah bilang konsepnya bukan kayak gitu!"
"Konsep apa sih yang dari tadi lo ngomongin, hah? Gue dari tadi udah nyari materi sesuai tema kelompok ya! Lu aja yang sengaja cari gara-gara sama gue!" Ucap Sarah terlanjur kesal.
"Tuh kan, lihat lo sekarang. Akhirnya muncul juga sifat asli. Berarti selama ini lu cuma pura-pura baik di depan semua orang, gue muak tahu lihat lo yang pura-pura baik itu."
Sarah menganga tidak percaya, sebenarnya ada masalah apa sih perempuan yang satu ini dengan dirinya?
"Pantes aja ya Marvin nggak pernah ngelirik lo sama sekali, dia kayaknya jijik disukain sama cewek murahan kayak lo. Dasar cewek jahat!" Yuna menatap tajam Sarah dengan emosi yang tertahan.
Marvin yang sedang mengetik pun menghentikan aktivitasnya begitu namanya disebut.
"Yuna cukup ya!" Fabian berusaha menghentikan pertengkaran.
"Jaga mulut Lo ya, sialan!" Cara mendorong pundak Yuna dengan kasar. Sudah dari tadi ia sudah mencoba untuk bersabar, tapi perempuan di depannya ini sudah sangat keterlaluan.
"Apa? Emang bener kan ucapan gue? Lo nggak ingat Yogi?" Seketika Sarah terdiam ketika nama laki-laki itu disebut.
Melihat ekspresi Sarah membuat Yuna tersenyum remeh." Kenapa lo diam?"
Sarah mengepalkan tangannya dengan kuat, ia lalu menatap tajam Yuna, matanya beralih pada gelas yang ada di depannya tanpa diduga Sarah menyiram gelas yang masih berisi air itu ke arah Yuna.
Bukan hanya Yuna yang terlihat syok, tapi semua orang yang ada di sana pun ikut terkejut.
"Lo-"
"Apa? Kalau lo mau cari lawan tolong ya cari yang sepadan buat lo. Lo tau sendiri kan kalau gue bukan cewek baik. Gue bahkan bisa nampar lo sekarang juga." Tangan Sarah terangkat untuk menampar wajah Yuna.
"Sarah!" Fabian menarik tangan Sarah untuk menjauh dari Yuna, tanpa laki-laki itu sadari dia tidak sengaja menarik gelang Sarah hingga elang itu terputus.
" Marvin, lo lihat sendiri kan? Dia kasar banget," ucap Yuna sambil tersenyum miring, ia yakin Marvin akan mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat Sarah sakit hati.
Marvin berdecak kesal, ia kemudian memasukkan kembali laptop yang ke dalam tas. Laki-laki itu menatap Sarah sesaat lalu beralih pada Yuna.
"Lo diem, gue males berurusan sama cewek sok tahu kayaknya Lo."
Setelah mengatakan itu, Marvin pergi begitu saja. Suasana cafe tiba-tiba berubah karena pertengkaran Sarah dan juga Yuna. Mereka pun memutuskan untuk mengakhiri tugas kelompok hari itu.
Sarah menghela nafasnya, setelah kejadian itu Sarah malu untuk bertemu dengan Marvin meskipun mereka masih satu kelas. Maafin juga tidak pernah menyinggung masalah itu, sehingga perjanjian itu seperti angin lalu.