DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Di Labrak Vanilla
"AZAAAAA, sepatu gue yang biasanya mana? Kok nggak ada?"
Mendengar teriakan super menggelegar itu, membuat Aqqela yang memasukkan buku-buku untuk pelajarannya hari ini ke dalam tas, melengos lelah.
Dia kemudian mendekati kamar Fattah, "Ya biasanya di taruh mana? Kan udah di bilangin, kalau makai apa-apa, di balikin ke tempatnya."
"Ck, nggak tau. Biasanya juga di sini."
Aqqela berlari kecil ke rak dekat pintu depan lalu mengumpat karena sepatu Fattah ada di sana.
"Nih-nih! Kalau cari apa-apa tuh pakai bola mata, jangan bola kaki. Lama-lama gue jadi babu lo beneran nih."
"Lo istri gue. Keperluan suami tuh harus di sediain dong," balas Fattah sengit sambil memakai seragamnya, tanpa peduli ada Aqqela.
"Hari ini jadwal pelajarannya apa?" tannya Aqqela.
"Nggak tau. Tuh jadwalnya ada di meja belajar."
Aqqela merunduk melihat daftar jadwal pelajaran Fattah dan segera menyiapkan buku pelajaran cowok itu.
"Za, ikat pinggang gue mana?"
"Tuh," Aqqela menunjuk dengan dagunya ke arah meja TV.
"Kaos kaki?"
"Di lemari," katanya sambil memasukkan buku-buku Fattah ke dalam tasnya, "Awas aja ya lo bolos lagi. Udah mau kelas 12, loh."
"Iya, elah. Bawel banget," kata Fattah sambil memakai kaos kakinya, "Za!"
Aqqela melengos lelah, "Apa lagi?"
Fattah mendelik, "Kenapa kesel gitu gue panggil? Ya udah nggak jadi," kata cowok itu sambil memakai sepatunya dengan ekspresi masam.
Aqqela menghela napas, mencoba menyabarkan diri.
"Mau nyuruh apa?"
Fattah yang duduk di kasur mendongak sebentar, "Keringin rambut gue, dong!"
Tanpa bantahan, Aqqela meraih handuk di kasur dan berdiri di depan pemuda itu, lalu menggosok-gosok rambut hitamnya.
"Oh ya Aza, nanti kalau mau nengok Oliver nggak boleh sendirian loh!" kata Fattah mendongak, merasakan rambutnya di keringkan dengan handuk oleh gadis itu.
Aqqela mengangguk.
"Lo nggak boleh terlalu deket-deket sama dia pokoknya! Nanti dia malah modus," katanya possessive.
"Iya." Aqqela mengangguk lagi sambil mengeringkan rambut cowok itu.
"Lo istri gue sekarang. Nggak baik kalau nggak nurut sama suami. Oke?"
"Iya, gue tau."
"Gue? Kok lo ngomong lo-gue mulu sama gue?
Giliran sama Oliver aja aku-kamu," kata Fattah dengan suara meninggi.
"H-hah? Kan biasanya juga gitu. Lagian sekarang ke Oliver juga pakai lo-gue."
"Serah," kata Fattah berdiri meraih sisir di dekat kaca.
"Iya-iya, besok-besok pakai aku-kamu. Tapi jangan sekarang deh, gue masih suka geli," kata Aqqela jujur membuat Fattah menoleh sepenuhnya.
"Bener?"
Aqqela mencebikkan bibirnya, "Iya. Lagian elo habis kepentok tiang PLN, ya? Dari tadi nyebelin banget."
Fattah mencibir, "Sini!" Fattah menarik lengan gadis itu membuat Aqqela kaget.
"Apa?" Aqqela bengong.
Fattah memutar tubuh Aqqela agar menghadap ke arah kaca, kemudian cowok itu dengan telaten menyisir rambut panjang cewek itu dari belakang. Tangannya menyatukan rambut Aqqela jadi satu-menariknya ke atas dengan telaten.
Gerakan sederhana yang membuat Aqqela tertegun tepat.
"Ada tali rambut nggak?" tanya Fattah membuat Aqqela tersentak.
"O-oh, ini..." Aqqela dengan gugup meraih tali rambut yang sempat di jadikan gelang.
Aqqela menatap dari pantulan kaca, saat Fattah dengan telaten mengikat rambutnya.
"Coba ngadep sini!" Fattah memutar tubuh Aqqela agar melihatnya.
Fattah merapikan anak rambut Aqqela dan poni rata gadis itu.
"Nah, cantik!" pujinya membuat senyum Aqqela mengembang.
"Gue nggak nyangka lo bisa ikat rambut cewek jadi se-rapi ini."
"Eh wait, kayaknya ada yang kurang," kata Fattah meraih kotak kecil di laci, kemudian mengeluarkan penjepit rambut, "Sini gue pakaiin!"
"Itu punya siapa? Odit?"
Fattah mendelik, "Punya gue sendiri, lah.
Baru beli kemarin lusa."
"Buat gue?"
"Bukan, buat selir gue. Lihat kaca deh, bagus nggak?"
Aqqela berbalik melihat kaca. Matanya melebar melihat ikat rambut kecil di dekat poninya.
Aqqela menggigit bibir-menahan senyum dan mengangguk.
"Suka?" tanya Fattah merekah.
"Suka."
"Nggak salah gue suruh Noel bantu pilihin itu"
Aqqela tertawa pelan, "Dia kan jagonya cewek. Pasti sering banget beliin kayak gini buat pacarnya." Aqqela menata poninya sesaat dan menoleh ke Fattah, "Makasih, ya!" katanya sambil meringis lucu.
Fattah memalingkan muka dan meruntuk kecil.
Imut banget sialan.
"Hm, sama-sama. Ayo berangkat!" katanya sok jutek sambil meraih tas ranselnya membuat Aqqela terkekeh dan menyusulnya keluar.
"Bi Tya cuti, soalnya anaknya sakit. Kita sarapan di luar mau nggak?"
"Boleh." Aqqela mengangguk setelah mengambil tas dari kamarnya.
"Mau sarapan apa?"
"Gue lagi pengen nasi uduk. Eh, sarapan soto kayaknya enak. Tapi gue juga suka pecel."
Fattah mendelik dan mengacak-acak gemas poni cewek itu, "Yeeuuu tamak lo."
Aqqela terkekeh sambil melangkah di lorong apartemen berdua, "Biarin, kan elo kaya."
"Bubur ayam aja mau nggak?"
Aqqela meringis lebar, "Boleh deh," jawabnya sambil mengangguk cepat, membuat Fattah terkekeh dan merangkulnya memasuki lift.
"Punya istri lo gampang juga. Elo di kasih makan apa aja mau," kata Fattah.
"Sembarangan lo," kata Aqqela mencuatkan bibir.
***
Keduanya makan bubur ayam di gerobak yang mangkal tidak jauh dari apartemen mereka.
Sebenarnya Fattah ingin mengajak Aqqela ke tempat langganannya yang lebih bersih, tapi cewek itu tidak mau ribet dan memilih di sini.
Keduanya terlihat asik saling tukar menukar makanan sambil tertawa-tawa.
Fattah memindahkan bawang goreng dan sayuran kecil-kecil ke mangkuk Aqqela, cewek itu juga memindahkan telur puyuh ke mangkuk Fattah.
"Kenapa lo nggak suka sayur hijau? Sayur tuh baik buat kesehatan. Pantes otak lo nggak berkembang," omelnya tajam membuat Fattah mendelik.
"Gue trauma. Dulu pernah makan bayam ada ulatnya," kata Fattah sungguh-sungguh, "Lah elo, makan sayur nggak tumbuh-tumbuh."
Aqqela hampir mengumpat, "Gue tinggi, ya."
"Tinggi apa? Orang cuma sepundak gue."
Aqqela membelalak, "Nggak usah ngarang, ya. Ayo coba tinggi-tinggian sama gue!" katanya mulai bertingkah seperti anak SD, "Perasaan gue nggak sepundak lo deh."
Fattah merasa terpancing dan langsung berdiri.
"Nggak usah curang!" omel Fattah menekan puncak kepala Aqqela agar cewek itu tidak berjinjit.
"Tuh kan, gue tuh se-leher lo, bukan sepundak," kesal Aqqela menabok kepala cowok itu. Egonya tersentil di bilang pendek.
Fattah menyeringai, "Tetep aja lo lebih pendek dari gue."
"Bodo." Aqqela kembali duduk dan makan buburnya, "Lo tuh kegedean."
"Enak aja."
"Berapa tinggi lo?"
"Terakhir sih 183 tingginya."
Aqqela hampir tersedak, "Tinggi banget," katanya heboh, "Gue cuma 160."
"Ya udah, gue kasih tinggi gue buat lo."
Fattah menggerakkan kedua tangan di depan dadanya seperti mengeluarkan jurus, "Wush!"
Aqqela yang sedang makan bubur jadi tertawa geli.
"Udah selesai belum makannya?" tanya Fattah meneguk teh-nya.
"Udah." Aqqela berdiri sambil meraih tasnya.
"Bentar gue bayar dulu," katanya menghampiri penjual.
"Makasih ya, den! Kapan-kapan mampir lagi!"
"Siap, mang." Fattah menaiki motornya dan memakai helm, "Nih, helm lo!" katanya memberikan helm pink ke Aqqela.
Gadis itu memegang pundak Fattah, kemudian naik ke atas boncengannya.
"Kuy, jalan!" Dia menepuk bahu cowok itu.
"Pegangan!"
Aqqela menurut-memegang pinggang Fattah dengan cowok itu melajukan motornya menuju ke sekolah.
***
Lapangan olahraga sedang ramai di isi anak 11 IPS 1 yang terjadwal pelajaran olahraga hari ini.
Di samping itu, kumpulan anak-anak 11 IPA 1 lewat pinggiran lapangan karena hendak pergi ke lab Fisika pagi itu.
Anak 11 IPS 1 ramai menggoda Fattah yang sedang pengambilan nilai praktek basket-menembakkan bola ke ring, bertepatan saat Aqqela yang melewati mereka.
"CUIT-CUIT, SIAPA TUH YANG LEWAT BOS?" goda Mattew super semangat, membuat Fattah terlonjak.
"Waduh, itu ceweknya Fattah?" Anak-anak cowok 11 IPS 1 lainnya jadi penasaran.
"Oh itu yang namanya Aqqela? Qell, Fattah sekarang jadi rajin ikut pelajaran karena elo."
"CIYE-CIYEEEEEEE FATTAH!" ledek teman-teman sekelasnya membuat Fattah mengumpat tanpa suara dan mengomeli mereka galak agar diam.
Dia sudah berlagak sok kalem saat Aqqela lewat, malah teman-teman laknatnya berteriak begitu.
"Aqqela, dapat salam rindu nih dari Fattah," seru Jefan lantang, membuat Aqqela membelalak dan meruntuk.
Sementara Aya dan lainnya malah ikutan menggodai.
"Jangan godain dia, deh!" omel Fattah mengancam akan melempar bola di tangannya ke kepala mereka satu-satu.
"Uhuy ceweknya di belain," koar Noel tertawa keras.
"Anjing!" umpat Fattah menghantamkan bola basket ke kepala Noel sampai mengaduh.
"QELL, COWOK LO NIH!" adu Noel memegangi jidatnya.
Aqqela menoleh kaget, sementara Fattah melotot kesal dengan kepala tak sengaja bergerak ke Aqqela.
Keduanya berpandangan dan tersentak satu sama lain.
"Noh Aqqela. Samperin sono! Pas nggak ada anaknya aja di tanyain mulu lewat Catu," goda Mattew menyenggol lengannya membuat Fattah mendecak sok sinis.
Dia kembali memandang Aqqela yang kini membuang muka berusaha tidak salah tingkah, membuat Fattah jadi mengulum senyum.
"Qell, jalan yang bener, jangan inget gue terus," kata Fattah tanpa dosa membuat Aqqela melotot padanya.
"CIAAAAAA PIWIT-PIWIT!"
Sedangkan Vanilla, Amanda dan Achala yang kebetulan sekelas sama Fattah cuma bisa melengos sinis sambil mengipasi leher mereka.
"Fattah, cepetan! Kamu tuh lempar bola doang lama banget," omel pak Sofyan, membuat Fattah terlonjak.
"CIAAAAAA PACARAN MULU SIH ΡΑΚ ANAKNYA. OMELIN PAK!" kompor yang lain.
"Ceweknya lewat pak. Kayak nggak pernah muda aja," hardik Mattew sebal.
Sementara Noel berlari keluar lapangan.
"Aqqela!" panggilnya menyela di antara kerumunan anak IPA 1.
Aqqela menoleh kaget saat dirinya di rangkul Noel dan di tarik keluar dari kerumunan.
"Apaan?"
"Heh, Vania masih free, kan?" tanya Noel cengengesan.
Aqqela hampir mengumpat, "Kan kemarin lo sama Ayu. Dasar buaya got!"
"Ayu matre, Qell. Makannya banyak lagi. Vania kan enggak. Please!" pintanya memelas.
"Sok tau. Lagian kan elo udah sama Amanda anak kelas lo."
"Namanya juga cowok Qell, butuh selingan.
Ya?" katanya memelas, "Bagi ID line-nya aja deh. Nomor WA gue di blokir sama dia."
"Oke."
Fattah yang baru selesai pengambilan nilai praktek jadi mengumpat melihat Aqqela ngobrol serius dengan Noel.
Dia segera menghampiri cepat.
"EL!" panggilnya mengamuk, membuat Noel terlonjak.
Kerah belakangnya di tarik cepat oleh Fattah, "Lo mau gue gelindingin?"
"Apa anjir? Kagak-kagak kalau gue tikung. Takut bener. Resiko jadi paling ganteng di grup, gue di fitnah jadi PHO mulu," gerutunya mengomel.
Fattah mencibir sinis, lalu menoleh ke Aqqela yang tergagap kaget.
"Lo juga," kata Fattah.
"Lah, gue ngapain?" tanya Aqqela melongo.
Fattah mendecak melihat wajah Aqqela, "Siapa yang dandanin elo gini?" tanyanya meraih kedua pipi Aqqela, memaksa gadis itu mendongak.
Aqqela mengerang saat kedua pipinya di tekan kedua tangan Fattah dan di uyel-uyel kesal.
Aqqela mengerjap, teringat tadi di make up oleh Aya yang me-reviewmake up salah satu brand untuk endorse.
"Pakai lipstik lagi. Sok cantik banget," umpatnya pedas membuat Aqqela mendorong sebal mukanya, "Hapus! Pakai yang biasanya aja."
"Padahal cakep kok. Kata Cakra aja bagus."
Fattah membelalak dan dengan kesal meraih tisu di kantong Aqqela, lalu menghapus lipstik di bibirnya membuat Aqqela meronta.
"Fattah, nggak mau." Aqqela memekik rusuh saat lehernya di piting oleh Fattah dengan lengan kirinya, sementara tangan kanan cowok itu mengusap-usap bibir Aqqela.
"Sakit, gila lo. Kasar banget."
"Makanya nggak usah genit jadi cewek."
"Anjir, pakai lipstik doang di bilang genit. Elo punya masalah hidup apa, sih?" omelnya sebal, sementara Noel terkekeh melihat keduanya.
Fattah hampir maju mencakarnya membuat Aqqela melotot tak takut.
"Nggak usah aneh-aneh lagi! Awas lo!" ancamnya serius, "Gue cium lo di lapangan kalau pakai lipstik kayak gitu!"
Aqqela membelalak dan menggeplak bibir Fattah yang mengaduh.
"Sana ke lab, belajar yang pinter!"
Aqqela menggerutu kecil dengan bibir mencuat dan berlalu pergi.
***
Anak-anak 11 IPA 1 sibuk memakai sepatu setelah bel pergantian jam pelajaran ketiga berbunyi.
"Langsung balik ke kelas?" tanya Catu, "Gue mau ke ruang cheers dulu nih sama Aya. Ikut nggak?"
"Gue mau ke toilet dulu, kebelet. Duluan, ya!" pamit Aqqela.
"Loh Qell, gue temenin nggak?" tanya Vania.
"Nggak usah, sendirian aja."
"Oke."
Aqqela melangkah memasuki toilet di dekat lapangan dan memasuki salah satu bilik.
Setelah buang air kecil, dia ke wastafel dan membasuh tangannya di sana. Sampai suara beberapa cewek terdengar memasuki toilet.
"Sumpah ya, cuacanya panas banget gila.
Sampai merah semua dong muka gue. Untung pakai sunscreen," keluh Vanilla, lalu menatap ke arah Aqqela, "EH?" refleknya dengan alis terangkat.
"Itu cewek barunya Fattah, kan?" bisik Achala -temannya sambil menyikut lengannya.
Aqqela menatap mereka sesaat lewat pantulan cermin, lalu meraih tisu dan mengeringkan tangannya.
Dia berbalik, "Permisi mau lewat," katanya tersenyum tipis.
Tapi tiga gadis itu tiba-tiba menghadangnya, membuat Aqqela tersentak.
Diam-diam mengerutkan kening mencoba mengenali satu-satu dari mereka.
Ah, dia ingat sekarang. Mereka teman-teman sekelas Fattah. Dan satu cewek di tengah itu, pernah kasih minum ke Fattah.
"Oh, jadi elo ceweknya Fattah?" kata Vanilla dengan nada mencemooh.
Amanda terkekeh geli, "Segini doang? Masih cantikan elo kali, Nil."
Alis Aqqela terangkat sebelah.
"Udah kelihatan sih kalau nggak bakalan lama sama Fattah," kata Vanilla tersenyum miring.
Aqqela menarik smirk samar dan mengangkat dagunya, membuat pandangannya dan Vanilla jadi beradu tepat.
"Oh jadi elo?" kata Aqqela, "Cewek jablay yang kasih minuman ke cowok gue di lapangan?"
Vanilla membalalak lebar, "What the fuck?" tanyanya tak terima, "Heh, omongan lo di jaga, ya!"
"Lah, gue salah ngomong? Kan gue cuma mau bilang makasih," katanya dengan wajah sinis seperti memancing keributan.
"Wah." Vanilla tertawa kesal, "Gue kasih tau ya sama lo, nggak usah deh bangga karena berhasil pacaran sama Fattah-"
"Loh, ya bangga, dong. Elo aja ngarep buat jadi ceweknya," balas Aqqela dengan nada santai, "Tapi maaf deh, Fattah-nya udah cinta mati sama gue," katanya dengan nada manis.
Amanda-teman Vanilla mengumpat tanpa suara, "Nih cewek nantang banget sialan. Tatar langsung aja Nil, biar nggak kebiasaan."
Vanilla menarik napas panjang sambil mengibaskan rambutnya dan menunjuk Aqqela geram, "Lo-"
"Apa?" Aqqela mengangkat dagunya membuat ketiganya tersentak, tidak menyangka cewek itu tak takut sama sekali.
"Nil, udahlah! Jangan berurusan sama dia! Pawangnya serem, njir. Lo mau apa di botakin sama Fattah?" tegur Achala serius.
"Awas deh lo!" Vanilla menatap Aqqela tajam, "Heh, gue kasih tau ya sama lo, jangan jadi PHO! Dari awal, Fattah itu pacar gue."
"Pacar? Gue sih taunya elo yang naksir ya, ngejar-ngejar Fattah dari lama. Untung cowok gue pinter," kata Aqqela manis.
Vanilla melotot tersinggung, "Maksud lo apaan anjing?"
"Semua orang juga tau kali pamor lo di sekolah kayak gimana. Nggak usah sok ngincar Fattah. Lo pikir selama ini karena berhasil ada di sebelahnya, kalian udah jadi couple goals paling serasi di SHS? Jadi cewek tau malu dikit! Fattah berkali-kali nolak elo, tapi elo masih ngejar-ngejar dia. Lo bahkan labrak siapapun cewek yang berusaha deketin Fattah sebelum ada gue." Aqqela tersenyum sinis, "Sekarang gue tanya, lo siapanya?"
"Gue temen deketnya. Lo sendiri siapa?"
bentak Vanilla mendorong dada Aqqela kasar.
"Gue pacarnya. Lo mau apa?" sentak Aqqela mendorongnya balik dengan lebih kasar.
"Anjing lo!"
PLAK!
Vanilla tiba-tiba melayangkan tamparan keras ke pipi Aqqela, membuat Achala dan Amanda terkejut. Sementara kepala Aqqela menoleh ke samping dan tersenyum sinis setelahnya.
"Brengsek!" umpat Aqqela dan langsung maju menjambak brutal rambut Vanilla membuat cewek itu berteriak histeris karena kaget.
Aqqela mengacak-acak rambut dan muka Vanilla-mengoyaknya habis-habisan sampai Vanilla tertunduk-tunduk kesakitan.
"WOI-WOI!" panik Achala menoleh kiri kanan yang sepi.
"JAUH-JAUH DARI FATTAH GUE ANJING!" teriak Vanilla histeris sambil menjambak rambut Aqqela tak mau kalah.
"LO YANG JAUH-JAUH DARI COWOK GUE SIALAN!" bentak Aqqela sambil mencakar muka Vanilla dan menarik rambut cewek itu kasar, membuat Vanilla berteriak kesakitan dan hampir terjengkang ke belakang.
Amanda membelalak melihat Vanilla yang mulai kalah. Membuatnya jadi ikutan maju.
"Heh Manda, ngapain ikut-ikutan, sih?" protes Achala melihat Amanda menjambak rambut Aqqela dari arah belakang.
Aqqela terlihat kewalahan, namun dia berusaha menendang kaki Amanda dengan bringas.
"WOI ANJING, JANGAN BERANINYA KEROYOKAN YA LO SEMUA," bentak Nazera-si adik kelas yang di juluki badgirl nomor satu sekolah, mulai berlari memasuki toilet dan menarik kasar rambut Amanda.
"KYAAAAAAA SAKIT," teriak Amanda histeris hampir salto ke belakang, lalu menjambak rambut Nazera tak mau kalah, "Lo nggak usah ikut campur bangsat!" amuknya.
"Elo yang harusnya nggak keroyokan goblok," maki Nazera sambil mencakar mukanya.
Aqqela sendiri mengoyak rambut Vanilla sampai cewek itu jejeritan heboh.
"KYAAAAA, UDAH-UDAH SAKIT!" panik Vanilla merasakan rambutnya rontok karena tangan tajam Aqqela.
Achala dengan panik keluar toilet dan berlarian ke lapangan.
"FATTAH!" panggilnya membuat Fattah yang masih bermain basket di lapangan menoleh.
"Apaan?" tanyanya sambil mengejar bola yang di giring Noel dengan tak peduli.
"Cewek lo berantem!" teriak Achala heboh, membuat Fattah tersentak, "I-itu, si Aqqela. Di toilet," katanya heboh.
Fattah membelalak dan segera berlari ke toilet di susul oleh tiga sahabatnya.
BRAK!!!
Dia menggebrak pintu toilet. Mulutnya sontak ternganga dengan mata membelalak melihat Nazera dan Aqqela sudah sibuk menduduki perut Vanilla serta Amanda sambil terus mencabik-cabik muka mereka.
Vanilla sudah terisak memohon ampun saat Aqqela masih meremas rambutnya.
"A-ampun udah!" katanya sudah tak mampu melawan dan berteriak saat pipinya kembali di cakar.
"YA ALLAH," kata Noel syok setengah mati.
Mattew dan Jefan sendiri ternganga, tak menyangka Aqqela seberani itu.
"Bentar-bentar, gue cariin Arsen dulu, ceweknya kumat," kata Mattew, sementara Jefan maju memisahkan Nazera dengan Amanda.
Fattah meruntuk dan segera berlari mendekati Aqqela, "Aza, udah!" katanya sambil mengangkat tubuh gadis itu dari belakang, sementara kakinya masih berusaha untuk menendang-nendang Vanilla yang sudah tak berdaya, "Heh-heh Za, udah!" katanya sambil memegangi jidatnya dan mengurung tubuhnya dari belakang-menariknya mundur.
"Fattah," panggil Vanilla, "Dia serang gue duluan."
Aqqela membelalak mendengar itu, "Setan. Elo duluan anjir. Nggak usah fitnah ya lo," omelnya geram.
"Emang lo kok."
"ANJING LO!"
"EHH!" panik Fattah menariknya mundur menjauh dan menaruh kedua lengannya di bawah leher Aqqela dan perutnya agar tak kemana-mana.
"Emang dia duluan," adu Aqqela.
"Iya-iya dia duluan," kata Fattah sambil mengusap bahu Aqqela untuk menenangkan.
"Fat, nih cewek nggak jelas tau nggak."
Aqqela hampir mengumpat, "Elo yang nggak jelas setan, gangguin Fattah gue terus," katanya tak terima, membuat Fattah tersentak dan mengangkat alis. Tertegun begitu saja.
Fattah gue?
Fattah mati-matian menggigit bibir, menahan senyum karena tiba-tiba jadi salah tingkah bukan main.
Arsen sendiri baru memasuki toilet dan langsung menarik Nazera agar mundur, "Lo tuh kenapa lagi, sih?"
"Mereka keroyokan Sen, ya gue bantuin kak Aqqela lah," bantahnya tak terima.
"Lo berdua tuh ngapain, sih?" sentak Fattah memberikan Aqqela ke Noel, sementara dia maju ke arah Vanilla yang menciut.
"Tapi dia duluan labrak gue."
BRAK!
Vanilla menjerit kecil saat Fattah menendang tempat sampah di dekatnya.
"Gue lebih tau gimana Aqqela," balas Fattah meradang, "Dia nggak akan kayak gitu kalau lo nggak mulai duluan."
Rahang Fattah mengeras begitu saja, memandang mereka tajam.
"Sorry!" kata Vanilla ketakutan.
"Sekali lagi lo berani labrak cewek gue lagi, lo berurusan sama gue. Ngerti?" ancamnya tak main-main, lalu menarik tangan Aqqela keluar.
"Nazera, makasih ya!" kata Aqqela masih sempat.
"Yoi kak sama-sama," kata Nazera lalu mendelik saat lehernya di piting Arsen dan di bawa pergi.
"Lo di apain tadi?" tanya Fattah berhenti di koridor.
"Di tampar anjir. Sialan banget tuh cewek," gerutunya marah-marah.
"Mana coba lihat!" kata Fattah memperhatikan pipi Aqqela yang memerah, "Sakit?"
"Dikit doang. Aman lah," katanya sombong membuat Fattah berdecih.
"Gue ke kantin dulu beliin lo minum, biar lo kalem. Garong banget masih pagi."
Aqqela membelalak, "Namanya di labrak ya bela diri lah," omelnya lalu teringat, "Es Cappucino, ya! Sama coki-coki."
Fattah mengangguk, "Duduk di situ, tungguin!"
Aqqela mengangguk, lalu mendekati lokernya ingin mengambil sabun cuci muka.
Tapi dirinya tersentak saat melihat sebuah kado lagi.
Dia membukanya. Matanya melotot melihat sebuah penjepit rambut di dalam sana.
Sebuah sticky notes membuat Aqqela tertegun. Tidak ada apapun, kecuali hastag dan sebuah huruf.
#F
"L? E? O?" Aqqela membulatkan mata, "LEO?"
Alisnya terangkat melihat sebuah gelang hitam terjatuh di dekat kakinya, membuat dia merunduk meraihnya.
"Ini kan gelang..." gumamnya.
Sampai kepala Aqqela menemukan pencerahan, membuat dirinya jadi membeku spontan.
"I found you," katanya dan segera berlari di koridor menuruni tangga.
Matanya menemukan sosok yang dia cari sedang men-dribble bola basket sendirian dan menembakkan bola ke dalam ring.
"Noel!" teriaknya membuat Noel terlonjak kaget.
"Iya adinda?" tanyanya manis.
Aqqela tersenyum miring dan memutuskan mendekati cowok itu.
"Eh, kenapa nih?" tanya Noel was-was.
"Elo pintar banget ya, berlagak biasa-biasa aja di depan gue?"
Noel tersentak, "Apaan?" tanyanya bego.
Aqqela mengangkat kotak di tangannya, "Ini dari elo, kan?"
Mata Noel membulat. Raut wajahnya seketika memucat.
***