NovelToon NovelToon
Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.

Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.

Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.

dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sampai dibarak

Keesokan harinya, Jenderal Jiang bangun sendirian di atas tempat tidur. Dia menyentuh kain halus yang menjadi alas tidur – tidak tahu dari kulit hewan apa itu dibuat, namun sangat nyaman.

Dia duduk dan merasakan lengannya tidak lagi menyakitkan,obat yang diberikan anak itu sepertinya bekerja dengan baik.

Namun, dimana anak itu sekarang?

Dia akan bangun saat Hwang Zin muncul dari luar gua, membawa beberapa buah yang tak pernah dia lihat – sepertinya buah liar yang ditemukannya di sekitar hutan.

Melihat Jendral kesulitan berdiri, Hwang Zin segera menghampirinya. "Apakah kamu merasa lebih baik?"

"Tak apa-apa..... tapi kamu-" Jendral melihat wajah anak ini terluka: dagunya memar dan pipinya tergores meskipun tidak dalam, namun sangat mencolok karena kulitnya yang putih.

"Tak apa-apa... ayo makan dulu.." Hwang Zin memintanya duduk kembali dan mengambil tempat di sisinya.

Dia mengeluarkan beberapa buah ceri dan tomat ceri dari tasnya – barang yang dia bawa dari tokonya. Jenderal tidak sopan menolaknya dan memakannya dengan patuh.

Rasa manis segar dengan sedikit rasa asam membuatnya merasa senang. Melihat itu, Hwang Zin merasa lega. "...Setelah makan, ayo pergi dari sini – aku rasa yang lain pasti sedang menunggu kita..."

Jendral mengangguk. "Kamu juga makan..."

Dia mengambil satu buah ceri dan memberikannya pada Hwang Zin, yang menerimanya dan memasukkannya ke dalam mulut hingga pipinya mengembung dengan lucu.

Ekspresi wajah Jiang Feng secara tak sadar melembut.

Keduanya keluar gua dan mencari jalan setapak menuju arah kelompok. Butuh waktu beberapa saat hingga mereka bertemu dengan kelompok Cavivar.

Semua orang merasa lega melihat mereka berdua baik-baik saja, meskipun Jendral terluka dan beberapa prajurit juga mengalami cedera ringan.

Mereka tidak lagi menunda waktu dan segera melanjutkan perjalanan ke barak. Jiang Feng tak bisa menunggang kuda sehingga harus duduk di gerobak bersama Hwang Zin.

"Bagaimana lukanya?" tanya Hwang Zin dengan penuh perhatian.

Jiang Feng meliriknya dan berkata dengan nada lembut."Sakit...."

Hwang Zin membeku. Dia kira Jendral tidak akan mengeluh tentang rasa sakitnya, tapi bagaimana mungkin tidak sakit – dagingnya terkoyak dari tubuhnya.

Dia segera membuka tas di sisinya mencari obat anti nyeri. Setelah mendapatkannya, dia berpindah duduk di sebelah pria itu dan membantunya meminumnya. "Buka mulutmu..."

Jiang Feng dengan patuh membuka mulutnya tanpa bertanya apa itu obatnya.

"Minum.." Hwang Zin juga membantunya minum air. Mungkin karena rasa bersalah, dia bahkan lupa bahwa salah satu tangan Jendral dalam kondisi baik.

Namun Jendral sendiri sepertinya sengaja tidak mengingatkannya – dia fokus melihat wajah anak ini yang sangat dekat dengannya:

bulu matanya panjang, alis tebal, hidung mancung, dan bibir merah yang menutup rapat.

Detak jantungnya semakin cepat dan terasa panas.

Mereka tiba di barak pada siang hari dan disambut dengan sorak sorai dari para prajurit. Jendral turun dari gerobak, diikuti Hwang Zin di belakangnya.

Dokter Fei berlari cepat menghampirinya dengan wajah cemas. "...Kamu terluka?"

Hwang Zin melihat pria ini memiliki kulit lebih halus dibandingkan orang lain di sini – sepertinya hidupnya jauh lebih nyaman.

"Luka kecil..." jawab Jendral dengan ekspresi ringan, lalu berbalik kepada prajurit lainnya."....Yang terluka ikut dengan ku...."

Lima orang termasuk Saudara Peng dan Saudara Lang mengikuti Jendral pergi bersama Dokter Fei.

Hwang Zin yang ditinggalkan merasa sedikit tidak nyaman, namun untungnya Song Wen segera menjemputnya dan membawanya ke kamar miliknya.

Jendral yang sudah berjalan beberapa langkah seolah baru menyadari sesuatu – dia berbalik dan melihat punggung Hwang Zin yang pergi bahu-membahu dengan Kapten Song.

Matanya segera mengelap dengan ekspresi dingin.

Dokter Fei melihat arah yang ditatap Jendral lalu memanggilnya. "Jendral...?"

"Ayo pergi...." Dia berbalik dan berjalan lebih cepat, seolah tidak bisa bertahan berdiri di sana lebih lama.

Saudara Peng dan Saudara Lang saling melirik – sepertinya Jendral memang melihat ke arah "boss kecil" mereka.

Hwang Zin berada di kamar Song Wen yang memiliki tiga ranjang kayu. Pria itu memintanya untuk istirahat karena yakin pengalaman semalam pasti sangat menakutkan.

Hwang Zin tidak menolak dan segera tertidur setelah berbaring di salah satu ranjang. Pada sore harinya, dia dibangunkan oleh Hang Si yang mengajaknya pergi ke arena makan.

Keduanya memasuki ruang makan yang luasnya hampir 40 meter dengan atap tinggi lebih dari 3 meter, dilengkapi banyak bangku dan meja kayu yang tertata rapi.

Saat masuk, Hang Si membawanya menemui kelompok koki yang sedang menyiapkan makanan dan segera berdiri menyambut mereka.

"Hang Si.." sapa pria berjanggut yang tampaknya adalah koki kepala di sini.

"Paman Dong, ini Hwang Zin-an – dia akan bekerja bersama Anda. Jendral yang membawanya sendiri... jadi tolong perhatikan...." ucap Hang Si dengan nada tenang.

Namun menyiratkan peringatan bahwa mereka tidak boleh menyiksa atau membully Hwang Zin semaunya – anak ini adalah milik Jendral.

Pria tua itu mendengus. Dia melihat Hwang Zin yang berkulit putih bersih, tinggi dan tampan – jelas seorang tuan muda.

"Hang Si, kamu tidak perlu terlalu mengancam kami dengan membawa nama Jendral......"jelas pria dengan luka di alisnya dengan senyum mengejek.

Hang Si mendengus dengan alis mengerut."...Aku hanya mengatakan fakta. Jika kalian atau kamu berani mengganggunya, mungkin bukan Jendral yang akan turun tangan lebih dulu – melainkan klompok kami...."

"Kamu....!" Wajah pria itu berubah warna merah lalu hijau karena marah.

Hwang Zin menghela nafas – mengapa anak ini mencari musuh untuknya di hari pertama bekerja?

"Oke cukup..." potong Paman Dong dengan tak sabar melihat anak buahnya yang mudah tersulut emosi. Pria itu segera terdiam meskipun masih terlihat marah.

Yang lain tak berani bersuara. Hwang Zin melihat bahwa Paman Dong bukan orang yang bias.

Jadi dia berkata dengan tenang.".....Saya hanya bekerja sesuai perintah Jendral. Jika ada yang keberatan, kalian bisa bertanya langsung pada Jendral..."

Semua orang langsung terdiam.

Waktu makan malam tiba. Hwang Zin membantu memasak hari ini namun tidak banyak pekerjaannya karena Paman Dong tak membiarkannya menyentuh hal lain selain tugas dasar seperti mencuci dan memotong sayuran.

Pada pukul enam malam, semua masakan sudah siap di atas meja. Empat orang termasuk dirinya berdiri di depan makanan yang akan dibagikan kepada prajurit.

"Nah selanjutnya....!" teriak Paman Dong dengan penuh semangat.

Hwang Zin memberikan roti kukus pada setiap prajurit yang datang. Semua orang tampak menikmati makan mereka, tertawa dan saling mengobrol riang.

Hwang Zin melihat wajah para prajurit ini – orang-orang yang siap mengorbankan nyawa di medan perang.

"Zin.an..." koki kecil di sisinya menyenggol lengannya. Hwang Zin tersadar dan segera memberikan roti pada prajurit di depannya."Maaf, ini dia...."

Prajurit itu berkata tidak apa-apa dan pergi dengan makanan.

"Apa yang kamu lamunankan?" tanya koki itu dengan penasaran. Hwang Zin menjawab dengan tulus. "...Saya hanya berpikir bahwa saya cukup merasa bangga bisa berada di sini..."

"Apa...?" Koki itu tertegun, begitu pula Paman Dong yang diam-diam mendengar pembicaraan mereka.

Kedua orang koki lainnya juga menoleh dengan ekspresi terkejut.Bahkan prajurit yang sedang mengantri juga menatapnya dengan tidak percaya.

Kebanyakan orang yang bekerja di sini merasa menderita dan terpaksa menjalankan pekerjaan mereka – banyak yang ingin melarikan diri dan merasa terkurung seperti di penjara.

Namun anak ini datang dan berkata bahwa dia bangga berada di sini....

Hwang Zin menundukkan matanya. "...Bisa melihat para pahlawan berkumpul secara dekat tentu saja membuat saya sangat senang......."

Mereka semua menarik nafas dalam-dalam.

Mata para prajurit yang sedang mengantri memerah. Tidak – tidak pernah ada orang yang memanggil mereka sebagai "pahlawan".

Saat mereka bertempur mati-matian, yang selalu dikenang adalah nama para petinggi dan pemimpin yang berhasil memimpin perang.

Sedangkan prajurit kecil seperti mereka hanya akan dikenang oleh kerabat sendiri – atau bahkan tidak dikenang oleh siapapun.

Namun mereka menerima hal itu dengan ikhlas karena memang tugas mereka untuk membela tanah air.

Hwang Zin mengangkat kepalanya, melihat wajah para prajurit yang sedang makan dengan bahagia dan bercanda bersama rekan-rekan.

"....Makan bersama, tertawa bersama dengan bahagia, menghargai setiap momen yang ada karena mungkin kalian tahu... mungkin mereka tidak akan...lalu jika perang terjadi..."

Hwang Zin menghentikan kata-katanya, namun semua orang tahu apa yang dia maksud.

"Kamu..." Paman Dong dan yang lain melihatnya dengan bibir gemetar. Bahkan koki yang memiliki luka di wajah pun jatuh berlutut dan menangis sedih.

"Wowuuuu...."

Mendengar tangisan itu, para prajurit yang sedang makan saling memandang bingung melihat apa yang terjadi di area koki.

Prajurit yang mendengar kata-kata Hwang Zin merasa bahwa kelompok koki juga telah bekerja keras untuk menyediakan makanan bagi mereka – memberi mereka energi untuk tetap bertahan selama ini.

Namun kadang mereka lupa bahwa setiap orang di sini memiliki beban dan peran masing-masing.

Entah itu Jendral, kapten, prajurit, koki, dokter, atau penjaga kuda – semua orang memiliki peran penting dalam menjaga kedamaian Negara Hu.

Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; semua memiliki tempat sendiri untuk mendukung keseluruhan sistem.

"Saya sebagai salah satu anak yang telah kalian lindungi, sangat berterima kasih – terima kasih telah membiarkan saya tumbuh di lingkungan yang damai selama ini......."ucap Hwang Zin dengan lembut.

Lagipula orang-orang ini sudah berkorban begitu besar bagi negara mereka, walaupun di awal dia tak benar-benar hidup diera ini.

Para koki menutup mulut mereka dengan emosi.

Jenderal Jiang yang sedang berdiri di belakang pintu ruang makan menundukkan matanya – wajahnya tetap tanpa ekspresi namun tangannya mengepal erat.

Dibelakangnya, Song Wen dan tiga orang lainnya berusaha menahan air mata. Mereka telah mendengar semua perkataan Hwang Zin sejak awal.

Ya, para prajurit kecil ini memang bekerja dengan resiko kematian yang lebih besar di medan perang dibandingkan mereka sebagai pemimpin.

Bahkan para koki, dokter, dan penjaga kuda yang berusaha menjaga kesehatan kuda perang juga sering terlupakan.

Namun saat kemenangan diraih, hanya nama pemimpin seperti mereka yang dikenang oleh sejarah.

Tak ada yang tahu bahwa sebagai satu-satunya yang hidup dan berdiri di atas darah saudara mereka, mereka membawa beban dosa dan rasa bersalah sepanjang hidup.

Kadang mereka sebagai pemimpin berusaha sebaik mungkin untuk mencegah jatuhnya korban – tapi tangan mereka tidak cukup kuat untuk melindungi ribuan orang yang ada di medan perang.

1
Dania
misi
LING
r
Jack Strom
Nice!!! 😁
Jack Strom
Jejak kumis!!! 😁
Dania: misiiiiiii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!